Powered By Blogger

Rabu, 22 Desember 2010

renungan

Komposisi. Air warna


Tips agar semangat kerja

Adakalanya ketika kita beraktifitas dalam bekerja, semangat kerja menurun ga karuan. Rasa jenuh, dan bad mood sering disebut sebagai faktor utama menurunnya semangat dalam bekerja ini. Tetapi jangan salah, tidak sedikit hal ini disebabkan hanya karena kebiasaan buruk kita, dalam mengkonsumsi makanan. Berikut adalah tips sehat mengatur makanan yang kita konsumsi, agar semangat kerja tetap terjaga:

1. Minumlah air putih yang cukup
Terkadang karena terlalu sibuk bekerja, kita suka lupa akan minum air putih. Padahal perlu diingat dehidrasi bisa membuat badan lemas . Tidak harus sih minum air putih sebanyak 8 gelas dalam sehari tetapi yang terpenting selalu minum air putih saat haus dan ditambah dengan beberapa gelas. Gantilah kebiasaan minuman soda atau jus dengan minum air putih.

2. Hindari makanan berat
Pada hari kerja, dan jam makan siang, sebaiknya Anda membiasakan memilih makanan yang tidak terlalu berat kalorinya atau ganti saja dengan salad. Sesudahnya, cukup minum segelas air putih atau teh herbal agar tidak mengantuk dan tetap segar sampai sore hari.

3. Biasakan makan cemilan yang sehat
Biasakan untuk memilih cemilan sehat seperti buah apel, yogurt berkadar lemak rendah, roti bakar dengan selai kacang, dll. Makanan kecil yang kaya mineral ini dapat membuat kita tetap bersemangat sampai jam pulang kantor.

4. Selingilah dengan olahraga ringan
Sesekali gerakkan badan dengan kombinasi berjalan cepat dan lambat. Tinggalkan meja, jalan berkeliling kantor untuk beberapa menit dan kembali lagi bekerja. Tidak lebih dari 10 menit, waktu yang diperlukan agar badan kembali segar..





Jadilah Sebuah Gelas


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”




10 CARA MENGHINDARI KONFLIK DG ANAK(USIA 2 -12 TH)

  1. Abaikan tingkah laku yang tidak sepantasnya (berteriak, membenturkan kepala, menangis dengan berguling-guling) dengan tidak memberikan perhatian sama sekali (memandang, berteriak, atau berbicara). Cari kegiatan lain. Pastikan semua anggota keluarga/orang dewasa dalam ruangan itu mendukung kita dan mengabaikan anak tersebut. Bersiaplah memujinya pada saat dia menghentikan tindakan yang tidak pantas tersebut.
  2. Tinggalkan sejenak bila anak sedang melampiaskan kemarahannya. Duduklah agak jauh sambil mengawasi dan melindunginya dari berbagai bahaya. Berikan kesempatan kepada anak dan orang tua untuk menenangkan diri.
  3. Alihkan perhatian merupakan salah satu upaya untuk menghindari situasi bermasalah (rebutan mainan, bertengkar). Jika perkataan orang tua diucapkan dengan ramah, bersemangat, dan muka lucu maka anak akan menghentikan apa yang dilakukannya dan mengikuti saran kita.
  4. Beritahukan tingkah laku alternatif jika seorang anak melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Biasanya anak-anak tidak akan berhenti mencari penyaluran atas kreativitas dan energi fisik saat mereka marah (corat-coret dinding, membanting benda). Ajari mereka untuk menemukan pengganti aktivitas seperti mainan ataupun kegiatan untuk mengatasi perilaku yang bermasalah.
  5. Carilah segi positifnya dari perilaku anak, kemudian berikan pujian. Bila anak senang berkelahi maka katakan bahwa dia adalah anak yang kuat dan berani, sebaiknya…
  6. Tawarkan pilihan kepada anak setiap hari. Cara ini dapat mendorong anak untuk berpikir dan memperoleh kekuatan pendirian yang sehat dan percaya diri dengan keputusan yang dibuat.
  7. Gunakan rasa humor untuk meringankan ketegangan baik secara fisik maupun mental. Humor dalam mengasuh anak cenderung memasukkan unsur yang melebih-lebihkan dan hayalan. Ini tidak mahal, spontan dan mudah dilakukan. Dengan humor kita mengajarkan bahwa kita tidak perlu harus melakukan pekerjaan yang sempurna. Namun perlu pula diingat saat bercanda hindari kata-kata yang menyinggung perasaan anak seperti kondisi fisik ataupun kata-kata kasar/tajam.
  8. Memberikan contoh tingkah laku yang sepantasnya melalui perbuatan, perkataan ataupun cara berpikir.
  9. Tentukan perilaku apa saja yang tidak kita sukai, kemudian susun prioritas dan tindakan yang akan diberikan bila anak melakukan hal tersebut.
  10. Tentukan batas usia yang pantas untuk aturan yang kita buat. Buatlah aturan yang fleksibel dan sesuai dengan usia serta kebutuhannya. Aturan yang diberikan kepada anak seharusnya dapat membangun tanggung jawab dan kemandirian anak dalam bertindak.









BANGUNKAN KEJENIUSAN ANAK ANDA

Percayalah pada kemampuan anak untuk menjadi seorang jenius. Dengan begitu anak akan berkembang menjadi manusia yang penuh percaya diri, mampu memunculkan seluruh kekuatan di dalam diri mereka, dan mengembangkan semua potensi yang belum tersentuh.

Persiapan yang harus dilakukan adalah:

  1. Bimbinglah dengan tidak memberi perintah. Bicaralah dengan lembut dan jadikan belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan.
  2. Jangan berharap terlalu banyak. Butuh kesabaran dan fokus pada proses bukan hasil.
  3. Pupuklah kecintaan pada pengetahuan dengan memberikan buku bacaan dan lakukan pembiasaan membaca buku. Ajaklah diskusi tentang isi buku/informasi yang didapat dan tanyakan apa yang mereka lakukan dengan informasi tersebut dalam kesehariannya.
  4. Bangun perilaku senang belajar melalui bermain, mendongeng olah raga, nonton film, dll.
  5. Ciptakan metode sendiri untuk meningkatkan rasa ingin tahu anak dengan cara menyenangkan.
  6. Sediakan buku-buku yang beraneka ragam dengan warna dan gambar yang dapat menstimulasi otak mereka, mainan kreatif yang menantang keterampilan berpikir, atau kegiatan yang melatih motorik kasar/halus,
  7. Luangkan waktu untuk membaca buku atau bernyanyi bersama 15 menit setiap hari. Saat membaca cerita lakukan dengan suara keras dan penuh ekspresi agar anak memberikan perhatian, mendapat kesan mendalam serta membangkitkan rasa ingin tahu. Sedangkan saat bernyanyi jangan lupa memberikan sentuhan musik. Musik dapat memompa adrenalin dan menenangkan. Dengan bernyanyi dan mendengarkan musik maka dapat menyeimbangkan kemampuan otak.





50 CARA EFEKTIF MENANAMKAN TINGKAH LAKU YANG POSITIF PADA ANAK

Seringkali kita merasa frustasi ketika harus menghadapi masalah yang berkaitan dengan perilaku anak. Satu kata favorit saat mengatasi perilaku anak yang bermasalah adalah disiplin. Kata ini seolah-olah menjadi kunci bagi orang dewasa untuk menyelesaikan permasalahan perilaku. Sedangkan untuk anak kata disiplin sangat menakutkan karena terkesan keras, galak, main fisik, hukuman dan hal menakutkan lainnya. Ada apa dengan disiplin? Marilah kita luruskan dulu pemahaman tentang disiplin.

Disiplin yang efektif bukanlah dalam bentuk hukuman, melainkan instruksi. Instruksi ini mengajarkan tingkah laku yang baik, membantu anak menjadi besar dengan rasa percaya diri, bertanggung jawab dan tahu akan tindakannya yang pantas dipuji.

Disiplin bukanlah suatu cara utnuk mengawasi anak kita secara total. Ciptakan karung seribu cara untuk menampung semua gagasan disiplin anda. Ambil apa yang kita butuhkan lalu cobalah. Bila kita menemukan kesalahan maka kita akan tahu cara apa yang sebaiknya kita gunakan. Pemukulian hanya mengajarkan kekerasan dan dapat berpengaruh terhadap anak baik secara fisik ataupun psikis. Selain itu mengajarkan disiplin dengan cara memukul merupakan perilaku melanggar hukum.

Sebenarnya pemahaman disiplin harus dilakukan sejak dini dengan bentuk yang sederhana dan berbeda tingkatannya. Berkaitan dengan hal tersebut maka disiplin sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua.

Pola asuh Authoritarian:

  • Pola pengasuhan yang keras dan sangat kuat dengan ancaman.
  • Orang tua lebih suka memaksakan nilai-nilai yang mereka ajarkan.
  • Orang tua lebih suka menghukum daripada member hadiah.
  • Orang tua menetapkan peraturan rumah yang keras dan sangat sulit dipatuhi.

Pola asuh Permisif:

  • Orang tua yang mengasuh dengan kehidupan penuh cinta, namu tidak ada aturan dan disiplin sama sekali.
  • Tidak ada hukuman ataupun hadiah atas hal-hal yang umum atau biasa.
  • Orang tua cenderung tidak ada rasa tanggung jawab.
  • Kehidupan dalam rumah tangga seperti ini agak sulit dan membingungkan.

Pola asuh Demokratif:

  • Orang tua mengajarkan anaknya dengan banyak cara. Mereka mengajari bagaimana berlaku secara dewasa dan bertanggung jawab.
  • Kehidupan rumah tangganya dipenuhi dengan cinta.
  • Aturan yang diberlakukan di rumah cukup beralasan serta didasarkan pada usia dan kebutuhan khusus anaknya. Aturan berkembang sesuai dengan perkembangan waktu utnuk member kesempatan kepada anak lebih bebas dan bertanggung jawab.

Ada tiga langkah bagi orang tua untuk dapat membina hubungan dengan anak yang mengalami kesulitan dalam hal disiplin:

  1. Berlatih untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara tepat dengan orang lain, belajar untuk mengekspresikan kemarahan dengan efektif, memberi dan menerima.
  2. Memberikan contoh dalam mengajarkan keterampilan baru pada anak agar mereka siap untuk menghadapi tantangan hidup.
  3. Melakukan tukar pikiran dengan orang tua lain untuk mendapat dukungan ataupun motivasi.




10 CCARA UNTUK MENGEMBANGKAN KOMUNIKASI DG ANAK
  1. Berikan perintah dengan jelas dan spesifik. Buatlah kalimat yang pendek dengan kata-kata sederhana. Jelaskan setiap kata yang tidak dipahami anak. Bila anak dapat berbicara dengan kalimat lengkap mintalah mereka untuk mengulangi perintah kita agar dia lebih mudah mengingat dan memahaminya.
  2. Gunakan bahasa tubuh dengan semestinya. Bicaralah dengan anak secara langsung dengan menatap matanya, berdiri tegak, atau meletakkan tangan anda di pinggang/menepuk tangan agar anak memerhatikan kita dengan sungguh-sungguh. Jagalah bahasa tuuh kita tetap konsisten dengan perkataan sehingga perintah akan terdengar jelas.
  3. Katakan tidak bila kita kurang setuju dengan perkataan atau perbuatan anak yang tidak sesuai dengan harapan. Tetap tenangkan diri saat mengucapkan kata tersebut dan ucapkan dengan tegas dan jelas namun tidak berteriak atau menjerit. Berikan alasan yang rasional, pendek, sederhana dan dapat dipahami oleh anak.
  4. Berbicaralah dengan tenang. Pilihlah kata-kata dengan hati-hati dan hindari ucapan yang merendahkan. Dengan cara seperti itu maka kita mendorong anak untuk mempercayai, mendengarkan dan bekerja sama dengan kita mengatasi masalah yang dihadapinya. Berbicara tenang menjadi proses disiplin dalam berkomunikasi. Penggunaan kata-kata yang menunjukkan kepekaan, kejujuran, dan penghargaan akan memudahkan kita untuk menjalin kerja sama.
  5. Jadilah pendengar yang baik saat anak kita membicarakan perilaku yang kurang pantas. Luangkan waktu dan beri perhatian penuh. Pahami cara berpikirnya dan duduklah bersama. Tatap matanya dan jangan memotong pembicaraan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kebebasan baginya dalam mengungkapkan perasaan.
  6. Berusahalah untuk membantu memecahkan masalah. Definisikan masalah ke dalam istilah yang jelas dan sederhana. Kemudian lakukan diskusi untuk bertukar pikiran dalam membuat pilihan dengan segala konsekuensinya. Setelah itu biarkan ia memilih keputusan sendiri.
  7. Ketahuilah bagaimana menggunakan ancaman dengan tepat. Ancaman hanya dapat diberikan pada saat anak tidak kooperatif setelah melalui proses komunikasi yang sudah dilakukan secara bertahap.
  8. Buatlah perjanjian mengenai tingkah laku secara tertulis. Tuliskan dengan jelas pernyataan yang anda inginkan untuk dilakukan anak beserta konsekuensi yang akan diterima oleh mereka. Selain itu juga tuliskan cara yang anda inginkan untuk mengawasi tingkah laku anak. Tawarkan kepada anak imbalan atas tingkah lakunya yang baik.
  9. Adakan pertemuan keluarga satu kali seminggu. Tujuannya adalah menjadi momen bagi orang tua untuk memeriksa keadaan setiap anggota keluarga dan mengetahui perasaan anak.
  10. Jalani terapi keluarga apabila menemukan kesulitan dalam membina komunikasi dan hubungan antar keluarga. Terapi ini bertujuan agar dapat mengembangkan hubungan antar kelarga, membantu mengatasi berbagai konflik antara orang tua dan anak, masalah tingkah laku anak, trauma akibat perceraian, memunculkan rasa percaya diri setiap anggota keluarga serta memberikan penguatan terhadap kelemahan dan kerapuhan dalam keluarga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar