Mencintai tanpa syarat
Cintai aku dengan tulus
Disaat aku membuatmu senang dan susah
Aku akan tahu bahwa aku dicintai
Dan membawa lebih banyak cinta kepada Dunia
ALKISAH, ada seorang guru sekolah dasar, telah melewati fase sulit dalam kelas hiperaktif-nya. Biasanya, sang guru mengeraskan intonasinya dengan nada tinggi untuk menegur murid-muridnya. Namun pada hari itu, ia pandangi dalam-dalam wajah muridnya satu-persatu dengan tatapan penuh harapan dan cinta. Terbersit dalam dirinya bahwa keberadaanya di kelas adalah semata-mata karena ia mencintai murid-muridnya.
Dipandanginya sekeliling ruangan dalam kelas beserta anak-anak yang tidak bisa diam tersebut. Sepontan sang guru mengucapkan sambil memandang anak-anak, "karena bu guru mencintai kalian semua mari satu pelajaran kita pakai untuk bermain bebas dengan tema "cinta." (sambil merentangkan tangannya).
Di luar dugaan hampir seluruh siswa merangkulnya dan bersuka ria sesama temannya tanpa ada perasaan tertekan sedikitpun. "Terima kasih Bu, telah memberikan cinta kepada kami." Ada rasa diguyur air dari langit, terasa ces di dada atas karunia yang tak ternilai, semenjak itu sang guru akan mendekati siswanya dengan cinta. Kedengarannya sepele, namun sesuatu yang sangat luar biasa!
Suasana seperti ini tidak menutup kemungkinan juga terjadi di rumah kita, di saat anak-anak kita sedang bertengkar atau berduel dengan saudaranya. Rasanya, membuat rumah berantakan seperti kapal pecah.
Wajah kita di rumah bisa dilihat manakala anak-anak kita merusakkan barang berharga milik kita. Apa kira-kira reaksi yang akan kita perbuat?. Apalagi jika kita dalam keadaan capek karena pulang dari kerja atau yang lain. Apa yang akan kita hadapi? marah dan kepala panas disertai dengan teriakan dan bentakan? Atau berteriak sambil membawa kayu?
Sejujurnya banyak orangtua yang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi suasana seperti itu. Saat itu, yang penting bagi para orangtua, mereka merasa puas dengan menumpahkan seluruh kemarahannya tanpa memikirkan perasaan "sang buah hati".
Sayangnya, yang tidak banyak diketahui para orangtua, setiap kemarahan mereka (orangtua), baik dengan cara suara kasar, bentakan, pukulan atau reaksi-reaksi negative lain di depan anak-anak mereka sangat beresiko terhadap perkembangan psikologis mereka di masa depan yang tak akan terlupakan sepanjang hidup baginya. Bukan saat itu.
Sudah saatnya, kecintaan orangtua, harus dapat dikedepankan dengan kelembutan hati, tidak sekedar pemenuhan fasilitas dan kebutuhan. Kekerasan dan kekasaran bukan suatu cara yang dianjurkan oleh Islam.
Rasulullah Muhammad pernah diingatkan oleh Allah untuk menghindarkan kekerasan dan kekasaran.
Dalam QS Al-Imran 159, Allah berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Mudah-mudahan ayat di atas bisa menjadi pengingat kita, para orangtua.*
Ramadhan sekolah hebat yang gratis
“Sekolah Semakin Sulit dan Mahal,” demikian berita di halaman utama KOMPAS 6/7/2011. Di halaman yang sama ada juga judul: “Cari Sekolah, Kok, Susah Sekali?” Maka, atas kenyataan itu, wajar jika ada yang bertanya: “Adakah sekolah bagus, tapi gratis?”
***
Mari perhatikan sekitar kita! Di saat-saat ini –di awal tahun ajaran baru- masih terasa suasana ketika para orangtua sibuk memikirkan dan mencarikan sekolah untuk anak-anak mereka. Suasana prihatin mencuat, saat melihat fakta tentang sulitnya mendapat sekolah (yang baik) lantaran biaya sekolah yang semakin mahal, seperti tercermin di dua judul berita yang dikutip di paragraf pertama tulisan ini.
Tapi, alhamdulillah, sebentar lagi kita akan mendapat kesempatan belajar di sekolah hebat dan gratis selama satu bulan penuh yaitu lewat ibadah puasa Ramadhan. Di bulan Ramadhan, kita diwajibkan untuk berpuasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183).
Ramadhan itu sekolah? Sekolah itu gratis? Benar, puasa Ramadhan adalah semacam sekolah karena dengannya kita dididik secara sistimatis dalam hal kebaikan. Benar, sekalipun kita mendapatkan pendidikan yang berkualifikasi terbaik ternyata untuk itu kita tak harus pusing memikirkan biayanya, karena cuma-cuma.
Ramadhan adalah bulan untuk belajar. Belajar apa? Pertama, belajar peka terhadap lingkungan sekitar. Dengan berpuasa, kita dapat merasakan bagaimana orang yang kurang beruntung menahan lapar dan dahaga setiap hari. Kita yang berpuasa, masih dapat makan dan minum setelah saat berbuka tiba. Bayangkanlah Si Miskin saat mereka harus menahan lapar dan dahaga selama berhari-hari.
Bulan Ramadhan juga memberikan kesempatan besar untuk berbagi kepada sesama. Bagi yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, akan mendapatkan pahala sebesar yang didapat orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Pahala tersebut akan diberikan Allah, meskipun yang diberikan untuk berbuka itu hanya sebuah kurma atau seteguk air. Maka, sungguh merugi jika di bulan penuh berkah ini kita tak belajar peka terhadap keadaan sekitar.
Kedua, belajar lebih sabar. Puasa mendidik kita untuk lebih sabar. Inti puasa adalah menahan hawa nafsu. Semua nafsu –seperti nafsu makan-minum, nafsu marah, nafsu syahwat- kita kendalikan.
“Kesabaran itu ada tiga macam: sabar menghadapi musibah, sabar untuk taat, dan sabar menghindari maksiat” (HR Ibnu Abud-Dunya). Lalu, bagaimana dengan ungkapan yang popular di tengah-tengah masyarakat bahwa “Sabar itu ada batasnya”? Ungkapan itu tak berdasar. Kita harus ikhlas menerima dan menghadapi segala macam masalah yang ada.
Al-Quran mengatakan,
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).
Jika memperhatikan ayat di atas, sabar (bersama shalat) merupakan media penolong terpenting saat kita disergap masalah. Dengan demikian, maukah kita membatasi sabar yang berarti mempersempit dan bahkan menutup peluang kita untuk keluar dari masalah yang mengepung kita? Maka, dengan logika sederhana itu, bagi kaum beriman sabar itu sungguh tidak berbatas.
Ketiga, belajar disiplin. Bulan Ramadhan tanpa sadar mengajarkan kita berdisiplin. Contoh kecil, waktu makan menjadi lebih teratur. Waktu sahur, kita bersegera bangun. Saat berbuka puasa, kita bahkan sudah bersiap-siap di depan makanan beberapa menit sebelumnya. Sementara, jika di hari-hari di luar Ramadhan, banyak dari kita yang makan tanpa jadwal yang jelas karena berbagai alasan. Akibatnya apa? Karena tidak disiplin dengan pola makan, maka kita berpeluang dihampiri berbagai penyakit.
Keempat, belajar jujur. Puasa mengajarkan kita untuk jujur. Lewat puasa Ramadhan kita dilatih berlaku jujur. Misal, sekalipun kita memiliki kesempatan untuk makan dan minum di tempat terlindung, tapi itu tidak dilakukan karena kita sedang berpuasa dan yakin bahwa perbuatan apapun pasti dilihat Allah. Saat berpuasa, kita dilatih untuk menyadari bahwa Allah selalu hadir di manapun kita berada.
Dengan gambaran di atas, sungguh menyenangkan, bukan? Ramadhan adalah sekolah dengan kurikulum hebat tapi tak menarik bayaran sedikitpun. Bersyukurlah jika kita masih berkesempatan bersekolah gratis di Madrasah Ramadhan. Belum tentu tahun depan kita mempunyai kesempatan yang sama. Untuk itu, sebagaimana murid yang mau masuk sekolah, maka fisik dan mental harus dipersiapkan secara baik dalam menyambut sekolah gratis ini. Rugi jika kita akan mendapatkan pelajaran hebat tapi kita tidak siap menerimanya. Jadi, jangan sia-siakan Ramadhan.
Kelak, setelah puasa Ramadhan selesai, seharusnya setiap orang menjadi lebih baik karena sudah ditempa di Madrasah Ramadhan. Misal, orang yang dulu malas-malasan shalat lima waktu, seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan.
Menuju Taqwa
Alhamdulillah, Ramadhan segera akan tiba. Maka, bagi kita yang beriman, pasti akan menyambut datangnya “Bulan pendidikan dan pelatihan” ini dengan penuh antusias. Sebab, bulan Ramadhan hanya datang setahun sekali. Artinya, butuh waktu cukup panjang agar kita dapat bertemu dengan bulan mulia ini, itupun dengan catatan jika masih ada nikmat umur buat kita.
Dengan demikian, kehadiran bulan suci Ramadhan seharusnya membuat umat Islam senang dan bahagia. Lalu, berpuasalah dengan niat ikhlas untuk mengharap Ridho Allah.
Akhirnya, semoga Allah menerima setiap amalan kita di Ramadhan dan menjadikan kita manusia yang bertaqwa. Mudah-mudahan kita dapat belajar dengan baik dan ikhlas selama Ramadhan. Pelajari dan amalkan setiap ilmu yang didapat. Untuk itu, persiapkan diri kita dengan baik dalam menyambutnya. Dan mari kita jadikan bulan mulia ini menjadi “sekolah” untuk keluarga dan anak-anak kita. “Ramadhan, marhaban!”
Ajarkan mereka berburu ilmu, bukan angka
HAMPIR bisa dipastikan, sistem pendidikan modern yang menjadikan angka-angka (nilai-nilai ujian) sebagai standar kesuksesan dalam evaluasi akhir proses pembelajaran bagi para siswa-siswi, sedikit-banyak telah menggeser motivasi para peserta didik dalam menuntut ilmu. Mereka tidak lagi memahami akan urgensi ilmu bagi kehidupan mereka di masa mendatang, namun, lebih disibukkan untuk berburu angka sebesar-besarnya. Karenanya, nilai-nilai norma pun mereka langgar, dengan target tujuan tercacai (mencontek).
Setali tiga uang, para wali murid pun mengalami hal serupa. Tidak sedikit, di antara mereka mendorong buah hatinya untuk giat sekolah namun dengan motivasi yang keliru. Banyak kita temukan orangtua mengatakan, “Belajar yang rajin, biar nanti hasil ulangannya bagus, dan nanti juara satu.”
Tentu bisa dimaklumi jika banyak kasus dikemudian hari adanya melakukan kecurangan-kecurangan demi menggapai target yang telah dibebankan olehnya, baik itu oleh pemerintah sendiri, guru, ataupun orangtuanya.
Peristiwa yang menghebohkan dunia pendidikkan di Jawa Timur, khususnya Surabaya, beberapa waktu lalu, terkait dengan terbongkarnya kasus sontek-menyontek satu sekolahan pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di salah satu SD di kota Pahlawan tersebut, adalah sedikit bukti betapa motivasi (niat) yang keliru dalam menuntut ilmu sangat mempengaruhi perilaku setiap oknum yang terlibat dalam proses pendidikkan.
Sebagaimana diberitakan oleh media massa, seorang wali kelas, tega meminta muridnya untuk berbuat culas, demi ‘kesuksesan’ peserta didiknya yang lain dalam UN. Sungguh memprihatinkan, seorang pendidik yang seharusnya mengajarkan kejujuran demi kebaikkan diri murid, bangsa, dan Negara, justru mendoktrinnya dengan nilai-nilai negatif (curang), demi tercapainya target angka yang menjadi standar kelulusan. Di sisi lain, ini bisa dimaklumi,karena apa yang dilakukan para guru, akibat dari turunan dari atasnya (sistem yang ada).
Kalau sudah begini, lalu siapa yang harus disalahkan? Tidak mudah untuk menentukan kambing hitamnya. Bagaimana pun juga, semua ini berawal dari orientasi yang keliru, yang menjadikan angka-angka sebagai perburuan utama peserta didik.
Ilmu itu Penuntun
Suatu hari, Imam Syafi’I mengadu kepada salah satu gurunya, Waqi’, bahwa dia tengah mengalami kesukaran dalam menghafal. Mendengar pengakuan muridnya, sang-guru menasehati agar imam syafi’i menjauhi kemaksyiatan, karena sesungguhnya ilmu adalah cahaya (petunjuk Allah) yang tidak akan pernah diberikan kepada mereka yang bermaksiat.
Beliau (Waqi’) berujar, “fainni ‘ilma nuurun wa nuruullahi laa yuhdaa li al-‘asyi” (Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada mereka yang bermaksiat).
Jadi, hakikat ilmu adalah penuntun yang akan mengarahkan pemiliknya kepada kebaikkan. Senada dengan ini, Ali bin Abi Tholib pun telah berujar, bahwa perbedaan antara ilmu dan harta itu ada beberapa macam, dan salah satunya, ilmu itu menjaga si pemiliknya –dari keburukkan-, sedangkan harta itu harus dijaga –agar tidak dicuri orang-.
Lebih tinggi lagi, ilmu itu seharusnya mampu mengenalkan si-pemiliknya kepada Allah, Sang-Pemberi ilmu lebih dalam lagi. Sehingga, dengan ilmunya tersebut dia semakin taat kepada Allah, dan takut untuk melanggar perintah-perintah-Nya.
Firman Allah, وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…”. (QS: Fathir: 28).
Dan inilah sejatinya tujuan utama dari proses belajar-mengajar seorang mukmin. Yaitu mampu menghantarkan dirinya kepada ma’rifatullah. Selain bertujuan demikian, berarti dia telah keliru dalam melangkah.
Turunnya ayat pertama surat al-‘Alaq yang berisi perintah membaca (menuntut ilmu) ‘iqra’ (bacalah), itu bergandengan langsung dengan kalimat setelahnya ‘bismi rabbika alladzi khalaq’ (dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan), tanpa ada pemisah sedikit pun. Dan ini, menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, dalam suatu diskusi, bahwa dalam mengkaji suatu ilmu itu harus lurus niatnya, lillahi ta’ala, yang bertujuan untuk ma’rifat kepada-Nya. Dan keduanya, tidak bisa dipisahkan. Setiap kali kita ber-iqra’, maka itu harus ber-bismi rabbika.
Jadi jelas, seorang mukmin, ketika menuntut ilmu, bukan sekedar berburu angka-angka atau pun materi. Dan barangsiapa yang melakukan demikian, maka sungguh dia merupakan pribadi yang lebih buas dari pada singa yang kelaparan.
Kenapa bisa demikian? Karena dengan ilmu yang dia peroleh dia akan membuat kerusakkan, kedzoliman, kesemena-menaan di muka bumi ini. Dia akan mengancam keselamatan siapa saja yang dia anggap sebagai penghalang dalam meraih missinya.
Kalau dia memiliki jabatan, maka jabatannya akan disalahgunakan. Kalau dia memiliki kekuasaan, maka kekuasaannya akan dijadikan media pelicin jalan menggapai impiannya.
Boleh jadi, potret pemimpin negeri ini yang menjadikaan kekuasaan sebagai alat pengeruk uang rakyat, niat mereka menjabat atau mencalonkan diri sebagai pejabat, bukan bismirabbik (atas nama Allah SWT), tapi bismilmaali (atas nama harta/pekerjaan).
Dengan Cara Mulia
Karena ilmu itu adalah sesuatu yang suci, maka cara menggapainya pun harus dengan cara-cara yang mulia pula. Setidaknya terdapat enam perkara yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, yang menghendaki kemudahan dan kebarokahan. Enam perkara tersebut ialah; kecerdasan, ambisius, uang, menghormati guru, dan waktu yang tidak singkat.
Kesimpulannya, membenahi niat (motivasi) dalam menuntut ilmu, itu sangat penting bagi seorang pelajar, guru, dan wali murid. Ketika terjadi disorientasi, maka, alih-alih anak tersebut akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, tapi bisa jadi, dia justru terjerumus dalam keburukkan karena tekanan-tekanan eksternal yang harus ia penuhi. Tahun ajaran baru telah di depan mata. Mari kita perbaharui niat menyekolahkan anak-anak kita untuk menuntut ilmu, bukan memburu angka-angka. Dengan demikian, ilmu yang bermanfaat akan mereka peroleh, dan angka-angka pun akan mereka dapatkan.
“Sesungguhnya semua amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan memperoleh (balasan pahala) sesuai dengan yang ia niatkan. Oleh karena itu, barang siapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan rosul-Nya, maka berarti hijrahnya menuju Allah dan rosul-Nya, dan barang siapa yang hijrohnya karena dunia yang akan diperolehnya atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrohnya itu menuju kepada apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallah ‘alam bis-Shawab.*Lanjut s2 atau nikah saja
Sebuah SMS masuk ke handphone saya. “Teh, menurut teteh perempuan lanjut S2 gimana? Ada yang bilang, kuliah terus kapan nikahnya,” ujar Echa, teman saya.
Saya tersenyum. Sejenak berhenti melanjutkan jemari ini untuk menekan huruf-huruf yang tertera di keyboard sambil mengalihkan jemari ke handphone untuk membalas SMS Echa tadi.
“Haha.. kenapa dipusingin? Berapa banyak perempuan S2 juga nikah. Ada yang sambil, ada yang sebelum dan ada yang sesudah S2. Semua its ok aja..” balas saya.
Tak lama kemudian, SMS balasan dari Echa kembali saya terima.
“Iya juga ya teh, hehe.. Mohon doanya ya teh insyaAllah tanggal 8 Mei aku ujian masuk S2 kenotariatan di UNDIP. Sekarang gak mau ambil pusing. Makasih teteh..”
Diakhiri wajah senyum, Echa menyudahi pertanyaannya melalui SMS, namun diakhir saya kembali membalas SMS nya..
“Menjadi muslimah yang berdaya dan smart adalah HARUS! Dan menjadi muslimah yang manfaat dan taat pada suami dan bakti bagi keluarga adalah WAJIB! Sukses.”
Perbincangan kami akhirnya berakhir.
Stigma perempuan
Perbincangan singkat saya melalui SMS dengan Echa, menarik diri saya untuk sedikit mengulas stigma yang sudah mengakar di masyarakat tentang perempuan “ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ke dapur juga.”
Lucu juga kadang mendengar hal atau stigma semacam ini. Padahal jelas-jelas dari berbagai sumber terutama sumber islami banyak yang mengatakan adalah suatu kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim, tidak pandang gender! mau lelaki ataupun perempuan.
Salah satu hadits shahih yang terdapat dalam kitab Sunan Ibnu Majah; “Tholabul ‘ilmi faridhotun a’la kulli muslimin” – Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim (laki-laki ataupun perempuan). Tidak hanya hadits ini, dalam al-Qur’an pun di katakan “Yarfaillahuladzi na’amanu minkum walladzi na’utu ilma darajat..” (QS : Al-Mujadillah 11). Bahwa sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat. Belum lagi surah Al-Alaq yang memerintahkan kepada semua umat untuk “Iqra” – bacalah!.
Penjelasan ayat tersebut adalah bukan hanya sekedar baca yang diartikan secara harfiah saja, namun lebih daripada itu adalah bahwa sesungguhnya setiap manusia dimuka bumi wajib untuk belajar memahami segala hal di sekelilingnya. Intinya, disuruh belajar juga bukan?
Sudah banyak literature perintah yang menegaskan bahwa belajar itu merupakan hukum wajib bagi siapapun tanpa terkecuali. Bagi perempuan menuntut ilmu adalah bagian yang juga tak kalah penting.
Saya agak kurang setuju jika tugas wanita hanya mengurus rumah tangga saja, tak usah belajar tinggi-tinggi. Bisa dibayangkan jika seorang perempuan tidak cerdas dan pandai, bagaimana generasi yang dilahirkannnya kelak?
Perempuan yang cerdas dan pandai akan lebih banyak membawa manfaat, tidak hanya bagi keluarganya namun juga bagi umat (sekitarnya). Contoh kecil saja, jika perempuan hanya terkungkung pada stigma-stigma yang tidak memberdayakan, bagaimana kelak jika ia menikah dan mempunyai seorang anak, kemudian ia tidak tahu bagaimana mendidik anaknya sesuai dengan jamannya? bagaimana menyampaikan hal yang positif bagi anaknya? Belum lagi bagaimana pula jika sang suami tiba-tiba di PHK, meninggal atau terkena musibah lain yang membuat suami jadi tidak bias produktif kembali??
Jika perempuan nya tidak cerdas dan pandai maka sudah dapat di bayangkan akan seperti apa keadaan keluarganya. Namun jika si perempuan adalah seorang yang cerdas dan pandai, maka insyaAllah ia akan menjadi pelengkap yang luar biasa bagi anak dan suami nya kelak, bahkan dalam kondisi tidak baik sekalipun.
Saya cukup mengerti, mungkin saja stigma lain yang juga berkembang di masyarakat adalah, jika perempuan cerdas dan pintar akan careless terhadap rumah tangga dan keluarganya. Nah, inilah tantangan bagi para perempuan, terutama muslimah, untuk bagaimana tetap bisa mempertanggung jawabkan kodratnya. Tidak ada larangan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dan merengkuh cita-cita bahkan impian sekalipun, namun yang perlu diingat adalah tanggung jawab terhadap keluarga dan rumah tangga kelak jangan sampai terabaikan.
Contoh yang luar biasa adalah sosok seorang Khadijah dan juga Aisyah. 2 orang wanita yang pintarnya luar biasa. Khadijah seorang entrepreneur wanita yang sangat sukses, namun tetap menyadari kodratnya sebagai seorang istri Muhammad dan juga ibu bagi anak-anaknya. Tidak kalah dengan Khadijah, sosok Aisyah, yang dikatakan dalam salah satu buku Ensklopedi Leadership & Manajemen Muhammad SAW: Edisi Membina Keluarga Harmonis ala Rasulullah bahwa kepintaran Aisyah sangat luar biasa.
Ada salah satu hadits mengatakan bahwa kepintaran Aisyah di ibaratkan dengan gabungan kepintaran seluruh wanita di dunia. Bisa dibayangkan betapa pintarnya sosok Aisyah.
Namun di sisi lain betapapun pintarnya Aisyah, ia tahu betul bagaimana kodratnya sebagai istri.
Perkara nanti sekolah tinggi (S2) dan kapan menikahnya, itu bukanlah hal yang harus di perdebatkan terlebih di persoalkan.
Menikah bisa dilakukan sebelum melanjutkan studi, sambil atau bahkan sesudah. Itu adalah pilihan. Yang terpenting adalah, dan mesti di tekankan bahwa segala sesuatu di barengi dengan konsekwensi.
Ya jika memilih lanjut kuliah dulu, bisa saja. Toh bisa di barengi pula, siapa tahu sambil kuliah bisa sambil dapet jodoh, ya kan? Atau juga bisa sambil kuliah terus menikah, itu juga pilihan. Jelasnya, keduanya bisa dijalankan beriringan atau satu-satu dulu, semua itu pilihan. Asal niat yang nggak boleh adalah menunda-nunda untuk menikah, itu yang sangat tidak disarankan.
Jadi bagi para perempuan (muslimah) tidak usah ragu dan khawatir lagi, dengan pilihan-pilihan apakah S2 atau nikah. Ingat, menuntut ilmu itu wajib!, meski tidak harus dilakukan dalam lingkungan formal.
S2 atau menikah, keduanya bisa dilakukan sejalan beriiringan ataupun satu-satu diselesaikan, semua bukan masalah. Hanya kadang hal ini menjadi masalah menurut keluarga kita atau bahkan sekeliling kita. Namun begitu kita yang menentukan hidup kita mau dibawa kemana bukan? So, pilihlah segalanya yang terbaik menurut anda dan sadarilah segalanya sudah satu paket dengan segala konsekwensinya. Be responsible!. Dan ingat, setinggi apapun ilmu anda duhai para perempuan, anda tetaplah seorang makmum bagi suami anda, jadi tetaplah menjadi istri dan ibu yang bijak, baik serta pelengkap yang menyempurnakan bagi suami dan anak-anak anda kelak.* /Riri Artakusuma, penulis masalah wanita
Adikku menghapus air matanya
ADIKKU menghapus air matanya. Ritual ini berjalan setiap dia akan berangkat ke kantor. Si kecil akan meronta-ronta menolak untuk berpisah dengan ibunya tersayang. Sementara sang ibu harus berkejaran dengan waktu untuk menunaikan tugasnya di kantor.
Pemandangan berikutnya bisa ditebak, sang ibu--adikku--dengan penuh rasa bersalah harus meninggalkan buah hatinya di tangan seseorang yang notabene tidak dikenalnya. Seorang khadimat (pembantu) yang berasal dari yayasan antah berantah, dan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu pikiran seperti apa yang berkecamuk dalam kepalanya saat mengasuh anak itu.
Adikku berkeluh kesah, panjang pendek, “Aku tak rela, tak dapat menyaksikan sendiri anakku memulai langkah pertamanya, mengucapkan kata pertamanya, bahkan aku tak rela bila dia harus menggantungkan diri pada orang lain selain pada aku sendiri, ibu kandungnya.”
Sementara berhenti bekerja pada saat ini kelihatannya belum bisa dimasukkan dalam daftar alternatif.
Adikku kembali mengusap air matanya, membayangkan buah hati yang sedang lucu-lucunya itu.
Tentu saja bukan hanya adikku, tapi semua ibu bekerja lain menghadapinya. Pilihan yang sangat berat.
Di satu pihak, ilmu telah dituntut bahkan sampai ke pelosok bumi, menunggu untuk diamalkan dan dirasakan manfaatnya oleh sekitar. Di lain pihak kualitas generasi penerus yang akan menentukan ke mana arah bangsa Indonesia kelak berada dalam genggaman ibu.
Bila ibu memilih berkarir, ibu akan memperoleh sarana untuk aktualisasi diri dan mengamalkan ilmunya, tapi akan kehilangan saat-saat berharga untuk membina sendiri anak-anaknya. Namun bila ibu memilih di rumah, kadang menuai kekecewaan karena tidak menemukan sarana untuk menuangkan aktualisasi diri, tersibak dalam bentuk ketidakpuasan yang tentunya akan berimbas juga pada sang anak. Serba salah!
Memang, tak mudah untuk menjadi seorang ibu. Sungguh tidak mudah. Tapi sungguh menarik untuk mengamati apa yang terjadi di sekeliling kita. Sebagian dari kita, kaum ibu, mengorbankan karir untuk tinggal di rumah.
Untuk mengisi kekosongan jiwa karena kehilangan sarana aktualisasi diri, sang ibu menyibukkan diri dengan ikut arisan, jalan-jalan di mal, atau menyaksikan acara-acara telenovela serta acara idola lainnya yang bertebaran dalam program televisi. Kadang kuantitas waktu bersama antara anak dan ibu bisa sangat panjang. Namun waktu tersebut dilalui tanpa kualitas yang berarti. Dan, anak mempunyai pembantunya sendiri yang mesti tunduk pada perintah si raja atau ratu kecil.
Sungguh sedih menyaksikan seorang anak yang hidupnya selalu tergantung pada bala bantuan, tak dibiasakan untuk bertanggung jawab membereskan situasi porak poranda yang telah ditimbulkannya sendiri. Kita bayangkan setelah besar nanti, dia akan mengharapkan orang lain bertanggung jawab terhadap masalah yang ditimbulkannya sendiri.
Sebagian ibu lain larut dalam karir dan pekerjaan. Seakan waktu tak pernah cukup. Bahkan ada yang rela meninggalkan anaknya berbulan-bulan atas nama karir dan pengembangan diri. Sebagian anak mereka menjadi sangat dekat pada figur pembantu, bahkan melebihi kedekatan pada ibu kandung mereka sendiri.
Sebagai seorang ibu, tiap hari kita dihadapkan pada pergulatan pilihan. Apa yang dilakukan sekarang, tanpa sadar, akan turut mencetak pola perilaku si anak di masa mendatang.
Sungguh pilihan yang tak mudah. Apalagi bila pilihan itu harus diambil oleh seorang ibu yang hidup dan bekerja di Indonesia.
Aku pernah mendengar sendiri komentar miring seorang bapak mengenai rekan kerjanya yang suatu kali terpaksa membawa anak lengkap dengan pengasuhnya ke tempat kerja. Si ibu dicap sebagai ibu yang tidak profesional, meskipun aku amati, pada saat jam kerja, si ibu tak pernah meninggalkan pekerjaannya, dan hanya menemui anaknya ketika jam istirahat tiba.
Begitulah, kita masih belum lagi menghargai hak memberi pengasuhan dari seorang ibu yang bekerja.
Aku teringat bertahun-tahun yang lalu, saat menjadi seorang ibu muda dengan dua orang anak di Negara Paman Sam (Amerika Serikat). Aku amat beruntung mendapat kesempatan bekerja paro waktu di Mohran Stahl and Boyer, sebuah perusahaan yang memberikan pelatihan untuk para eksekutif.
Aku berperan sebagai resource person (narasumber) untuk pelatihan yang mempersiapkan kalangan eksekutif yang akan diterjunkan untuk bermitra dengan para pebisnis dari Asia Tenggara. Mereka ingin tahu langsung latar belakang budaya semacam apa yang akan mereka hadapi, termasuk tata cara, adat istiadat, dan kebiasaan rekan kerja mereka nantinya. Kadang pelatihan ini dilangsungkan di daerah peristirahatan. Sehingga otomatis para resource person harus meninggalkan rumah selama beberapa hari.
Ketika pertama kali diminta untuk bertugas di luar kota, dengan serta merta aku menolak dengan alasan tak bisa meninggalkan kedua anak balitaku. Manajerku, seorang wanita baya yang baik hati, tertawa ramah dan berkata, “Jangan bercanda. Tentu saja kami tidak ingin memisahkanmu dari kedua anak balitamu. Company (perusahaan) akan membayar seluruh biaya untuk kedua anakmu plus baby sitter-nya, lengkap beserta fasilitas yang mereka perlukan seperti transportasi dan penginapan. Kami tentunya tidak ingin dicap sebagai perusahaan yang tidak menghargai hak memberi pengasuhan dari seorang ibu.”
Sambil berkedip, manajerku itu menambahkan, “Klien kami yang menghendaki pelatihan ini pastinya juga tak mau dituntut sebagai perusahaan yang mengabaikan hak seorang ibu, bila dia menolak membiayai semua kebutuhan pasukan balitamu. So, no problem,” katanya seraya tersenyum dan merangkulku dengan ramah.
Saat itu aku ternganga, tak percaya akan keberuntungan ini. Kami seperti mendapat liburan gratis, bahkan bersama dua balitaku dan seorang baby sitter yang, Alhamdulillah, adalah teman karibku sendiri.
Kami ditempatkan di sebuah ruangan khusus dengan tiga kamar dan fasilitas lengkap, di sebuah hotel mewah di Pegunungan Aspen, Colorado. Suatu liburan yang tak mungkin terjadi bila harus membayar dari kocek sendiri.
Selama jam pelatihan, aku berada di ruangan training. Tetapi saat istirahat, rehat kopi, dan makan siang, aku bermain riang dengan kedua anakku yang kelihatannya amat menikmati liburan mereka.
Betapa beruntungnya para ibu di negara maju yang benar-benar telah menghargai hak seorang ibu untuk memberikan pengasuhan pada anaknya. Di sana banyak disediakan fasilitas untuk memudahkan para ibu untuk bekerja tanpa harus mengorbankan buah hatinya.
Acuannya adalah target pekerjaan tercapai. Karena yang dipentingkan adalah kualitas pekerjaan dan bukannya kuantitas waktu yang dihabiskan di kantor. Maka, dengan memanfaatkan fasilitas teknologi telekomunikasi, target kerja ini sebagian dapat mereka lakukan dengan bekerja dalam kenyamanan rumah sendiri. Dengan begini, si ibu tetap dapat menyumbangkan intelektualitasnya tanpa harus mengorbankan hak pengasuhan untuk anak-anaknya.
Aku berangan-angan. Ah, andai para pembuat kebijaksanaan di negeri ini ingat betapa mulia dan pentingnya posisi seorang ibu. Dan, betapa masa depan negeri ini bergantung pada peran ibu dalam mengasuh anaknya. Niscaya hak seorang ibu untuk memberikan pengasuhan pada anaknya akan diperjuangkan dengan sangat serius.
Jika ini terjadi, niscaya kelak akan banyak bermunculan bunda-bunda profesional, baik dalam hal mengasuh anak maupun di dunia pekerjaan, tanpa harus mengorbankan salah satu di antara keduanya. Tentu segala dilema yang dialami para bunda tak perlu lagi terjadi.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar