Selasa, 06 Agustus 2013

RENUNGAN

Yang Shalih Beristighfar, Bagaimana Pendosa?

Imam Al Ghazaliy menjelaskan bahwa bentuk taubat itu bertingkat-tingkat sesaui dengan kondisi keimanan pelakunya.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تُوْبُوا إِلَى اللَّهِ تَعاَلَى فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ -البخاري في أدب المفرد
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali”. (Riwayat Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthiy)
Al Hafidz Al Ala’iy menjelaskan bahwa maksud taubat di hadits itu adalah taubat istighfar, yang mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam banyak melakukannya.
Imam Al Ghazaliy menjelaskan bahwa bentuk taubat itu bertingkat-tingkat sesaui dengan kondisi keimanan pelakunya. Bertaubatnya orang kebanyakan dalah bertaubat dari dosa-dosa yang telah ia lakukan. Sedangkan taubatnya orang shalih adalah taubat dari kelalaian hati. Dan taubat bagi orang-orang yang mencapai derajat keshalihan yang cukup tinggi (khawwas al khawwas) adalah istighfar dari perhatiannya terhadap selain Allah Ta’ala, karena kata “dzanbun” (dosa) secara bahasa bermakna derajat lebih rendah seorang hamba. Dengan demikian, setiap derajat keimanan memiliki taubat sendiri, hingga dengan taubat derajat keimanan dan derajat pertaubatan semakin meningkat.
Imam Al Munawiy menjelaskan bahwa ada perbedaan penyebutan jumlah taubat dalam hadits ini dan hadits lainnya yang menyebutkan 70 kali, namun itu semua cermin banyaknya istighfar bukan pembatasan jumlah istighfar yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (lihat, Faidh Al Qadir, 3/361,362).
Jika Rasulullah Shallallallahu Alalihi Wassallam perbanyak istighfar dalam setiap harinya, begaimana dengan kita “bangsa awam” yang banyak dosanya?





Shalawat di Hari Jumat

 

Perbanyak shalawat di hari Jum'at untuk peroleh syafaat.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ ولَيْلَةِ الْجُمْعَةِ فَمَنْ فَعَلَ ذَالِكَ كُنْتُ لَهُ شَهِيْداً وَ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِ –البيهقي
Artinya: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Banyaklah bershalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat. Barang siapa melakukan hal itu, maka aku menjadi saksi dan pemberi syafa’at baginya di hari kiamat (Al Baihaqi, dihasankan oleh As Suyuthi).
Hadits di atas memotifasi agar umat Islam memperbanyak membaca shalawat untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di malam dan hari Jumat. Abu Thalib Al Makki menyatakan bahwa bisa disebut banyak, minimal shalawatnya dilakukan 300 kali (Faidh Al Qadir, 2/111)
Al Munawi juga menjelaskan bahwa hari Jumat memiliki banyak fadhilah di antara hari-hari yang lain baik di dunia maupun akhirat. Di dunia hari Jumat merupakan hari raya sedangkan hari Jumat di akhir merupakan manusia memasuki istana dan rumah-rumah mereka di surga. Sehingga perlu mensyukurinya dengan banyak bershalawat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri selain memberi syafaat juga menjadi saksi bagi pelakunya atas amalan-amalan kebaikan yang dilakukan sehingga menyebabkan pelakunya naik derajat lebih tinggi. Ingin mendapat syafa'at? Mari perbanyak shalawat, khususnya di hari Jumat.

 

Budak yang Sedih Ketika DimerdekakaN

 

Budak mukmin perolah dua pahala.
QADHI ABDULLAH BIN HASAN suatu saat tidak mendapati budak wanitanya di waktu malam hari. Setelah dicari, qadhi Bashrah ini mendapati sang budak bersujud dan berdoa,”Demi kecintaan-Mu kepadaku, maka ampunilah aku”.
Setelah itu, Qadhi Abdullah menyampaikan,”Janganlah engkau menyatakan,’demi kecintaan-Mu’. Namun katakanlah,’demi kecintaanku kepada-Mu”.
Sang budak pun menjawab,”Kecintaan-Nya padaku mengeluarkan diriku dari syirik menuju Islam, hingga Ia membangunkan mataku dan menidurkan mata Anda.”
Qadhi Abdullah pun membalas,”Pergilah, engkau merdeka sekarang karena Allah”. Sang budak pun menjawab,”Wahai tuan, Anda telah memperlakukan saya dengan buruk. Sebelumnya saya memiliki dua pahala. Kini hanya satu pahala”. (Shifat Ash Shafwah, 4/39)
Budak mukmin mendapat dua pahala karena ia taat pada majikannya juga taat kepada Allah.





Shalat Tetap Khusyuk Meski Disengat Kumbang

 

Abu ABdullah Al Marwazi, ulama yang khusuk shalatnya.
ABU BAKR MUHAMMAD BIN ISHAQ mengisahkan,”Aku tidak mengetahui siapa yang shalatnya lebih bagus daripada Abu Abdullah Al Marwazi. Telah sampai kepadaku kabar bahwa suatu saat ada seekor zunbur (kumbang penyengat) menyengat dahinya, hingga darah mengalir ke wajahnya, namun ia tidak bergerak sama sekali (Shifat Ash Shfwah 4/130) 
 
 
 
 

Tidak Membantu Kedzaliman, Meski dengan Tinta

 

Imam At Tsauri enggan memberi tinta, kecuali mengetahui apa yang hendak ditulis.
IMAM SUFYAN ATS TSAURI suatu saat memasuki ruangan Khalifah Al Mahdi. Dan sang khalifah saat itu membawa selembar kertas dan menyampaikan kepada Imam At Tsauri,”Beri aku tinta hingga aku bisa menulis”.
Imam At Tsauri pun menjawab,”Sebutkan dulu kepadaku apa yang hendak engkau tulis. Kalau itu kebenaran, maka aku akan memberikannya”. (Ihya Ulumuddin, 2/120)



Jangan Tanya Saudaramu Makan atau Tidak

 

Adab tuan rumah terhadap tamunya menurut Ats Tsauri
IMAM ATS TSAURI memberikan nasihat,”Jika saudaramu mengunjungimu, maka janganlah engkau bertanya,’Engkau mau makan?’ Atau,’Apakah aku perlu menyediakan hidangan untukmu?’ Namun siapkanlah hidangan, jika ia mau maka ia akan memakannya, jika ia tidak maka kemasilah.” (Ihya Ulumuddin, 2/17)



Para Jin Pun Bermakmum pada Ulama

 

Para jin shalih pun melaksanakan qiyam lail di belakang manusia shalih.
ABDUL AZIZ BIN SALMAN adalah seorang faqih yang dikenal kuat dalam melakukan qiyam di malam hari.
Putra beliau Muhammad menyampaikan,”Kalau ayahku bangun malam untuk bertahajjud, aku mendengarkan di rumahku suara keributan dan siraman air yang banyak. Dan aku menyaksikan bahwa para jin bangun untuk bertahajjud dan shalat bersama beliau”. (Shifat Ash Shafwah, 3/255)




Karena Khusyuk, Suara Rebana pun Tak Terdengar

Tidak ingat kecuali surga dan neraka.
AMIR BIN ABDILLAH adalah ulama yang amat dikenal dengan kekhusyukan dalam shalatnya. Saat beliau sedang melaksanakan shalat, terkadang anak perempuan beliau menabuh rebana dan para wanita berbicara semau mereka di rumah beliau, sedangkan beliau tidak mendengarnya.
Hingga sutau saat ada yang bertanya kepada Amir bin Abdillah apakah pernah terlintas pikiran saat beliau shalat. Maka beliau menjawab,”Ya, yakni posisiku di hadapan Allah dan tempat kembaliku menuju salah satu dari dua kampung (surga atau neraka)”. (Ihya Ulumuddin, 1/242)





Budak Shalihah

Budak yang gemar bangun malam, tidak nyaman dengan majikan yang malas beribadah.
HASAN BIN SHALIH suatu saat menjual budak wanitanya kepada sebuah kaum. Di malam hari budak itu pun membangunkan penghuni rumah,”Wahai penghuni rumah dirikanlah shalat!” Mereka pun bertanya,”Apakah ini sudah pagi?” Sang budak pun balik bertanya,”Apakah kalian hanya melaksanakan shalat wajib saja?” Mereka pun menjawab,”Ya”.
Saat bertamu mantan majikannya, Hasan bin Shalih, budak itu pun menyampaikan,”Wahai tuanku, Anda menjual saya untuk kaum yang tidak shalat kecuali yang wajib saja. Ambillah kembali hamba.” Hasan bin Shalih akhirnya membeli kembali budak wanitanya itu (Ihya Ulumuddin, 1/501).

 

Jin Bangunkan Manusia untuk Shalat Malam

 

Jin mengamini doa dan mambaca Al Qur`an.
MAHDI BIN MAIMUN berkisah bahwa beliau memiliki seorang tetangga yang bernama Washil. Jika di malam hari Mahdi bin Maimun juga terbiasa mendengar suara sang tetangga membaca Al Qur`an. Sehingga, beliau mengetahui bahwa sang tetangga tidak tidur malam kecuali hanya sebentar.
Pada suatu saat Washil melakukan safar ke Makkah, namun Mahid bin Maimun mendengar bacaan Al Qur`an yang sama dengan bacaan Washil sedangkan pintu rumah Washil juga terkunci.
Setelah Washil tiba, Mahdi bin Maimun pun menyampaikan apa yang dialaminya dan Washil pun menjawab,”Apa yang engkau permasalahkan? Mereka itu adalah penghuni rumah, mereka shalat seperti kita juga, mereka membaca Al Qur`an seperti kita juga.”
Mahdi pun bertanya,”Apakah engkau melihat mereka?” Washil pun menjawab,”Tidak, tapi aku bisa merasakan keberadaan mereka, mendengar pengaminan mereka di saat berdoa. Dan terkadang saat aku ketiduran, mereka membangunkanku”. (Shifat Ash Shafwah, 4/359)




Para Jin yang Shalat Tahajjud

Jin bermakmum kepada Yazid Ar Ruqasyi.
SARRI BIN ISMAIL berkisah mengenai Yazid Ar Ruqasyi, ulama dan hali ibadah kala itu, bahwa para jin bermakum kepada beliau untuk shalat tahajjud dan menyimak bacaan Al Qur`an beliau.
Sarri pun bertanya kepada Yazid, bagaimana beliau tahu bahwa para jin itu bermakmum dan menyimak bacaan beliau. Yazin pun menjawab, bahwa tiap kali beliau bangun malam selalu mendengar suara keributan di dalam rumah beliau, sampai suatu saat beliau dihinggapi ketakutan. Di saat itu ada suara,”Jangan cemas wahai Abu Abdullah, sesungguhnya kami adalah saudara Anda, kami bangun untuk bertahajjud sebagaimana engkau bangun dan shalat”.
Setelah itu, Yazid Ar Ruqasyi pun terbiasa dengan suara-suara keributan yang terdengar di saat beliau bangun di malam hari untuk bertahajjud. (Shifat Ash Shfwah, 4/308)

 

Jin Shalih yang Wafat karena Bacaan Al Qur`an

Jin shalih juga seperti manusia yang shalih, bisa meninggal karena merenungi ayat-ayat Al Qur`an.
YAHYA BIN ABDIRRAHMAN AL ASHRI memperoleh kisah dari istri seorang ahli ibadah yang bernama Khulaid. Bahwa pada suatu malam Khulaid melaksanakan shalat dan mambaca ayat yang artinya,”Setiap jiwa merasakan kematian” yang terdapat pada surat Ali Imran 185. Dan beliau mengulang-ulang ayat itu terus-menerus.
Setelah itu, ada suara di dalam rumah yang terdengar,”Berapa kali engkau mengulang ayat itu? Dengan bacaanmu itu, engkau telah membunuh 4 jin yang tidak pernah mendongakkan wajahnya ke langit (tawadhu-pent)”(Shifat Ash Shafwah, 4/358).
Bukan hanya orang shalih yang bisa wafat karena merenungi ayat-ayat Al Qur`an yang isinya ancaman, para jin shalih juga mengalami hal yang sama 
 

Menyantap Makanan Hasan Al Bashri tanpa Izin

 

Orang shalih terdahulu jika sudah bersahabat saling merelakan harta mereka satu sama lain.
MUHAMMAD BIN WASI’ dan Malik bin Dinar suatu saat mengunjugi rumah Hasan Al Bashri. Namun sayangnya yang dikunjungi tidak ada di tempat. Meski demikian, Muhammad bin Wasi’ mengambil wadah penuh makanan di bawah tempat tidur Hasan Al Bashri. Manyaksikan hal itu Malik bin Dinar menyampaikan,”Apakah tidak lebih baik jika kita menunggu pemiliknya pulang dan meminta izin?”
Muhammad bin Wasi’ tidak menghiraukan dan beliau tetap memakan makanan itu. Sampai Hasan Al Bashri muncul lalu menyampaikan kepada Malik bin Dinar,”Wahai raja kecil, demikianlah kami. Kami merelakan satu sama lain. Sampai akhirnya muncul orang sepertimu dan teman-temanmu”. (Ihya Ulumuddin, 2/234)
Demikianlah para shalihin terdahulu jika sudah bersahabat, saling merelakan satu sama lain, hingga mereka tidak perlu izin jika hendak memanfaatkan milik saudaranya
 
 

Hidup Nyaman dengan Tidak Dikenal

 

Imam Ibnu Mubarak memberi minum orang banyak.
IMAM HASAN AL BASHRI mengisahkan bahwa suatu saat beliau bertemu dengan Abdullah bin Mubarak yang menimba air dan melayani manusia meminum dari air itu, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa yang melayani mereka adalah ulama besar.
Setelah melakukan hal itu, Ibnu Mubarak pun menyampaikan kepada Imam Hasan Al Bashri,"Tidak ada hidup yang nyaman kecuali dalam keadaan demikian", yakni tidak dikenal manusia dan tidak dihormati. (Shifat Ash Shafwah, 4/121)



Tidur Tatkalah Terjebak Badai di Laut

Badai di laut bukan mara bahaya bagi Ibrahim bin Adham.
IBRAHIM BIN ADHAM suatu saat mengendarai sebuah bahtera. Sampai di tengah lautan angin badai datang yang hampir mencelakakan seluruh penumpang bahtera. Di saat seperti itu Ibrahim malah memilih tidur, hingga para penumpang menyampaikan kepada beliau,”Apakah engkau tidak melihat bahwa kita sedang dalam mara bahaya?”
Ibrahim menjawab,”Ini bukan mara bahaya.” Dan para penumpang pun bertanya,”Lantas apa mara bahaya itu?” Ibrahim menjawab,”Butuh kepada manusia.” Lalu ulama ini pun menyampaikan,”Ya Allah, tunjukkan kepada kami qudrah-Mu, dan tunjukkan kepada kami maaf-Mu”. Tak lama kemudian air laut berubah seperti minyak, karena tenangnya. (Shifat Ash Shafwah, 4/138)

Keajaiban Datang Ketika Hati Mengingat Allah

 

Hatim Al Asham tidak memikirkan pisau saat hendak disembelih
HATIM AL ASHAM suatu ketika melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda di wilayah Turki. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada seseorang melempar tali laso ke badannya, hingga ulama shalih ini jatuh terjerembab dari kendaraannya.
Dengan sigap laki-laki itu menggulat Hatim Al Asham hingga ia berhasil menduduki dada Hatim. Kemudian laki-laki itu segera mengambil sebilah pisau, yang akan dia gunakan untuk menyembilh leher Hatim Al Asham. Hatim mengisahkan,”Saat itu hatiku hanya tertuju hanya kepada Allah tidak kepada pisau itu, sambil menunggu takdir yang akan berlaku.”
Namun tidak disangka, tiba-tiba ada seorang prajurit Muslim melemparkan anak panah ke arah lelaki yang hendak membunuh Hatim Al Asham, dan anak penah tepat menembus lehernya.
Dari kejadian ini Hatim Al Asham berpesan,”Jika hatimu terpaut kepada Allah, maka engkau akan menyaksikan keajaiban kasih sayang-Nya, yang melebih kasih sayang kedua orang tua”. (Shifat Ash Shafwah, 4/142)

Amalan Mendekatkan kepada Khalik dan Makhluk

Abu Bakr Al Warraq menjelaskan amalan yang mendekatkan kepada Khalik dan Makhluk.
MUHAMMAD BIN HAMID bertanya kepada Abu Bakr Al Warraq,”Beri tahu saya hal yang mendekatkanku kepada Allah dan mendekatkanku kepada manusia”.
Abu Bakr Al Warraq pun menjawab,”Adapun hal yang mendekatkan engkau kepada Allah adalah meminta kepada-Nya. Adapun hal yang mendekatkan engkau kepada manusia adalah meninggalkan meminta kepada mereka”. (4/145,146)
 

Meneruskan Puasa Meski Sakaratul Maut


Justru di waktu kritis itulah amalan shalih perlu dilakukan.
IBRAHIM BIN HANI’ tatkala hendak wafat beliau memanggil putranya yang bernama Ishaq,”Aku haus…” Kemudian sang putra pun datang dengan membawa air. Namun Ibrahim bin Hani’ malah bertanya,”Apakah matahari sudah terbenam?” Sang putra pun menjawab,”Belum.”
Kemudian Ibrahim pun menolak minuman itu, dan menyitir ayat, yang artinya,”Untuk seperti ini, maka hendaklah beramal mereka yang beramal” (Ash Shaffat:61). Setelah itu, tak lama kemudian Ibrahim bin Hani’ menghembuskan nafasnya. (Shifat Ash Shafwah, 4/260)
Meski dalam keadaan haus dan hendak wafat, Ibrahim bin Hani’ berusaha menuntaskan puasanya, yang mana beliau menilai justru di waktu-waktu itulah seseorang perlu melakukan amal shalih, selagi mampu.
 

Keistimewaan Gerabah As Saqathi

 

Sarri As Saqathi tangisi gerabahnya yang pecah
IBNU ABI WARD suatu saat memasuki rumah As Sarri As Saqathi. Saat itu ia mendapati guru Imam Junaid ini menangis. Ibnu Abi Ward pun bertanya,”Ada apa dengan Anda?” As Sarri As Saqathi pun menjawab,”Gerabahku pecah”.
Ibnu Abi Ward pun menyampaikan,”Nanti saya akan membelikan lagi untuk Anda sebagai gantinya”. Namun As Sarri As Saqathi menyampaikan,”Engkau bakal membeli gantinya? Sedangkan gerabah ini aku mengetahui uang yang digunakan untuk membelinya, siapa yang mengerjakannya, dari mana tanah liatnya, serta apa saja yang dimakan pembuatnya hingga selesai pengerjaannya”.
Demikianlah kehati-hatian As Sarri dalam makanan yang dikonsumsinya, hingga Imam Ahmad bin Hanbal mengenal As Sarri As Saqathi sebagai syeikh yang makanannya baik. (Sifat As Shafwah, 4/234)


Tidak Menunjukkan Kefakiran

Abu Bakr bin Ismail membawa kunci besar, meski tidak memiliki rumah.
MUHAMMAD BIN DAWUD menyampaikan,”Aku tidak melihat orang fakir yang lebih baik daripada Abu Bakr bin Ismail Al Farghani. Ia adalah orang fakir namun tidak menunjukkan kefakirannya. Ia mengenakan dua rangkap pakaian putih dan jubah, menggunakan celana dan sandal yang ringan serta mengenakan sorban”.
Muhammad bin Dawud melanjutkan,”Di tangannya ada kunci bagus juga besar, namun ia tidak memiliki rumah. Singgah di masjid-masjid selama 5 atau 6 hari”. (Shifat Ash Shafwah, 4/139)
Demikianlah orang shalih terdahulu ketika diuji dengan kefakiran, tidak menampakkan diri sebagai orang fakir yang bisa menyebabkan orang lain memandangnya dengan rasa iba.


Wafat Setelah Berbuka

ABU BAKR BIN ABI MARYAM AL GHASSANI adalah ahli ibadah yang menjaga puasanya, meski dalam keadaan hendak wafat.
Yazid bin Abdi Rabih mengisahkan,”Aku menjenguk Abu Bakr bin Abi Maryam dan dia dalam keadaaan sakaratul maut. Kemudian aku mengatakan kepadanya,’Apakah aku perlu memberimu minum?’ Abu Bakr bin Abi Maryam pun mengisyaratkan dengan tangan bahwa beliau tidak ingin meminum. Kamudian datanglah malam, dan Abu Bakr bin Abi Maryam bertanya,’Apakah sudah adzan?’ Maka aku menjawab,’Ya.’ Maka kami meneteskan air ke mulutnya kamudian beliau wafat.” (Shifat Ash Shafwah, 4/176)


Hanya Menginginkan Allah

 

Abu Salman Ad Darani berbicara mengenai perkara yang paling dekat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Suatu saat seseorang bertanya kepada Abu Salman Ad Darani,”Apa yang paling dekat dari perkara yang mendekatkan diri kepada-Nya?”
Abu Salman pun menangis dan menyampaikan,”Orang sepertiku kau tanya mengenai hal itu? Yang paling dekat dari perkara yang mendekatkan diri kepada Allah, yaitu Allah melihat dari hatimu bahwa engkau tidak menginginkan dunia juga akhirat namun hanya Dia.” (Shifat Ash Shafwah, 4/195)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar