Powered By Blogger

Senin, 03 Januari 2011

renungan

http://akusuka.files.wordpress.com/2007/11/kelapa_curve1.jpg

TATAPAN CERAH BERTABURKAN HARAPAN DITAHUN 2011



”Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin. Mimpi hari ini adalah Kenyataan Hari esok” (Haqooiqul yaumi ahlaamul amsi. Ahlaamul yaumi haqooiqul ghodi) =Hasan Al Bana*Ulama Mesir=

Buat Impian Sekarang Juga

Akhir tahun seperti ini adalah saat yang penting untuk introspeksi atas prestasi yang telah kita capai hingga saat ini dan pada saat yang sama berani merencanakan untuk kemakmuran kita di tahun mendatang. Ada ungkapan yang mengatakan : “Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung. Kalau sama saja, Dia adalah orang yang merugi. Kalau lebih buruk, Dia adalah orang yang celaka”.

Jadi, mumpung masih ada waktu mari kita luangkan waktu untuk sejenak menyepi dan membuat big picture, visi atau impian yang kita inginkan untuk kemakmuran kita di tahun mendatang. Atau dalam bahasa agama, mulailah dengan niat atau nawaitu seperti yang disampaikan dalam hadist arbain an nawawi : “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya……”.

Sebagai penggugah, Bill Gates pernah bermimpi suatu saat dapat menghadirkan komputer ke rumah-rumah. Sesuatu yang dianggap sulit diwujudkan pada masa itu. Mimpinya itu hari ini menjadi kenyataan dengan menjadikannya sebagai orang terkaya di dunia. Perlu diingat, mimpi dapat mengubah hidup seseorang.

Begitu juga dengan Oprah winfrey, siapa yang tidak kenal nama ini. Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan. Ia memiliki obsesi menjadi manusia sukses yang punya karakter dan ia berhasil.

Masih banyak lagi kisah-kisah luar biasa berhasil diwujudkan orang-orang sukses karena dalam dirinya tertanam mimpi, obsesi dan harapan. Itulah energi yang menghantarkan mereka ke puncak kesuksesan. Mereka berhasil keluar dari derita, mereka berhasil mendobrak pintu kelemahan, mereka mampu mewujudkan harapannya menjadi kenyataan.

Mulailah membuat impian sekarang juga dan raih keajaiban dalam kehidupan kita berikutnya yang lebih baik, lebih makmur dan lebih bermanfaat.

Terus Optimis

Meminjam ulasan dari mentor bisnis terkemuka Surabaya, Tanadi Santoso di Business Wisdomnya tentang pernyataan gurunya para guru bisnis, Peter Drucker. Guru bisnis top dunia yang berusia 90 tahun itu mengatakan : “Orang bisa melihat gelas isinya setengah penuh dan bukan setengah kosong. Yang membedakan adalah mood atau sikap kita terhadap kondisi saat itu”.

Pernyataan itu merupakan sebuah cerita tentang attitude atau sikap kita seperti halnya postingan saya terdahulu tentang “Adakah Peluang : “THEOPPORTUNITY IS NOWHERE”. Bagimana kita memandang hidup ini, bagaimana kita harus melihat kalau ada gelas isinya cuma setengah air. Pertanyaannya adalah, apakah itu half full (setengah penuh) atau half empty (setengah kosong).

Orang yang optimistis akan selalu mengatakan kalau gelas itu is half full, sementara orang pesimistis akan mengatakan kalau gelas itu is half empty. Kenyataannya gelas itu memang setengah berisi air dan setengahnya lagi kosong, tetapi persepsi dari orang-orang itu yang berbeda-beda.

Hal ini sangatlah menarik untuk kita renungkan di akhir tahun ini. Kalau kita orang yang optimistis, maka kita menjalani kehidupan ini dengan segala nilai positif, kemauan dan passion yang ada dalam diri kita serta kemauan yang kuat untuk selalu maju. Atau seperti iklan merk motor Yamaha, “Semakin Di Depan”. Sedangkan kalau orang pesimistis, mungkin saja benar bahwa gelas itu is half empty. Tetapi orang pesimistis sangat susah melewati hidupnya karena dia harus melewati hidupnya dengan segala kemurungan, kesedihan dan kesusahannya.

Sekali lagi Peter Drucker mengingatkan kita, bahwa : “Dalam kenyataannya kitapun tak bisa mengubah hal itu. Kita tidak bisa mengubah fakta. Tetapi kalau kita melihat dengan cara yang lain, maka kita akan mempunyai sebuah meaning yang berbeda dalam melihat persoalan tersebut”.

Sangat penting untuk melihat dan mempunyai sikap atau attitude yang tepat dan baik dalam kita melakoni kehidupan dan bisnis ini. Spektrum kita dalam melihat kehidupan ini haruslah luas dan dari berbagai sisi. Bukankah Allah telah menyuruh kita untuk selalu mengingat-Nya baik dalam keadaan berdiri, duduk dan bahkan berbaringnya kita dan itu dihubungkan dengan proses penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam serta ciri orang yang berakal. Dan itu menurut saya adalah isyarat bahwa kita harus “meluas” dalam berfikir sehingga tindakan kita benar dan bernilai.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)

Be Positively With Your Style

Terkait dengan sikap positif, saya sangat tertarik dengan brand yang sekarang sedang dikampanyekan oleh merk minuman terkemuka, Coca-Cola dengan slogannya : “Live Positively”. Dengan penggambaran yang sederhana dimana seorang anak yang begitu bangganya dengan bapaknya dan begitu pula sang bapak selalu berkontribusi positif bagi pekerjaan dan lingkungannya.

Energi kita lebih baik digunakan untuk berfikir positif saja terutama untuk mengawali tahun ini, biarlah para pengamat saja yang berfikiran negatif. Jangan pernah toleransi masuknya fikiran negatif ke dalam diri kita karena bencana yang dihadirkan di kemudian hari lebih hebat dari bencana erupsi “wedhus gembel” Merapi dan bahkan lebih besar dari bencana tsunami. Gak percaya ? Coba saja kalau mau he..he.

Untuk menyikapi hal ini, seorang politisi dan pengusaha, Anis Matta pernah mengatakan : “Lupakan masalah dan fokuslah pada peluang”. Kata beliau, melupakan masalah adalah pertahanan terbaik agar kita bisa melakoni kehidupan saat ini dan disela-sela itu kita merencanakan untuk kehidupan masa depan kita yang lebih baik dengan selalu melihat dan mendengar peluang yang selalu berseliweran di sekitar kita.

Saya kemarin barusan membaca profil seorang pengusaha muda yang berhasil mengangkat kasta cilot atau penthol dari jajanan kaki lima rendahan menjadi kelas mall yang omsetnya jutaan rupiah. Dia yang sudah mapan menjadi sales mobil dengan penghasilan lumayan besar, berani keluar dari pekerjaannya dan fokus jualan penthol dengan merk : “Penthol Urat Cak To”. Ini terjadi karena jelinya melihat peluang dan selalu berfikir positif dan percaya bahwa dirinya bisa sukses dari jualan penthol.

Menurut Ippho Santosa dalam bukunya “10 Jurus Terlarang”, mengatakan bahwa ada tiga tahapan yang mesti dilalui untuk dapat berfikir dalam kerangka yang positif secara total, yaitu :

Pertama, cobalah berfikir positif kepada Allah SWT (Vertical Positivety) . Artinya kita sungguh-sungguh percaya bahwa apa saja yang kita alami adalah pemberian Allah yang terbaik bagi kita. Karena Allah itu sangat terkait dengan persangkaan hambanya. Kalau di fikiran kita yakin sukses maka insyaallah demikian adanya begitupun sebaliknya.

Kedua, cobalah berfikir positif terhadap diri sendiri (Inner Positivety). Artinya, Di tangan-Nya segala sesuatu adalah mungkin. Seandainya anda dititipi kekuatan oleh-Nya, maka sebenarnya anda mampu meraih apa saja kendati terkesan mustahil bagi siapapun. Sekali lagi jangan pernah meremehkan visi dan potensi diri kita. Karena kita diciptakan Allah adalah sebaik0baiknya kejadian.

Ketiga, berfikir positif terhadap orang lain (horizontal positivety). Dengan berbekal positivety terhadap orang lain, maka orang itu akan bersikap terbuka, percaya, kolaboratif dan bahkan mempersembahkan best shot-nya untuk kita. Selain itu positivety akan mengantarkan kita pada posisi mood and feel good.

Untuk menyambut datangnya tahun baru 2011, mari kita sejenak merenungkan sudah sampai mana diri kita dan sebesar apa pengabdian kita kepada Allah SWT yang memberikan hidup dan kehidupan kepada kita selama tahun ini. Dan kemudian menatap masa depan dengan segera merajut impian dan meretas kehidupan dengan selalu optimistis dan berfikir serta bertindak dengan positif. Kebahagiaan, kesuksesan dan kemakmuran insyaallah tinggal menunggu waktu.







SPIRIT TAQWA DAN GARANSI SURGA

Iitaqullaaha wa sholluu khomsakun, wa shuumuu syahrokum,wa addu zakaata amwaalikum thoyyibatan bihaa anfusukum, wa athii’uu dzaa amrikum tadkhuluu jannata rabbikum (Rowahul Hakim ‘an Abi Umaamata)

Bertaqwalah kepada Allah, laksanakanlah sholat kalian, laksanakan puasa bulan (Ramadhan) kalian, tunaikanlah zakat harta-harta kalian dengan keikhlasan jiwa kalian, taatlah kepada pemimpin kalian maka kalian akan masuk ke dalam surga Tuhan kalian. (HR. Al-Hakim)
Dalam berbagai hal, Allah SWT senantiasa berpesan untuk bertakwa demikian juga Rasulullah SAW. Termasuk dalam hadits di atas, sebelum memerintah kita puasa, shalat zakat Rasulullah SAW mengawalinya dengan perintah bertaqwa. Hal itu mengisyaratkan agar semuanya kita lakukan berdasarkan takwallah, sehingga berangkatnya karena Allah serta yang dituju pun ridho Allah. Oleh karena itu, semua perbuatan kita termasuk dalam urusan duniawi sekalipun kalau niatnya karena Allah dan disarakan taqwallah, maka akan mendatangkan kebaikan dunia akhirat.

Sebaliknya meskipun berupa ibadah ukhrowi, tapi kalau bukan karena Allah tidak didasarkan pada taqwallah maka akan menjadi sia-sia belaka. Orang shalat bisa jadi lahiriyahnya shalat, orang puasa juga lahiriyahnya puasa, begitu juga zakat, tapi belum tentu niatnya, motivasinya karena Allah. Mungkin pamer ingin dikatakan ahli ibadah, mungkin niatnya untuk diet biar bisa langsing, sehingga tubuhnya menjadi ideal, dan lain-lain. Demikian juga taat pada ulil amri (pemimpin) kita, bathinnya juga harus dibarengi dengan niat karena mengikuti perintah Allah dan rasul-Nya bukan karena ada tujuan ini dan itu.

Oleh karena itu, meskipun shalat, puasa, zakat itu sebagian daripada takwa agar hal itu tidak disalah gunakan dengan niat yang lain, maka Allah mendahului dengan perintah ittaqullah. Taqwallah menjadi spirit setiap aktifitas kita, sekaligus menjadi benteng kokoh agar semua amal ibadah kita tidak sia-sia.

Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, supaya dalam melakukan taqwallah kita bertakwa dari semua aspek kehidupan kita. Baik dalam bingkai hablum minallah yang murni seperti shalat dan puasa. Mesklipun ibadah itu sekaligus berfaidah untuk kesehatan fisik kita (berbuat baik kepada diri sendiri). Demikian juga ibadah yang manfaatnya bisa dirasakan orang lain khususnya fakir miskin (ibadah sosial seperti zakat, infak dan shodaqoh), berbuat baik kepada sesama manusia hablum ninannas, mentaati orang–orang yang memang harus kita taati, termasuk pemimpin, orangtua serta guru selama ketaatan kita kepada mereka itu tidak menyebabkn kita bermaksiat kepada Allah. Ketaatan dan kepatuhan semua rakyat atau ummat kepada pemimpinnya merupakan wujud ukuhuwah dan persatuan ummat Islam dengan catatan semua itu dilakukan dengan hati yang tulus, ikhlas, hati yang ridho.

Ketika kita sudah bertakwa dengan melaksanakan sesuatu yang langsung berhubungan dengan Allah, dengan kesehatan jasmani, puasa misalnya, membantu orang lain dengan zakat shadaqah dan semua masyarakat kompak bersatu mentaati pemimpinnya. Itu artinya kita sudah bertakwa kepada Allah.

Garansi Kemakmuran Dunia dan Masuk Surga
Dan takwa seperti itulah menjamin semuanya hidup di dunia dengan makmur bahagia dan sentosa, sebagaimana sering didengung-dengungkan baldatun toyyibatun warobbun ghofur (negara yang sejahtera serta mendapat ampunan Tuhan). Dengan tegas disebutkan dalam al-Qur’an bahwa taqwa merupakan syarat utama kemakmuran dan keberkahan. Allah SWT berfirman: Dan seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka pasti akan kami bukakan untyk mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.. (QS. Al-A’raf:

Lebih-lebih lagi semua rangkaian perintah ibadah sebagaimana di dalam hadits di atas mulai sholat, puasa, zakat, taat pada pemimpin yang diawali dengan semangat taqwa merupakan pengantar sekaligus pintu utama menuju surganya Allah SWT. Dan semua perintah itu harus dilakukan secara utuh, jangan sampai dipenggal salah satu. Mau sholat tapi tidak mau zakat, padahal mampu. Mau puasa tapi ogah ibadah haji padahal hartanya cukup.

Sebaliknya, pelaksanaan takwa yang tidak utuh, tidak komperensif, misalnya orang yang shalatnya bagus tapi tidak zakat, ibadahnya kenceng tapi tidak kompak atau bersatu di bawah satu kepempinan, maka tidak menjamin keamanan kedamainan kehidupan di dunia. Orang yang memberi bantuan sosial dalam rangka hablum minannas, orang menata kehidupan politiknya, tapi itu dilakukan tidak dalam rangka karena Allah, mungkin bisa saja sedikit memberi kemakmuran di dunia, tapi tidak ada jaminan selamat di akhirat, tidak ada garansi untuk masuk surganya Allah SWT. Jadi yang benar adalah semua itu dilakukan secara utuh, tidak sepotong-potong (parsial) dengan niat dan semangat takwa kepada Allah.






DIDUNIA GELISAH,DIAKHERAT RESAH

Ittaqudz dzhulma, fa innadz dzhulma dzhulumaatun yaumal qiyaamati. Wattaqus syuhha, fainnas syuhha ahlaka man kaana qoblakum wahamalahum ‘alaa an safakuu dimaa ahum was tahalluu mahaarimahum.

Hindarilah perbuatan dhloim (menyakiti, merugikan, mendholimi dan menindas orang lain) karena sesungguhnya perbuatan dholim tersebut akan mengakibatkan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat dan hindarilah sifat syuh (terlalu materialistik, mendewa-dewakan harta) dan cinta keduniaan, karena sesungguhnya sifat syuhh itu telah mencelakakan orang-orang sebelum kamu dan mendorong mereka untuk mengalirkan darah (membunuh) mereka dan menghalakan apa-apa yang haram (bagi mereka). (HR. Muslim)
Perbuatan dzholim bukan hanya mengakibatkan kesengsaraan di dunia, misalnya dia tertangkap lalu dipenjara atau dimusuhi masyarakatnya, lebih-lebih kedzhaliman bisa mendatangkan kegelapan di hari kiamat bagi sang pelaku.

Kenapa perbuatan mendhzolimi orang lain menyebabkan kegelapan-kegelapan di hari kiamat? Jangan kan di hari kiamat, di duniapun, pikiran, perasaan dalam hati kecilnya sudah gelap alias susah. Dia merasa dikejar-kejar oleh perbuatannya, dia senantisa takut kalau-kalau pihak pihak yang dirugikan akan mengejarkanya dan menuntutnya. Dia juga khawatir kalau masyarakat umum mengetahui kedok dan belangnya yang itu akan menjatuhkan derajatnya belum lagi dia khawatir karena senantisa dikejar-kejar aparat. Hidupnya akan semakin berat manakala dia sudah ketangkep lalu berurusan dengan hukum apalagi setelah meringkuk dalam tahanan.

Nah, orang seperti itu tentu hidupnya tidak bisa tentram, damai dan bahagia. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, tidak pernah duduk di rumah lama-lama karena tidak jenak, dia terus berusaha berpindah-pindah tempat untuk menghilangkan jejaknya. Kalau sudah begini, bagaimana bisa shalat dan ibadah dengan baik. Tidak mungkin dia shalat dan ibadah dengan khusyuk dan sebagainya.

Kalau di duniapun hati dan bathinnya gelap, masa depannya suram dan pada saat sakaratul maut dia harus menanggung bebat kedhzoliman yang sangat besar, apalagi di akhirat yang semua beban rohani itu masih ditambah dengan situasi yang sangat mencekam dan menakutkan; panas di Padang Mashar, khawatir tidak lulus di pengadilan Allah, dipertemukan dengan semua orang yang pernah didhzoliminya.

Perbuatan dzhalim bagaimanapun bentuknya akan membawa konsekwensi di akhirat. Meskipun di dunia pelakunya bisa bebas berkeliaran tapi di akhirat akan jadi batu sandungan yang mengerikan. Dia akan dituntut oleh orang-orang yang pernah didzoliminya. Bisa jadi pahala amal-amal baiknya akan diberikan kepada orang yang dia dholimi, lalau kalau pahalanya sudah habis sementara kedzholimannya masih ada, maka dosa orang yang dia dzholimi akan ditimpakkan kepadanya. Belum lagi ketakutan yang paling besar yaitu ketika menunggu vonis terakhir dari sang maha raja, Allah SWT. Apakah dosanya diampuni atau tidak? Apakah amalnya diterima atau tidak? Dan apakah dimasukkan syurga selamanya, atau masuk neraka selamanya? Semuanya serba mencekam dan menakutkan, menyebabkan situasi semakin gelap. Na’udzubillah. Ini kan namanya kegelapan yang luar biasa. Oleh karenanya kanjeng Nabi wanti—wanti agar kita tidak melakukan kedzholiman.

Sangat beda halnya dengan orang yang benar-benar menghindari perbuatan dhzolim. Di dunia dia tenang karena tidak ada yang menuntut, dan tidak khawatir apapun. Dia hidup dengan nyaman, tentram dan damai lahir bathinnya. Kalaupun dia mati tidak membawa beban dosa yang menyangkut haqqul adami, sehingga dia menghadap Allah SWT dengan tenang dan aman.

Demikian juga nabi mengingatkan kita agar menghindari sifat syuh (terlalu materialistik, mendewa-dewakan harta) dan cinta mati terhadap keduniaan, sampai-sampai dia sangat bakhil bahkan lebih dari bakhil.

Sebab, kalau bakhil orang hanya merasa berat untuk bersedakah kepada orang lain, tapi kalau syuhh di samping orang tersebut berat (eman) bersedekah kepada orang lain dia juga tidak suka apabila ada orang lain mendapat kenikmatan, atau mendapat rezeki. Jadi orang yang punya penyakit syuhh itu sudah pelit juga tamak. Oleh karenanya, penyakit syuhh tersebut telah menghancurkan umat-umat terdahulu sebelum kalian semua dan mendorong mereka semua untuk saling menumpah darah (perang saudara) serta menghalalkan yang haram (ngawur) dalam mencari dan mengelola harta.

Oleh karena itu, marilah kita menjalin hablum minallah dan hablum minannaas, jangan sampai kita merugikan orang lain atau menyakitinya. Syukur-syukur kita memberi manfaat kepada orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.







APA YG BISA KITA BANGGAKAN

Jauhilah sifat sombong. Karena sesungguhnya seorang hamba senantiasa berlaku sombong sampai Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya: “Tulislah hamba-Ku ini dalam golongan orang-orang yang sombong”. Allah juga berfirman: “Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam keadaan lemah”.

Manusia merupakan makhluk lemah dilihat dari berbagai sisi. Manusia adalah makhluk yang paling lemah fisiknya dan rawan kena penyakit. Kalau kambing, meski makannya sembarang seperti rumput, kotoran ya tidak gampang sakit. Meski tidur sembarangan dan tidak selimutan ya nggak tahu masuk angin. Coba manusia makan sembarangan, alamat bolak balik musak rumah sakit. Coba manusia tidur sembarangan bisa bolak balik masuk angin. Makanya yang paling lemah fisiknya itu justru manusia
Selain itu, manusia juga merupakan makhluk yang gampang menjadi sasaran tembak karena dengki dan permusuhan. Tidak ada orang dengki kepada kambing, menyantet sapi itu tidak ada.

Manusia apalagi dia sukses, banyak orang membidik nyawanya supaya mati. Jadi posisi sebagai manusia itu rawan. Tapi, meskipun posisinya rawan, rentang penyakit, fisiknya juga lemah, Allah menjaga manusia dengan malaikat-malaikat dan sebagainya. Allah membuat aturan-aturan hukum untuk melindungi manusia. Misalnya haramnya mencederai orang, melukai orang, merampas hak orang dan sebagainya. Aturan-aturan hukum tersebut hakikatnya merupakan penjagaan Allah bagi manusia.

Karena aslinya manusia itu lemah, kemudian ditolong oleh Allah, dijadikan makhluk yang paling mulia, menjadi paling raja, paling dihormati, maka sangat patut manusia harus bersyukur. Bagaimana bentuk syukur manusia itu? yaitu dengan ibadah. Bahkan Allah SWT menegaskan tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk ibadah. Ibadah itu intinya mentaati Allah dalam keadaan apapun, dimanapun dan kapanpun. Ibadah tidak harus hanya dhohirnya berupa ruku’ sujud itu, yang penting itu ketaatannya. Misalnya, kadang-kadang orang jam 1 belum shalat Dhuhur, karena ada masalah yang mendesak dan sangat penting. Misalnya ada orang mau berangkat sholat jamaah kemudian di jalan ada orang yang kecelakaan, lalu orang yang mau sholat jamaah itu menolong dulu sampai selesai. Meskipun shalatnya tertunda sampai jam setengah dua atau sampai jam dua ini tidak apa-apa, karena menolong orang juga hakikatnya melaksanakan perintah (taat kepada) Allah).

Salah satu inti ibadah lagi di samping taat juga bermakna tawadhu kepada Allah. Ibadah itu antara lain sujud, tunduk dan merendah dihadapan Allah. Kalau dhohirnya merasa paling baik, paling pinter, hebat, sombong itu namnya yang sujud hanya kepalanya saja, tapi hatinya tidak sujud. Orang yang sombong sama halnya menantang Allah, ingin menandingi kebesaran Allah. Sebagai hamba yang lemah, keliru besar kalau ada mansuia yang sombong. karena bertentangan dengan prinsip ibadah penghambaan dan ketundukann kepada Allah. Yang benar-benar Maha Besar dan boleh merasa besar itu hanyalah Allah. Allah Maha Sempurna. Sementara manusia selain lemah sebagaimana diterangkan di atas, juga terbatas. Manusia, sealim apapun ya bisa lupa, sekaya apapujnn suatu saat bisa jatuh bangkrut, sekuat apapun suatu sat bisa loyo, secantik atau seganteng apapun pasti suatu ketika ya kemprot. Karena yang Maha Besar dan yang boleh merasa besar itu satu-satunya adalah Allah, maka sangat pantas kalau gusti Allah tidak suka dengan orang yang sombong.

Manusia tidak berhak dan tidak layak untuk berlagak sombong, merasa hebat, merasa kuat dan sebagainya, meskipun sombong dalam ukuran dan tingkatan yang kecil. Misalnya di lingkungan keluarga, dia diberi anugerah Allah menjadi yang paling pinter, lalu kepada saudara-saudaranya, kakak adiknya sombong berlagak paling hebat. Kesombongan bisa terjadi dalam berbagai tingkatan, tegantung kondisi dan posisi seseorang. Ada orang sombong dalam lingkungan keluarga. Ada orang sombong di lingkungan kampung, jadi ketua RT sombong. Sekalipun sombong dalam lingkup kecil, intinya sombong itu ya sama saja. Hanya saja posisi dia yang memang lingkupnya kecil. Orang yang sombong diposisi atau di lingkup apapun bisa berlaku sombong. Semakin besar lingkupnya, semakin besar peluang kesombongannya.

Orang sombong dalam berbagai lingkup itu tetap digolongkan sebagai kaum-kaum yang sombong. Allah pun memerintahkan malaikat, “Catat hamba ini dikumpulkan bersama orang –orang sombong, dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun, orang-orang semena-mena.

Na’udzubillah, kan rugi besar, orang yang sombong padahal lingkupnya sangat kecil, lha kok tetap dimasukkan sebagai golongannya Fir'aun dan kawan-kawan.

Kita diajarkan hidup tawadhu’ merendahkan hati. Para Nabi tawadhu, para wali juga tawadhu. Orang yang tawadhu’ mereka akan disukseskan oleh Allah. Nabi SAW bersabda: “Man tawaadho’a lillaah rofa'ahu, (Barangsiapa tawadhu karena Allah maka Allah akan mengangkat derajatnya).

Tentu saja, asalkan tawadhlu’nya itu asli, bukan tawadhu’ yang dibuat-buat. Sebab, tawadhu’ yang dibuat-buat menurut kitab al-Hikam itu juga termasuk sifat sombong. Man adzharo minnafsihi minattawadlui’ fauqo maa ‘indahu fahuwa ‘ainul kibri, “Orang yang menampakkan ketawadhuan melebihi apa yang sebenarnya ada dalam hatinya, itu adalah bentuk kesombongan”.

Sebetulnya hatinya tidak setawadhu’ penampilannya, ini namanya tawadhu’ yang dibuat-buat, ingin dikatakan orang yang paling tawadhu’. Itu sebetulnya ya bentuk kesombongan karena merasa sebagai orang hebat, orang suci, orang tawadhu’. Terus bagaimana?. Ya biasa saja. Penampilan tidak perlu berlebihan.







JANGAN TERGESA GESA MENGAMBIL KEPUTUSAN

Hati-hati (tidak grusa-grusu) itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syetan. (HR. Al-Baihaqi)

Hati-hati tidak grusa-grusu itu dari Allah dan sebaliknya tidak hati-hati, tergesa-gesa itu dari syetan. Kenapa demikian?. Karena ada beberapa hal yang dilakukan seorang mukmin sebelum mengambil sikap, keputusan. Misalnya jadi keluar negeri apa tidak, jadi nikah dengan si fulan atau tidak, mau mondok ke mana. Perlu berpikir panjang dan waktu untuk menimbang-nimbang mana yang paling baik, mana yang paling maslahah.
Misalnya untuk memutuskan nikah dengan fulan kah atau tidak. Kita harus tahu betul kondisi si fulan itu, akhlaknya bagaimana, perilaku kesehariannya bagaimana. Lantas kalau itu sudah kita selidiki maka kita perlu mengetahui latar belakang keluarganya. Kalau itu sudah kita ketahui, kita masih perlu menimbang lagi perbedaan kondisi keluarga kita dengan keluarga si fulan sudah seimbang apa belum, ada keserasian atau kesesuaian apa tidak. Kalaupun secara dzohir sudah dipertimbangkan dan dianggap sama-sama baik, toh kita masih butuh tanya kepada Allah dengan istikharah. Sebab, jangan-jangan kelihatan baik, tapi sebetulnya tidak baik.

Al-Qur’an mengingatkan kita: “Siapa tahu kalian mencintai sesuatu ternyata itu jelek, kebalikannya siapa tahu kalian benci pada sesuatu ternyata itu baik, sesungguhnya Allah yang Maha Mengetahui dan kalian tidak mengerti”

Nah, untuk proses-proses itu, mulai meneliti, istikharah dan musyawarah kan ya butuh waktu. Kalau kita putuskan melalui tahap-tahap itu, namanya tidak tergesa-gesa yang akhirnya kita pun mendapat petunjuk yang terbaik dari Allah SWT. Makanya hati-hati tidak grusa-grusu itu dari Allah. Begitu juga ketika kita akan memutuskan kerja di perusahaan mana. Kita jangan grusa-grusu. Sebelum memutuskan kita harus mempertimbangkan dan meneliti, apakah perusahaan ini baik, manajemennya baik-baik, bergerak di bidang yang halal, di lingkungan perusahaan itu orang-orangnya baik-baik, shalat-shalat. Karena hati-hati, kitapun akan diberi yang terbaik. Jangankan urusan dunia, lah wong berangkan sholat saja kita tidak boleh kesusu alias terburu-buru. Nabi bersabda: “Jika sudah di iqomati, kalau datang ke masjid untuk shalat jamaah jangan lari-lari, jalan saja ke masjid dengan jalan yang tenang, pelan-pelan, kalau pun kita terlambat, ya sedapatnya dengan imam itu kita langsung ikut menjadi makmum rakaat yang terlambat, maka kita teruskan sendiri”.

Kenapa jalan menuju tempat sholat disuruh pelan pelan? Karena shalat itu butuh ketenangan bathin, khusyuk. Kalau kita habis berlari-lari, nafasnya menggas-menggos kan nggak bisa khusyuk. Atau karena sambil lari, kita malah terjatuh sehingga akhirnya tidak bisa mengikuti jamaah.

Jadi dalam berbagai hal lebih baik kalau kita itu berhati-hati, pelan-pelan agar mempunyai kesempatan berpikir, bermusyawarah, beristikharah. Dan andai setiap ummat Islam mempunyai keputusan seperti ini, masya Allah luar biasa dan itulah langkah yang bijaksana. Lebih baik berpikir dulu, matang dulu baru jalan mungkin dia terlambat dua jam dalam perjalanan tapi sekali jalan kan benar nggak balik lagi. Sementara teman yang keliru balik lagi jauh di belakang kita. Kayaknya cepat tapi balik lagi seperti jalan di tempat.

Tapi ada beberapa hal yang dianjurkan disegerakan, tapi tetap bukan istilahnya grusa-grusu. Yang namanya ta-anni (hati-hati) bukan berarti menunda-nunda tapi kita butuh waktu, berpikir, meneliti untuk mengkaji ulang untuk bermusawarah dan beristikharah. Sekedar butuh waktu untuk itu namanya hati-hati, mengerjakannya tidak perlu cepat-cepat. Kalau menunda-nunda waktu itu namanya malas, seperti orang munafiq kalau disuruh shalat malas, shalatnya juga tidak ingat Allah.

Ada beberapa hal yang kalau dilakukan dengan segera itu malah baik. Petama, orang mati dan dipastikan mati. Maka sunnahnya segera diurus, segera dimandikan, segera dikafani, segera disholatkan dan segera dikuburkan. Kata Nabi SAW tidak baik kita itu menunda-nunda, kalau mayit itu memang orang baik itu ya biar segera mendapat nikmat kubur, kalau mayit itu bukan orang baik, untuk apa barang yang tidak baik ditahan lama-lama.

Kedua, menikahkan anak khususnya anak perawan. Jika memang sudah saatnya mencapai umur nikah itu dan sudah ada jodoh, dan dia juga sudah siap menikah, maka jangan ditunda-tunda, jangan nunggi anu dan anu. Tidak perlu ditunda-tunda seperti itu tanpa alasan. Kalau sampai di tunda-tunda akhirnya jadi gagal atau ada istilahnya jawa disyetani , diganggu oleh orang lain sampai tidak jadi nikah, maka orang tua ikut salah, apalagi sampai anak-anaknya berzina gara-gara tidak segera dinikahkan, maka orang tua ikut berdosa.

Ketiga, melunasi Hutang. Asal kita sudah cukup punya uang untuk melunasi atau sudah jatuh tempo, maka sunnahnya segera kita lunasi. Tidak boleh kita menghindar bayar hutang dengan memakai rumus jangan tergesa-gesa, malah kita bertambah berdosa.

Keempat, shalat. Kalau waktunya sudah masuk, sudah adzan, dan tentu kita tidak sedang udzur ya segera saja siap-siap ke masjid untuk melakukan shalat. Taubat, istighfar itu tidak usah menunggu hari raya idul fitri, setelah melakukan kesalahan ya segera bertaubat dan segera beristighfar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar