Powered By Blogger

Senin, 03 Januari 2011

renungan

http://akusuka.files.wordpress.com/2007/11/special-coconut-tree-thumb.png


KAYA TAPI TIDAK PUNYA MUKA

Wardho bima qosamallaahu laka takun aghnannaas

(Dan berpuaslah kamu dengan apapun yang diberikan Allah untukmu, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling kaya).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Segala sesuatu ada hakikatnya. Dan seorang hamba Allah tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia menyadari (meyakini) bahwa apapun yang dikehendaki (digariskan/ditaqdirkan) oleh Allah untuk dirinya tidak mungkin lepas darinya. Dan apapun yang Allah takdirkan tidak menjadi miliknya, maka tidak mungkin akan menjadi miliknya.” (HR. Imam Ahmad dari Abi Darda)

Sebagai orang yang beriman kita harus meyakini bahwa segala sesuatu yang ada itu terjadi atas keherndak Allah, berdasar ilmu Allah dan tentu ada hikmahnya pula. Allah sang Maha Pencipta, mengetahui seluk beluk apapun tentang ciptaan-Nya, karena tidak mungkin rasanya kalau si pencipta tidak mengetahui ciptaannya.

Ketika Allah menciptakan kita, maka Allah tentu mengetahui, mana yang mashalahat untuk kita mana yang tidak. Allah juga mengetahui, dalam bentuk seperti apa, pemberian itu akan menjadi mashlahat dan pemberian apa yang sekiranya tidak mashlahat. Allah juga mengetahui kapan sesuatu itu diberikan kepada kita supaya mashlahat dan kapan juga sesuatu itu dicegah dari kita juga supaya mashlahat.

Allah mengetahui secara detail tentang pilihan-pilihan menyangkut hamba-Nya, mulai dari yang paling ideal, yaitu mashlahat dunia, mashlahat akhirat. Atau sebaliknya, sengsara dunia dan akhirat. Atau mashlahat dunia, tapi sengsara akhirat, atau sengsara di dunia, tapi mashlahat akhirat (masuk surga). Semua diberikan Allah berdasar apa yang paling baik bagi hamba itu menurut ilmu dan kehendaknya Allah.

Terkadang kita tidak bisa menerima dan memahami apa yang kita terima atau alami. Misalnya, kita bertanya-tanya, kenapa kita tidak mendapat istri yang cantik atau suami yang ganteng. Tapi setelah teman kita yang suaminya ganteng atau istrinya cantik ternyata mudah tergoda atau menggoda orang lain sehingga keluarganya tidak sakinah, sementara kita yang istrinya kurang cantik atau suaminya kurang ganteng sehingga keluarga kita justru sakinah, baru kita menyadari hikmahnya. Oh, ternyata lebih baik suami saya meski tidak terlalu ganteng, sebab kalau ganteng gampang dilirik wanita lain.

Begitu juga ketika ada teman yang lekas kaya, sedangkan kita tidak sugih-sugih. Kadang nafsu kita tidak menerrima, kenapa kita tidak dijadikan orang kaya. Tapi ketika si kaya itu banyak berurusan dengan KPK, atau sakit-sakitan, sedangkan kita meskipun tidak kaya tapi tidak mengalami semua yang dialaminya, nah baru kita bersyukur, alhamdulillah, meski tidak kaya yang penting hidup tenang dan sehat wal afiyat.

Jadi yang harus kita sikapi adalah, memahi hikmah atau tidak, menemukan hikmah atau tidak, hendaknya kita bisa ikhlas, legowo, puas menerima apapun yang Allah berikan untuk kita. Karena suatu saat, di dunia atau di akhirat, kita atau bisa jadi anak cucu kita akan mendapatkan karomahnya.

Orang yang bisa bersikap dan mengatur hati seperti ini tidak mudah stres, tekanan darahnya normal, beban pikirannya tidak berat, kesehatan lahir batinnya terjaga, kalaupun sakit mudah sembuh karena mentalnya sehat dan stabil. Diapun ketika bekerja, tidak terlalu bernafsu atau berambisi, dan tidak mengorbankan semua waktu dan pikirannya untuk mengejar kekayaan. Dia mampu menyeimbangkan antara berbagai sisi kehidupan yang sam-sama penting, sehingga kehidupannya sehat dan normal antara kehidupan priadi dan sosial, lahir batin dan dunia akhirat.

Dengan merasa cukup dan puas dengan apa yang Allah berikan, dia tidak bermental merengek ngemis apalagi menggantungkan hidup pada orang lain, dia mandiri bahkan kalau perlu dan mampu akan mengentaskan orang lain yang perlu dibantu. Inilah hakikat orang yang paling kaya. Seberapapun materi yang ada dia tetap merasa cukup.

Sebaliknya, orang yang selalu merasa kurang, dia mau merengek-rengek, itu hakikatnya orang yang miskin, tidak punya harga diri (tidak punya muka) sekalipun hartanya miliyaran. Sebab kaya adalah kaya hati/kaya diri dan karena bermental kaya, bukan karena memegang harta. Oleh karena itu Nabi saw mengingatkan, puaslah dengan apa yang Allah berikan,maka kita akan menjadi orang yang paling kaya.





JANGAN SEPERTI BEBEK DAN SAPI


Ittaqullaaha wa ‘adiluu baina aulaadikum.
Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian.

Rasulullah SAW seringkali ketika memberikan nasihat, beliau mengawalinya dengan perintah bertaqwa. Sebagaimana juga pada hadits di atas. Sebelum perintah berlaku adil kepada anak-anak, kanjeng Nabi memerintahkan bertaqwalah kepada Allah (Ittaqullaaha). Hal ini memberikan ajaran, bahwa dalam melakukann aktifitas apapun tidak boleh lepas dari nilai ibadah kepada Allah dan sesuai dengan tuntunan dan ajaran Allah.
Dengan demikian, sekali berbuat dapat pahala dobel. Dunianya dapat akhiratnya juga dapat. Inilah salah satu ciri ajaran Islam. Kita tidak boleh ngurusi dunia mempeng sampai nggak sempat ngurusi urusan akhirat. Juga sebaliknya, kita nggak boleh terlalu mempeng ibadah tapi meninggalkan urusan dunia sama sekali.

Dalam berinteraksi dengan makhluk, kita harus tetap memperhatikann nilai-nilai ilahi, nilai-nilai tauhid sebagai perwujudan hablum minallah. Demikian juga dalam beribadah kitapun harus memperhatikan aspek-aspek hablum minannaasnya.

Ketentuan umum ini juga berlaku dalm hal mendidik anak-anak. Sehingga kanjeng Nabi sebelum memerintahkan berlaku adil terhadap anak-anak, beliau berpesan terlebih dahulu agar bertaqwa kepada Allah. Mendidik dan membesarkann anak merupakan tanggung jawab orang tua, baik bapak maupun ibu. Dan pada dasarnya semua orang tua ingin mempunyai anak-anak yang bisa dibanggakannya dan membahagiakannya di kemudian hari, terutama di akhirat nanti. Dengan demikian, alangkah buruknya kalau ada orang tua yang hanya mau punya anak tapi tidak mau bertanggung jawab. Ini namanya sama dengan bebek. Induk bebek biasanya setelah bertelur dia tinggal begitu saja, tidak mau ngerami. Masa mau disamakan dengan bebek pak, bu. Ada juga model orang tua yang mau ngerumat anak-anaknya sehingga tumbuh sehat dan gemuk-gemuk. Tapi dia lengah tidak mendiik anak-anaknya dengan agama, akhlak dan sopan santun. Yang dipikir, asalkan anak-anaknya sehat sekolahnya lancar. Ini namanya sama dengan sapi. Sapi tidak mau tahu anaknya mau jadi apa, yang peting anak sapi itu sehat dan gemuk. Masak mau disamakan dengan sapi pak, bu. Bagaiman pun anak-anak punya hak untuk diperhatikan, lahir bathinnya. Jasmani dan ruhaninya.

Dalam hadits di atas, inti nasehat yang disampaikan Nabi pada orang tua yaitu bersikap adil dalam hal menata anak. Bersikap adillah orang tua pada anak, dalam hal apapun, jangan pilih kasih atau membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain. Kalaupun pada akhirnya hasilnya beda, maksudnya profesi atau kegiatan anak-anaknya tidak sama itu bukan karena kesalahan orang tua yang membeda-bedakan perhatian pada anaknya, tapi memang karena potensi yang dianugerahkan oleh Allah kepada anak-anak itu berbeda beda. Mungkin ada anaknya yang jadi pengusaha. Ada yang jadi guru. Ada yang jadi ulama dan sebagainya.

Perlakuan adil kepada anak-anak harus dalam semua aspek. Adil dalam berdo’a untuk anak, semua anaknya harus dido’akan. Adil dalam memberikan perhatian, semua anaknya harus diperhatikan, jangan sampai ada yang iri hati. Adil dalam membiayai kebutuhan anak-anaknya, tentu sesuai kebutuhan masing-masing. Adil dalam mengacarakan pernikahan anak. Kalau dirame-rame usahakan semuanya. Terkecuali atas permintaan anak sendiri, misalnya anaknya tidak mau kalau dirame-rame.

Adil dalam memberi hibah kepada anak. Dan untuk hibah, anak laki-laki maupun perempuan sebaiknya sama, lain halnya dengan masalah waris yangh sudah ada ketentuan dari agama.

Diterangkan dalam hadits, ada seseorang yang memberi hibah kepadsa anak-anaknya tapi tidak semuanya dikasih, lalu dia ingin Nabi menjadi saksi. Lalu Nabi bertanya bukankah kamu ingin nanti setelah mati didoa’akan oleh semua anak-anakmu, maka kamupun harus bersikap sama kepada mereka (semuanya harus diberi hibah).

Kalau orang tua sudah berbuat adil sesuai kemampuannya, maka anak-anak semuanya insya Allah akan berbakti pada orang tua. Mereka akan berterima kasih kepada orang tua mereka karena telah membesarkan mereka dalam keadilan. Kalau sudah begini, insya Allah mereka juga akan hidup rukun. Saling membantu, saling memperhatikan satu sama lain dan tentunya sama-sama mendo’akan orang tuanya.

Berbeda kalau orang tua pilih kasih. Orang tua yang pilih kasih pada anak-anaknya sama halnya menanamkan benih-benih permusuhan dan pertikaian di antara mereka. Sebab, anak-anak tentu tidak akan terima diperlakukan tidak adil.





BANYAK YANG MATI MENDADAK

Ittaaqillaaha haitsu maa kunta, waatbi’is sayyiatal hasanata tamhuhaa, wakhooliqin naasa bikhuluqain hasanin.
Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Dan ikutilah keburukn dengan kebaikan, maka (kebaikan itu) akan menghapusnya), Dan berbuat baiklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” (HR. At-Thabrani dari Abi Dzarr)

Hadits ini memberi peringatan kepada kita agar senantiasa bertaqwa kepada Allah di manapun kita dan kapanpun kita. Artinya di setiap waktu dan tempat kita harus menjaga ketaqwaan. Kemudian, selain menjaga ketaqwaan yang merupakan bagian utama dari hablum minallah, hadits ini juga mengajarkan agar kita melengkapinya dengan hablum minannaas (wa kholiqin nasi bikhuluqin hasanin).
Kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah. Taqwa sendiri punya makna takut kepada Allah. Allah SWT Maha Kuasa untuk menentukkan segala sesuatu. Tidak ada yang terjadi di dunia ini kecuali atas seizin-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya. Allah Maha Luas ilmu dan kekuasaan-Nya. Allah juga yang memiliki kita, menguasai kita dan mengawasi kita. Allah sangat berkuasa untuk mencabut nyawa kita kapan dan dimana saja. Allah juga berkuasa untuk membuat kita jatuh melarat. Sangat mudah bagi Allah untuk mengambil semua titipan-Nya yang ada pada kita. Bahkan Allah juga berwenang untuk menolak amal-amal kita. Dengan segala keterbatasan dan kelemahan kita, tentu sangat wajar kalau kita harus punya rasa takut kepada Allah. Tentu sara takut yang didasari ketaqwaan. Untuk selanjutnya kita patuh terhadap semua perintah-Nya dan manut untuk menjauhi larangan-Nya.

Kenapa harus bertaqwa setiap saat dan waktu?. Kita baru saja diperingatkan oleh Allah dengan peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang. Lihat saja, hampir seratus nyawa melayang secara tiba-tiba dan ratusan lainnya hilang dan belum ditemukan. Siapa yang mengira Situ Gintung bisa jebol dan meluluhlantakkan semua yang diterjangnya. Peristiwa itu pun terjadi dini hari, waktu Shubuh. Sebagian memang ada yang sudah sholat Shubuh. Tapi berapa banyak diantara mereka saat diterjang banjir lumpur mungkin masih melungker di tempat tidur, na’udzubillah.

Dari berbagai peristiwa dan berita, sudah tidak sedikit manusia yang ajalnya tiba saat dia berada di tempat maksiat atau melakukan kemasiatan. Memang yang namanya ajal nggak permisi dulu. Ada orang berangkat ke tempat kerja, tidak tahu di jalan ketubruk truk, akhirnya mati. Ada orang sedang asyik dan ketawa cekakakan di tempat rekreasi eh terjatuh ke sungai dan akhirnya mati. Ada orang sedang asyik-asyik bal-balan di lapangan samibl hujan-hujanan, ndilalah disambar bledek dan langsung sekarat.

Oleh karena itulah kita diperintahkan bertaqwa di manapun kita berada. Jangan hanya taqawa dalam masjid saja, setelah pulang sholat nggak taqwa lagi. Di pasar juga harus taqwa, agar dagangnya jujur. Di kantor juga harus tetap taqwa supaya tidak korupsi. Di jalan juga tetap taqwa agar tidak berani merampas hak orang lain atau mendzholimi mereka.

Dalam hidup ini, kita seringkali menghadapi kesulitan, godaan dan sebagainya yang bisa mengancam keimanan kita. Ibarat orang sedang jalan ditempat yang gelap, dan jalannya penuh duri dan lubang. Tentu kalau tidak hati-hati akan berbahaya. Makanya banyak orang yang kesasar. Bahanya lagi kalau sampai kesasar ke aliran sesat. Oleh karena itu kita mutlak harus bertaqwa kepada Allah SWT. Bukankah dalam al-Qur’an sudah diterangkan sekian banyak ayat yang menegaskan bahwa Allah SWT akan menyelamatkan, memudahkan dan menolong orang yang bertaqwa. Pertolongan Allah itu sangat kita butuhkan. Baik di dunia ketika kita hidup, dimana kita sering menghadapi banyak masalah dan kesulitan. Bahkan ketaqwaan kita juga akan berdampak positif kepada anak cucu kita. Anak cucu kita sangat membutuhkan do’a dari kita sebagai orang tua mereka. Demikian juga di akhirat. Orang-orang yang bertaqwalah yang akan diselamatkan.

Selain mengandung perintah menggegam ketaqwaan di mana dan kapanpun kita berada, hadits diatas juga mengingatkian kita agar selalu mawas diri dan sekaligus mengoreksi diri. Kita sebagai manusia itu lemah dan banyak khilaf. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sudah masyhur, “Sesungguhnya manusia itu tempatnya salah dan lupa”. Karena kita ini sering kali berbuat kesalahan, maka kita diperintahkan untuk menutupi kesalahan kita dengan berbuat kebaikan. Sebab kebaikan yang kita lakukan akan menghapus atau menutupi kesalahan kita. Ibaratnya, kalau kita berbuat dosa kan kita punya satu dosa, lalu dosa itu ditutupi dengan kebaikan yang pahalanya sepuluh kali lipat. Kalau kita punya banyak kebaikan, maka kesalahan-kesalahan kita insya Allah sudah tertutupi.

Hadits di atas juga mengajarkan agar kita membina hubungan dengan sesama (hablum minannaas). Kita diperintahkan agar berbuat baik kepada sesama manusia. Karena ketaqwaan kepada Allah tidak akan sempurna kalau tidak dibarengi hubungna baik dengan sesama. Kita harus menghargai sesama, menghormati hak-hak mereka. Paling tidak kita tidak berbuat dzolim kepada mereka. Kalau kita mampu berbuat baik kepada mereka, maka insya Allah merekapun akan menghormati dan menghargai kita. Kalau masing-masing sudah berbuat seperti ini, maka akan tercipta masyarakat yang aman, damai serta sejahtera.






JANGAN HIDUP SEMAU GUE

Isy Maa Syi’ta Fainnaka mayyitun, Wa’ mal maa syi’ta fainnaka majziyyun bihi, Wahbib maa syi’ta fainnaka mufaariquhu. Wa’lam annna syarofal mukmini qiyaamuhuu billaili wa izzahuu istighnaauhu ‘aninnaasi
(Hiduplah sesukamu, (tapi ingat) sesungguhnya kamu akan mati. Berbuatlah sesukamu, ((tapi ingat), sesungguhnya kamu akan dibalas (sesuai amalmu). Cintailah apa yang kau cintai sesuka hatimu (tapi ingat), sesungguhnya kamu akan meninggalkannya. Dan ketahuilah kemuliaan seorang mukmin adalah sholatnya di malam hari dan kejayaannya adalah ketidak tergantungannya kepada manusia.
Islam mengajarkan agar ummatnya hidup mandiri dan tidak memelas apalagi jadi beban orang lain. Islam mengajarkan agar kita menjaga harga diri, martabat kita lebih-lebih martabat agama. Islampun mengajarkan agar umatnya hidup dalam kemuliaan dan meraih kemenangan.
Banyak orang yang ingin meraih kemuliaan dan kemenangan. Namun, sayangnya banyak yang keliru menempuh jalannya. Ada yang ingin mulia dan terhormat lha kok pergi ke mbah dukun minta jampi-jampi, atau pergi ke paranormal minta agar diramalkan nasibnya. Selain itu, juga masih banyak yang keliru memahami apa itu kemuliaan dan kemenangan yang sebenarnya. Banyak yang beranggapan kemuliaan ya identik dengan kekayaan, kedudukan dan ketenaran. Banyak yang menganggap kemenangan adalah kekuasaan dan sanjungan. Lha, kalau arti kemuliaan dan kemenangan saja masih belum , apalagi cara meraihnya.

Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan dalam pandangan Allah SWT. Dan ukurannya bukan dalam penampilan dhohir, seperti kecantikan atau kegagahan. Namun, ukuranya adalah tingkat ketaqwaannya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Hujurat ayat 13: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa”.

Namun, selain memperhatikan pentingnya nilai ketakwaan kita dalam hubungan kepada Allah, kitapun masih perlu memperhatikan etika, nilai dan aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, bagaimanapun kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa lari dari sesama. Nah, dalam bermasyarakat tentu juga ada nilai-nilai kemuliaan dan kemenangan seseorang, termasuk yang paling utama adalah kemandirian, tidak ngerepoti orang lain.

Mengambil hikmah dan kandungan hadits di atas, paling tidak ada tiga langkah utama agar mampu meraih kemuliaan dan kemenangan.

Mentalitas yang Bagus dan Tidak Nuruti Nafsu
Untuk mendapatkan kemuliaan dan kemenangan harus melalui langkah-langkah yang benar. Pertama mentalitas kita harus dibangun sebaik mungkin. Membangun mentalitas, tentu tidak lepas dari pengendalian diri dan nafsu. Oleh karena itu, kita harus betul-betul mampu menahan dan mengendalikann nafsu. Karena orang yang nuruti nafsunya dia akan hina dan rendah dalam pandangan manusia, lebih-lebih dalam pandangan Allah.

Sebagai contoh, orang yang nuruti nafsunya, bolak balik menikah, atau bolak balik nikah cerai lama kelamaan akan dicibir atau digunjing oleh masyarakat. Orang yang nuruti nasfunya berlagak sombong, keminter atau sok jagoan juga akan dijauhi bahkan dibenci masyarakat. Orang yang nuruti nafsunya, lalu minum-minuman keras semaunya, teler di jalanan dengan tampang yang awut-awutan sambil sempoyongan tentu akan menjadi hina. Di masyarakat saja tidak dihargai apalagi di hadapan Allah. Orang yang nuruti nafsunya sehingga wani korupsi uang rakyat, ngemplng hak rakyat miskin, mengkhianati amanah yang diberikan rakyat lama kelamaan juga akan jatuh hina. Bahkan orang yang nuruti nafsunya denagn cara makan sepuasnya tanpa memperhatikan kesehatan, juga akan mengalami sakit dan kalau sudah sakit tentu akan rugi sendiri. Jadi syarat pertama kalau ingin mulia dan meraih kemenangan adalah tidak nuruti nafsu.

Menguatkan Hubungan dengan Allah
Kedua, untuk mendapat kemuliaan kita harus dekat kepada Allah. Dan diantara salah satu jalan yang paling utama adalah qiyamullail (sholat malam). Malam hari adalah waktu yang istimewa lebih-lebih sepertiga akhirnya. Pada saat itu, kita sangat dianjurekan untuk bangun malam lalu bersujud dan bermunajat kepada Allah SWT. Nah, untuk bisa qiyamullail, kitapun harus awali dengan mengekang nafsu, sebab kalau sudah nuruti nafsu ya nggak bisa bangun tidur. Kalau sudah kena hangatnya selimut, mata jadi sulit melek, badan jadi aras-arasan bangun. Kalau orang sudah bisa mengarahkan nafsunya, maka dia akan mampu sholat malam. Dia akan mampu mengekang nafsunya untuk menahan kantuk atau nikmatnya tidur dalam hangatnya selimut untuk menghadap Allah dan berbisik dengan untaian kalimat dzikir serta panjatan do’a.

Kalau seseorang sudah begitu kuat hubungannya kepada Allah, ketergantungan dan keyakinannya pada Allah, maka dia sudah punya modal kuat untuk meraih kemuliaan dan kemenangan. Sebaliknya kalau orang yang tidak punya hubungan kuat dengan Allah, sebanyak apapun usaha dan modalnya dia tidak akan berhasil. Meskipun nampaknya berhasil, tapi keberhasilan itu semu dan suatu saat akan hancur. Bisa jadi dia di dunia dia sudah jatuh, atau nanti di akhirat kelak.

Ketiga, Adalah Mandiri.
Sebagai pribadi maupun sebagai umat kita semestinya bisa mandiri dalam arti tidak menggantungkan pada orang lain (istighnaauhu ’aninnaasi). Kemandirian yang perlu dibangun perlu diterapkan dalam berbadagi bidang. Pertama memelas atau meminta minta bantuan orang lain. Orang sepintar apapun tapi kalau masih tidak mandiri belum dikatakan menang. Seorang lelaki seganteng apapun tapi kalau untuk makan saja masih ndompleng orang tuanya ya belum dikatakan menang dan mulia. Islam mengajarkan umat agar berusaha untuk mandiri. Kalaupun tidak bisa membantu orang lain, paling tidak jangan ngeriwuki (membebani) orang lain.

Dari Abi Dzar Jundub bin Junadah ia berkata, “Saya matur kepada Rasulullah: “Apakah amal yang paling utama”, Beliau bersabda: “Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya”. Aku bertanya lagi: “Hamba sahaya apakah yang paling utama”, beliau bersabda: “Yang paling baik dan besar harganya”. Aku bertanya: “Kalau saya tidak mampu berbuat seperti itu”, beliau bersabda: “Engkau membantu orang dengan bekerja”. Aku bertanya, “Ya Rasulallah apakah pendapatmu jika saya tidak mampu berbuat (bekerja), beliau bersabda: “Jagalah dirimu untuk berbuat buruk kepada manusia, karena itu termasuk sedekah darimu untukmu” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam Hadits yang lain disebutkan: Jika seseorang diantara kalian mengambil tali kemudian ia membawa kayu bakar dengan talinya itu di punggungnya lalu dijual, Allah menjaga kehormatannya itu. Dan itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak” (HR. Bukhari Muslim)

Para ulama juga harus berusaha untuk mandiri, tidak mengemis atau mengekor pada pemerintah. Sebab, kalau masih mengemis pada pemerintah, akan merasa kesulitan atau paling tidak sungkan ketika akan mengoreksi atau mengkritik pemerintah.

Selain kemandirian ekonomi, kitapun harus menjaga kemandirian idiologi dan pemikiran. Kita harus betul-betul yakin bahwa idiologi, ajaran dan pemikiran kita adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah. Oleh karenna itu kita jangan latah mengikuti atau makmum pada idiologi, ajaran dan pemikiran orang lain. Apalagi yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits.

Kalau ummat Islam, ikut-ikutan idiologi dan ajaran orang-orang di luar Islam, maka akan hina. Kita nanti dianggap lemah dan tidak punya pegangan hidup, kalau sudah begini maka mereka akan gampang menghancurkan Islam.

Alhasil, kita harus berusaha menggapai kemuliaan, mulia di sisi Allah dan juga mulia dalam pandangan manusia.







DUA PERKARA YG DITAKUTI MANUSIA,KENAPA MANUSIA TAKUT MATI DAN MELARAT?

tsnaani yakrohuhuma Ibnu Aadama. Yakrohul mauta, walmautu khoirun lahuu minal fitnati. Wa yakrohu qillatal maal. Waqilatul maali aqollu lilhisaabi
Ada dua perkara yang dibenci umat manusia. Pertama, manusia tidak mau mati, padahal siapa tahu mati lebih baik dari pada fitnah. Kedua, manusia tidak mau miskin, padahal sedikit harta berarti lebih ringan hisabnya. (HR. Imam Ahmad)
Tujuan Hidup manusia
Manusia diciptakan oleh Allah dengan tujuan yang sangat mulia dan mengemban misi yang suci yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Oleh karena itu, maka manusia selama hidup di dunia ini harus mengoptimalkan semua potensinya, baik kekuatan fikirnya, mental dan rohaninya, maupun potensi fisik, kekuatan ekonomi, sosial politiknya untuk beribadah kepada Allah. Demikian juga semua potensi manusia tersebut harus digunakan untuk membantu pelaksanaan ibadah kepada Allah, ikut mengorganisir kegiatan ibadah kepada Allah, menjaga, melindungi dan mengembangkan kegiatan ibadah kepada orang-orang lain.
Di samping itu, manusia juga harus ikut mengorbankan harta benda bahkan nyawa sekalipun agar kita dan umat manusia yang lain tetap bisa beribadah kepada Allah tanpa gangguan dari siapapun atau kelompok manapun. Dan yang tidak kalah pentingnya berikhtiar baik secara individual maupun kolektif dengan terencana atau terprogram untuk mengikhtiarkan lahirnya generasi-generasi baru yang senang beribadah kepada Allah SWT. Alhasil semua potensi kita dan semua langkah kita semestinya dilakukan dalam rangka merealisasikan dan melestarikan ibadah kepada Allah SWT.

Ibadah kepada Allah merupakan tugas yang paling mulia bagi umat manusia. Sebab, pekerjaan-pekerjaan lain di luar ibadah, biasanya dilakukan hanya untuk kelestarian alam, lingkungan atau untuk kemashlahatan mansuia sendiri, sedangkan kegiatan ibadah semata-mata diperuntukkan untuk Allah SWT. Tentu saja, sesuatu yang dilakukan untuk Allah jauh lebih mulia daripada sesuatu yang dilakukan untuk selain Allah.

Oleh karena itu, kalaupun kita melakukan suatu aktifitas yang secara lahir nampaknya diperuntukan untuk kita, orang lain atu lingkungan maka niatkan itu semua semata-mata untuk Allah dan karena Allah dan tentu saja harus berpegangan pada syari’at Allah. Jangan sampai menentang perintah atau ketentuanAllah, agar semua aktifitas kita itu bisa bernilai ibadah.

Jangan malah dibalik, lahirnya nampak ibadah, wiridan dilakukan, istighotsan dilakukan dan berbagai amalan atau ikhtiar batin dilakukan tapi tujuan yang keliru, bukan diperuntukkan untuk Allah dan bukan karena Allah. Tapi, karena ingin bisa naik pangkat dan menduduki jabatan atau menjadi orang yang kaya raya, atau mendapat kemenangan dalam politik, menjadi orang yang terkenal dan sebagainya. Beribadah mestinya karena Allah dan untuk Allah. Jangan untuk tujuan duniawi. Jadi, semestinya semua potensi duniawi itu menjadi pendukung pelaksanaan ibadah kepada Allah.

Mati Bisa Jadi Lebih Baik
Karena sudah tahu tujuan utama hidupnya yaitu untuk beribadah, maka manusia seyogyanya merasa takut kalau sampai tidak beribadah atau tidak bisa beribadah. Dengan begitu, maka orang mukmin tidak boleh takut melarat, takut sengsara, takut kehilangan kedudukan bahkan termasuk takut mati.

Kalau kematian itu sakit, yang karenanya banyak manusia yang takut dan benci mati, maka ketahuilah ada yang lebih sakit daripada mati dan sekarat yaitu siksaan api neraka dan ghodob (murka) Allah SWT. Jadi mestinya yang harus lebih ditakuti adalah siksa neraka dan kemarahan Allah SWT. Sebaliknya, kalau manusia ingin terus hidup karena merasakan kenikmatan dunia, baik kekayaan maupun kedudukan serta ketenaran, maka ketahuilah ada yang lebih nikmat yaitu surga dan ridho Allah SWT.Jadi, mestinya kalau kepingin bahagia dan merasakan nikmat sesungguhnya ya masuk surga dan mendapat ridho Allah, bukan hidup terus-terusan di dunia.

Akan tetapi, manusia pada umumnya takut menghadapi kematian. Dan mereka lupa bahwa ada yang mestinya lebih ditakutkan lagi yakni neraka Allah, laknat Allah dan murka Allah. Allah SWT berfirman: Dan takutlah siksa api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu..

Dengan memiliki rasa takut kepada siksa neraka, adzab dan murka Allah maka manusia akan menjauhi segala prilaku yang bisa menyebabkan mereka terjerumus ke dalamnya. Yaitu sikap kufur, munafik, khianat, fasik dan melakukan dosa-dosa besar yang lain. Itulah yang semestinya lebih ditakuti dan perrlu dihindari, karena akan mengakibatkan masuk neraka.

Rasulullah SAW mengkritik sikap manusia yang keliru dan memberikan petunjuk yang harus dimengerti manusia. Belaiu bersabda sebagaimana hadits di atas: Manusia takut mati, padahal kematian itu bisa jadi lebih baik daripada hidup penuh fitnah.

Adapun yang dimaksud dengan fitnah adalah segala bentuk kekufuran, kedzhaliman, kefasikan termasuk juga murtad (keluar dari agama Islam). Jadi orang mumin tidak perlu takut mati, tapi takutlah kalau sampai terjerumus dalam kemurtadan dan kekufuran. Mati tentu lebih baik, karena bisa jadi dengan kematian itu bisa terhindar dari fitnah dunia, sehingga bisa terhindar dari neraka dan masuk surga. Daripada hidup tapi penuh fitnah (kufur dan sejenisnya) yang akhirnya masuk neraka.

Orang mukmin lebih berorientasi kepada akhirat dan ridho Allah daripada kesenangan dunia. Sesuai firman Allah: Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dan kekal. Tapi, tentu saja tidak dengan meninggalkan keduniaanya selama itu tidak menghalanginya dari beribadah

Sedikit Harta, Sedikit Hisab
Selain kematian yang banyak ditakuti, manusia juga banyak yang takut kemelaratan. Akibat takut melarat, manusia sampai jungkir malik, bahkan sampai gasak sana gesek sini demi mendapatkan rupiah. Banyak yang menganggap kemelaratan adalah kehinaan. Orang yang melarat dianggap tidak bisa hidup bahagia.

Seperti halnya masalah kematian, masalah hartapun harus disikapi dengan benar. Mestinya, dalam harta benda orientasinya yang penting barokah, manfaat, serta mendorong untuk beribadah kepada Allah. Sehingga bagi orang mukmin, sedikit atau banyaknya harta, miskin atau melarat, tinggi atau rendahnya pangkat dan jabatan itu tidak terlalu penting. Yang penting di mana dan kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun tetap bisa beribadah dan mendapat ridho Allah, serta tidak melanggar ketentuan Allah. Orang yang seperti ini, niat kerjanya benar. Selama bekerja juga benar, tidak melanggar syara’ serta tidak merugikan orang lain. Dan setelah bekerja, pengunaan harta kekayaannya juga benar sesuai ketentuan Allah. Dia tidak lupa kewajiban dalam hartanya, baik zakat, shodaqoh maupun tashorufnya.

Orang mukmin harus sadar, bahwa setiap rupiah yang dia peroleh dan dia gunakan akan dipertangung jawabkan kepada Allah dan nanti akan dihisab pada hari kiamat. Dengan demikian, tiadk boleh hanya berobsesi ingin menumpuk harta yang banyak dan takut melarat, namun harus diperhatikan kehalalannya dan diridhoi Allah. Walaupun hartanya sedikit, seorang mukmin tidah putus asa atau larut dalam kesedihan. Sebab, dengan harta yang sedikit itu, dia akan ebih rin gan hisabnya daripada mereka yang harta bendanya melimpah.

Tentu saja, semua orang ingin sukses dunia dan akhirat. Sebagaimana do’a yang setiap hari dibacanya (Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah, Ya Allah berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaiakan di akhirat). Dan ini boleh-boleh saja, asalkan kesenangan dunia itu tidak sampai membuatnya lalai dari kehidupan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar