Rabu, 11 Januari 2012

motivasi ala pak mario

Mario Teguh Golden Ways 13 Desember 2009: Jadinya Aku, Terserah Aku



resume dari acara Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 13 Desember 2009, dengan Topik “Jadinya Aku, Terserah Aku”. Kita harus berani sejak dini untuk berlaku jujur dan tidak pernah berhutang keburukan. Karena semua orang besar yang tidak tegas sekarang ini, sedang berhutang keburukan; sehingga cara membayarnya, mau tidak mau harus menjadi orang buruk. Kalau mau berhutang – berhutang budi, sehingga jika membayarnya nanti dengan budi baik. Kejujuran tidak boleh ada hal lain selain kejujuran. Berikut resume lengkap yang bisa kami catat:

Jadinya Aku terserah Aku, karena Aku adalah pembentuk bangsaku, maka jadinya bangsaku tererah kita. Maka dalam episode kali ini akan dibahas tentang bagaimana tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi mereka yang mengasihi kita, juga bagi bangsa tercinta ini.

Banyak orang yang mengangap bahwa keberhasilan itu harus disebabkan oleh orang lain. banyak orang yang sekarang sedang menunggu dibuat berhasil. Padahal berhasil itu harus kita sebabkan. Keberhasilan itu bukan sesuatu yang otomatis hanya kita dilahirkan, sekolah, lalu melamar untuk bekerja.

Hukum sebab akibat dalam kehidupan ini sangat ketat dan sangat tegas. Orang yang tidak menyebakan kebaikan dalam dirinya, tidak akan menjadi orang baik. Dan yang harus diingat bahwa tindakan kebaikan adalah tindakan kebahagiaan. Hanya orang yang berlaku baik yang berhak bagi kebahagiaan.

Pemimpin itu dibentuk atau dilahirkan?, Apakah ada pemimpin itu yang tidak dilahirkan?, Semua pemimpin itu dilahirkan, maka jangan lagi bertanya mengenai hal ini, tetapi bentuklah diri menjadi pribadi yang diamanatkan untuk memimpin.

Kalau kita bertengkar karena hanya perbedaan dukungan terhadap calon pemimpin; perlu diigat, siapapun yang terpilih, tidak ada hubungannya dengan rejeki kita. Siapa yang memenangkan Presiden yang terpilih sekarang, tidak otomatis rejekinya terperbaiki; dan yang mendukung calon yang kalah tidak otomatis dirugikan.

Lalu apa yang bisa kita harapkan dan bisa kita bangun dengan prilaku yang buruk?. Untuk apa Anda berlaku buruk, melukai sesama, sahabat dan saudara kita?. Bahkan polisi yang dilawan dijalanan itu-pun mungkin mempunyai keluarga/anak yang sependapat dengan Anda, hanya saja polisi itu sedang menjalankan tugas.

Mengapa kita menganggap kalau kita tidak berprilaku buruk, perhitungan kebaikan itu kurang bagi kita?. Mengapa kita tidak mengutamakan yang baik?, karena hanya yang baik yang membaikkan. Bagaimana mungkin kita bisa mencapai keindahan,kalau cara2 kita tidak indah.

Maka marilah kita ikhlaskan kepemimpinan kehidupan ini hanya kepada Tuhan. Tidak boleh Anda gantungkan harapan hanya kepada orang2 yang kita ajukan untuk memimpin, yang belum tentu setelah memimpin bisa memimpin dengan amanah.

Jadilah pemimpin yang paling amanah bagi kehidupan kita sendiri. Ikhlaskan-lah tugas membaikkan kehidupan kepada Tuhan. Berlakukalh baik, agar mudah kebaikan itu dipihakkan kepada kita.

Untuk mencemerlangkan diri dan bagian dari bangsa yang cemerlang, mulailah dari wajah Anda. Waktu Anda menghadapa ke Tuhan, beri tahu Tuhan,”Tuhan ini wajahku, Aku hadapkan kepada-Mu”. Coba gunakan wajah buruk Anda, lalu hadapakan ke cermin, kemudian Anda lihat dan tanyakan pada diri Anda sendiri, pantaskah wajah buruk ini bagi rejeki baik?.

Lalu gantilah dengan wajah yang senyum, seperti Anda baru melihat bayi Anda yang 6 bulan baru dimandikan. Bayangkan semua kelembutan itu. Dan Anda akan setuju, bahwa dengan wajah seperti itu, anda akan berejeki baik.

Dibutuhkan satu desa untuk membesarkan satu anak. Kalau kita sering mendengar kalimat “Kita sebagai manusia biasa..”, sesungguhnya sebiasa-biasanya manusia, dia bukan ciptaan biasa. Tuhan menantang kita, kalau kamu hebat buatlah seekor lalat, kalau bisa.

Maka jangan pernah menganggap kita sebagai manusia biasa. Sehingga pribahasa “Dibutuhkan satu desa untuk membesarkan satu anak”, kata satu ini bisa bermakna satu orang, karena orang yang benar bisa seukuran negara.

Jadi kalau berbicara membesarkan satu anak, ada orang yang kemampuan-nya membesarkan satu negara. Sehingga tidak harus ini jumlah orangnya banyak. Mengapa kita tidak ambil tanggung jawab pribadi untuk membesarkan orang?. Karena orang yang mengambil tanggung jawab untuk membesarkan orang lain, telah menjadi pemimpin, bahkan tanpa kedudukan.

Kita tidak bisa mengatakan mendahului takdir, kalau kita tidak mengetahui takdir. Tidak ada kaum yang bisa merubah nasibnya , kalau dia tidak berupaya merubahnya sendiri. Berarti upaya adalah pengubah nasib. Sehingga nasib kalau mau baik, upayanya harus baik. Hanya kebaikkan yang membaikkan, dan ini tidak mendahului takdir, tetapi justru menuruti perintah Tuhan.

Dan satu lagi adalah Pamrih. Pamrih itu baik kalau pamrih-nya baik. Pamrih itu ada dua macam, kalau pamrihnya ke orang itu namanya pamrih, tapi kalau pamrihnya ke Tuhan, itu namanya ikhlas.

Kebodohan yang yakin, akan mengalahkan kepandaian yang ragu2. Siapapun yang berkualitas, tetapi ragu2, akan tampil seperti orang yang tidak berkualitas. Siapapun yang bodoh tetapi tampil yakin, akan dikira pandai.

Dalam masyarakat kita ini, banyak orang yang pandai sangat terdidik yang prustasi; karena dipimpin oleh orang yang kurang pandai dan menjadi atasannya.

Rata-rata yang diangkat selalu yang berani. Karena yang disebut sudut yang mempimpin adalah selalu orang yang didepan yang berani menerima resiko dari keputusannya.

Banyak sekali orang terdidik yang tahu resiko didalam keilmuannya yang selalu menunda, dengan alasan konsolidasi dulu. Orang yang tidak tahu, berani karena tidak tahu. Itu sebabnya kebodohan yang yakin,akan mengalahkan kepandaian yang ragu2.

Orang biasa akan menjadi orang yang luar biasa, kalau dia melakukan hal2 biasa dengan kesungguhan yang tidak biasa.

Kalau sudah diberi, kita itu harus ikhlas. Kita itu tidak boleh komplain dan ngomel kalau sudah diberi. Hanya kita harus pastikan berdiri di tempat yang pemberiannya besar.

Kebanyakan dari kita melihat rejeki yang kita terima hanya dari jumlah nominal uang/materi. Padahal rejeki yang diberikan dalam bentuk lain jauh lebih besar. Misalnya kita dihindarkan dari jatuh sakit parah, dihindarkan dari kecelakaan, dihindarkan dari kecopetan, dijauhkan dari fitnah dll. Semua ini adalah rejeki Kita yang tidak Kita sadari, dan kalau diuangkan, bisa jadi jauh lebih besar nilainya daripada uang yang kita terima langsung.

Kita harus berani sejak dini untuk berlaku jujur, dan tidak pernah berhutang keburukan. Karena semua orang besar yang tidak tegas sekarang ini, sedang berhutang keburukan; sehingga cara membayarnya, mau tidak mau harus menjadi orang buruk.

Kalau mau berhutang – berhutang budi, sehingga jika membayarnya nanti dengan budi baik. Kejujuran tidak boeh ada hal lain selain kejujuran.

Siapapun yang menginginkan peran besar dalam hidupnya harus berhati-hati. Tidak bergaul dengan orang-orang yang bisa membuat Kita berhutang keburukan; yang membuat kita saat mempimpin nanti tidak bisa berlaku tegas.

Bagaimana membangun pribadi yang bertanggung jawab penuh, seutuhya bagi keberhasilan dirinya?. Kalau Kita tahu caranya; tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Jadi siapun yang sedang berada dalam kesulitan, tugas pertamanya adalah mencari cara.

Carilah orang yang tahu caranya. Ada yang magis sekali dalam hubungan kemanusiaan. Ada ilmu yang diberi istilah “Six Handshak Away” ,’Enam jabat tangan jaraknya’ , hanya dengan bertanya kepada enam orang Anda akan bertemu dengan siapapun, asal Anda bersungguh2 mencari keenam orang itu.

Jadi bagaimanapun sulit tantangannya, kalau dia memikirkan caranya, dia akan menemukan orang yang tahu. Maka bergaul-lah dalam pergaulan2 yang baik, bukalah pandagan baik, nasihat2 yang baik, ikhlaslah untuk menerima bahwa ada orang yang lebih hebat dari kita.

Salah satu cara untuk menemukan kehebatan diri adalah ikhlas untuk merayakan kehebatan orang lain. Itu membuat kita mempunyai tanggung jawab untuk menghebatkan kehidupan.

Banyak dari kita melihat sukses itu hanya dari ukuran material. Karena kita terbiasa dididikan oleh iklan. Iklan mobil memberitahu kita bahwa mobil kita tidak baik, iklan rumah memberitahu kita bahwa rumah kita tidak baik.

Karena kita dididik untuk tidak mensyukuri yang kita miliki, agar kita memperkaya orang lain untuk membeli yang dijual itu; akhirnya kita menstandarkan kepemilikan sebagai keberhasilan. Padahal setelah kita melampaui usia setengah dari harapan hidup kita, kita akan sadar bahwa yang disebut berhasil itu adalah menjadi orang baik.

Jadinya Aku terserah Aku, kalau keberhasilan itu kebaikan, maka keberhasilan itu lebih mudah. Sehingga kalau keberhasilan-ku, jadinya Aku terserah Aku, maka kebaikan-ku terserah aku, karena Aku + Tuhan = Cukup.

Jadi orang yang mempunyai srandard kebaikan, tidak menyukai ketidak baikan dilakukan kepada orang lain. Dia mengambil tugas kepemimpinan, untuk menjalankan kebaikan.

Maka pesannya bagi kita, bagaimana kalau kita menjadikan pengisi dari pikiran kita adalah kebaikan bagi orang lain. Mengisi sikap sebagai kebaikan bagi orang lain, serta semua yang kita lakukan adalah kebaikan bagi orang lain. Lalu kita perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “Jadinya Aku, Terserah”. Jika sekiranya didapati kekurangan – suatu kebahagiaan bagi Kami, apabila sahabat sekalian berkenan mengoreksi serta menyempurnakannya.









Syukur Menambah Nikmat

Ketika manusia pertama, Nabi Adam as, selesai diciptakan, Allah Swt memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada nabi Adam as. Namun Iblis membangkang dengan dalih bahwa mereka lebih baik (mulia) dari Nabi Adam as. Iblis merasa bahwa api lebih baik daripada tanah. Konsekuensinya, Allah Swt mengusir mereka dari surga dan mengutuk mereka. Lalu Iblis minta izin Allah untuk menggoda manusia. Allah pun mengizinkan.

Firman Allah Swt, “…Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),” (QS al-A’raf [7]: 16-17). Sepertinya Iblis berhasil melaksanakan janjinya, karena banyak diantara kita yang tidak bersyukur atas karunia dan rahmat Allah Swt.

Syukur bukan hanya di lisan, tapi juga diserap dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Tidak dikatakan bersyukur jika rasa terima kasih terhadap Allah Swt hanya berhenti pada kalimat “alhamdulillah”; sementara ia masih menyalah gunakan nikmat yang diterimanya. Misalnya memiliki kendaraan dipergunakan dalam bermaksiat kepada Allah Swt.

Syukur yang sesungguhnya adalah pujian terhadap Allah Swt, yang dilanjutkan denga mengupayakan seluruh anggota badan, pikiran dan hati. Senantiasa mengerjakan apa yang diridhai-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Inilah syukur yang sesungguhnya.

Contoh terbaik dari manusia yang aling bersyukur ini adalah Rasulallah Saw. Beliau melakukan shalat hingga kakinya bengkak-bengkak. Melihat hal ini, Aisyah ra istri tercinta Beliau heran. Lalu Aisyah ra berkata kepada Beliau, “Mengapa Baginda masih berbuat seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan dosa-dosamu pada masa mendatang?”, Rasulallah Saw menjawab, ‘Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?,’”(HR Bukhari-Muslim).

Dari hadits ini tampak bahwa Rasulallah Saw tidak hanya memahami syukur sebatas ucapan dan pujian dengan lidah. Menurut Beliau, syukur adalah upaya seluruh anggota tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhoi pemberi nikmat.

Jika kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, niscaya nikmat yang kita terima akan bertambah. Kareana Allah Swt telah berjanji, bahwa barang siapa yang bersyukur, nisacaya Dia akan menambah nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Firman-Nya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah(nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,’”(QS Ibrahim [14]: 7). Wallahu a’lam bis shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar