Powered By Blogger

Kamis, 14 Oktober 2010

renungan


[N9.JPG]
menaklukkan EGOIS



Semoga surat elektronik ini menyapa shahabat penuh dalam damai, Cinta dan
Kasih Sayang. Sehingga ia menjadi pengikat tali silaturahim antara kita
bersama. Saya mendoakan, mudah-mudahan, shahabat yang saat ini gundah,
sedih, kecewa, marah dan sakit hatinya. Segera Allah rubah dengan Kasih
Sayang Ar-Rahman Ar-Rahim, menjadi kebahagiaan yang amat mengagumkan.

Sebelum saya melanjutkan note ini. Terlebih dahulu, ingin saya perjelas,
makna kata* EGOIS* yang saya maksud. Egois *(perasaan enggan, gengsi, berat
hati, tidak mau untuk memulai atau mendahului komunikasi, dengan seseorang.
Karena menganggap, dia duluan yang harus memulai, dan hanya memikirkan diri
sendiri, tanpa melihat dari sudut pandang orang lain, atas sikap dan
perilaku yang diputuskan).*

*
*

Nah, sekarang anda sudah fahamkan? Maksud yang akan saya sharingkan
*”Menaklukkan
EGOIS”* ini. Saya tidak tau, apakah anda pernah mengalami perasaan seperti
akan saya sharingkan. Atau, mungkin anda sedang mengalaminya saat ini.
Bahkan mungkin Andalah yang menjadi objeknya (yang diegoiskan). Khusus yang
menjadi diegoiskan, saya tidak membahasnya disini.

Seminggu yang lalu, terjadi suatu peristiwa dalam diri saya, sehingga
menyebabkan saya memutuskan untuk bersikap, yang menurut teman saya, saya
ini EGOIS. Saat itu, yang terbesit dalam diri saya adalah ”*itukan
pandangannya*”. Sementara menurut saya, sikap yang saya PILIH itulah yang
terbaik dan benar. Saya menyadari, keputusan itu hadir karena rasa
*marah* dalam
diri saya. Tentu ini menguatkan EGOIS tadi.

Akan tetapi, selama melewati hari yang dipenuhi rasa amarah dan egois
itu. *Saya
menyadari ada yang tidak tepat, cocok, sesuai dan pas, antara fikiran dengan
tubuh saya.* Kok tubuh saya terasa tertekan, gelisah, dan gundah. Kemudian,
sang tubuh menunjukkan penolakannya, berupa rasa senutan dikepala dan hati
terasa tertusuk. Hidung pun jadi pilek. Efek dari fikiran (rasa marah) saya.

*Shahabat* yang baik. Saya akan sharingkan bagaimana proses saya menaklukkan
EGOIS dalam diri saya. Mungkin ini bermanfaat bagi anda yang saat ini
mengalaminya. Alhamdulilah, tips *Mind-Therapy* dibawah ini. Telah berhasil
mendamaikan diri saya. Tentu saat saya tuliskan ini, saya sudah
berkomunikasi kembali dengan orang itu.

Pasti anda sudah siap untuk membacanya kan? Pada saat proses melakukan tips
ini, Anda boleh sambil duduk bersila, tidur, berdiri, dan sebagainya. Yang
penting membuat anda merasa nyaman dan aman.

1. Berdoa kepada Allah, agar dimudahkan usaha (ikhtiar) yang kita
lakukan.
2. Terima kejadian yang telah kita alami, sebagai bagian dari kehidupan.
(*Maksudnya, bila Anda merasa marah, maka biarkanlah marah itu hadir,
bila kecewa biarkan ia muncul.pasrahkan kepada Allah).*
3. Ketahuilah, didaerah mana tepatnya rasa yang muncul itu. Atau bahasa
saya adalah, bagian yang betanggung jawab dengan rasa EGO itu.**
4. Setelah menemukannya, Ketahui, apa yang dinginkan oleh perasaan kita
selanjutnya. Bila dia ingin marah, terus tanyakan pada rasa yang muncul itu
*”Setelah marah, maumu apalagi?”*, bila dia kecewa, tanyakan pada bagian
itu, *”terus apalagi?” *(*Dari sini saya menemukan jawaban dalam diri
berupa anjuran, supaya saya tidak berkomunikasi lagi denganya, karena dengan
begitu saya menjadi tenang*). Perlu shahabat ketahui, bentuk jawaban itu
setiap orang berbeda-beda, bisa berupa suara (A), mungkin berbentuk
penglihatan (V) atau bahkan rasa saja (K). Nah, kalau contoh case saya
adalah berupa suara (A).

Kemudian saya ikuti keinginan bagian yang bertanggung jawab dalam diri saya
itu, yaitu tidak berkomunikasi *untuk sementara waktu.* Setelah saya
putuskan untuk tidak berkomunikasi. *Tetap saja perasaan tidak tenang,* masih
terasa dalam diri saya, seperti benci dan marah. *Maka untuk menenangkan
rasa marah dan benci itu*, saya menenangkannya dengan cara; melakukan *
meditasi *minimal satu jam satu hari, (Yang saya lakukan, setiap selesai
shalat 10 menit, dan sebelum tidur 10 menit). Meditasi berupa ;

1. Menyadari setiap nafas masuk dan keluar.(Tarikan nafas masuk dzikir
lafaz ”Allah & terkadang Lailahaillallah”, begitupula nafas keluar
”Lailahaillallah”)
2. Fokuskan diri (menyadari nafas masuk dan keluar) untuk terus berdzikir
dalam aktivitas apapun.

Alhamdulillah menyadari nafas masuk dan keluar, sambil menyadarinya dengan
dzikir, semakin hari semakin membuat saya lebih tenang, damai dan bahagia.
Proses ini terus saya lakukan hingga saat ini.

Setelah saya merasa tenang (pada hari ke 3 tidak berkomunikasi). Saya
memutuskan untuk membangun kembali komunikasi dengan nya. Tetapi, EGO tetap
masih ada. EGO ini bunyinya terdengar* ”Kamu sekarang kan sudah tenang,
damai dan bahagia. Jadi tidak perlu lagilah berkomunikasi dengannya”*. (Saya
sadar, ini tidak boleh ditolerir dan diikuti, karena bisa memutuskan
silaturahim). Nah, cara yang saya lakukan untuk mengalahkan / menaklukkan
bunyi atau suara itu adalah dengan meciptakan program* BELIEF dan VALUE* yang
lebih besar darinya, sesuai dengan VALUE saya:

*Memutuskan silaturahim sama halnya menutup pintu rezeki dan menghilangkan
keberkahannya.*

Syukur Alhamdulillah, setelah saya instal BELIEF tadi, suara yang
menyebabkan muncul nya EGO tidak berkomunikasi, langsung* lenyap*. Bahkan,
menumbuhkan rasa untuk segera menyambung kembali silaturahim dengan shahabat
saya itu. Kemudian saya ambil HP saya, saya buka phonebook dan memcent call
dengan nya. Alhamdulillah kini, pershahabat saya dengan nya, kembali seperti
semula lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar