Powered By Blogger

Senin, 08 Agustus 2011

kajian ramadhan

Ciri musibah dan kemenangan iblis

Orbit - orbit


Syaikh Dhirar bin Murrah, seorang ulama sufi kenamaan yang hidup di Kufah (Iraq), wafat pada 132 Hijriyah, pernah berkata bahwa Iblis mengatakan, ”Jika saya mampu menguasai bani Adam dalam tiga hal, berarti keinginanku telah tercapai dan saya telah menang, yaitu: Pertama, jika lupa akan dosanya; Kedua, jika merasa cukup akan amalnya; Ketiga, jika kagum dan bangga akan pendapatnya (merasa pintar).

Sebenarnya ketiga hal (penyakit) pancingan Iblis yang dikhawatirkan Syaikh Dhirar merupakan penjelmaan dari inti ajaran agama yang banyak ayat dan hadits Nabi SAW secara mantuq dan mafhum yang meminta untuk menjauhkan hal-hal tersebut.

Penyakit lupa akan dosa, intinya adalah agar manusia senantiasa ingat dan beristighfar kepada Allah SWT, karena semua manusia tak luput dari dosa. Ingat dosa, istighfar dan bertaubat adalah sarana untuk menyambut ke depan yang lebih baik dengan penuh asa. Jika manusia lupa akan dosa akan mudah tertutup hatinya karena tidak merasa butuh kepada ampunan Allah, dus rasa keangkuhan akan timbul. Pada gilirannya keagungan dan kebesaran Tuhan sudah tidak tampak lagi di hadapannya, karena Allah menghilangkan bukti kebesaran dan keagunganNya dari para mutakabbirin.

Firman Allah SWT, ”Aku akan memalingkan tanda-tanda kekuasaan-Ku dari orang-orang yang menyombongkan diri (mutakabbir) di muka bumi tanpa alasan yang benar.”(QS.7/146).

Manusia seperti ini tidak lagi merasa bersalah jika melakukan maksiat atau dosa, parahnya lagi sudah tidak sungkan untuk terang-terangan dalam maksiat atau mujaharah. Perbuatan dosa yang mujaharah ini yang sulit diampunkan oleh Maha Pengampun, karena sudah tidak takut dan malu lagi terhadap Allah SWT dan tidak malu pula terhadap manusia.

Tidak berpuasa secara terang-terangan, minum-minum keras di depan khalayak, bahkan berselingkuh, (baca: berzina direkam, sehingga teredarkan). Orang yang berbuat dosa tapi sembunyi hanya Allah SWT yang tahu, lebih baik ketimbang manusia yang berbuat dosa tapi terang-terangan.

Pada saat Allah SWT menutup rahasia dosa manusia agar manusia tersebut suatu ketika bertaubat kepadaNya, sayangnya manusia sendiri mendeklarasikan, bahkan menceritakan dan bangga atas dosanya! Bagaimana manusia lain dapat menutup aib saudara yang mujaharah, kalau dia sendiri yang menyebarkannya?

Musibah lain yang merupakan penyakit bani Adam yaitu merasa cukup dengan amal (cukup dengan apa yang diketengahkan). Apa yang telah dikerjakan seakan sudah sempurna, sehingga tidak mau mengoreksi dan mengembangkan ke arah lebih baik lagi. Tak pernah bertanya sudah cukupkah amal saya? Sudah betulkah ibadahnya? Akibatnya tidak mau balajar qiraat al-Qur’an karena sudah merasa betul bacaannya, juga tidak mau belajar hukum thaharah, wudhu, shalat secara benar karena sudah merasa cukup benar, dan tidak mau pula meningkatkan kerja yang bermanfaat.

Penyakit merasa cukup harus segera ditanggalkan, sebaliknya, harus terus menyempurnakan dan mengembangkan ke arah yang lebih baik lagi, yang dituntut merasa cukup dan qana’ah hanyalah terhadap karunia yang diberikan Allah SWT (rizki) agar jangan menjadi tamak, tentunya setelah berusaha maksimal dan tawakkal.

Mudah-mudahan Ramadhan ini bisa kita jadikan momentum yang baik menyempurnakan amalan kita.






Bagaimana berpuasa dikala kedatangan dajjal?


SECARA garis besar, Mukjizat yang dimiliki oleh Rasulullah saw. ditinjau dari "masa terjadinya" terbagi menjadi empat macam. Pertama adalah mukjizat yang hanya terjadi pada masa kerasulan beliau, seperti terpancarnya air di antara jari-jemari Rasulullah pada hari Hudaibiyah, terbelahnya bulan, Isra'-Mi'raj, batu yang mengucapkan salam kepada beliau dan masih banyak mukjizat lainnya yang hanya terjadi pada masa kenabian dan tidak terjadi sebelum atau sesudahnya.

Kedua adalah mukjizat yang telah terjadi pada masa Rasulullah, dan akan terus berlaku hingga akhir zaman nanti. Inilah kitab suci al-Qur'an itu, sebuah mukjizat yang mengandung ilmu dan hikmah dimana ruang dan waktu tidak akan mampu mengikisnya. Ia akan tetap kekal hingga akhir zaman nanti tanpa ada sebuah makhluk pun yang dapat memalsukannya, menandinginya, apalagi menghancurkannya. Al-Qur'an juga dapat dibedah melalui sudut pandang disiplin ilmu apapun, dan al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang paling banyak dihafal oleh manusia selama bumi ini diciptakan.

Ketiga adalah mukjizat yang tidak terjadi pada masa Rasulullah, melainkan ia telah terjadi di masa lampau. Maksudnya, mukjizat tersebut berkenaan tentang pemberitaan Rasulullah mengenai perihal umat-umat terdahulu secara detail dan tepat, sehingga orang yang mendengarkannya seolah menyaksikan kejadian tersebut dengan mata-kepala mereka.

Disebabkan oleh hal itu pula, akhirnya banyak rahib, pendeta, maupun rabi Yahudi dan Nasrani yang langsung beriman kepada Rasulullah karena beliau mampu menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Isa –'alaihimassalam– persis sebagaimana yang mereka dapatkan dalam Taurat dan Injil. Rasulullah dapat menceritakan kejadian mulai dari penciptaan Nabi Adam, perahu Nabi Nuh, perihal kaum 'Ad, Tsamud, Namrudz dan Fir'aun semuanya dengan "tajam dan terpercaya".

Keempat adalah mukjizat yang berhubungan dengan masa depan. Dimana Rasulullah dapat memberitahukan tentang kejadian yang belum terjadi pada saat itu. Sebagaimana beliau mengungkapakan bahwa suatu saat bangsa Romawi –yang kala itu ditaklukkan oleh Persia– akan berbalik mengalahkan Persia dan memenangkan peperangan dalam tempo tidak lebih dari 9 tahun, kemudian hal itu pun benar terjadi dan terekam jelas dalam surat "ar-Ruum" yang dengan kabar itu pula menegaskan bahwa segala yang dikatakan oleh Rasulullah adalah benar adanya.

Tetapi masih banyak hal yang diungkapkan Rasulullah pada masa kerasulan beliau yang menceritakan hal-ihwal umat manusia pada masa yang akan datang dan sebagiannya telah terwujud namun banyak pula yang belum terjadi. Di antara yang telah terwujud adalah berita tentang tanda-tanda kedatangan kiamat. Seperti banyaknya seorang anak yang berbuat durhaka kepada orantuanya.

Tentu saja tanda tersebut sangat mudah ditemukan saat ini, karena tidak sulit untuk mencari sosok "Malin Kundang" di zaman sekarang, dimana seorang anak tidak lagi patuh kepada orantuanya dan memperlakukan mereka seperti budaknya. Bahkan tak jarang seorang anak tega membunuh orantuanya sendiri. Ini adalah salah satu tanda "kecil" dari kiamat yang telah diberitakan Rasulullah 14 abad silam dan telah terbukti saat ini.

Sedangkan tanda-tanda kiamat yang belum terwujud hingga sekarang adalah seluruh tanda "besar" yang menandakan bahwa kiamat telah sangat dekat, seperti kemunculan ya'juj-ma'juj dan dajjal. Sebagaimana tercatat dalam kitab-kitab hadits, bahwa Rasulullah telah mewanti-wanti akan kemunculan dajjal di akhir zaman kelak. Beliau sangat detail dalam mengungkap identitas dajjal beserta ciri-ciri fisiknya, apa pekerjaan dan tujuannya, serta berapa lama dia berada di bumi.

Salah satu ciri fisik yang paling menonjol dalam diri dajjal adalah matanya yang buta sebelah (a'war) dan di jidatnya terdapat tulisan "ka-fa-ra" yang dapat dibaca oleh semua orang mukmin sekalipun yang buta huruf. Pekerjaan dajjal adalah menebar kebohongan dan fitnah (ujian) yang merupakan fitnah paling besar selama bumi diciptakan. Tujuannya adalah "menuhankan" diri, serta mencari "hamba" sebanyak-banyaknya untuk menemaninya di neraka akhirat yang kekal selamanya.

Sedangkan masa keberadaan dajjal di dunia ini adalah 40 hari lamanya. Dimana terdapat satu hari yang lamanya seperti satu tahun, dan terdapat satu hari yang lamanya seperti satu bulan, kemudian satu hari yang lamanya seperti satu minggu, dan hari-hari lainnya (37 hari) seperti hari-hari normal biasanya (24 jam). Dengan demikian akan terjadi sebuah "keajaiban" pada masa itu karena teori peredaran bumi yang berotasi pada porosnya sekali setiap 24 jam tidak akan berlaku.

Perihal keberadaan dajjal selama 40 hari di bumi dengan disertai munculnya "kemacetan" tata-surya tersebut, semuanya telah dikabarkan Rasulullah dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya melalui riwayat Nawwas ibnu Sam'an. Hadits yang cukup panjang tersebut secara sistem transmisi periwayatan (sanad) tidak terdapat "gangguan" teknis alias clear, oleh karenanya hadits ini mendapatkan rating sebagai hadits shahih yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Bahkan Imam Syafi'i sempat berkata, "Jika sebuah hadits mencapai derajat shahih, maka itulah madzhabku." Salah satu penggalan dari hadits tersebut adalah:

... Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

??????? ??? ??????? ??????? ????? ???????? ??? ???????? ? ????? « ??????????? ??????? ?????? ???????? ???????? ???????? ???????? ?????????? ????????? ?????????? ?????????????? ».



Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, berapa lamakah ia (dajjal) berada di bumi?" Rasulullah menjawab, "Empat puluh hari, sehari seperti setahun, dan sehari seperti sebulan, lalu sehari seperti sepekan, kemudian sisanya seperti hari-hari kalian pada biasanya"

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

??????? ??? ??????? ??????? ???????? ????????? ??????? ???????? ???????????? ????? ??????? ?????? ? ????? « ??? ????????? ???? ???????? »...



Para sahabat bertanya kembali, "Wahai Rasulullah, apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan shalat –lima waktu– sekali saja?" Rasulullah kemudian menjawab, "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah shalat sesuai ketentuan waktu tersebut)".


Jadi apa yang kita bicarakan mengenai keberadaan dajjal di bumi selama 40 hari tersebut bukanlah rekaan atau mitos belaka. Melainkan sebuah realita yang akan terjadi kelak. Karena hal tersebut telah dikabarkan langsung oleh Rasulullah, dan segala yang beliau kabarkan adalah wahyu dari Yang Maha Mengetahui.

Para sahabat ketika Rasulullah mengabarkan tentang berita kedatangan dajjal ini mereka tidak pernah bertanya tentang bagaimana bumi tidak beredar selama satu tahun, atau bagaimana rotasi bumi mengalami "slow motion" sedemikian rupa. Para sahabat dengan tingkat keimanan mereka yang tinggi tidak pernah menemui kesulitan dalam "mencerna" setiap permasalahan gaib yang diceritakan Rasulullah seperti ini. Mereka tidak pernah mengingkari bahwa Rasulullah dapat melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis lalu ke Sidratul Muntaha dalam semalam saja ketika Isra'-Mi'raj. Mereka juga bukan seperti Bani Israil yang enggan menyembah Tuhannya Nabi Musa sebelum mereka melihat-Nya dengan kasat mata.

Oleh sebab itu, para sahabat tidak menanyakan tentang hal-hal remeh yang terlalu kecil untuk dapat terjadi atas kehendak Allah seperti "kemacetan" tata-surya pada masa dajjal itu. Yang mereka tanyakan justru tentang amalan ibadah yang mungkin akan terganggu jika bumi tidak bergerak secara normal sekian lamanya. Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah, "Apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan shalat –lima waktu– sekali saja?" Rasulullah kemudian menjawab, "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah shalat sesuai ketentuan waktu tersebut)".

"Kemacetan" rotasi bumi pada masa dajjal tersebut tentu menimbulkan problem dalam prosesi ibadah, karena kita ketahui bahwa shalat lima waktu memiliki ketergantungan kepada perputaran bumi dan peredarannya terhadap matahari, dimana shalat Subuh wajib dilaksanakan ketika fajar, shalat Dzuhur yang wajib didirikan ketika matahari tergelincir dari puncak vertikal, shalat Maghrib yang wajib dikerjakan saat matahari tenggelam. Dan juga shalat Jum'at yang wajib dilaksanakan sekali dalam sepekan.

Belum lagi dengan peribadatan lainnya seperti kapan bulan Dzulhijjah datang sehingga orang dapat melaksanakan ibadah Haji, kapan orang wajib mengeluarkan Zakat yang telah mencapai nishab dan haul, kapan Idul Fitri, Idul Adha dan beragam ibadah lainnya yang susah untuk diterapkan pada masa kedatangan dajjal ini.

Lebih pelik lagi adalah; bagaimana cara kita berpuasa? Misalkan saja dajjal datang pada bulan Ramadhan, dan kebetulan hari itu merupakan hari yang memiliki durasi selama satu tahun, itu artinya hari tersebut akan mengalami waktu siang selama enam bulan dan akan diselimuti malam selama enam bulan juga.

Tentu ini menimbulkan hambatan serius dalam berpuasa, karena puasa adalah menahan lapar-dahaga dan segala sesuatu yang dapat membatalkannya dari Subuh hingga Maghrib. Lalu apakah pada masa itu umat Islam diwajibkan berpuasa dan menahan makan-minum dari pagi hingga petang yang tenggang waktunya adalah enam bulan? Jangankan menahan makan-minum selama enam bulan, untuk menahan selama 14 jam saja masih banyak yang tidak kuat. Apa lah puasa selama setengah tahun, untuk puasa sehari saja masih banyak yang bolong-bolong.

Untungnya para sahabat dahulu telah mempertanyakan hal tersebut, sehingga Rasulullah dapat memberikan solusinya dan jawaban Rasulullah inilah yang dijadikan landasan syariat tentang bagaimana tata-cara umat Islam melaksanakan Shalat, Zakat, Puasa dan Haji pada saat "kemacetan" tata-surya tersebut terjadi di masa dajjal nanti.

Penjelasan Ulama

Banyak ulama yang telah menjelaskan hadits di atas dan menerangkan tata-cara ibadah jika perjalanan waktu "tersendat" sedemikian rupa. Salah satunya adalah apa yang diterangkan Ibnu Taymiyah dalam Majmu' Fatawa-nya (kompilasi fatwa Ibnu Taymiyah) bahwa, "(Ibadah pada masa itu) tidak lagi menggunakan patokan waktu yang berdasar akan terbitnya matahari maupun tenggelamnya…" Karena pada masa itu peredaran matahari tidaklah normal sebagaimana hari-hari biasanya.

Fatwa Ibnu Taymiyah ini kemudian diperjelas oleh syaikh Abdullah ibn Baz dalam fatwanya yang menegaskan bahwa; "Satu hari yang memiliki masa satu tahun tersebut tidak dihitung sebagai satu hari, dengan demikian tidak cukup mengerjakan shalat lima waktu sekali saja dalam tenggang waktu tersebut. Akan tetapi wajib mengerjakan shalat lima waktu setiap 24 jam sekali dengan cara membagi hari tersebut sesuai patokan jam yang digunakan pada negara masing-masing yang berlaku pada hari-hari biasa…"

Kemudian syaikh Ibn Baz melanjutkan "…demikan halnya wajib –bagi para muslimin– untuk mengerjakan puasa Ramadhan dan menentukan kapan permulaan Ramadhan dan kapan berakhirnya, serta kapan permulaan fajar dan kapan berakhirnya…" Maka dapat dikiaskan juga atas hadits ini tentang ibadah lainnya seperti Zakat dan Haji. Sehingga wajib mengeluarkan zakat maal ketika sudah mencapai nishab (standar minimum) dan telah berlalu selama haul (setahun). Sama halnya dengan ibadah Haji yang harus ditentukan kapan bulan Dzulhijah yang dengan itu dapat diketahui pula kapan hari Tarwiyah, hari Arafah, Idul Adha dan hari-hari Tasyriq tiba.

Dari sini dapat kita bayangkan, betapa sulitnya tantangan yang akan dihadapi umat Islam pada era dajjal kala itu. Oleh karenanya, saat itu harus ada integrasi antara pemimpin umat dan para ulama untuk bisa membagi waktu menjadi "pecahan" 24 jam. Mereka juga dituntut untuk mempublikasikan hal tersebut kepada segenap umat Islam di seluruh pelosok dunia.

Dengan kata lain, mereka lazim menciptakan sebuah sistem "Kalender Darurat" bersifat temporal yang khusus digunakan pada masa "kemacetan" tata-surya ini terjadi. Tanpa itu, umat Islam akan kebingungan mengenali kapan datangnya Dzuhur maupun Maghrib, karena Dzuhur yang biasanya ditandai dengan waktu siang dan Maghrib yang ditandai oleh terbenamnya matahari, kala itu kedua-duanya akan dilaksanakan pada waktu siang hari atau malam hari tanpa ada pembeda.

Dengan demikian, hadits di atas merupakan rujukan utama untuk umat Islam dalam melaksanakan ritual ibadah di akhir zaman kelak. Pun demikian, untuk mengamalkan hadits shahih ini tidak pula harus menunggu hingga datangnya dajjal nanti, karena hadits tersebut dapat diterapkan juga pada zaman sekarang oleh para penduduk bumi bagian utara maupun selatan yang terkadang matahari tidak muncul sampai beberapa bulan lamanya.

Seperti penduduk Eskimo misalkan, jika terdapat penduduk muslim di sana yang menemui kesulitan dalam beribadah hingga tidak mengetahui kapan bulan Ramadhan tiba, lalu fajar terbit dan terbenam secara tidak normal, maka mereka dapat menggunakan patokan waktu 24 jam ini atau menggunakan waktu yang berlaku di negara terdekat dari wilayah mereka.

Beginilah hebatnya sebuah mukjizat Rasul. Dapat menjelaskan mengenai perkara yang "kira-kira" akan dibutuhkan oleh umat Islam di masa mendatang, mampu menerangkan secara exact tentang perkara gaib yang belum terjadi. Karena seluruh berita yang dikabarkan Rasulullah tentang masa depan bukanlah berdasarkan prophecies (ramalan) yang bersifat prediktif-spekulatif. Sehingga tingkat akurasinya mencapai titik seratus persen dan pasti akan terjadi. Berbeda halnya dengan para jin yang "mencuri informasi" dari kabar lagit lalu menbocorkannya kepada tukang sihir dan para dukun sehingga menjadikan ramalan mereka sering kali tidak benar. Toh walaupun benar, itu hanyalah kebetulan saja.

Allah telah menegaskan bahwa bangsa Jin tidaklah mengetahui tentang perkara gaib sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an, "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan." (QS. Saba' [34]: 14).

Namun kini terkadang manusia bukan hanya percaya kepada jin maupun dukun saja. Melainkan percaya juga kepada Paul si Gurita yang jelas-jelas makhluk tak berakal itu. Sungguh ini merupakan dekadensi iman yang telah menghujam jauh ke titik nadir. Bagaimana mungkin seorang manusia sempurna yang diberi nalar sehat meyakini terjadinya masa depan dari seekor "cumi-cumi?". Lantas apa bedanya antara menyembah seekor lembu dengan mempercayai berita masa depan dari seekor gurita? Keduanya sama-sama memiliki unsur "menggantungkan diri" terhadap makhluk tak berakal yang terlalu sulit untuk diterima akal.

Jika ini tetap dipertahankan, bagaimana mungkin kita dapat menghadapi fitnah dajjal yang –dengan istidraj– dapat "menghidupkan" dan "mematikan"? Bagaimana kita dapat memungkiri "ketuhanan" dajjal yang palsu itu? Bagaimana kita dapat mengelak dari tawaran dajjal yang mampu memberikan surga dunia, sedangkan tawaran sekardus mie instant dari seorang misionaris saja kita terima meskipun harus menjual akidah? Bagaimana mungkin kita akan menolak tipu-muslihat si "mata satu" itu jika tawaran sepeser dolar dari kaum orientalis saja kita santap meskipun harus menukar agama dengan nilai-nilai liberal?

Layaknya kita perlu "mencontek" para sahabat Nabi yang tidak terlalu care dengan permasalahan sepele yang kurang berbobot. Mereka hanya peduli tentang bagaimana cara meningkatkan ibadah, bagaimana memaksimalkan puasa dan mengoptimalkan bulan Ramadhan. Mereka tahu bahwa agama itu bukan hanya dilandaskan kepercayaan saja, melainkan amal perbuatan riil yang juga diperankan oleh segenap raga. Wallahu a'lam.






Menyambut ramadhan dengan taat


Berbagai acara sebelum bulan Ramadhan, menurut tradisi yang telah menjadi warisan, terlanjur sudah dipandang sebagai syi'ar Islam. Namun yang cukup menggelisahkan adalah banyak di antara para pelaku tradisi itu, juga tidak memahami apa sebenarnya yang mereka katakan dengan syi'ar tersebut. Kondisi ini semakin dibuat kabur dengan label wisata religi dan pelestarian warisan budaya oleh pihak-pihak terkait yang juga kurang faham dengan ajaran Islam walaupun banyak yang beragama Islam. Dengan keadaan seperti itu, maka semakin sempurnalah perlindungan terhadap kegiatan-kegiatan ini tanpa peduli apakah itu memang bagian dari syi'ar Islam atau tidak. Bahkan muballigh pun ada yang merasa tabu kalau harus mengkaji itu kembali. Makanya tidak mengherankan, jangankan meluruskan atau memperbaiki, malah ada di antara muballigh yang berjibaku mempertahankan tradisi tersebut. Tanpa rasa malu untuk memperkuat pendapat mereka, hadits-hadits yang tak ada ashal pun dipergunakan.

Acara balimau dengan berbagai cara pelaksanaannya adalah contoh nyata bagaimana pemahaman umat terhadap ajaran Islam sangat perlu mendapat pencerahan.

Kegembiraan Sambut Ramadhan

Selama ada keimanan dalam hati setiap insan, tentu apa yang dijanjikan oleh Allah swt berupa pencapaian taqwa(al-Baqarah 183) bagi orang yang beriman dengan menjalankan ibadah puasa, pasti akan membangkitkan kerinduan dan kegembiraan dengan memghampirnya bulan Ramadhan. Sepertinya tidak sampai di situ saja, hadits-hadits Rasulullah saw juga tidak sedikit yang membawa berita gembira akan kedatangan bulan Ramadhan. Bahkan di awal bulan Rajab dalam riwayat imam Ahmad dan Bazar Rasulullah telah menanamkan rasa rindu bertemu Ramadhan melalui do'a yang beliau ajarkan yaitu : "Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya'ban wa barik lana fi Ramadhan" (Ya Allah ! Berkahilah kami di bulan rajab dan sya'ban serta berkahilah pula kami di bulan Ramadhan).

Walaupun hadits ini ada persoalan pada sanadnya, namun untuk menjadi ajakan mempersiapkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang masyru' (yang ada tuntunan syar'inya), menurut penulis boleh dimunculkan. Dengan demikian berarti bahagia serta gembira menyambut kedatangan Ramadhan adalah suatu yang terpuji dalam pandangan Islam.

Namun yang perlu menjadi catatan penting adalah, kegembiraan dan kebahagiaan yang pada hakikatnya adalah suasana batin manusia bila diungkapkan dalam tindakan lahir tentu jangan sampai bertolak belakang dengan hakikat tersebut. Kalau memang kebahagiaan menyambut Ramadhan itu muncul dari keimanan terhadap janji Allah swt dan Rasulullah saw maka ungkapkanlah kegembiraan itu dengan tindakan-tindakan yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Karena itu, wahai kaum muslimin, mari wujudkan kegembiraan itu dalam ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Hindarilah mengekspresikan kegembiraan menyambut Ramadhan dengan berbuat kemaksiatan dan menambah-nambah amalan yang tidak disyari'atkan.

Ingatlah bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah swt di bulan Ramadhan tidak akan bisa diraih dengan berbuat kemaksiatan. Hanya keta'atanlah yang bisa menjadi tangga menjangkau rahmat Allah swt, sebagaimana Hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam al-Thabrany melalui jalur Ibnu Mas'ud serta Hudzayfah Ibn al-Yaman:

"...apa yang ada di sisi Allah swt tak akan bisa diraih melainkan dengan menta'atiNya"

Puasa Sya'ban


Anas Ibn Malik ra pernah menceritakan jawaban Rasulullah saw ketika ditanya tentang puasa, apakah yang afdhal setelah Ramadhan? Beliau menjawab: “Puasa Sya'ban untuk mengagungkan(ta'zhim) Ramadhan.” (HR. Imam al-Turmudzy)

Beginilah Rasulullah menyambut Ramadhan. Apakah adalagi sunnah yang lebih baik dari apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw? Apakah tidak cukup bagi kaum muslimin ajaran yang telah dibentangkan oleh Rasul mereka?

Ajaran Islam cukup dan sangat cukup untuk mengisi kerinduan kaum muslimin terhadap Ramadhan. Yah, puasa sunat sya'ban untuk menyambut puasa wajib ramadhan. Inilah langkah yang tepat. Di samping membiasakan diri juga mempersiapkan suasana qurbah (kedekatan diri) kepada Allah swt untuk menjadi hamba-hamba yang pantas mendapatkan karunia Allah swt di bulan penuh berkah tersebut. Karena itu, umat Islam sebenarnya tidak butuh lagi dengan berbagai cara yang diadopsi dari berbagai sumber yang bukan bagian dari Islam itu sendiri. Inilah yang dinamakan dengan kesempurnaan Islam.

Iman sebagai Modal


Kesempurnaan ajaran Islam telah membentangkan jalan yang berawal dan berujung. Kalau taqwa sebagai tujuan, maka imanlah sebagai tangga awalnya. Jadi, kalau memang keinginan mendapatkan ketaqwaan yang dijanjikan Allah swt di bulan Ramadhan bukanlah keinginan palsu, maka jalan yang terbentang harus ditempuh. Persiapkanlah diri dengan keimanan yang bersih dari noda syirik dan tinggalkanlah kemaksiatan. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah swt dalam firmanNya:

"Sesungguhnya aku ini manusia biasa sepertimu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Rabbmu itu adalah rabb yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan siapapun." (QS. al-Kahfi 18:110)

Berilmu Sebelum Beramal

Setelah berbenah diri dengan menyingkirkan kemaksiatan maka yang tidak bisa ditinggalkan oleh setiap muslim adalah menuntut ilmu tentang ibadah di bulan Ramadhan. Kalau kita bercermin dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah melalui Salman al-Farisy yang menukilkan khutbah Rasulullah saw di akhir sya'ban maka dapat terlihat harapan kuat Rasulullah saw agar umat memiliki bekal ilmu untuk beramal. Kedha'ifan hadits ini tidak perlu jadi persoalan kalau hanya dipakai untuk memperkuat perintah al-Qur'an dan Hadits-hadits shahih serta ijma' yang mewajibkan mukmin dan mukminah untuk menuntut ilmu, apalagi terkait amalan yang akan dilakukannya.

Ini semua memberikan satu lagi tugas yang mendesak harus dilakukan sebelum Ramadhan datang, yaitu menuntut ilmu tentang amalan di bulan Ramadhan. Karena itu, majelis-majelis ilmu harus disemarakkan untuk memfasilitasi umat yang ingin menambah ilmu pengetahuan tentang Ramadhan dan amalan di bulan yang agung itu.

Khitam

Ternyata, tidak kurang ajaran Islam dalam mengisi sisi manapun dari kehidupan manusia. Namun yang sangat disayangkan banyak manusia lebih memandang kagum kepada kreasi dan peninggalan nenek moyangnya di bandingkan tuntunan Allah swt dan RasulNya. Untuk semua itu, penulis hanya bisa bertaushiyah dengan penggalan hadits Rasul saw:

"Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Rasulullah) saw." (HR. Bukhari-Muslim dari Jabir Ibn 'Abdillah)

Dan akhirnya buat kaum Muslimin, MUI Sumbar mengucapkan "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa" mudah-mudahan Allah menerima semua amalan shalih dan menganugerahkan ketaqwaan di bulan Ramadhan ini. Amiiin.






Membangun tradisi keilmuan dibulan ramadhan

TIDAK lama lagi, kembali kita memasuki bulan suci. Sebagai manusia beriman, pastinya kita berbahagia dengannya. Inilah madrasah ruhiyah kaum beriman. Jika kita menempatkannya sebagai madrasah, pasti kita memahami bahwa di dalamnya ada aktivitas ilmu. Aktivitas keilmuan inilah yang menjaga pemikiran untuk selalu istiqamah dalam keloyalan kepada Allah SWT. Inilah pentingnya mengembangkan budaya ilmu di bulan suci.

Ilmu adalah motor penggerak pemikiran dan aktivitas manusia. Tinggi rendahnya martabat manusia ditentukan oleh faktor ilmu. Karena itu, ilmu memiliki perhatian penting dalam tradisi Islam. Hal tersebut misalnya, dapat dilihat, Nabi Muhammad SAW dan generasi gemilang setelahnya, dalam setiap episode historisnya selalu memberi titik berat kepada pengembangan tradisi keilmuan. Sebabnya, epistemologi – yang menjadi kerangka ilmu – adalah sentra aktivitas manusia.

Hasil pemikiran manusia yang berasas epistemologi kokoh tentu tidaklah sama dengan produk pemikiran manusia yang kerangka keilmuannya tidak jelas, atau bahkan salah. Oleh karena itulah, sejak zaman Nabi SAW, tradisi ilmiah tumbuh dan berkembang.

Salah satunya yang terkenal adalah, komunitas Ilmiah Ashabu al-Suffah. Tradisi intelektual zaman Nabi SAW tersebut dapat dibuktikan dengan wujudnya madrasah Ashabu al-Suffah yang diikuti oleh sekitar 70 orang sahabat Nabi SAW.

Sekolah Nabi SAW yang pertama tersebut didirikan sekitar kurang lebih 17 bulan sesudah Hijrah telah melahirkan generasi sahabat yang memiliki tingkat intelektualitas yang hebat, seperti Abu Hurairah, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, dan Abdullah bin Mas’ud. Peran madrasah ini begitu sentral, sebab, dari komunitas kajian ilmu inilah pandangan hidup Islam (Islamic Worldview) tersistemasi yang berasas Al-Quran dan al-Sunnah. Ada sesuatu yang berbeda di madrasah itu ketika bulan suci datang.

Kajian-kajian ilmu itu, memberi tekanan khusus pada pendalaman Al-Quran setiap bulan suci Ramadhan. Memasuki bulan Ramadhan, kajian-kajian tentang Al-Quran menjadi semakin meningkat dan diikuti oleh para sahabat lain. Hingga, tradisi ini turun-temurun dicontoh oleh kaum muslimin di penjuru dunia hingga generasi sekarang.

Tradisi keilmuan di madrasah Ashabu al-Suffah tersebut diteruskan dan dikembangkan, sampai akhirnya peradaban Islam mampu menghegemoni dunia yang membentuk mental keilmuan seorang muslim. Seorang Orientalis, Fitcha, menggambarkan tradisi ilmu di Cordoba begitu hebat, hingga ia menyimpulkan, Islam itu gemar membaca dan menulis dan Islam adalah agama yang mendorong pemeluknya untuk memperolah pengetahuan. Kekaguman Fitcha cukup beralasan, sebab di Cordova itu terdapat sebuah tempat untuk menyalin buku, yang menggunakan 200 lebih gerobak, yang digunakan untuk memindahkan buku-buku, yang diperuntukkan kepada mereka yang membutuhkan buku-buku langka untuk disalin.

Membangun Tradisi di Bulan Suci

Suatu ketika Imam al-Zuhri, Ulama’ hadis kenamaan, pernah memberi nasihat, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Quran. Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah”.

Nasihat al-Zuhri sangatlah tepat. Momen untuk mengembangkan dan memperbaiki budaya ilmu di bulan Ramadhan memiliki nuansa tersendiri yang berbeda dengan bulan-bulan lainya. Bulan yang juga dijuluki Rihlah ruhaniyah ini sungguh tepat menjadikannya sebagai Madrasah Ilmiyah.

Para ulama’ memberi teladan mencari ilmu yang baik, yakni bersih ruhani – menjauhi segala aktivitas maksiat. “Ilmu (hafalan) tidak bersahabat dengan maksiat!” nasihat Imam al-Waqi’ kepada Imam as-Syafi’i.

Menjaga kesucian jasmani dan ruhani itulah yang dibiasakan oleh Imam al-Bukhari setiap kali ia menuliskan catatan hadisnya. ”Aku tidak pernah menulis dalam kitabku (Shahih Bukhari) sebuah Hadits pun, kecuali aku mandi dan melakukan shalat dua rakaat terlebih dahulu,” kata al-Bukhari sebagaimana dinukil Imam Laknawi dalam Dhafar Al-Amani.

Momentum yang kondusif inilah yang mungkin menjadikan Malaikat Jibril mengajar Nabi Muhammad Al-Quran secara talaqqi tiap tahunnya di bulan Ramadhan. Dalam Shahih Bukhari terdapat riwayat, “Jibril as. mendatangi Rasulullah SAW pada tiap malam bulan Ramadhan dan mengajarkannya Al-Qur’an”. (HR Bukhari dan Muslim). Apa yang dilakukan Malaikat Jibril dalam rangka mentarbiyah Nabi SAW, agar keilmuannya terjaga dengan baik. Kedatangan setiap tahunnya itu untuk mengecek bacaan Nabi SAW. Bahkan pada tahun menjelang wafatnya, Jibril menyampaikan bacaan Al-Quran dua kali, sehingga beliau dapat memahaminya dengan sangat baik waktu menjelang akhir hayatnya (Al-Madkhal Li Dirasah al-Qur’an al-Karim).

Anas bin Malik ra pernah meriwayatkan: “Barangsiapa yang menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadhan, maka setiap langkah telapak kakinya dicatat sebagai ibadah oleh Allah SWT dan kelak bersamaku di bawah naungan Arsy”.

Biasanya, kajian yang diberi porsi lebih dalam kajian ilmiah ini, adalah kajian-kajian tentang Al-Qur’an.

Hal itu telah dicontohkan oleh Metode Jibril mengajar Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Para ulama juga menteladani. Teladan itu, sebagaimana metode Jibril, tidak hanya membaca (qiraahi) Al-Quran, akan tetapi mendalami makna-makna yang terkandung di dalamnya untuk diamalkan.

Sebagaimana yang telah dilakukan Imam Qatadah As Sadusi. Ia memiliki kebiasaan setiap tujuh hari mengkhatamkan Al Quran sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau mengkhatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa mengkhatamkannya setiap malam sekali. Dan perlu dicatat, pembacaan Al-Quran para ulama dahulu bukan sekedar qiraah, tetapi juga memahami makna yang terkandung.

Hadis tersebut memotivasi kaum muslimin untuk menyemarakkan budaya ilmu di bulan suci. Pesan tersiratnya, bangunlah tradisi keilmuan di bulan suci karena di bulan ini Allah membuka pintu ampunan yang luas. Penuntut ilmu yang jiwanya bersih, lebih mudah terarah kepada keilmuan yang benar.

Ilmu menempati derajat istimewa dalam Islam, dan Ramadhan adalah bulan teristimewa di antara bulan-bulan lainnya. Oleh sebab itulah, mestinya tradisi mencari ilmu seharusnya lebih semarak di bulan suci, karena inilah momen menjalankan dua kewajiban istimewa yang berimplikasi positif untuk kebiasan-kebiasaan berbudaya ilmu setelah Ramadhan.

Tradisi-tradisi pengembangan ilmu tersebut di pesantren-pesantren tradisional Indonesia telah membudaya dengan baik sejak dahulu. Di beberapa pesantren tradisional, ada tradisi khataman kitab selama bulan suci Ramadhan. Metodenya seperti yang lumrah berjalan di pesantren, yaitu sorogan. Khataman kitab kuning itu diikuti oleh beberapa pelajar dari luar, bahkan dari luar pulau.

Tradisi tersebut perlu dikembangkan dan dibiasakan. Menjadikan aktivitas ilmu sebagai aktivitas utama di bulan Ramadhan adalah sebuah kegiatan mulia dalam rangka membangun peradaban. Peradaban Islam, sebagaimana yang telah peradaban Abbasiyah, Kordoba atau Ustmaniyah terbangun dengan tradisi ilmu. Hal itu misalnya bisa dilakukan dengan model-model yang lain, daurah, pelatihan, workshop dan seminar. Kegiatan ilmu adalah aktivitas sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT. Melalui ilmulah manusia dapat mengenal Allah dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar.

Tradisi keilmuan ini perlu dibiasakan, mengingat tantangan terbesar muslim kontemporer menurut Prof. Al-Attas adalah rusaknya ilmu. Rusaknya konsep ilmu akan berkonsekuensi pada kerusakan pemikiran dan metode memahami Islam. Apalagi, sebagaimana difatwakan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, kerusakan umat diakibatkan oleh kejahatan intelektual muslim (ulama’). ”Seburuk-buruk manusia adalah ulama yang buruk,” kata Rasulullah SAW.

Oleh sebab itu, diskusi ilmu dan kajian ilmiah tak kalah mulyanya dengan ibadah shalat dan sedekah di bulan Ramadhan. Bahkan pada masa di mana kerusakan ilmu merajalela, kajian ilmiah barangkali lebih utama.

Ditegaskan oleh Ibnu Abbas, ”Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai daripada menghidupkan malam itu.” Apalagi pada masa kini, kejahilan tidak sama dengan kejahilan yang pernah dialami oleh ulama’-ulama dahulu.

Kini, kejahilan bukan saja kekurangan ilmu, akan tetapi kesalahan ilmu (confusion of knowledge). Kekacauan ilmu ini akibat invasi konsep-konsep sekular yang menghegemoni studi-studi Islam. Berangkat dari pemahaman inilah, membudayakan tradisi ilmu adalah langkah utama, dan bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat memulai tradisi mulya tersebut sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama dahulu, lebih-lebih untuk menjaga pemikiran di bulan suci. Wallahu A’lam bisshawab






Persiapan batin menyambut ramadhan






Tidak ada komentar:

Posting Komentar