-Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalam membacakan Al Qur`an kepada Rasulullah SAW, dan itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.
Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Al Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemuliaan bulan itu. (Fath Al Bari, 9/52).
Karena itulah, para salaf dan ulama amat memperhatikan amalan tilawah, sehingga porsi tilawah mereka berbeda antara bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.
Sebagai contoh, Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi, seorang tabi’in. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau mengkhatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.
Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa” tabi’in ini mengkhatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau mengkhatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).
Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini. Hisham bin Hassan bercerita bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu mengkhatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasa pun beliau mampu mengkhatamkan Al Qur`an sekali dalam sahari semalam. (Al Hilyah, 3/57).
Nah, bagaimana dengan kita? Berapa jumlah ayat yang kita baca di hari-hari biasa? Dan berapa pula yang kita baca saat berada di bulan Ramadhan? Apakah kita membaca lebih banyak? Atau sama? Atau malah lebih sedikit? Atau bahkan tidak sama sekali
10 keutamaan puasa ramadhan
SAYYID Muhammad bin Alwi Al Maliki atau yang akrab dipanggil Abuya ini adalah salah seorang ulama kenamaan dari Timur Tengah, khususnya di Arab Saudi. Karisma besarnya tidak hanya berhenti di sana tapi sudah masuk ke Asia, lebih-lebih di tanah air. Murid-muridnya bertebaran di perbagai penjuru nusantara, meramaikan lalu-lintas dakwah dengan ilmu-ilmu yang berkualitas. Di Malang sederet ulama terkemuka lahir dari tangan dinginnya, di antaranya Ustadz Shaleh Al Aydarus, Ustadz Muhammad bin Idrus Al Haddad, Ustadz Husain Abdullah Abdun, dan masih banyak lagi.
Di musim haji, biasanya kediaman Abuya ramai dikunjungi oleh para jamaah haji guna bertamu. Tak jarang beliau memberi uang dan kitab-kitab sebagai oleh-oleh untuk mereka. Kedekatannya dengan ulama tanah air merupakan warisan ayahnya, Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki yang pada masa hidupnya aktif mengajar para santri dari Indonesia. KH. Hasyim Asyari salah satunya.
Kecerdasan Abuya yang luar biasa menempatkan beliau sebagai ulama top yang banyak dirujuk oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari seluruh dunia. Tidak berlebihan kiranya bila beliau dinobatkan sebagai guru besar di bidang hadits oleh Universiats Ummul Qura di usia 26 tahun, setelah sebelumnya menggondol gelar doktor (PhD) di Universitas Al-Azhar.
Kedalaman ilmunya memang sudah tidak terbantahkan. Ilmu Hadits dan Sirah (sejarah) adalah dua ilmu yang sangat dikuasai olehnya. Dari tangannya lahir sejumlah karya brilian yang banyak diajarkan, dikutip oleh para dai, khatib, dan diteliti oleh para ahli, mulai santri hingga mahasiswa. Karya-karya Abuya yang ditinggalkan sebagai warisan intelektual untuk umat sangat banyak, antara lain Mafâhîm Yajibu an Tushahhah, Abwâbul Faraj, Al Manhalul Latîf, Khasâisul Ummatil Muhammadiyah, Al Qawâid Al Asasiyyah fi Ulûmil Qur`ân, Wahuwa fil Ufuqil A`lâ, Târîkhul Hawâdits an Nabawiyyah, Syarhu Mandzûmatil Waraqât, Qul Hâdzihi Sabilî.
Abuya mendapat perhatian yang besar dari umat Islam karena kejeliannya menangkap beberapa keutamaan-keutamaan umat Nabi Muhamad dibanding umat-umat terdahulu. Usahanya menguak kemuliaan orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad terlihat nyata dalam pembahasan pada salah satu kitabnya yang terkenal, Khasâisul Ummatil Muhammadiyah. Beliau mencoba membuat ringkasan rapi tentang puasa bertitik tolak dari al-Qur’an dan As Sunnah.
Abuya menorehkan sepuluh keutamaan orang-orang yang berpuasa yang ada pada umat ini.
Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa. Kata Nabi dalam satu haditsnya, “Pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya.” (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim)
Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka, sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).
Rasul menambahkan pula bahwa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).
Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya ada nilainya. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”
Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa, yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya di mana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir.
Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim).
Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).
Abuya menegaskan bahwa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahwa puasa menempa tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.
Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).
Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).
Ketujuh, dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At Taubah: 112).
Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahwa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahwa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.
Sembari mengutip al-Qur’an pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
Orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.
Kedelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktivitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Karenanya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”
Tentu, tidak dimaksudkan bahwa puasa itu dipenuhi dengan tidur. Bahkan harus sebaliknya, jauh lebih keras.Hanya saja, nilai tidur orang berpuasa di hadapan Allah berbeda dengan tidurnya orang yang tidak berpuasa.
Kesembilan, di antara cara yang Allah memuliakan orang yang berpuasa, bahwa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur, "seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…meski hanya seteguk air." (Hr. Abu Ya`la).
Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya. Mudah-mudahan kita termasuk bagian dari sepuluh keutamaan tersebut.
Ramadhan bulan "jihad 'bukan 'hari tidur'
SALAH SATU kebiasaan buruk selama Ramadhan adalah memperpanjang tidur dan bermalas-malasan. Lebih ironis lagi jika malam-malam harinya dihabiskan untuk begadang, melakukan perbuatan yang sia-sia, menonton TV, mengobrol dan bersendau gurau yang tak berguna, atau melakukan permainan lain-lanya. Baru siang harinya digunakan untuk tidur. Lalu dimanakah makna iman di bulan Ramadhan?
Tidur siang memang tidak dilarang, jika dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi jika dilakukan dalam waktu yang panjang, lalu dimanakah makna puasa, melatih untuk menahan lapar dan merasakan pahit getirnya seperti yang dirasakan para fuqara dan masakin?
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para Sahabatnya jika datang bulan Ramadhan, mereka mengisi dengan semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shalihnya.
Sejarah mencatat prestasi monumentalnya di bulan yang istimewa ini, yaitu beberapa kali perang jihad di jalan Allah meraih kemenangan.
Tepat tanggal 17 ramadhan meletuslah perang Badar dengan jumlah kaum muslimin tiga ratusan orang sementara pasukan kafir Quraisy Makkah berjumlah sekitar 1.000 orang, tiga kali lebih banyak dari kaum muslimin. Peperangan dahsyat yang akhirnya dimenangkan kaum muslimin.
Peristiwa yang perang jihad lainnya yaitu pembebasan kota Makkah yang terjadi 21 Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Kaum muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam ini membersihkan berhala-hala yang telah menodai kesucian Ka’bah, bahkan memaafkan dan membebaskan para tawanan yang tertawan.
Bulan “Jihad”
Sepeninggal Rasulullah shalallahu alaihi wassalam juga banyak peristiwa jihad di bulan yang suci ini.
Ramadhan 92 H, Panglima Thariq bin Ziyad bersama 7.000 pasukan menyebrangi selat Gibraltar untuk membebaskan kota Andalusia di Spanyol. Dengan pidatonya yang terkenal, ”Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita semua punya dua pilihan, menaklukan negeri dan menetap di sini serta mengembangkan Islam atau kita semua binasa”, Thariq sembari memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal dan melawan pasukan Sponyol yang berkuatan 100.000.
Lagi-lagi di bulan suci ini, kaum muslimin memperoleh kemenangan atas pertolongan Allah subhanallahu wataala.
Selain itu, Ramadhan tahun 584 Hijriyah Shalahudin al-Ayubi juga berhasil memporak-porandakan pasukan Salib Eropa yang dipimpin raj Richard III dari Inggris yang terkenal dengan “Hati Singanya”. Dengan kejeniusan Shalahudin raja Richard pun akhirnya tunduk.
Di Indonesia pun, negeri yang kita cintai terjadi peristiwa yang sangat bersejarah sepanjang masa.
Di bulan suci ini, tepatnya 66 tahun yang lalu, Indonesia telah berhasil menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bersamaan dengan 17 Ramadhan 1363 Hijriyah.
Sangat tepat jika dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa kemerdekaan adalah “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa…”
Dari beberapa peristiwa di atas dapat diambil kesimpulan bahwa selayaknya kita mempergunakan waktu-waktu di bulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Kita tidak hanya cukup melaksanakan amalan-amalan yang wajib saja, melainkan amalan yang sunnah pula. Banyak bersedekah, baca al-Qur’an dan shalat Tarawih atau amalan-amalan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dan bulan “jihad” bulan bulan untuk bermalas-malasan. Wallahu a’lam bishshowab.
Al ghazali dan Tiga kategori orang yang berpuasa
SUDAH berapa kali Anda berpuasa Ramadhan? Dan apa hasil puasa Anda selama itu?
Dibandingkan dengan hikmah dan fadhilah yang ditawarkan Ramadhan, rasanya terlalu sedikit yang telah kita capai. Revolusi kejiwaan yang semestinya terjadi setelah kita berpuasa sebulan penuh hingga puluhan kali Ramadhan masih juga belum kunjung tercapai. Yang terjadi justru hanyalah rutinitas tahunan: siang hari menahan diri dari lapar dan dahaga, selebihnya tidak terjadi apa-apa.
Imam Al-Ghazali mengelompokkan kaum muslimin yang berpuasa dalam tiga kategori. Pertama, mereka yang dikelompokkan sebagai orang awam. Kelompok ini berpuasa tidak lebih dari sekadar menahan lapar, haus, dan hubungan seksual di siang hari Ramadhan. Sesuai dengan namanya, sebagian besar kaum muslimin berada dalam kelompok ini.
Kelompok kedua adalah mereka yang selain menahan lapar, haus dan hubungan suami isteri di siang hari, mereka juga menjaga lisan, mata, telinga, hidung, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan maksiat dan sia-sia. Mereka menjaga lisannya dari berkata bohong, kotor, kasar, dan segala perkataan yang bisa menyakiti hati orang. Mereka juga menjaga lisannya dari perbuatan tercela lainnya, seperti ghibah, mengadu domba, dan memfitnah. Mereka hanya berkata yang baik dan benar atau diam saja.
Dikisahkan dalam kitab Ihya-ulumuddin, bahwa pada masa Rasulullah saw ada dua orang wanita. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, saat mereka sedang berpuasa, rasa lapar dan haus tak tertahankan lagi hingga hamper-hampir saja menyebabkan keduanya pingsan. Maka diutuslah seorang pria untuk menghadap Rasulullah saw untuk menanyakan, apakah mereka boleh membatalkan puasanya. Rasulullah saw tidak langsung memberi jawaban, akan tetapi beliau justru mengirimkan sebuah mangkok, kemudian berpesan kepada utusan tersebut: “Muntahkan ke dalam mangkok ini apa yang telah dimakan”.
Peristiwa ini nampaknya mengundang perhatian banyak orang. Mereka yang menyaksikan peristiwa itu sangat terkesima melihat salah seorang wanita itu memuntahkan darah segar dan daging lunak sebanyak setengah mangkok, wanita satunya lagi pun memuntahkan hal yang sama hingga mangkok tersebut menjadi penuh. Setelah itu Rasulullah bersabda: “Dua perempuan tadi telah merasakan apa yang oleh Allah dihalalkan bagi mereka dan telah membatalkan puasa mereka dengan melakukan hal-hal yang dilarang Tuhan. Mereka telah duduk bersama dan bergunjing. Darah dan daging segar yang mereka muntahkan adalah darah segar orang yang telah mereka gunjingkan”.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: “Ada lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu: berbohong, bergunjing, memfitnah, mengucapkan sumpah palsu, dan memandang dengan nafsu”.
Kelompok kedua ini juga bisa menjaga mata dari melihat segala sesuatu yang dilarang syari’at. Matanya tidak dibiarkan liar memandang aurat perempuan atau lelaki yang tidak halal, baik secara langsung, maupun melalui tontonan televisi, gambar dan foto. Mereka sadar bahwa mata adalah panahnya setan, jika dibiarkan liar maka mata itu bisa membidik apa saja dan nafsu manusia cenderung membenarkan dan mengikutinya. Tentang bahaya pandangan ini, Rasulullah mengingatkan: “Pengaruh ketajaman mata adalah hak. Bila ada sesuatu yang mendahului taqdir maka itu adalah karena pengaruh ketajaman mata”. (HR. Muslim)
Tak kalah pentingnya adalah menjaga telinga dari mendengar segala sesuatu yang menjurus kepada maksiyat. Mereka yang termasuk kelompok ini tidak akan asyik duduk bersama orang-orang yang terlibat dalam perbincangan yang sia-sia. Termasuk perbuatan sia-sia adalah mendengar lagu-lagu yang syairnya tidak mengantarkannya pada mengenal kebesaran Allah. Mereka juga meninggalkan percakapan penyiar dan penyair yang menghambur-hamburkan kata tanpa makna.
Mereka segera meninggalkan orang yang sedang ghibah, apalagi memfitnah, karena mereka sadar bahwa orang yang mengghibah dengan orang yang mendengar ghibah itu sama nilai dosanya. Maka alternatifnya hanya dua, yaitu mengingatkan atau meninggalkan majelis tersebut.
Dalam hal ini Allah berfirman: “Maka janganlah kamu duduk bersama mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka”. (QS. An-Nisaa: 140)
Di bulan Ramadhan, kelompok ini juga menutup telinganya rapat-rapat dari segala suara yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam mengingat Allah. Sebaliknya, mereka membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar ayat-ayat suci al-Qur’an, mendengar majelis ta’lim, mendengar kalimat-kalimat thayibah, dan mendengar nasehat-nasehat agama. Ketekunan dan kesibukan menyimak kebaikan dengan sendirinya akan mengurangi kecendrungan mendengar sesuatu yang sia-sia, apalagi yang merusak nilai ibadahnya.
Selebihnya, mereka juga menjaga tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuhnya dari segala yang dilarang syari’ah. Mereka menjaga tangannya dari memegang sesuatu yang tak halal. Mereka juga mengendalikan kakinya dari melangkah ke tempat yang haram. Demikian juga terhadap perutnya, mereka menjaga agar perutnya hanya diisi makanan yang halal saja. Baik ketika sahur maupun pada saat berbuka puasa.
Dalam pandangan Islam, makanan haram itu sama dengan racun, sedangkan makanan halal itu adalah obat, jika diminum sesuai dengan porsi dan dosis yang tepat. Tapi jika jika dikonsumsi secara berlebihan, maka makanan itu bisa berubah menjdai racun yang sangat membahayakan kesehatan tubuh. Itulah sebabnya, orang-orang yang berpuasa secara benar terlatih untuk hanya memakan makanan dan minuman yang halal saja. Itupun dalam takaran dan dosis yang normal, tidak berlebih-lebihan. Mereka tidak akan berbuka puasa dengan cara makan dan minum berlebih-lebihan.
Jika kaum muslimin berpuasa seperti puasanya kelompok yang kedua ini, sungguh akan terjadi perubahan sosial yang luar biasa. Antara sebelum dan sesudah Ramadhan pasti ada perubahan sikap, perilaku, dan tindakan yang khas. Jika perubahan itu dilakukan oleh sebuah masyarakat yang hidup dalam sebuah Negara yang bernama Indonesia, maka revolusi moral pasti terjadi secara nyata.
Tak perlu dibentuk Komisi Anti Korupsi, karena sudah tidak ada lagi pelakunya.
Sayang, untuk target minimal tersebut kita masih belum bisa melakukannya. Akibatnya, antara sebelum dan sesudah puasa tidak terjadi apa-apa. Yang sebelum Ramadhan merokok, sesudah puasa kembali merokok. Bila sebelum puasa korupsi, sesudah puasa, praktek itu diulangi kembali. Padahal jika target menjadi kelompok kedua ini tercapai, separoh permasalahan Negara dan bangsa bisa diatasi. Apalagi jika kita bisa mencapai target yang lebih tinggi, menjadi kelompok ketiga.
Adapun kelompok ketiga, menurut Al-Ghazali adalah mereka yang berada dalam kategori khususul khusus atau al-Khawwas. Mereka tidak saja menjaga telinga, mata, lisan, tangan, dan kaki dari segala yang menjurus pada maksiyat kepada Allah, akan tetapi mereka juga menjaga hatinya dari selain mengingat Allah. Mereka mengisi rongga hatinya hanya untuk mengingat Allah semata-mata. Mereka tidak menyisakan ruang sedikitpun dalam hatinya untuk urusan duniawi. Mereka benar-benar mengontrol hatinya dari segala detakan niat yang menjurus pada urusan duniawi.
Bermurah hati dibulan suci
Kami telah menentukan antara mereka penghidupan (rizki) mereka di dunia. Dan kami telah meninggikan beberapa derajat sebagian mereka atas sebagian yang lain, agar sebagian mereka dapat mengambil manfaat (mempergunakan) sebagian yang lain.” [al-Zukhruf: 43/32]
I
Kaitannya dengan korelasi antara si kaya dan miskin, agama mendorong umat untuk berupaya semaksimal mungkin dan bertawakal dalam mencari rezeki. Sekiranya kebutuhan masih belum tercukupi atau belum terpenuhi, islam tetap melarang meminta-minta kecuali darurat sekali.
Agama melarang keras seorang Muslim untuk minta-minta, apalagi menjadikan minta-minta ini sebagai profesi. Kemiskinan bukanlah sesuatu yang memalukan dan keaiban dalam Islam, yang aib adalah kemalasan, makan rezeki tak halal dan mudah putus asa.
Baginda Rasul SAW pernah bersumpah bahwa seorang yang mencari rezeki dengan mencari dan menjual kayu bakar, jauh lebih baik dari pada orang yang meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak diberi. Sebaliknya agama memuji orang yang bersikap muta’afif, yaitu orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta kepada orang lain.
Sementara itu, pada saat yang sama, melalui ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW banyak sekali yang mendorong orang yang mampu untuk mengulurkan tangan, bersedekah dengan memberikan bantuan kepada orang yang tidak mampu, tanpa harus menunggu untuk diminta. Dengan demikian hubungan antara yang memberi dan diberi tetap mesra dan terhormat, hubungan saling membutuhkan, sehingga si kaya dapat memberi dengan penuh keikhlasan karena tanpa harus diminta, begitu pula kehormatan si penerima tetap terjaga karena mereka diberi tanpa harus meminta.
Hal penting lain dalam bersedekah hendaknya bantuan diutamakan bagi kerabat keluarga yang miskin terlebih dahulu, karena sebagaimana dalam sebuah hadits yang menekankan bahwa pemberian kepada fakir miskin merupakan sedekah, tetapi jika diberikan kepada kerabat keluarga yang miskin merupakan sedekah dan penyambung silaturahim, yakni mendapatkan pahala sedekah dan pahala silaturahim. Barulah setelah itu diperuntukkan bagi para fakir miskin secara umum, terutama yang muta’affif.
Karenanya, kepada yang kaya penderma atau badan yang mewakilinya untuk selektif dan teliti dalam mencari dan memberikan bantuan kepada fakir miskin agar tidak tertipu.
Saat seseorang mengulurkan tangannya kepada fakir miskin, pada hakekatnya fakir miskin tersebut juga membuka jalan, memberikan bantuan kepada si kaya yang mendermakan hartanya. Fakir miskin yang menerima sedekah tadi berarti telah mengulurkan tangannya demi kepentingan dan kemaslahatan si pemberi sendiri.
Bersedekah mengajak pelakunya kepada kelanggengan dan bertambahnya rezeki, terhindar dari petaka musibah, dapat menyembuhkan penyakit, memperoleh ganjaran pahala yang berlipat dan pada gilirannya insya Allah akan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya kelak.
Marilah kita jadikan bersedekah sebagai simbol dan syiar Islam, terutama pada bulan Ramadhan ini. Teladan kita, Baginda Rasul SAW adalah manusia yang paling murah hati (dermawan), terutama pada bulan–bulan Ramadhan.
Puasa bikin kita lebih peduli
DI dunia ini, pernah hadir seorang yang bernama Karl Marx. Lelaki yang hidup seabad lalu itu pernah menyodorkan satu teori, bahwa segala persoalan di dunia ini berpusat pada perut. Semua orang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya hingga tidak kelaparan. Itulah yang menyebabkan terjadinya persaingan, perebutan, bahkan pertumpahan darah sepanjang sejarah. Kesimpulannya, perang dan damai ditentukan oleh perut.
Lima puluh tahun kemudian muncul seorang lagi dengan membawa teori baru. Pria ini bernama Sigmund Freud. Dalam teorinya ia membantah, bahwa bukan perut yang menjadi pangkal persoalan hidup ini, tapi faraj (kelamin). Sukses atau gagalnya seseorang, cerdas atau tidaknya manusia berpangkal pada satu soal, yaitu libido, keinginan jantan kepada betina, dan sebaliknya.Menurut teori ini, pangkal persialan dunia bukan pada perut, tapi di bawah perut.
Tujuh abad sebelum Karl Mark dan Sigmund Freud, telah lahir pujangga dan filosof Islam, Imam Al Ghazali. Ia menyatakan bahwa kedua faktor—perut dan faraj—itu—memang sangat penting. “Andai kata kaum lelaki tidak berkeinginan terhadap wanita, maka tiada lagi keturunan manusia. Andai manusia tidak ingin makan, binasalah semua,” katanya.
Tetapi Al Ghazali tidak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahwa manusia telah dikaruniai oleh Allah akal sehat, yang punya kemampuan untuk menimbang yang baik dan buruk. Allah juga menurunkan agama, yang membeberkan halal dan haram, yang boleh dan yang dilarang. Dengan agama, manusia akan terbimbing hidupnya sehingga dapat menikmatinya dengan penuh bahagia dan sejahtera.
Pada kenyataannya, perut memang kecil saja. Panjangnya kira-kira sejengkal, lebarnya dua jengkal. Akan tetapi bila kemauannya dituruti, semua isi dunia ini akan ditelan. Asalnya berebut sepiring nasi, ingin menyimpan untuk esok hari, lama-lama ingin mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk diwariskan ke anak cucu hingga turunan ke tujuh.
Dari sekadar nafsu makan, akhirnya lahir keinginan yang lebih besar, yaitu keinginan untuk menguasai. Dari sana lahir paham kapitalisme dan imperialisme. Manusia menguasai manusia. Manusia memperbudak sesamanya.
Demikian halnya syahwat. Sejak dikumandangkan ajaran Freud, wanita telah maju beberapa langkah menuju kepada kehidupan binatang. Rasa malu yang seharusnya dimiliki kini ditanggalkan, pakaian yang seharusnya dikenakan, kini dilucuti. Aurat yang seharusnya ditutupi kini dibuka lebar-lebar. Keelokan dan kecantikan yang seharusnya dirawat dan dijaga, malah diperlombakan. Persis kontes satwa di kebun binatang. Pemain dan penonton sama-sama tertawa, walau sejatinya ada dalam kerangkeng kaptalisme-materialisme.
Untuk mempercepat kebebasan jiwa guna mendapatkan kepuasan seks, maka minuman keras adalah alternatifnya. Dengan minuman keras, orang menjadi lupa terhadap ikatan hidup, termasuk agama. Orang menjadi fly antara sadar dan tidak. Karenanya, antara seks dan minuman keras tak bisa dipisahkan. Tak puas dengan minuman keras, mereka lari ke narkotika, ganja, dan obat-obatan lainnya. Harganya yang tinggi tidak menjadi masalah, bagi mereka yang penting nafsu terpuaskan.
Narkoba kini bahkan sudah menjadi ‘konsumsi umum’ yang mengerikan. Para penggunanya sudah merambah ke mana-mana, mulai kaum muda hingga anak-anak di kota dan desa; guru, lurah, aparat keamanan, pejabat pemerintah, publik figure, lelaki perempuan telah begitu akrab dengan barang haram yang satu ini. Di kantor, di sekolah hingga penjara jadi ajang transaksi—bahkan produksi-- benda haram ini.
Demi kebebasan seksual, orang berganti-ganti pasangan. Tak puas dengan yang satu, cari yang lain. Sebagian kaum lelaki ada yang bosan dengan wanita, begitu sebaliknya, maka timbullah kaum homo dan lesbi. Demi alasan hak azasi manusia, mereka menuntut agar mendapat kedudukan yang sama dan diakui keberadaannya. Dari gonta-ganti pasangan sejenis iniah kemudian tumbuh penyakit baru yang sangat mengerikan, AIDS.
Asal manusia mau menggunakan akal sehatnya, mereka akan mengatakan bahwa kondisi ini sangat membahayakan. Apalagi bagi kaum muslimin yang menjunjung akhlak mulia, tentu menyatakan bahwa hal ini merupakan krisis yang membahayakan kehidupan di masa depan.
Pesan strategis puasa
Di sinilah letak peran strategisnya puasa Ramadhan. Shiyam (puasa) adalah kendali nafsu perut dan nafsu syahwat. Sebulan penuh umat Islam dilatih dengan penuh kesadaran agar dapat mengendalikan kedua nafsu ini.
Puasa bagi ummat Islam, adalah pengabdian sekaligus training mental. Puasa tidak hanya mengajarkan kepada kita menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari, tapi juga menahan nafsu-nafsu pancaindera, dan hati. Puasa Ramadhan tidak hanya sekadar masalah ubudiyah yang mendatangkan pahala dan ganjaran di akhirat kelak, tapi juga mendatangkan pengaruh yang langsung dalam kehidupan dunia ini.
Dari segi jasmaniyah, puasa bermanfaat sekali dalam menjaga kesehatan. Para dokter sepakat bahwa puasa itu menyehatkan, sebagaimana Rasulullah telah menetapkan 14 abad yang lalu dalam sebuah haditnya,” Puasalah, tentu kamu sehat.”
Dari segi ruhiyah, puasa adalah latihan disiplin terhadap peraturan. Melaksanakan dan menjauhi larangan bukan karena takut sanksi dan hukuman, tapi merupakan pengabdian atas dasar cinta kepada hukum-hukum Allah. Puasa membentuk sikap mental, watak dan kepribadian yang patuh dan disiplin.
Selain itu, puasa juga mengajarkan kesabaran. Orang yang sedang berpuasa berjuang menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya, dengan mempertinggi sifat sabar, yaitu kemampuan untuk mengatur dan memimpin, memperkuat daya tahan dan kesanggupan menderita.
Dari Ibnu Majah diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,” Puasa itu separuh kesabaran.”
Dari segi kemasyarakatan, puasa mendidik kaum muslimin untuk mengurangi bibit-bibit diskriminasi, sekaligus memperkokoh kesetiakawanan sosial.
Di luar bulan Ramadhan, orang kaya menikmati segala kemewahannya, makan serba ada dan memenuhi segala selera. Sebaliknya, orang miskin hidup serba kekurangan, dapat makan 3 kali sehari untung-untungan, apalagi utuk memenuhi standar gizi. Akan tetapi, dalam bulan Ramadhan ini semuaa manusia punya kedudukan sama. Baik yang kaya maupun yang miskin sama-sama laparnya. Tidak makan dan minum, juga tidak berhubungan suami istri. Bila tiba saat berbuka, mereka serentak makan. Semua merasakan nikmatnya.
Banyak masjid, mushalla atau rumah menyediakan ta’jil bersama. Di sana semua kaum muslimin membaur jadi satu, tak peduli kaya dan miskin, bersila dan berderet menghadapi makanan. Diharapkan dari sana tumbuh rasa kebersamaan dan hilang diskriminasi sosial…
Pada bulan Ramadhan, semua kaum muslimin dilatih untuk merasakan pahit getirnya menahan lapar. Maksudnya, agar mereka ikut juga merasakan derita lapar yang dialami sebagian besar masyarakat ‘akar rumput’ yang menahan lapar setiap hari dalam jangka waktu yang panjang. Orang yang merasakan derita lapar seperti ini jumlahnya tidak sedikit, dan menyebar di berbagai belahan bumi, di negara maju maupun di lingkungan komunitas suku-suku. Harapan selanjutnya, lahir sifat santun dan kasih sayang kepada orang yang nasibnya tak semujur dirinya.
Kepada orang kaya, lewat ibadah puasa ini Allah hendak mendidik mereka agar tajam ruhaninya, peka perasaan sosialnya, mau peduli terhadap sesama yang nasibnya kurang beruntung, misalnya yatim piatu, fakir miskin, anak jalanan, kaum gelandangan, dst.
Orang tidak selamanya kaya. Setiap saat manusia bisa mengalami kebangkrutan.
Tak menutup kemungkinan anak sendiri menjadi yatim, bahkan yatim piatu, sebab kematian siapa yang menduga datangnya.
Peluang beramal terbuka luas di depan kaum muslimin. Apalagi hadirnya krisis ekonomi di negeri kita masih nampak belum kunjung berakhir. Inilah saatnya mendemonstrasikan amal di bulan Ramadhan. Jika kita lihat, sebagian besar orang yang kurang beruntung adalah juga kaum muslimin, dengan jumlah yang mancapai 40 juta jiwa lebih.
Apa artinya? Bahwa memiliki sikap peduli kepada orang yang kurang beruntung merupakan tuntunan agama. Malah orang yang tidak mau peduli dengan nasib mereka disebut pendusta agama. Omong kosong seseorang mengaku Islam kalau tidak memiliki sikap ingin membantu saudaraanya yang dalam kesusahan.
Terkait dengan dengan hal ini Allah Swt mengingatkan,” Tahukan kamu orang yang mendustakan agama? Itulah mereka yang menghardik anak-anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin.”(Al-Ma’uun: 1-3)
Orang-orang miskin, kaum dhu’afa dan anak yatim sangat membutuhkan makanan, kasih sayang dan tempat bernaung. Mereka juga haus keadilan, perhatian dan hak-hak hidup yang lain sebagai sesama anak adam.
Setidaknya, inilah yang hendak digugah dalam Ramadhan kali ini. Setelah di malam harinya ruhani kita diasah dengan qiyamul lail dan tartil Qur’an, dengan perut yang lapar, siangnya kita datangi saudara-saudara kita yang kurang mujur. Kita bantu secukupnya. Kita selami problematika yang dialami dan membantu mencari solusinya. Jangan sampai ada yang menangis—apalagi pada saat lebaran tiba nanti--pada saat kita sedang gembira bersama keluarga tercinta. Semoga Allah menjadikan kita orang yang peduli. Semoga tergugahlah hati kita.
Memburu 10 terakhir ramadhan
KITA telah masuk pada penghujung bulan Ramadhan, berarti telah masuk pada sepertiga terakhir yang berisikan sepuluh atau barangkali hanya sembilan hari saja. Maha Benar Allah SWT ketika menyebutkan bahwa Tamu Agung Ramadhan hanyalah ayyaam ma’dudaat (beberapa hari yang telah ditentukan). Cepat dan singkat, namun Ramadhan berisikan kemuliaan dan keberkahan yang luar biasa.Kalangan ulama tafsir banyak yang menafsirkan ayat sumpah Allah SWT dalam surat al-Fajr bahwa layalin asyr (dan demi malam yang sepuluh) maksudnya adalah malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, walaupun banyak pula yang menafsirkan maksudnya adalah sepuluh malam bulan Dzulhijjah, ada pula yang mengatakan sepuluh hari pertama bulan Muharram. Semua penafsiran bisa jadi benar, karena masing-masing mempunyai dalil-dalil yang mendukungnnya.Pada hari-hari terakhir ini Baginda Nabi SAW bersiaga penuh mengisi malam-malamnya, sampai-sampai beliau mengasingkan diri dari isteri-isterinya, beriktikaf di dalam masjid, beribadah dan bermunajat kepada Allah SWT, sebagai kesempatan akhir “ngalap berkah” bulan Ramadhan. Tak heran seperti diriwayatkan oleh istri beliau Sayidah Aisyah bahwa Rasul SAW bersungguh-sungguh dalam beribadat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang tidak dilakukannya pada bulan-bulan yang lain.Pertanyaanya, mengapa demikian? Mengapa Nabi SAW mendorong umatnya untuk melipatgandakan ibadah dalam waktu tersebut? Jawabnya singkat, karena pada malam-malam bulan Ramadhan tersebut, terutama pada malam-malam yang ganjil, terdapat malam Lailatul qadar, malam kemuliaan yang sangat istimewa yang semua orang berlomba memburunya, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagai bonus hadiah Tuhan bagi orang yang ikhlas mengabdi kepada-Nya.Lailatul qadar ibarat benda elok yang sangat indah namun langka. Tak heran jika tak mudah meraihnya, karena mahal harga belinya. Malam kemuliaan tersebut hanya dapat dibeli dengan pengorbanan jiwa raga, dengan amalan-amalan ibadah yang telah dituntun oleh agama, seperti melakukan qiyamullail, berpuasa sesuai tuntunan, tilawah, dan tadarus al-Quran dengan tadabbur, berdoa, zikir, memperbanyak istighfar, muhasabah diri, perbanyak sedekah, serta amalan ma’ruf lainnya untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat pada umumnya.Lailatul qadar dirahasiakan? Jelas sesuatu yang mahal dan langka tentu dirahasiakan dan tidak diobral, agar umat semangat berlomba memburunya, dan agar ibadat tidak hanya dilakukan pada waktu tertentu saja, namun pengabdian haruslah langgeng terus dilakukan selagi hayat masih kandung badan.Merugilah kita yang luput dari peningkatan ibadah pada hari-hari sepuluh terakhir ini. Kebahagiaan mukmin sebenarnya bukan hanya karena akan mendapatkan bonus pahala lailatul qadar dan sejenisnya, namun kebahagiaan mukmin adalah saat dirinya mengabdi, mohon ampun, berserah dan tunduk kepada pencipta-Nya, karena itulah nikmat besar yang tiada taranya!Penulis tinggal di Damaskus-Suriah
Ramadhanku madrasahku
DEFENISI pendidikan yang unik, belum pernah kita temukan dalam dunia pendidikan pada umumnya adalah definisi yang dirumuskan oleh salah seorang tokoh dunia Islam Syeikh Muhammad Qutub dalam salah karya spektakulernya “Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyyah” Nadhariyyah wa Tathbiqan I,II. Beliau menyebut “fannu tasykilil insana ‘aqliyyan, syu’uriyyan, ruhiyyan, wa jismiyyan ila haddi kamali syakhshiyyatih” (seni memformat manusia baik dari sisi intelektualitas, perasaan, spiritual, pisiknya, menuju batas kematangan kepribadiannya secara sinergis).
Menurutnya, kegiatan pendidikan tidak sekedar transfer ilmu. Setidaknya ada tiga komponen fundamental yang menentukan keberhasilan sebuah pendidikan. Yaitu input, proses dan out put.
Jika salah satu unsur dari ketiganya kurang ideal, maka mustahil melahirkan out put yang diharapkan pula.
Puasa Ramadhan memadukan ketiga dimensi tersebut secara sinergis.
Pertama: Input (Sumber Daya Mukmin)
Amantu billah (aku telah beriman kepada Allah SWT). Artinya, sekarang saya telah mengenal siapa Allah SWT, pengenalan (ma’rifat) yang disertai oleh keyakinan. Inilah hakikat keimanan.
Wa aslamtu ilaihi (saya telah berserah diri kepada-Nya secara lahir dan batin). Menyerahkan diri dengan kebulatan hati. Segala perintah dan hukumya aku taati, suruhan-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku tinggalkan, dengan segenap keridhaan. Inilah hakikat keislaman.
Lihatlah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika menuju ke tempat pembaringan. Yang mengambarkan tentang kepasrahan total.
ِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللهُمَّ إِنِّي اَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَ فَوَضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَ أَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا منك إَلاّ إِلَيْكََ ، أَمَنْتُ بِكِتَابٍكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ
“Ya Allah sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku hanya kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan segala urusanku hanya kepadamu, kusandarkan punggungku kepadaMu semata, dengan harap dan cemas kepadaMu, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan: Doa-doa tersebut kita baca menjelang kematian (tidur). Di dalamnya mengandung tiga unsur rukun iman. Iman kepada Allah SWT, iman kepada kitab-kitab-Nya dan iman kepada Rasul-rasul-Nya.
Secara etimologis (kebahasaan) Iman adalah keyakinan yang terhunjam di dalam hati (mu’taqodat). Yang disimpulkan dalam rukun Iman. Sedangkan Islam adalah menyerahkan diri secara lahir dan batin untuk diatur oleh Allah SWT dengan sam’an wa tho’atan (kami dengar dan kami taat), (al-Jawarih – anggota tubuh- ), yang diringkas dalam rukun Islam.
Iman dan Islam, percaya dan berserah diri, adalah dua kalimat yang tidak bisa dipisah-pisahkan untuk selama-lamanya. Percaya saja belum cukup, butuh berserah diri. Dan menyerahkan diri tidak akan sempurna tanpa didasari oleh keyakinan.
Bukti kita percaya, tentulah kita turuti perintah-Nya. Kesimpulan dari keduanya, kepercayaan dan ketundukan terhadap syariat, itulah agama yang benar (dinul haq). Mengakui secara lisan sebagai seorang mukmin, tetapi tidak mengikuti perintah-Nya belumlah dikatakan mukmin.
Sunnah adalah perjalanan, jalan raya lurus yang akan ditempuh, yang telah didahului oleh Nabi SAW dan kita ikuti jejaknya dari belakang. Atau tradisi Rasulullah SAW. Jika kita renungkan dengan logika yang sehat, ada orang yang mengaku percaya, tetapi enggan melakukan perintah, tidak menjalankan isi al-Quran, atau tidak mengikuti sunnah (ittiba’ur rasul), bukanlah disebut mukmin dan muslim. Kepercayaan seharusnya mengantarkan diri untuk tidak keberatan melakukan perintah dan menjauhi larangan.
Mengakui diri sebagai seorang Islam, padahal tidak menegakkan shalat lima waktu. Enggan mengeluarkan zakat. Seakan-akan harta itu bukan karunia dari-Nya, tetapi hasil kerja kerasnya dalam menerapkan konsep ekonomi. Tidak melakukan puasa Ramadhan. Tidak pergi haji, padahal memiliki kesanggupan. Benarkah pengakuannya ?. lain di mulut, lain pula di dalam hati. Ini namanya munafik. Fenomena tersebut indikator bahwa pengakuannya belum bulat. Iman dan Islam belum merasuk di dalam relung kalbu. Tanyakan pada hati nurani, apa beratnya menjalankan perintah.
Iman tak sekedar pengakuan di mulut. Tak cukup seseorang mengatakan, “asal hatiku sudah percaya dan budi pekertiku dengan sesama sudah baik, ibadah tidak diperlukan !” itu adalah kesalahan besar. Karena iman dan Islam belum muncul di relung hatinya. Islam tak semata-mata kepercayaan dan pengakuan di mulut, ia harus diyakini dan diamalkan.
Kedua: Proses (Nilai Edukatif Huruf Hijaiyah Pada “Ramadhan”)
Dari segi etimologis makna ‘Ramadhan’ adalah membakar. Karena pada umumnya tibanya bulan ke sembilan bulan Qamariyah ini pada musim panas. Makna tersebut mengandung pelajaran berharga, lewat puasa Ramadhan menjadi hangus terbakar dosa-dosa dan kelemahan serta sisi gelap diri kita. Sedangkan sisi terang diri kita mengemuka.
Disamping itu puasa adalah junnah (perisai). Yang bisa memagari pelakunya dari tekanan internal diri.
Dengan perisai tersebut, semoga Allah SWT melindungi kita dari berbagai madharat, memagari kita dari maksiat, dan menjaga kita dari gangguan yang bersumber dari mukmin yang dengki, tipu daya orang kafir, munafiq yang membenci, hawa nafsu yang menggelincirkan dan syetan yang menyesatkan.
Menurut Drs Mudrik Qari’ dalam karya tulisnya, “Menyingkap Rahasia Ramadhan”. Huruf Hijaiyah yang tergabung dalam kalimat Ramadhan, sesungguhnya menggambarkan intitusi madrasatul hayah (sekolah kehidupan) yang dipandu dan dimonitor langsung oleh Allah SWT.
Pertama, huruf “RA” kependekan dari rahmat. Sesungguhnya jati diri yang menonjol pada diri Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia memiliki 100 rahmat. 99 1/100 disimpan di Lauh Mahfudh. Dan satu persen diturunkan ke dunia. Dengannya langit dan bumu diciptakan dan berjalan secara harmonis. Ibu menyayangi anaknya. Makhluk bisa menjalani kehidupan. Dan dengannya pula para binatang tidak berebutan dalam satu lokasi air minum.
Semua surat dalam al Quran dimulai dengan “bismillahirrahmanirrahim”, kecuali surat at Taubah. Hal ini menunjukkan bahwa rahmat-Nya sangat agung, dan selalu mengalir kepada semua makhluk-Nya sampai hari kiamat. Dan 99 persen akan diberikan kepada hamba-Nya yang masuk surga.
Pangkal utama tercerabutnya kasih sayang pada diri manusia adalah “Takatsur” (menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak massa) tidak untuk menegakkan dinul Islam. Tetapi untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Jika penyakit ini dirawat akan menimbulkan penyakit turunan, serakah, sombong, dengki dan dendam. Keempat sifat itu yang menjadi pemicu pelanggaran manusia dari masa ke masa.
Kedua, huruf “MIM” kependekan dari maghfirah (ampunan). Maghfirah adalah penjagaan dan penghalang dari jahatnya perbuatan dosa (wiqoyatu syarridz dzunubi ma’a satriha). Seseorang yang beristighfar hakikatnya mohon agar kelemahan-kelemahan yang melekat pada dirinya dikurangi, atau bahkan dihapus.
Konsekwensinya, dengan memperbanyak istighfar berarti kualitas dirinya mengalami perkembangan secara signifikan. Hanyalah orang-orang yang tidak tahu diri, yang tidak beristighfar.
Dari Anas berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT berfirman: "Wahai keturunan Adam, sesungguhnya apabila engkau berdoa dan memohon ampunan kepada-KU, maka niscaya akan Aku ampuni, apa pun keadaanmu Aku tidak peduli. Wahai keturunan Adam, apabila dosa-dosamu memenuhi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-KU, maka Aku ampunilah aku. Wahai anak cucu Adam, kalaulah Engkau memiliki dosa seisi bumi ini, kemudian engkau memohon ampun kepada-KU tanpa pernah menyekutukan-KU sedikitpun, maka Aku akan berikan ampunan sebanyak dosa yang engkau bawa."
Dalam kitab ‘Al Bahrur Raiq Fii Az Zuhdi wa Ar Raqaiq oleh Dr. Farid, hal : 107, menyebutkan bahwa hadits di atas mengandung tiga faktor penting datangnya maghfirah.
Ketiga, huruf “DHADH” kependekan dari “dhi’fun” (berlipat ganda).
Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Salman ra. katanya :
خَطَبَناَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي اَخِرِ شَعْبَانَ وَقاَلَ
“Rasulullah Saw pada hari terakhir dari bulan Sya’ban berkhutbah di hadapan kami, maka beliau bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang agung lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah SWT telah menjadikan puasa-Nya suatu fardhu dan qiyam (shalat tarawih) pada malam harinya tathawwu’. Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di bulan yang lain. Dan barangsiapa menunaikan suatu fardhu di dalam bulan Ramadhan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan yang lain. Ramadhan itu itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga. Ramadhan itu adalah bulan memberikan uluran tangan dan bulan Allah menambah rezeki pada orang mukmin di dalamnya. Barangsiapa memberi makanan berbuka di dalamnya kepada seseorang yang berpuasa adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosa-dosanya dan kemerdekaan dirinya dari mereka. Orang memberikan makanan berbuka puasa, baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakan puasa itu, tanpa sedikitpun berkurang.”
Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua memiliki makanan berbuka puasa untuk orang-orang yang berpuasa!.”
Maka Rasulullah Saw bersabda: “Allah SWT memberikan pahala ini kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa yang meringankan beban dari hamba sahaya (pembantu rumah tangga), niscaya Allah SWT mengampuni dosanya dan memerdekannya dari neraka. Karena itu perbanyaklah empat perkara di bulan Ramadhan. Dua perkara untuk kamu menyenangkan Tuhanmu dan dua perkara lagi untuk kamu membutuhkannya. Dua perkara yang kamu lakukan untuk menyenangkan Allah SWT, ialah mengakui dengan sesungguhnya, bahwa tidak ada Tuhan (yang eksis) melainkan Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Dua perkara lagi yang kamu sangat membutuhkannya, ialah mohon sorga dan berlindung dari neraka. Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air telagaku dengan minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga ia masuk surga.” (At-Targhib II : 217-218).
Keempat, huruf ALIF. Yakni ‘amina minannar’ (aman dari siksa neraka). Pada bulan ini pintu surga di buka secara luas, sedangkan pintu-pintu neraka di tutup. Sesungguhnya tiga kegiatan, thalbul ‘ilmi (mencari ilmu), taqarrub kepada Allah SWT (ibadah), dan mengerahkan tenaga untuk berjuang di jalan-Nya.
Kelima, huruf “NUN” yang berarti Nur, cahaya. Puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga. Justru yang terpenting adalah memelihara panca indra dan indra keenam dari kontaminasi dosa. Jika instrumen manusia tersebut terpelihara kesuciannya, lulusan Ramadhan akan menjadi manusia yang tercerahkan kehidupannya. Keadaan dirinya bagaikan kain putih (fithrah). Condong kepada perbuatan yang dikenali hati (ma’ruf), kejujuran, kasih sayang, dan mengingkari perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani (munkar).
Bagaikan bayi yang baru lahir. Menyejukkan dan sedap di pandang mata. Karena wajahnya menampakkan kepolosan (cahaya). Tidak ada yang disembunyikan.
Kupu-kupu yang berterbangan menghisap saripati bunga, memang indah dipandang. Padahal kupu-kupu yang indah itu berasal dari ulat. Ulat adalah sejenis binatang yang menjijikkan. Bulu-bulunya sangat membahayakan. Jika menyentuh kulit seseorang akan menimbulkan kegatalan yang tak terperikan.
Dengan mengendalikan nafsu lewat pelaksanaan ibadah puasa selama sehari penuh, kita menjadi manusia baru. Berpuasa Ramadhan menjadi manusia yang bermental seperti kupu-kupu. Sungguh puasa Ramadhan merupakan training untuk memformat diri menjadi manusia baru. Mukmin yang muttaqin.
What next after ramadhan
Sebagaimana di bulan Ramadhan di tahun-tahun yang telah lalu, di bulan Ramadhan yang baru saja kita jalani ini, suasana agamis dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih kentara dan lebih terasa di banding dengan bulan-bulan sebelumnya.
Suasana agamis yang ada di masyarakat tersebut dapat dirasakan kehadiran dan dampaknya tak lain dan tak bukan disebabkan karena banyak pihak dan orang yang tergerak secara serempak berlomba-lomba dalam kebaikan. Masjid-masjid, perkantoran, kampus-kampus, sekolah-sekolah dan tempat lainnya menyelenggarakan berbagai macam kegiatan yang meningkat jumlah dan frekwensinya.
Media cetak dan elektronik - lepas dari maksud dan tujuannya masing-masing – juga tak ketinggalan menambah jumlah konten yang bernuansa Islam. Para artis “mendadak”berjilbab. Juga para tokoh masyarakat dan pejabat baik yang Muslim maupun non-Muslim mengeluarkan himbauan agar umat selain pengikut agama Islam toleran kepada saudara sebangsanya yang Muslim dalam melaksanakan ibadah puasa sebagai salah satu pengabdian dari beragam bentuk pengabdian lainnya kepada yang telah menciptakannya.
Tidak sedikit di antara pemilik atau pengelola rumah makan baik yang Muslim maupun non-Muslim yang tidak membuka lebar-lebar pintu-pintu dan jendela-jendela rumah makan-rumah makan mereka di saat kaum Muslim menahan rasa lapar, dahaga dan hawa nafsu. Bahkan di beberapa daerah sebagian jenis usaha atau tempat hiburan dilarang beroperasi sama sekali atau diminta untuk mengurangi jam operasinya untuk menghormati bulan suci Ramadhon.
Selain itu tentu saja di bulan yang merupakan kesempatan yang baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amaliyah ibadah baik ibadah yang vertikal maupun horisontal, banyak orang Muslim yang memanfaatkan dengan baik peluang emas ini untuk meningkatkan iman dan takwa mereka dengan jalan memperbanyak jumlah dan panjang barisan musholli di berbagai musholla, jumlah roka'at sholat-sholat sunat, tadarrus al-Qur'an, istighfar, do'a, sholawat kepada Rosululloh saw, serta dengan jalan memberikan bantuan kepada saudara-saudara mereka yang kurang beruntung dari segi materi.
Di antara mereka ada yang ber-amar ma'ruf nahi munkar dengan memberikan ceramah atau nasehat, menghimbau kepada mereka yang tidak berpuasa agar menghormati mereka yang berpuasa, mengajak saudara seaqidah mereka untuk berbuat kebajikan seperti tadarrus al-Qur'an bersama-sama atau sholat tarowih berjama'ah, atau sekedar membangunkan mereka yang akan berpuasa untuk makan sahur, memberitahu atau mengingatkan batas akhir makan sahur. Dan masih banyak amaliyah ibadah lain yang mereka lakukan dan tingkatkan di bulan suci tersebut.
Dengan meningkatnya suasana agamis di bulan suci yang baru saja mulai ini, membuat hati kita merasa lebih tenteram, damai, bahagia dan nikmat.
Lalu seusai Ramadhan, what next? Setelah Ramadhon usai nanti akankah hati kita juga merasakan setenteram, sedamai, sebahagia dan senikmat di bulan puasa yang kita jalani saat ini? Ataukah di tahun-tahun mendatang kita hanya merasakannya di bulan Ramadhan saja dan tidak di 11 bulan lainnya? Ataukah perasaan-perasaan itu semakin bertambah, tetap, berkurang atau bahkan hilang sama sekali dengan bertambahnya usia kita? Wallahu a’lam. Kita tidak tahu secara pasti. Yang kita ketahui bahwasanya kita semua tak terkecuali pasti mempunyai keinginan agar hati kita selalu merasa demikian sepanjang hayat.
Dengan demikian sudah sewajarnya kita - apapun profesi kita - pasti ingin dan akan selalu berusaha terus-menerus hari demi hari untuk menciptakan - jika belum ada sebelumnya -, mempertahankan serta meningkatkan suasana agamis di dalam keluarga, tempat kerja, desa, kota, propinsi dan negara kita. Serta merasa membutuhkan bahkan kecanduan untuk selalu merasakannya sepanjang tahun dan sepanjang hati kita masih berfungsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar