Powered By Blogger

Minggu, 08 Mei 2011

kumpulan kata kata penuh hikmah

http://ndyteen.com/wp-content/uploads/2010/04/88415_abu_islandia.jpg

Mulianya menjadi ibu rumah tangga




bu adalah sekolah
Jika engkau mempersiapkannya
Berarti engkau mempersiapkan generasi berketurunan baik

MENJADI ibu adalah kodrat setiap wanita, tetapi pilihan untuk menekuni diri sebagai ibu rumah tangga bukanlah tugas yang mudah. Di tengah kepungan budaya Barat dan penjajahan media, kaum wanita hari ini telah meninggalkan identitas mulianya sebagai ‘benteng ummat’. Sebagian mereka menyibukkan diri dengan urusan-urusan kecil yang remeh, pernak-pernik perhiasan dan persaingan gaya hidup modern yang menjauhkan mereka dari keutamaan individu dan sosial. Seorang ibu dengan tampilan ‘wah’ yang bergelut mengejar materi dan status sosialnya akan lebih disegani dibandingkan ibu rumah tangga sederhana yang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Hidup di zaman ini membutuhkan ketahanan yang luar biasa. Sebagai muslim, bekal ilmu dan keduniaan yang dikaruniai Allah Swt seharusnya meyakinkan mereka akan kebenaran petunjuk Allah yang menegaskan prinsip kesetaraan (gender equality), bahwa kaum ibu bermitra sejajar dengan kaum laki-laki, dalam posisi yang sangat istimewa. Yaitu sebagai pendidik generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan diri dan keluarganya. Mendidik diri dan keluarganya untuk selalu memahami dan mengikuti bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Inilah investasi besar yang sering diremehkan oleh para ‘penikmat dunia’.
Pesan Istimewa untuk Para Wanita

Salah satu pesan istimewa Allah Swt kepada kaum wanita diabadikan dalam ayat berikut; “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)

Sesungguhnya kemajuan di zaman ini banyak diilhami oleh ayat diatas. Allah Swt menghendaki kaum wanita agar berperilaku lemah lembut, pemalu dan penuh kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya, tidak melakukan ucapan dan tindakan yang menimbulkan godaaan yang akan menjatuhkan martabat kaum wanita.

Karena, kehalusan budi dan tingkah laku wanita adalah salah satu pilar utama kehidupan. Ibu-ibu yang shalih akan mendidik anak-anaknya untuk menjadi shalih.

Bahkan, kaum ibu dahulu mampu membangun karakter pribadinya dan melakukan berbagai aktifitas keilmuan dibalik “tembok sunyi “ yang dapat menjaga sifat dan rasa malu. Itulah kehendak Allah atas kaum wanita. Karakter dan psikis wanita tersebut selaras dengan kondisi fisik yang diciptakan Allah Swt dalam bentuk yang berbeda dari kondisi yang dimiliki kaum laki-laki. Tubuh wanita diciptakan dalam bentuk yang sesuai benar dengan tugas keibuan, sebagaimana dengan jiwanya yang disiapkan untuk menjadi rumah tangga dan ratu keluarga. Secara umum, organ tubuh wanita, baik yang terlihat maupun yang tidak tersembunyi, otot-otot dan tulang-tulangnya serta sebagian besar fungsi organiknya hingga tingkat yang sangat jauh, berbeda dengan organ tubuh kaum laki-laki yang menjadi pasangannya. Perbedaan dalam struktur dan organ tubuh ini tidak lah sia-sia, sebab tidak ada satu

pun benda, baik dalam tubuh manusia maupun yang ada di seluruh jagat raya ini yang tidak mempunyai hikmah tertentu.

Fitrah Mulia Kaum Ibu

Dengan perbedaan struktur tubuh tersebut, kaum wanita memiliki perasaan dan emosi yang lebih sensitif. Abbas Mahmud al-‘Aqqad mengatakan. “Adalah sesuatu yang alami jika kaum wanita memiliki kondisi emosional yang khusus yang berbeda dengan kondisi yang dimiliki kaum laki-laki”. Keharusan melayani anak yang dilahirkannya tidak terbatas dengan memberi makan dan menyusui. Akan tetapi, dia harus selalu memiliki hubungan emosional yang menuntut banyak hal yang saling melengkapi antara apa yang ada pada dirinya dengan yang ada pada suaminya.

Pemahaman dirinya dalam suatu masalah harus berhadapan dengan pemahaman suaminya yang mungkin saja berbeda. Bahkan, antara tingkat emosinya dengan emosi suaminya harus benar-benar terjaga keseimbangannya. Seorang ibu yang mulia akan memahami betul saat gembira dan sedihnya anak-anak. Demikian halnya sang ibu akan mengajarkan dengan suka ria tentang bagaimana menunjukkan rasa cinta, simpati dan benci kepada orang lain dengan cara-cara yang baik dan bijaksana.

Sifat-sifat mendasar dalam fungsi pengasahan dan bimbingan terhadap anak-anak ini merupakan salah satu dari sekian banyak sumber kelembutan kewanitaan yang menyebabkan kaum wanita lebih sensitif dalam merespon perasaan. Sebaliknya, apa yang tampak mudah bagi kaum laki-laki bisa menjadi sulit bagi kaum wanita, misalnya dalam menggunakan rasio, menyusun pendapat dan mengerahkan kemauan. Itulah fitrah kaum ibu yang sesungguhnya mulia tetapi seringkali dipandang kelemahan yang memperdaya.

Salah Paham Memandang Islam

Dalam banyak ayat yang tersebar di dalam al-Qur’an, Allah Swt telah meletakkan kedudukan kaum wanita pada tempat tertinggi dalam sepanjang sejarah kemanusiaan dan akan terus demikian hingga akhir zaman. Sayangnya, ayat-ayat Allah yang dikuatkan dengan hadits Rasulullah Saw itu seringkali disalah-tafsirkan, termasuk oleh para ulama kita sendiri. Syeikh Muhammad al-Ghazali dalam buku Qadhaya al-Mar`ah bayna at-Taqalid ar-Rakidah wa al-Wafidah, dengan yakin mengatakan; “Fatwa terkenal di kalangan kaum muslimin yang kemudian diambil alih oleh musuh-musuh Islam adalah tuduhan bahwa Islam telah mendirikan dinding pembatas yang tinggi antara laki-laki dan perempuan, sehingga keduanya tidak dapat saling melihat satu sama lain. Bahkan sekadar memandang pun hukumnya haram”. Kita juga pernah dikejutkan dengan ucapan seorang khatib yang mengatakan, “wanita tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali pergi ke rumah suaminya (sesudah menikah) dan ke kuburan (untuk dikuburkan)!

Tentu saja, fatwa dan khutbah tersebut lahir dari pemahaman dan tafsiran terhadap ayat-ayat Allah dan hadits Nabi Saw yang patut ditinjau ulang. Karena memang, ada masalah dalam fenemona umat Islam berkenaan dengan kemurniaan dan kedalaman riwayat-riwayat hadits yang diterapkan. Diakui, terdapat ulama yang menyebutkan riwayat-riwayat yang tidak sahih dan para ahli fiqh yang tidak memperhatikan perubahan hakikat Islam dan perkembangan zaman. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Fatimah Ra bahwa wanita tidak boleh melihat laki-laki dan juga tidak boleh dilihat laki-laki, sebagaimana hadits Nabi Saw yang melarang sebagian istri Nabi melihat Abdullah ibn Ummi Maktum. Dalam peristiwa yang lain, Ummi Hamid; istri Abu Hamid as-Sa’di pernah menyampaikan perasaan senang hatinya karena bisa shalat berjamaah bersama Rasulullah Saw. Namun, ternyata Rasulullah justru menginginkannya untuk shalat di rumah. Bahkan, semakin sempit tempat, jauh dan sunyi, maka semakin baiklah shalat di tempat itu.

Kritik terhadap Monopoli Tafsiran Agama

Semua riwayat tersebut merupakan hadits yang tidak sama dengan hadits yang ditulis para ulama hadits yang otoritatif, karena hadits-hadits tersebut nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan Al-Qur`an dan as-Sunnah. Hadits-hadits semisal itu telah membelenggu kaum wanita dan menyudutkan kedudukan mereka sebagai golongan terbelakang. Lebih dari itu, kedudukan wanita yang demikian rendah itu akan mempengaruhi buruknya sistem keluarga, struktur masyarakat dan prinsip perundang-undangan.

Dalam merespon hal itu, Ibnu Huzaimah melakukan uji ulang dan kritik atas tafsiran hadits-hadits tersebut dengan membuat bab yang menyebutkan masalah “Shalatnya Seorang Wanita di Rumahnya Lebih Baik daripada Shalatnya di Masjid Rasulullah Saw” dan sabda Nabi Saw “Shalat di Masjidku ini Lebih Baik daripada Seribu Kali Shalat di Masjid-Masjid Lain”. Pertanyaan yang segera muncul, adalah jika ungkapan tersebut benar, mengapa Nabi Saw membiarkan wanita-wanita menghadiri shalat berjamaah bersamanya sepanjang sepuluh tahun, dari fajar hingga isya’. Mengapa mereka tidak dinasihati agar tetap tinggal di rumah-rumah mereka sebagia ganti dari ancaman yang batil itu? Mengapa beliau mempercepat shalat fajar dengan membaca dua surat pendek ketika mendengar tangisan anak kecil bersama ibunya sehingga tidak mengganggu hatinya? Mengapa beliau bersabda, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah pergi ke masjid-masjid Allah Swt?

Mengapa pula para Khulafaur Rasyidin menetapkan barisan-barisan wanita di masjid-masjid setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Barangkali, Ibnu Huzaimah ingin menenteramkan dirinya dan hati kawan-kawannya ketika mendustakan hadits-hadits yang melarang wanita shalat di masjid-masjid dan menyebutnya sebagai kebatilan. Para ulama Musthalah Hadits berkata, “Sebuah hadits dianggap ganjil (syadz) jika kebenarannya ditentang oleh hadits yang lebih shahih. Apabila hadits yang menentangnya tidak dipercaya, bahkan lemah, maka hadits tersebut ditinggalkan atau bernilai munkar (tertolak)”.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tidak disebutkan hal-hal yang mengarah pada larangan bagi kaum wanita untuk shalat di masjid-masjid. Hadits-hadits tersebut semuanya ditolak. Lalu, bagaimana jika hadits lemah berlawanan dengan Sunnah yang mutawatir dan dikenal? Hadits tersebut harus ditinggalkan sejak awal.
Agaknya, benarlah prediksi Nabi Saw bahwa telah datang masanya ketika hadits-hadits shahih terkebur oleh egosime keagamaan yang didominasi oleh kelompok-kelompok fanatik yang tidak tahu kecuali riwayat-riwayat yang ditinggalkan dan munkar. Monopoli tafsiran agama mereka seringkali menyakitkan sesama Muslim lainnya dengan tuduhan-tuduhan bid’ah dan kesesatan beragama yang harus ditumpas habis. Jalan dakwah ini seringkali melupakan kewajiban menjaga ukhuwwah diantara ummat Islam yang seharusya menjadi prioritas setiap da’i.

Islam Membebaskan Wanita

Jika dicermati lebih dalam, Islam tidak pernah menghalangi kemajuan kaum wanita. Sebaliknya, dari hasil kajian hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Islam memberi ruang kebebasan bagi kaum hawa dengan batasan-batasan yang justru menjaga kehormatannya. Larangan terhadap kaum wanita untuk pergi ke masjid bisa diterima ketika mereka berhias secara berlebihan (tabarruj). Dan mencegah wanita dari perbuatan tercela harus dilakukan dengan merealisasikan wasiat Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa mereka (kaum wanita) boleh keluar dengan mengenakan baju biasa, atau dengan penampilan sederhana, tidak memakai wangi-wangian dan bergaya. Sedangkan mengeluarkan hukum tentang larangan pergi ke masjid-masjid bagi wanita jelas merupakan cara yang tidak ada kaitannya dengan Islam.

Karena itu, jika seorang wanita telah melaksanakan tugas-tugas domestik di rumahnya, suami tidak berhak melarangnya untuk pergi ke masjid, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah perhgi ke masjid-masjid-Nya”. Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan beliau yang telah menjadikan satu pintu dari pintu-pintu masjid khusus untuk kaum wanita dan beliau menempatkan wanita-wanita dalam jamaah pada barisan paling belakang dalam masjid. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga mereka ketika ruku’ dan sujud. Dan beliau mencela laki-laki yang mendekati barisan kaum wanita dan juga mencela wanita yang mendekati barisan kaum laki-laki.

Kebebasan seorang wanita muslim juga tidak akan terganggu karena posisinya sebagai ibu rumah tangga. Ketika Islam mewajibkan suami untuk memberi nafkah keluarganya, maka pada hakikatnya dia memberi ganti kepada kaum wanita untuk kekosongan waktunya, untuk berkiprah demi kebaikan rumah tangganya, membesarkan anak-anaknya dan mencurahkan segenap perhatiannya dalam menunaikan tugas-tugas alamiahnya. “Wanita cantik yang melupakan perhiasannya dan menyibukkan diri dengan mengasuh anak-anaknya sehingga parasnya berubah adalah wanita yang harus mendapat penghargaan dan kedudukan tinggi”. Ungkapan tersebut boleh jadi benar, tetapi penerapannya sangat ditentukan oleh kondisi masing-masing rumah tangga dan prioritas kemaslahatannya.

Yang terpenting dari itu semua, sebuah keluarga harus mempertahankan tiga hal yang menjadi pilar kebahagiaannya yaitu ketenangan, cinta dan sikap yang saling menyayangi. Kasih sayang bukanlah sejenis perhatian dalam bentuk benda, tetapi merupakan sumber bagi kehangatan yang terus mengalir, sedangkan darahnya adalah akhlak dan tingkah laku yang mulia. Ketika rumah tangga berdiri kukuh di atas kedamaian dan ketenteraman, cinta yang terbalas, dan kasih sayang yang hangat , maka perkawinan menjadi anugerah yang mulia dan harta yang penuh berkah. Ia akan mampu mengatasi berbagai rintangan dan lahirnya keturunan-keturunan yang baik. Dan, keputusan untuk menikmati kemuliaan menjadi ibu rumah tangga adalah langkah penting untuk mewujudkan itu semua.*





muslim paripurna bukan muslim moderat


ADALAH rocker Hari Moekti yang lebih ngak-ngik-ngok dari Elvis Presly di era 90-an. Ia tampil di panggung berjingkrak-jingkrak bagai cacing kepanasan. Namun menjelang usia 40 tahun, ia mengakhiri dunia artis, dan mulai menggeluti dunia dakwah sampai hari ini.

Hari ini, kita saksikan tayangan kuliah subuh atau Ramadhan di TV para pendakwah senang dikelilingi oleh para artis dan para selebritis. Para pendakwah kini tampil sebagai artis dan selebriti itu sendiri. Sementara Hari Moekti justru menjauhi artis dan dunia selebritis. Dua perbedaan yang sangat mencolok.

Seorang Muslim yang bersyahadat, berikrar bahwa “Tak ada Tuhan selain Allah” (QS 3:18), bahwa “Muhamamad Rasul/Utusan Allah” (QS 3:144). Mengakui bahwa “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS 6:57),ia pasti menolak berhukum dengan hukum thagut (QS 4:60;5:50).

Seorang Muslim yang tak mengakui atau menolak Syari’at Islam benar-benar sangat tampak beda dengan yang non-Muslim, dalam setiap aspek, baik dalam beretika, bersopan-santun, bermu’amalah, bermasyarakat, berbangsa, bernegara (QS 4:140).

Seorang Muslim bersyahadat, berikrar bahwa tak ada kekuasaan yang berdaulat atas dirinya kecuali Allah harusnya menolak sesuatu yang di luar hukum Allah (Abul A’la Maududi: “Metoda Revolusi Islam”, 1983:64-65)

Islam tak bicara moderat atau radikal

Dalam sejarah, fenomena radikalisme adalah fenomena semua agama dan terjadi di banyak negara, termasuk Amerika Serikat. Fenomena radikalisme yang paling jelas terjadi di dalam agama Yahudi dan apa yang terjadi di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, banyak sekte Kristen yang berpandangan radikal. Namun umumnya, radikalisme bukanlah sebab tapi akibat, namun akibat dari ketidak-adilan sosial-ekonomi-politik-budaya.

Dr Yusuf al Qaradhawi dalam “Fatwa-fatwa Kontemporer”, (jilid II, 1996:896) mengatakan, adalah Barat dan musuh musuh Islam,yang selama ini berusaha memecah-mecah dan membagi-bagi Islam menjadi beberapa bagian yang berbeda-beda, agar Islam bukan lagi sesuatu yang utuh. Mereka menciptakan istilah Islam Asia, Islam Afrika, Islam Nabawi, Islam Rasyidi, Islam Umawi, Islam Abbasi, Islam Ustmani, Islam Modern, Islam Arabi, Islam Hindi, Islam Turki, Islam Indonesia, Islam Jawa, Islam Sunni, Islam Syi’i, Islam Revoluisoner, Islam Konservatif, Islam Radikal, Islam Sosialis, Islam Fundamentalis, Islam Orthodoks, Islam Ekstrim, Islam Moderat, Islam Politik, Islam Spiritual, Islam Temporal, Islam Teologis.

Dan istilah inilah yang rupanya kita gunakan. Dengan mudahnya kita menunjuk saudara-saudara kita dengan cap “radikal” atau “fundamentalis”. Belakangan bahkan berkembang lagi istilah "wahabi" dll.

Cendekiawan Yahudi, Noam Avram Chomsky dalam buku, “Maling Teriak Maling: Amerika Sang Teroris?" (2001) mengatakan, predikat “moderat’ disandangkan pada pihak-pihak yang mendukung kebijakan AS dan sekutunya. Sementara predikat “ekstrim”, “teroris” disandangkan pada pihak-pihak yang menantang, mengancam, mengusik kebijakan AS dan sekutunya.

Hampir seperempat abad, tepatnya bulan Oktober 1986, mantan Ketua MPR RI, Dr. Amien Rais, dalam tulisan berjudul “Islam dan Radikalisme” di Majalah Al-MUSLIMUN, no.199, Oktober 1986, hal 74 mengajak umat Islam berhati-hati menggunakan istilah dan terminologi yang datang dari Barat. Ia mengajak umat menghindari diri dari pengucapan dan penyebutan istilah yang tak dikenal dalam khasanah Islam seperti; “Islam Militan”, “Fundamentalisme Islam”, “Integralisme Islam”, dan lain-lain.

Menurut Amien Rais, sikap tidak kritis hanya akan bersimpati pada Islam kaum orientalis yang hanya merusak khasanah Islam. Tapi apa yang kita lihat saat ini?

Yang menyedihkan, istilah-istilah dari kaum orientalis itu justru gemar diucapkan kaum Muslim sendiri. Bahkan banyak digunakan tokoh-tokoh Islam tertentu untuk menyudutkan kaum Muslim yang lain. Sungguh menyedihkan.

Nabi Ibrahim memandang matahari, bulan, bintang bukanlah sembahan (Tuhan). Beliau secara demonstratif justru menghancurkan patung (berhala) masyarakatnya kala itu. Tindakan demikian tak bisa disebut radikal atau ektrim. Nabi Muhammad memandang Latta dan Uzza, bukanlah Tuhan dan secara demonstratif ia sampaikan di tengah penyembah patung di dalam masjidil haram.

Bayangkanlah jika kedua Nabi itu lahir saat ini. Apa kira-kira pernyataan dosen-dosen IAIN atau UIN? apakah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad seorang yang radikal atau ekstrim?





Berdoa kebaikan dunia untuk orang kafir


Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Adzkar (hal. 511), bahwa tidak boleh berdoa untuk orang kafir, agar diampuni dosanya dan untuk hal-hal sejenisnya, yang memang tidak layak bagi orang kafir. Ibnu Alan As Syafi’i juga menjelaskan hal-hal yang juga masuk dalam larangan adalah doa untuk orang kafir, termasuk agar mendapat rahmat, masuk surga, atau memperoleh keridhaan dari Allah, sebagaimana beliau sebut dalam Al Futuhat Ar Rabaniyah (6/262)

Namun ada doa yang diperbolehkan untuk orang kafir. Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Adzkar (hal. 511), ”Akan tetapi dibolehkan berdoa untuknya (orang kafir), agar memperoleh hidayah, kesehatan badan, dan afiyat, atau sejenisnya.”

Ibnu Alan menjelaskan dalam Al Futuhat Ar Rabaniyah (6/263), bahwa yang juga termasuk boleh untuk didoakan untuk orang kafir adalah agar jumlah mereka semakin banyak agar umat Islam memperoleh jizyah dari mereka, hingga membantu umat Islam. Juga agar harta mereka menjadi banyak, agar menjadi ghanimah bagi umat Islam.

Pendapat serupa difatwakan oleh Dar Al Ifta’ Al Mishriyah, lambaga fatwa resmi Mesir, bahwa berdoa untuk kebaikan duniawi untuk orang kafir diperbolehkan, sebagaimana dijelaskan dalam jawaban yang diberikan kepada hidayatullah.com.

Tidak hanya itu, Dar Al Ifta juga menyatakan,”Demikian pula dibolehkan mengamini doa orang kafir yang berisi doa kecelakaan terhadap orang kafir atau doa kemenangan untuk kaum Muslim.”*




Dar al ifta' larang penyesatan terhadap asy'ari, sufi dan salafi



Dr. Ali Jum’ah, Mufti Mesir melakukan satu langkah baru yang bertujuan untuk menghidari apa yang disebut sebagai bencana akibat konflik antara anak bangsa. Dar Al Ifta' (Lembaga Fatwa Mesir), organisasi yang beliau pimpin, mengundang para tokoh dari berbagai kelompok Muslim untuk mengkaji program yang jelas untuk kebangkitan umat dan menghindari wilayah perbedaan, demikian lansir almesryoon.com (5/5)

Salah satu ulama Al Azhar ini menyampaikan kepada para ulama di berbagai kelompok Muslim untuk mempersiapkan diri datang ke Dar Al Ifta’ Al Mishriyah. Hal ini dilakukan dalam rangka menjalankan tugasnya dalam pengaturan dan penertiban, agar terbentuk kesatuan kalimat dan mashlahat untuk negara dan umat.

Dar Al Ifta’ menyeru pentingnya kesepakatan untuk menerapkan fatwa ulama’ umat yang bersepakat bahwa siapa saja yang mengikuti salah satu dari madzhab yang diakui dari Ahlu Sunnah wal Al Jama’ah, maka dia seorang Muslim, yang tidak boleh dikafirkan dan diharamkan darahnya, kehormatannya serta hartanya.

Dar Al Ifta’ juga mengaskan bahwa tidak boleh mengkafirkan dan memfasikkan penganut aqidah Al Asy’ariyah dan siapa yang menganut tashawuf hakiki serta penganut pemikiran Salafy yang benar. Sebagaimana dilarang untuk mengkafirkan dan memfasikkan kelompok lain dari umat Islam yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, rukun Iman dan Islam serta tidak mengingkari parkara yang lazim diketahui dari agama.

Dr. Ali Jum’ah juga menyebutkan kaidah yang diakui para ulama Muslim sepanjang zaman, yakni, “Sesunggunya yang diingkari adalah hal yang disepakati (bahwa hal itu mungkar), dan tidak diingkari hal yang diperselisihkan di dalamnya.”

Beliau menambahkan, “Jika kami memilih satu madzhab dari madzhab-madzhab yang ada atau kami bertaklid kepada salah satu imam dari para imam, maka saya tidak akan mengingkari saudara saya yang bertaklid kepada imam lain atau madzhab lain yang berbeda.”






Film yang jadi tanda tanya?


APA manfaat sebuah film bagi kita, jika sehabis menonton film tersebut kemudian membuat kita benci pada produser dan sutradaranya?”

Paling tidak itulah yang bisa saya rasakan di film terbaru Hanung Bramantyo yang berjudul "?" (baca: Tanda Tanya).

Sebagai catatan, secara jujur saya katakan bahwa, saya sama sekali tidak mengenal Eric Tohir sang Produser Eksekutif film ini. Namun saya mengenal Hanung Bramantyo, meski saya sendiri tidak yakin bahwa ide film ini murni dari Hanung sendiri.

Hanung yang saya kenal, tidak akan mau membuat film murahan seperti itu. Saya menduga ada tukang sokong-- yang justru membuat Hanung terlihat kehilangan idealismenya sebagai sineas muda berbakat. Film-film semacam itu saya pikir hanya patut dibuat oleh sutradara-sutradara berdarah Yahudi kolot atau sutradara yang memiliki dendam kesumat pada sejarah kelam masa lalunya.

Semula saya sangat menyukai film-film Hanung yang selain memang memiliki kualitas pesan yang cukup bernilai, juga memiliki daya kemas yang sangat unik dan artistik. Paling tidak, film "Sang Pencerah" yang dibikin Hanung, hampir saja membuat saya percaya bahwa suami Zaskia A. Mecca itu kelak akan menjadi insan film Muslim pertama yang mengedepankan pembelajaran etika, moral, agama, dan sosialisme dalam karya-karyanya. Paduan empat pilar itu, yang membuat Hanung akan menjadi sutradara besar terhormat. Maka dari itu, ketika mendengar Hanung selesai produksi film "?", saya sudah telanjur angkat jempol sebelum menontonnya. Bahkan saya sudah kabarkan kepada banyak kawan soal kemungkinan manfaat besar dan perlunya menonton film "?" karya Hanung.

Kabar berantai itu sudah saya berikan paling tidak pada sebagian yang ada di daftar BB Contact yang ada di Blacberry saya, serta hampir 5000 phone contact di dua nomor GSM yang saya pakai. Memang jauh hari sebelum film dibuat, Hanung pernah menceritakan garis besar isi, alur, dan bagian-bagian unik dari film itu kepada saya. Namun usai menonton film ini, saya jadi sedih, benci dan hilang semua kebanggaan saya pada sang sutradara. Juga muncul perasaan bersalah karena saya terlalu mengagung-agungkan Hanung.

Dalam lubuk hati saya, sempat timbul rasa penasaran cukup besar, usai menonton film ini: siapa gerangan orang yang telah membuat Hanung tega menggadaikan idealismenya untuk sebuah film?

Untuk mengupas bagaimana betapa buruknya nilai film ini, saya pikir tidak usah menggunakan dasar-dasar fiqih dan aqidah. Itu mungkin urusan para ulama-ulama untuk membahas detailnya. Apalagi soal pluralisme. Kalaupun Hanung dititipi misi kampanye pluralisme, tidaklah mungkin kampanye pluralisme dilakukan secara terbuka. Hanung pasti akan membantahnya--atau paling tidak berusaha menutupinya.

Soal Terorisme

Hanung tampak sekali gagal membaca kegundahan mayoritas pemeluk agama di Indonesia, dimana umat Islam sesungguhnya menjadi korban terorisme. Kacamata Hanung dalam memandang konflik teroris, tampaknya sangat dangkal dan menjijikkan--mungkin kurang bahan bacaan atau hanya mengamini bisikan pihak tak bertanggungjawab. Terlihat di awal film, Hanung sengaja membuka adegan ngawur dengan olok-olokan antara warga etnis China dengan Jamaah Masjid. Mana mungkin etnis China dengan teriakan sedemikian keras di depan ratusan warga, menuduh Jamaah Masjid sebagai teroris! Kalau film ini hanya ditonton oleh Hanung dan kru nya saja, saya kira tidak ada masalah. Namun ketika film ini ditonton oleh segala umur, segala agama, segala etnis, bukankah ini Hanung bisa dituduh sebagai penyebar kebencian melalui produk seni?

Yang sangat menyakitkan, olok-olok "Dasar Chino" yang diumpatkan Jamaah Masjid melalui logat Semarang yang kental kepada warga China di film itu juga sangat dipaksakan, karena olok-olokan semacam itu hanya pantas dilakukan oleh para tukang mabuk dan kumpulan orang yang mungkin sudah sangat akrab, bukan dalam kondisi serius seperti dalam film "?".

Kata-kata umpatan "Asu" (baca: Anjing) pada beberapa kali adegan, tampak ngawur dan dilakukan secara sarkastis. Kalaupun itu pernah terjadi di sebuah sudut kecil di Semarang, tak elok rasanya diangkat ke layar lebar karena tidak sebanding dengan manfaatnya. Kalau boleh saya sebut, untuk membuat film seburuk ini, tak perlu menggunakan sutradara besar lulusan IKJ.

Sampai di sini, Hanung saya kira sudah tidak sepantasnya melanjutkan film ini. Sayangnya, adegan-adegan tolol, terus diblow-up Hanung, di mana umpatan-umpatan-umpatan itu justru digambarkan berasal dari mulut jamaah yang sedang menuju masjid lengkap dengan baju Muslimnya. Sungguh ini hinaan paling dramatis dari sebuah film yang diproduksi perusahaan dalam negeri sendiri. Saya sempat mencurigai, ada apa dengan apa dengan LSF (Lembaga Sensor Film) kok bisa meloloskan film sarkas dan rasialis seperti itu? Jangan-jangan Hanung menyuap LSF. Tapi itu dugaan yang belum tentu benar.

Kampanye Pro Babi

Bagi yang beragama Islam, memang harus menerima kenyataan tidak diperbolehkannya berdekatan dengan hewan yang bernama Babi. Apalagi memakan dagingnya. Dalam film ini Hanung mencoba menawarkan (baca: mengajari) secara buruk kepada penonton, bagaimana agar babi menjadi sahabat seorang Muslim.

Hanung berkali-kali mengkampanyekan bahwa babi rasanya gurih tanpa banyak bumbu dalam film itu, namun yang namanya babi tetap saja haram. Meskipun dalam film itu dikampanyekan betapa nikmatnya makanan daging babi dibanding ayam yang harus banyak ramuan bumbu untuk rasa nikmatnya, namun babi tetaplah makanan paling dibenci pemeluk Islam.

Untuk menghindari kecurigaan kampanye pro-babi Hanung, dia mengemasnya dengan cukup confidence. Caranya, dia gambarkan seorang Muslimah cantik, taat, berjilbab, yang justru dengan ikhlasnya bekerja di restoran babi. Dia makan gaji dari restoran babi milik Tan Kat Sun. Untuk menggambarkan betapa ikhlasnya si Muslimah, bahkan ia shalat pun rela dikelilingi onggokan daging babi yang menjijikkan!

Tidak hanya itu, entah apa tujuan Hanung, si Menuk--nama karyawati cantik yang diperankan Revaline S. Temat, melakukan ibadah 5 waktu di samping ruangan altar pemujaan agama Konghucu yang penuh dengan hio lengkap dengan asapnya. Kalau tidak salah, si Menuk malah shalat menghadap ke altar. Sungguh sebuah penggambaran yang hanya pantas dibuat oleh orang-orang berperadaban rendah.

Parahnya, pada sebagian adegan dan dialog, Hanung juga mencoba mempengaruhi penonton, bahwa perempuan Muslim yang menolak bekerja di restoran babi, seolah-olah tidak memiliki toleransi. Waduh-waduh. Tampaknya ini sebuah kampanye pelunturan nilai ibadah yang sangat nyata. Hanung menggambarkan betapa tolerannya bos restoran, Tan Kat Sun, hingga memperkerjakan seorang Muslimah berjilbab di restoran babinya. Seakan tidak ada karyawan lain yang sesuai dengan ciri restorannya. Inikah yang sebenarnya diinginkan Hanung dengan filmnya?

Anti Kesucian Masjid

Berbeda dengan tempat ibadah lain, masjid memiliki ciri khusus. Meskipun sama-sama tempat suci, namun di dalam masjid, orang tidak boleh dalam keadaan kotor. Sandal pun harus dicopot. Bahkan di lingkungan masjid, harus dijaga etika. Kalau Hanung kemudian menggambarkan seorang Muslim sedang belajar menjadi Yesus di masjid, wajar saja kalau saya mempertanyakan motivasi Hanung. Tidak usah saya mempertanyakan kadar keimanan Hanung karena hanya dia yang tahu. Apalagi, Hanung mencoba memunculkan David Chalik sebagai ustadz yang membolehkan jamaahnya melakukan itu. Muncul sebuah pertanyaan: mengertikah anda, bahwa gambaran ini sungguh amat menyakitkan dan tidak layak difilmkan?
Semestinya orang berpendidikan seperti Hanung mengerti bahwa adegan semacam itu, bisa dipahami sebagai pelecehan terhadap kesucian masjid. Tidak hanya pelecehan, Hanung telah 'merobohkan' masjidnya sendiri dengan cara menusuk pada jantung masjidnya.

Bukan Pluralisme?

Tentu Hanung akan mencari alasan agar gambaran umum film berujung pada tidak dituduhkannya sebagai produk pluralis.

Silahkan Anda bilang bukan kampanye pluralisme, tetapi film ini bagi saya sama saja telah mencanangkan strategi budaya berperadaban rendah untuk mencari satu tuhan bagi semua agama. Tidak ada sisi dan ruang privasi sebuah agama, karena semua pemeluk bisa saling beribadah bersama dan bahkan tidak dilarang mengumpat dan menghina, asalkan memiliki status agama pada masing-masing manusia.

Visualisasi Jihad atau Bunuh Diri?

Hanung ingin mencari muka kepada warga NU dengan menampilkan peran Banser yang heroik. Namun apa yang saya lihat, Hanung justru memberikan gambar sadis ketika seorang anggota Banser melakukan bunuh diri sambil memeluk bom. Penempatan bom di gereja, mengesankan sebuah justifikasi bahwa ada pemeluk agama lain yang sengaja menaruh bom di jemaat gereja. Apakah Hanung ingin berkata bahwa orang Islam radikal yang memasang bom itu? Kalau iya, sungguh picik benar Hanung.

Reza Rahardian yang memerankan anggota Banser bernama Soleh, semula terlihat ingin 'berjihad' membuang bom setelah ia mengambilnya dari bawah kursi jemaat gereja. Namun, anehnya dia malah bunuh diri dengan meledakkan diri bersama bom itu, setelah mengucapkan kalimat tahlil. Secara visual, memang sangat buruk kualitasnya.

Tradisi Kekerasan Saat Lebaran

Hanung mengaku bahwa film diilhami (diinspirasi) oleh kisah nyata. Sayangnya, dia membuat tradisi baru kekerasan. Tradisi yang saya maksud, bahwa film ini membuat cerita khayalan namun dimaksudkan untuk kejadian yang relistis.

Yang sering kita dengar dan kita lihat, adalah adanya kasus penutupan diskotik dengan kekerasan di bulan ramadhan, atau mungkin amukan warga yang gemas melihat warung sengaja buka warung makan secara mencolok pada siang hari di bulan Ramadhan.

Kini Hanung mencoba membuat tradisi baru dalam film ini, dimana warga dibuat marah dan melakukan kekerasan terhadap restoran babi milik Tan Kat Sun yang membuka restorannya pada hari kedua lebaran. Sepertinya kualitas daya khayal Hanung melebihi kenyataan yang ada. Hehehe (saya sengaja tertawa saat menulis ini). Mengapa saya tertawa? Karena saya meragukan pada sutradara, dapat darimana kisah seperti itu? Daripada film diembel-embeli 'Terinspirasi Kisah Nyata', mendingan ditulisi 'Menginspirasi Kisah Bohong'....

Ingin tahu bohong paling nyata?

Lihat, dalam film itu tak ada alur mundur. Artinya, film itu mungkin menggambarkan peristiwa yang terjadi beberapa bulan terakhir. Setidaknya setahun lalu. Namun, kostum beberapa adegan, mengesankan situasi tahun 1970-an. Bahkan, kasir restoran masih memakai pesawat telepon dengan tombol putar! Namun disisi lain, tokoh Hendra (anak pemilik restoran China Tan Kat Sun), sudah memegang handset Blackberry Onyx.#

Penulis adalah Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) dan Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah


Hari Rabu 13 April 2011 pukul 15.10, penulis berkesempatan menonton film “?” (baca: Tanda Tanya) di Jakarta Theater. Awalnya, saya selaku Direktur Lembaga Kajian Islam dan Arab (LemKIA) Universitas Islam As-Syafi’iyah yang juga anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI, ditunjuk oleh Rektor UIA Ibu Prof. DR. Hj. Tutty Alawiyah AS (Ketua MUI bidang Advokasi Perempuan dan Perlindungan Anak), untuk mewakili beliau memenuhi undangan pimpinan MUI menonton film yang kontroversial itu.

Tampak hadir beberapa pimpinan yang saya kenal, Slamet Efendi Yusuf (Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama), Ichwan Syam (Sekjend MUI), KH. Muhyiddin Junaidi (Ketua MUI Bidang Kerjasama Luar Negeri), dan lain-lain. Nonton Bareng (Nobar) unsur pimpinan MUI itu sendiri adalah keputusan musyawarah rapat pimpinan MUI sehari sebelumnya pada 12 April menyusul desakan dan masukan para tokoh dan masyarakat luas kepada MUI untuk menanggapi resmi terhadap konten film tersebut. Para pimpinan MUI sepakat bahwa agar tidak salah menanggapi maka harus menonton terlebih dahulu secara utuh dan bukan atas dasar informasi setengah-setengah.

Duduk di kursi deretan D no. 9, sedari awal saya sudah penasaran. Dan sejak detik pertama tayang, saya terus khusuk memperhatikan dan mencatat setiap kalimat, gerak, adegan dan cuplikan gambar yang ditampilkan.Hampir tak ada satu cuplikan pun yang luput dari perhatian dan kepekaan saya, insya Allah.

Kesan umum yang ditampilkan film besutan sutradara Hanung Bramantyo dari awal sampai akhir adalah fakta yang disodorkan kepada penonton bahwa Islam dus, umatnya adalah agama yang kasar, penuh dengan sikap picik dan kebodohan, intoleran, eksklusif, rasis, suka anarkisdan bahkan menebar terror! Citra Islam dan umatnya betul-betul babak belur ditampilkan oleh sang sutradara film.

Sementara agama dan etnis tertentu (dalam hal ini Katolik dan etnis China) diangkat setinggi langit dan digambarkan sebagai penuh kesantunan, kesabaran, pengertian, penuh kasih, toleran dan sering (tentu saja) jadi korban kekerasan umat Islam.

Adegan pembukanya saja, yang berupa penusukan terhadap seorang pastur gereja Katolik sesaat sebelum kebaktian di halaman gereja, sudah menebarkan fitnah dan kesan kuat bahwa umat Islam adalah otak pembunuhan itu. Adegan itu hanya menampilkan insiden penusukan dan berita media elektronik yang mengutip pernyataan pejabat (dalam hal ini Walikota Semarang) bahwa insiden itu tak ada kaitannya dengan isu agama, alias tindakan kriminal murni. Tanpa ada klarifikasi pengadilan atau motif sama sekali. Namun, siapa pun akan mudah berkesimpulan bahwa tuduhan itu diarahkan kepada Muslim . Kesan ini sudah pasti ditangkap secara umum.

Stereotype Buruk Umat Islam

Alih-alih ingin mengirimkan pesan kuat dari film tentang pentingnya kerukunan dan toleransi hidup umat beragama di tanah air. Justru alur dan segmen cerita yang mengalir dalam film berdurasi 110 menit (dalam hitungan saya) sudah menyuguhkan penggambaran buruk alias stereotipikal terhadap umat Islam, dan tak ketinggalan pula pendiskreditan atas beberapa ajarannya.

Dalam film ini, pimpinan dan pengikut Katolik digambarkan seindah dan sebaik mungkin. Toleran dan bijak adalah sifat mereka. Ketika muncul protes atas peran seorang Muslim bernama Suryo dalam drama penyaliban Yesus Kristus dalam perayaan jumat agung Paskah, tampil Romo katolik yang membela peran tersebut dan meyakinkan jemaat yang protes. “Tak pernah ada dalam sejarah, kehancuran iman disebabkan pementasan drama, tapi hanya kebodohan lah yang jadi penyebab kehancuran iman”, tukas Sang Romo.

Bandingkan dengan sikap umat Muslim yang digambarkan penuh kebencian dan intoleran terhadap penganut agama lain, seperti tindakan penusukan dan pengiriman paket bom Natal di dalam gereja saat misa malam Natal. Dengan cerdiknya pula, sang sutradara memang tak menampilkan pemuka agama Islam yang arogan, intoleran dan menebarkan kebencian terhadap penganut agama lain. Namun yang dimunculkan adalah sosok ustad pemuka agama yang inklusif - pluralis dan bahkan mendukung aksi Suryo yang memerankan Yesus Kristus dalam drama penyaliban itu.

Tampak, pesan yang ingin disampaikan adalah selayaknya tokoh Muslim harus meniru sikap dan pandangan ustad yang inklusif dan toleran itu. Apalagi secara terbuka, sang ustad tidak keberatan sama sekali saat menyaksikan Suryo tengah berlatih peran sebagai Yesus Kristus di dalam masjid, yang sebenarnya itu adalah tindakan yang mengotori dan melecehkan masjid sebagai simbol ketauhidan paling murni kepada Sang Khaliq, Allah subhanahu wa ta’ala.

Di sisi lain, penganut Katolik yang murtad dari Islam (Rika) ditampilkan sangat toleran dan inklusif. Buktinya, demikian sang sutradara berimajinasi, ia tetap membiarkan anak semata wayangnya yang bernama Abi sebagai Muslim, memperhatikan aktifitas ibadahnya, memasakkan sahur dan menuntunnya berniat puasa saat Ramadhan, dan bahkan menyelenggarakan syukuran atas prestasi Abi yang berhasil khatam baca al-Qur’an 30 juz dengan membagikan sedekah dan kue kepada teman-teman sekolah dan para orang tuanya. Bandingkan dengan sikap ayah dan ibu Rika yang (digambarkan kuat) telah memutuskan komunikasi karena kekecewaan dan protes mereka atas pilihan murtad sang anak dari Islam. Juga sikap masyarakat sekeliling Rika yang suka menudingnya telah mengkhianati Allah dan suka menganggapnya rendah, sehingga saking seringnya ia diperlakukan seperti itu Rika seperti jadi paranoid yang belum apa-apa langsung bereaksi sensitif terhadap orang yang dijumpainya. Sekali lagi Muslim dituding dan digambarkan intoleran terhadap pilihan murtad seseorang dari agama asalnya.

Lain pula cerita Tan Kat Sun, pemilik restoran China yang menghidangkan Babi disamping ayam, daging sapi dan lainnya. Si majikan Menuk ini, Muslimah berjilbab yang bekerja sebagai pramusaji restoran, demikian pula isterinya ditampilkan sangat toleran dan inklusif kepada para pramusaji dan tukang masaknya yang rata-rata Muslim. Para pegawainya itu diberikan kebebasan beribadah, dan dalam kondisi tertentu bahkan mengingatkan pegawainya agar jangan telat dan lupa shalat. Selain itu di bulan Ramadhan yang suci dan istimewa bagi umat Islam, meski tetap buka di siang hari, ia mentradisikan menutup kedai makannya itu dengan tirai dan kebijakan untuk tidak menjual hidangan Babi selama bulan suci, dengan resiko sepinya pelanggan yang berdampak pada cash flow. Itu semua demi menghormati umat Muslim. Apalagi ditambah kebiasaannya untuk memberi toleransi tinggi bagi para pegawainya untuk cuti hingga H+ 5 lebaran.

Namun belakangan tradisi dan kebijakan itu dilanggar anaknya sendiri, Hendra, sehingga menyebabkan aksi anarkis atas nama agama (berbau SARA) dengan para pelakunya adalah kader-kader Banser ANSOR yang meneriakkan yel takbir, Allahu Akbar, saat penyerangan terjadi. Di situ jelas tergambar, etnis tertentu ditampilkan sebagai korban kekerasan padahal mereka toleran dan damai, dan lagi-lagi umat Islam jadi kambing hitam yang tertuduh!

Inilah yang saya istilahkan bahwa citra dan visualisasi umat Islam betul-betul babak belur, tak ada kebaikan sedikitpun. Jika pun ada, yaitu satu-satunya, ialah adegan Soleh, suami Menuk yang jadi anggota Banser, menyelamatkan jemaat misa Natal di sebuah gereja dari paket bom Natal. Itu pun menurut saya, tak jelas klarifikasi identitas pengirim paket bom, yang biasanya diarahkan kepada kelompok Muslim. Ditambah kesalahan fatal sutradara, alih-alih ingin menggambarkan tindakan heroik Soleh, justru yang terjadi adalah mirip kejadian bunuh dirinya yang dengan sengaja mendekap isi paket bom tersebut di halaman gereja.

Virus Liberal: Pro-Pluralisme Agama

Dalam film ini, propaganda dan kampanye pluralisme agama juga sangat kental. Rika ditampilkan sebagai sosok yang ideal. Ia murtad dari Islam, tapi toleran dan hiduprukun. Pada segmen lain, secara harfiah Rika mengatakan, BAHWA agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Ia pun mengutip ungkapan sebuah buku, “… semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” Lebih dari itu, di beberapa segmen lain, langkah Rika yang memilih murtad dari Islam dipuja-puja sebagai “telah mengambil langkah besar dalam hidup”, atau dikesankan “berubah untuk menjadi yang lebih baik”, seperti beberapa kutipan kalimat Suryo dalam film itu.

Selain tidak mempersoalkan kemurtadan seseorang dari Islam, yang dalam pandangan Islam ini adalah soal yang sangat besar dan fundamental, film ini juga hendak mengaburkan konsep agama dan Tuhan dalam masing-masing agama.

Padahal, soal kemurtadan, beberapa ayat al-Quran menyebutkan bahaya dan resikonya dunia – akhirat bagi seorang Muslim.

”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS 2:217).

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS 24:39).

Jadi, kemurtadan adalah masalah besar dalam pandangan Islam. Tapi sangat enteng dalam pandangan kaum pluralisdan liberalis! Tindakan murtad semestinya bukan untuk dipertontonkan apalagi diidealkan dengan embel-embel toleran dan suka kerukunan. Dalam perspektif Islam, patutkah seorang bangga dengan kekafirannya?

Konsep Tuhan berikut nama dan sifat-sifat-Nya juga dibuat absurd dan rancu. Contohnya pada segmen Rika, penganut Katolik muallaf yang akan dibaptis, saat diberikan tugas menjawab pertanyaan Romo katolik apakah arti penting Tuhan Yesus dalam kehidupan anda? Ia menyatakan bahwa Tuhan itu adalah Allah. Ia memiliki sifat Arrahman, sang maha kasih, Almu’min, sang maha pemberi rasa aman, dst yang ia kutip dan ambil dari Asmaul Husna dalam ajaran Islam.

Dalam Islam, hal ini tidak dapat dibenarkan. Konsep Tuhan berikut nama dan sifat-Nya, lengkap dengan tata cara beribadah sesuai yang dikehendaki Allah dari hamba-Nya dalam Islam telah tegas dan jelas dalam tuntunan wahyu Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadits Rasul. Ia tidak bisa begitu saja dicampur aduk dengan konsep ketuhanan dalam agama lain yang tidak berbasis kepada wahyu yang otentik dan final dari Allah subhanahu wa ta’ala, seperti penjelasan verbatim dan praktek visual yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw kepada ummat. Ini, hemat saya, bisa dikategorikan penodaan terhadap ajaran Islam, dan juga barangkali akan dinilai sama oleh kalangan Katolik yang menolak pencampuradukan konsep agama dan Tuhan dalam agama mereka dengan Islam.

Walhasil, film ini sarat dengan pesan dan kampanye pluralisme agama yang secara resmi MUI t elah memfatwakan bahwa haram hukumnya bagi umat Islam untuk menganut dan memeluk pandangan semacam itu.

Pelecehan terhadap Syariat Islam

Tak hanya sebatas wacana pluralisme agama yang diusung film itu untuk menikam akidah Islam. Film “?” (Tanda Tanya)juga telah memperolok-olok syariat Islam yang abadi dan universal, sehingga dikesankan merendahkan perempuan, intoleran dan anti-HAM, dan penetapan standar halal-haramnya makanan yang abai terhadap ‘kelezatan’lidah. Setidaknya hal ini tersingkap dari kesan implisit yang dimunculkan skenario film itu dalam tiga aspek syariah:

Pertama, dalam kisah flash back Rika digambarkan bahwa ia kecewa terhadap aturan Islam yang melegalkan praktek poligami. Saat suaminya bersikeras ingin berpoligami, Rika menolaknya dan bahkan lebih memilih cerai dari suaminya yang tetap ingin mempertahankan Rika sebagai istri namun dimadu. Selain itu ada kesan bahwa alasan syariat inilah yang memicu Rika menukar agamanya menjadi Katolik.

Penilaian saya itu cukup beralasan, sebab sejauh yang saya amati tidak ada alur kisah lain di luar hikayat poligami itu yang melatari perpindahan agama Rika. Saya berusaha mencari-cari kemungkinan ada kisah lain yang ditampilkan sutradara untuk melatari penyebab ia murtad dari Islam. Namun usaha saya sia-sia, sebab satu-satunya tayangan flash back hanyalah kisah poligami suaminya yang ia tolak.

Olok-olok terhadap syariat poligami dalam Islam dimunculkan secara tersirat, apalagi dalam Katolik (agama baru yang dipilih Rika), poligami dilarang. Sehingga ia merasa nyaman dengan ajaran itu dan (mungkin) karena sebab itu lah ia murtad dari Islam dan memilih Katolik. Sebab dalam Kristen, secara umum, pernikahan harus ‘monogami’karena doktrin Bible yang menyatakan bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Adam). Oleh sebab itu jangankan poligami, perceraian pun diharamkan dalam Kristen karena konsep pernikahan mereka adalah hanya satu istri/suami dan untuk selamanya. Berbeda dengan konsepsi Islam yang membolehkan poligami sesuai ketentuan dan syarat yang berlaku, dan juga menghalalkan talak/cerai yang diungkapkan Rasulullah sebagai “tindakan halal yang paling dibenci oleh Allah”.

Kedua, syariat Islam yang melarang perkawinan campur (beda) agama, terutama untuk Muslimah kawin dengan pria non-Muslim, disinggung juga dalam film itu secara halus sekali. Sehingga bagi penonton yang tidak jeli dan peka terhadap setiap kalimat di adegan-adegan film itu tak akan merasakan kejanggalan tersebut.

Pelecehan dan olok-olok terhadap syariat Islam itu tersingkap dari ungkapan curhat Hendra, putra Tan Kat Sun, yang sempat menjalin hubungan asmara dengan Menuk. Saat itu, Hendra yang curhat kepada mamanya, menyesalkan sikap Menuk yang lebih memilih Soleh, lelaki yang seagama dengan Menuk hanya karena alasan iman.

Ia bertutur begini: “…(saya kecewa) bayangkan mi, si Menuk lebih memilih lelaki lain dan bukan aku hanya karena lelaki itu konon taat beragama (seagama)..”, yang saya tangkap adalah karena seagama seakidah. Sikap Menuk ini tentu saja telah sesuai dengan tuntunan syariat Islam yang melarang Muslimah menikah dengan lelaki non-Muslim. Soal ini Al-Qur’an telah dengan gamblang menjelaskan hukumnya dalam dua ayat yaitu Q.s. Al-Baqarah: 221 dan Al-Mumtahinah: 10. Juga diperkuatlagi oleh Ijma’ para ulama dari seluruh mazhab dalam Islam. Sikap tegas syariat Islam yang melarang perempuan Muslimah kawin dengan non-Muslim ini lah yang kerap jadi bulan-bulanan kaum liberal.

Mereka pun menuding aturan semacam itu intoleran terhadap agama lain dan juga bertentangan dengan HAM yang menjamin seseorang untuk menjalin hubungan dan menikah dengan orang yang dicintainya tanpa sekat agama dan etnis. Naifnya, film ini ikut termakan bualan dan ejekan kaum liberal yang suka mempersoalkan ajaran syariah yang sudah baku dan permanen.

Ketiga, secara vulgar adegan dan kalimat di film itu juga terselip kampanye pro babi, jenis hewan yang diharamkan mengkonsumsinya oleh al-Qur’an bagi umat Islam. Dalam ungkapan Tan Kat Sen, dinyatakan “…kalo masak babi lu gak perlu pake bumbu banyak-banyak, karena dagingnya udah gurih. Beda sama ayam, daging sapi, atau cumi, kamu harus royal sama bumbu supaya enak..!” di situ terselip upaya olok-olok terhadap syariat Islam yang mengharamkan babi tanpa alasan jelas, padahal rasanya gurih dan lezat. Bukan sekedar itu, film ini dengan berbagai sorotan vulgarnya juga hendak menggiring opini penonton Muslim agar mengakrabi babi dan tidak perlu menjauhinya, apalagi menganggapnya menjijikkan.

Apakah artinya ini jika bukan memperolok-olok standar dan jenis makanan yang halal dan haram dalam pandangan Islam?

Namun, patut disayangkan film yang disutradari seseorang yang mengaku Muslim dan didanai oleh Mahaka Pictures, anak perusahaan Mahaka Group milik Erik Tohir yang menguasai mayoritas saham Republika, Koran nasional terbesar milik umat Islam, justru terseret arus ikut memperolok-olok beberapa aspek syariat Islam, entah itu disengaja atau tidak.

Kesimpulan

Banyak sekali ditemukan kejanggalan yang sempat saya rekam, seperti terungkap dalam fakta di atas. Sehingga hemat saya film ini tidak layak ditonton oleh umat Islam, karena banyak sekali hal-hal prinsipil dalam ajaran Islam yang dilecehkan –sengaja atau tidak sengaja- di dalam film itu.

Jika sedari awal film itu mengklaim terinspirasi dari kejadian yang sebenarnya seperti terpampang besar di awal screen, maka patut dipertanyakan kesesuaian dengan fakta sesungguhnya di lapangan. Prof. Tutty Alawiyah (Rektor UIA dan Ketua MUI) yang datang saat film telah diputar beberapa menit, ketika saya tanyakan apa kesan dan rekomendasi beliau setelah menyaksikan langsung film itu?, Ia menyatakan bahwa, “isinya terlalu dipaksakan, makna plural jadi kabur karena faktanya hampir susah putri Muslimah cari kerja dan diterima di resto Chinese Food yang menjual hidangan babi. Menurutnya, misi pesan agama juga amburadul, di situ Islam ditonjolkan secara negatifsebagai agama teroris, kasar, menohok dan membenci orang, suka memaki. Apalagi murtad dari Islam dianggap berubah kepada yang lebih baik. Gereja terkesan sangat penuh danumat Islam seadanya.

Walhasil film ini adalah propaganda menyudutkan Islam dan umat Islam. Ustadz digambarkan bodoh, sedangkan Romo Pastur bijaksana. Peran perempuan yang murtad tajam sekali kata-katanya dan sikapnya mengganti agama dianggap hal remeh”.

Beliau pun mengakhiri komentarnya dengan suatu harapan dan permintaan kepada yang berwenang agar film itu ditarik dari peredaran karena jauh dari fakta sebenarnya.Saya pun mengamini dan meminta hal yang sama. Amat miris menyaksikan Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini selalu ditampilkan misleading, dan dilecehkan secara sistematis. Itu semua dilakukan atas klaim rapuh kreatifitas seni dan kebebasan berekspresi. Suatu hal yang tak akan dijumpai di belahan dunia manapun di negeri Muslim lainnya. Ironis bukan? Allahumma inni qad ballaghtu, Allahumma fasyhad.*

Penulis adalah Direktur Lembaga Kajian Islam dan Arab (LemKIA) Universitas Islam As-Syafi’iyah dan anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI







korupsi itu bermula dari ujian nasional

SOAL Ujian Nasional (UN) tak ubahnya seperti penjahat kelas kakap. Lihat saja, ketika didistribusikan ke Polsek di beberapa daerah untuk disimpan sementara saja, beberapa polisi menjaga dengan ketat. Bahkan ada yang membawa senjata laras panjang. Betul-betul mengerikan. Seolah-olah, soal UN seperti perompak Somalia.

Seperti yang terjadi di Jawa Timur. Polda Jatim kabarnya mengerahkan 1.100 personel kepolisian dan beberapa intelijen. Tim ini ditugaskan untuk memantau kelancaran dan keamanan proses UN. Kata Polda Jatim, seperti dilansir Surabaya Post Selasa lalu, hanya anggota yang memiliki nama sama yang bisa mengambil naskah UN.

Padahal, seperti diketahui, UN bukanlah penjahat, perompak ataupun pembunuh berdarah dingin yang harus diwaspadai. UN tidak lain sekedar lembar soal beberapa mata pelajaran yang sifatnya rahasia. Tak ubahanya seperti ujian pada umumnya. Hanya bedanya, UN menjadi tolok ukur kelulusan siswa. Setidaknya, UN jadi titik kelulusan siswa setelah tiga tahun belajar di bangku sekolah.

Kendati demikian, UN bagi siswa dan sekolah hal yang sangat penting. Bagi sekolah, UN adalah pertaruhan kridebilitas sekolah. Sebab, jika di sekolahnya ada siswa yang tidak lulus, wajah sekolah akan tercoreng. Kelak, orang akan berfikir dua kali untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Lebih-lebih bagi siswa, sangat takut jika tidak lulus UN. Selain harus menanggung malu juga harus mengulang ujian lagi. Karena itu, baik siswa maupun sekolah harus bekerja keras demi kelulusan.

Tetapi, sayangnya dalam hal ini, tidak sedikit sekolah maupun siswa yang melakukan cara-cara kotor. Melakukan plagiarisme kolektif dan jual beli jawaban. Bahkan, hal itu dilakukan sistematis oleh pihak sekolah. Kendati jika ketahuan seperti yang terjadi di tahun-tahun lalu, pihak sekolah maupun siswa tidak mau mengaku. Kejujuran memang mahal dan langka.

Pantas saja jika soal UN diperlakukan bak tahanan: dikawal ketat bahkan menurunkan intelijen. Sebab, jika tidak demikian, tangan-tangan jahil membobol soal-soal tersebut lalu menjualnya ke pihak sekolah dan siswa. UN seperti rekening gendut yang bisa dibobol. Prakteknya setali tiga uang dengan tindakan korupsi.

Mendiknas, Muhammad Nuh pun mengkhawatirkan jika hal itu terjadi. Menteri mantan rektor ITS Surabaya ini tidak menampik jika menjelang UN banyak oknum yang cari uang dengan cara-cara kotor. Biasanya kata Nuh, ada orang yang suka jual lembar soal. Katanya 50 persen persis UN. Harga yang dipatok bisa sampai Rp 1 juta lebih. Bahkan ada juga yang mengiming-imingi akurasi naskah hingga 75 persen bahkan 100 persen.

Jika memang ada dan benar, patut dipertanyakan dari mana jawaban itu didapat. Padahal, cetakan naskah UN yang menelan anggaran milyaran rupiah itu telah sesuai Standar Operasional Program. Kalau begitu, patut dicurigai jika ada kongkalikong antara pihak percetakan dengan sekolah atau pihak-pihak lainnya.

Meski UN dijamin tidak bocor, tapi di Medan dikabarkan ada siswa yang dapat instruksi untuk menyebarkan jawaban dari guru. Seperti diberitakan Tribunnews Sabtu lalu, seorang pelajar SMA swasta mengaku akan dapat jawaban dari seorang guru yang akan diberikan perwakilan siswa melalui pesan singkat (SMS).

Di Medan, modus kecurangan seperti ini bukan kali pertama. Tahun 2010 juga demikian. Hal itu terungkap Komunitas Air Mata Guru yang melakukan investigasi. Ditemukan, pihak sekolah menyuruh siswa datang sekitar pukul 06.30 WIB. Sebelum ujian, peserta UN yang sudah mendapat jawaban melalui SMS akan membuatnya dalam sobekan kertas yang akan dibuka saat ujian.

Oknum di Medan ini jika ditelusuri juga tidak sedikit terjadi di daerah lain. Dan, ini bukti jika ketatnya penjagaan dan kontrol tidak berpengaruh signifikan. Senjata laras panjang polisi tak bisa mencegah pembobolan soal. Betul-betul tragis.

Embrio Korupsi

Plagiarisme dan jual beli jawaban atau apapun caranya dalam UN hal yang tidak bisa dibenarkan. Sebab, hal itu cara ilegal untuk mendapatkan nilai kelulusan yang bukan haknya. Siswa jadi terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak sah. Dan, secara tidak langsung, siswa sudah berani menggadaikan kejujurannya demi kelulusan.

Setali tiga uang dengan sekolah. Institusi yang seharusnya menjadi benteng moral generasi depan bangsa ini justru malah ikut menyuburkannya hanya karena kepentingan pragmatis semata. Wajar jika mental siswa terbentuk menjadi mental plagiarisme yang tidak mau belajar keras. Padahal, beberapa dekade ke depan mereka yang akan menjadi pemimpin bangsa.

Karena itu, disadari atau tidak, plagiarisme UN menjadi benih-benih korupsi. Sejak dini, siswa terbiasa mendapatkan dengan cara yang tidak halal. Sama dengan korupsi. Uang yang dikorupsi itu bukanlah haknya. Tetapi, dilakuakn dengan cara seperti money laundry, mark up dan cara bualan lainnya.

Apalagi, dalam UN nilai kognisi siswa yang hanya jadi tolok ukur kelulusan. Sedangkan afeksi dan moral tidak jadi syarat kelulusan. Jadi, seorang siswa berpengarai buruk bisa lulus jika nilai UN-nya bagus. Penilaian ini sebenarnya bertentangan dengan cita-cita pendidikan yang ingin membentuk insan paripurna (insan kamil).

Jika demikian, jangan berharap kelak mereka akan jadi pemberatas korupsi. Cita-cita bangsa ini jadi negeri bebas korupsi pun hanya utopia belaka. Sebab, dunia pendidikan kita sedang mencetak para tikus berdasi.







kematian usamah alhamdulilah atau innalillah?


SEPERTI sudah kita ketahui, hari Senin (2/5), pasukan khusus teror Amerika Serikat, SEAL Team Six (ST6) dikabarkan telah berhasil menewaskan Usamah bin Ladin. Sosok yang disebut-sebut Amerika sebagai otak dari sejumlah aksi terror di penjuru dunia ini ditembak mati di kepalanya 40 menit setelah SEAL Team 6 melakukan penggerebekan di persembunyiannya di Abbotabat, salah satu kota di pedalaman Pakistan.

Obama mengumumkan kematian Usamah secara resmi pada pukul 10.30 WIB yang sontak rakyat AS merayakan kematian tersebut. Mereka berkumpul di depan gedung putih dan Ground Zero sambil bersorak-sorai layaknya ada sebuah perayaan besar. Sekjen PBB, Ban Ki Moon, turut bersuka cita atas tewasnya Usamah. Menurutnya, kematian Usamah adalah momen penting untuk melawan terorisme global. Umat muslim di AS pun turut bergembira dengan kabar kematian Usamah tersebut.

Mereka mengklaim, dengan tewasnya Usamah, ideologi kekerasan yang selama ini identik dengan ajaran agama Islam dapat diredam.

Menurut John Esposito, salah satu profesor agama dan urusan internasional, tewasnya Usamah paling tidak dalam jangka pendek dapat mengurangi tekanan akan islamofobia yang banyak dialami oleh umat Muslim di Amerika Serikat.

Senada dengan pernyataan tersebut, Imam Muhammad Musri dari Islam Society of Central Florida turut bergembira atas tewasnya Usamah. Ia menyebutkan, bahwa selama ini ia sudah berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa Islam tidak satu pemikiran dengan Usamah.

Di sisi lain, ada pula pihak yang tidak larut dalam sukacita tersebut, namun sebaliknya, mereka justru mengharapkan agar Usamah dapat dirahmati oleh Allah SWT. Hal ini seperti diungkapkan oleh juru bicara utama Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) Abdul Rohim Ba’asyir. Menurut beliau, setiap jiwa pasti menemui ajalnya, namun semangat jihad tak akan terpengaruh dengan hidup dan matinya seorang manusia. Menurut pimpinan pusat Ansharullah, Fauzan Al-Anshari, kematian Usamah adalah syahid, yaitu kematian di jalan Allah. Menurutnya, setetes darah syuhada yang jatuh ke bumi akan melahirkan syuhada-syuhada yang lain. Hal senada diungkapkan oleh ketua umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq. Beliau mengungkapkan bahwa masyarakat kafir yang berpesta pora atas kematiannya adalah kemenangan Usamah sebagai syahid.

Dari statemen-statemen di atas, dapat kita simpulkan bahwa kematian Usamah telah mengundang pro dan kontra, apakah kematiannya merupakan suatu kesyukuran, atau justru kematiannya adalah suatu cobaan yang dapat mendorong umat Islam untuk lebih menyerahkan dirinya kepada Allah SWT.

Perjuangan “dakwah jihad” ala Usamah memang mengundang banyak kontroversi. Aksi-aksi pengeboman yang diidentikan terorisme oleh Amerika telah menjadi trademark tersendiri bagi Usamah. Jaringan Al-Qaidah yang dipimpinnya telah berulang kali disangkut-pautkan dengan aksi-aksi tersebut. Hal ini tentu saja menimbulkan pengecaman dari berbagai pihak. Aksinya yang kerap menimbulkan korban jiwa ini bukan sekali dua kali saja, namun sudah berkali-kali dan terjadi di berbagai belahan dunia, dari Amerika Serikat hingga Indonesia. Kenyataan ini menjadikan umat Islam kerap diidentikkan dengan kekerasan yang berujung pada terorisme. Dan tentu saja, banyak masyarakat non muslim yang terjangkit sindrom islamofobia gara-gara aksinya tersebut.

Di sisi lain, niatan jihad yang dibawa oleh Usamah --meskipun kerap menimbulkan kontroversi-- patut diapresiasi. Di zaman modern ini, tidak banyak orang yang berani menyuarakan suara jihad atas berbagai kedzaliman kuasa besar ala Amerika yang sedemikian lantangnya.

Mungkin cara dia berjihad tidak diterima sebagaian orang. Hanya saja, yang kami tekankan di sini, adalah semangatnya untuk memperjuangkan agama Islam dan tidak gentar akan segala sesuatu, semangat yang mencerminkan keimanannya dan pembelaannya akan agamanya yang kerap diinjak-injak oleh negara-negara sekuler. Inilah yang perlu kita apresiasi dan bahkan kita tiru.

Jika ada rakyat Indonesia yang memiliki semangat militansi seperti Usamah, tentu saja negara kita tidak akan mudah diinjak oleh negara-negara lain. Selama ini, negara kita sudah kenyang diinjak-injak dan bahkan “dijajah”secara intelektual, kultur dan budaya. Kita lihat bagaimana Malaysia dengan gampangnya mengklaim blok Ambalat adalah wilayahnya. Nelayan Thailand dengan entengnya melanggar perbatasan dan melaut di perairan Indonesia. Belum lagi bentuk-bentuk penjajahan dalam bentuk perdagangan, seperti membanjirnya produk impor dari China. Semua itu adalah bukti yang meguatkan bahwa Indonesia tidak memiliki tokoh sekaliber Usamah yang memiliki idealisme dan prinsip yang kuat dalam membela ideologinya.

Di sini, kami menyimpulkan, bahwa kematian Usamah sudah sepantasnya kita jadikan refleksi. Bagaimanapun, perjuangan Usamah tidak bisa dipandang sebelah mata. Perjuangan membela agamanya dengan caranya sendiri, sekalipun, mungkin ada banyak kesalahan dalam pengaplikasiannya.

Dan yang patut kita contoh darinya adalah semangatnya dan kekuatan idealisme yang ia miliki, sehingga ke depannya kita dapat mengaplikannya ke dalam keyakinan kita dan umat Islam di Indonesia yang merupakan mayoritas dapat turut memperjuangkan agamanya dan juga dapat memperjuangkan negaranya.

Karena itu terminologi “Alhamdulillah” dan “Innalillah” atas kematian Usmah ini tergantung pada siapa yang mengucapkannya. Bagi Amerika dan sekutunya, wajar jika ia gembira atau dalam istilah Islam mengucapkan “Alhamdulillah”. Tapi bagi kaum Muslim yang lain boleh jadi sebaliknya. Wallahu a’lam







usamah, kematian, dan kehidupan penuh rejeki


Jawa Pos (5/5) menurunkan berita utama: “Ditembak, Usamah Tak Bersenjata” dengan sub-judul: “Klaim Pejabat Militer Pakistan, AS Mengakui”. Di paragraf pembuka ditulis: “Satu per satu ‘kebohongan’ Gedung Putih soal proses terbunuhnya Usamah bin Laden mulai terkuak. Mulai bagaimana pemimpin Al-Qaidah itu ditangkap kemudian dihabisi, kesalahan identifikasi korban meninggal lain, sampai penyebab jatuhnya salah satu helikopter yang digunakan oleh pasukan elite Amerika Serikat (AS), Navy Seal, yang melakukan operasi 40 menit tersebut”.

Memang, saat kematian Usamah dipastikan oleh Presiden AS Barack Obama pada 2/5/2011 lewat sebuah pernyataan resmi, tak sedikit yang langsung ingat ayat ini: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS Al-Hujuraat [49]: 6).

Banyak yang meragukan kematian Usamah. Saat beredar foto Usamah mati dengan kepala berdarah, seorang pengamat telematika kenamaan di Indonesia menilainya palsu (www.inilah.com 3/5/2011).

"Usamah Masih Hidup Koq," Ledek Anak-Anak Muda Pakistan. Kalimat itu adalah judul sebuah berita. Berikut ini petikannya: Tak semua orang percaya dengan berita yang disebarkan AS bahwa Usamah sudah mati. Anak-anak muda Pakistan pada (4/5) berdemonstrasi di luar bangunan yang diklaim AS sebagai tempat terbunuhnya Usamah. Dalam aksinya, puluhan anak muda Pakistan itu meledek AS dan meneriakkan kata-kata "Usamah masih hidup!"

Sementara, warga Abbotabad di sekitar lokasi tempat penyerbuan Usamah, cuma bisa berbisik-bisik mengungkapkan ketidakpercayaan mereka atas berita yang disebarluaskan AS.

Kita memang layak memertanyakan kebenaran kematian Usamah, sebab sejauh ini tidak ada bukti yang meyakinkan dan hanya berdasarkan pernyataan Obama. Terlebih lagi, pertama, jika mengingat sebelumnya Usamah juga sudah berkali-kali diberitakan mati dan semuanya tak terbukti (baca: “Usamah Bin Ladin ‘Mati’ Berkali-kali di www.hidayatullah.com (3/5).

Kedua, ini alasan paling penting, karena selama ini AS mudah berbohong. Misalnya, dulu George W Bush (saat menjabat Presiden AS) menyebut ada senjata pemusnah massal di Iraq sehingga negara itu patut diserang. Tapi, bahkan sampai sekarang, terbuktikah itu?

Andaipun berita kematian itu benar, kitapun tetap bertanya: Pertama, tak adakah usaha serius dari AS untuk menghindari terbunuhnya Usamah, yang dengan demikian warga dunia lalu punya kesempatan mendengarkan “cerita asli” dari orang yang selama ini secara sepihak dituduh sebagai teroris? Kedua, mengapa jasad Usamah dikubur (untuk tak menyebut dibenamkan) di laut? Ada apa?

“Teroris” atau Pahlawan?

“Teroriskah” Usamah? Sampai hari ini, publik kerap tak adil dalam menentukan siapa “teroris” itu. Misal, siapakah yang “teroris”, Hamas-Palestina ataukah Israel?

Pada 2001 terbit buku berjudul “Jihad Usamah versus Amerika” karya Adian Husaini. Disebutkan, Usamah lulus dari Teknik Sipil Universitas King Abdul Aziz Jeddah bersamaan dengan invasi Uni Soviet di Afghanistan pada 25 Desember 1979. Usamah lalu “Menjual dirinya kepada Allah”, demikian ia menyebut, dengan terjun ke medan jihad di Afghanistan.

“Bagi kami, Usamah adalah pahlawan karena dia selalu berada di garis depan, selalu berdiri dan maju lebih dulu dibanding lainnya,” kata Hamza Muhammad, seorang Palestina (h. 37-44).

Maka, sangat beralasan jika Usamah menolak stigma sebagai teroris atas dirinya, dengan mengatakan: “Agama kami diserang. Mereka mengancam kehormatan kami dan harga diri kami. Jika kami protes menentang ketidakadilan itu, lantas kami disebut teroris” (h. 47).

Bahkan, sesungguhnya, Usamah sudah tak peduli lagi dengan label. Dengan lantang dia pernah berkata: “Jika memang mengobarkan jihad melawan Yahudi dan Amerika untuk membebaskan Al-Aqsa dan Ka’bah dianggap sebagai tindakan kejahatan, biarlah sejarah menjadi saksi bahwa saya adalah seorang penjahat” (h. 51).

Bagaimana dengan AS? Di kata pengantar buku itu, sang penulis mengritisi: “Apa definisi terorisme? Apakah aksi-aksi Amerika dan Israel di Libya, Iraq, Sudan, Palestina, dan berbagai belahan dunia lainnya bukan aksi terorisme?” (h. x). Untuk menjawabnya, sang penulis meminjam pendapat Prof. Edward S. Herman dari University of Pennsylvania yang di bukunya -“The Real Terror Network: Terrorism in Fact and Propaganda”- menulis: “Sejak puluhan tahun, Amerika telah melakukan kebijakan yang tidak konsisten (seenaknya sendiri) tentang terorisme” (h. 121).

Sungguh, sekarang memang berlangsung perang opini: siapa menilai siapa? Di masa sekarang, Usamah disebut teroris oleh AS karena dia sosok pejuang melawan imperialisme yang dilakukan AS terhadap negeri-negeri Islam. Bandingkan, dulu, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, dan lain-lainnya saat melawan Belanda sang penjajah juga disebut sebagai "ekstrimis". Padahal, bagi bangsa Indonesia, mereka adalah pahlawan.

Kita Yakin

Bagi siapapun yang telah berniat ikhlas “berjihad” si Jalan Allah, bagi siapapun yang telah “Menjual dirinya kepada Allah”, pastilah yakin dengan ayat ini: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di Jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki." (QS Ali ‘Imraan [3]:169).

Bagaimana hidup mereka? Di alam mana mereka sekarang? Bagaimana pula bentuk rizki dari Allah yang mereka terima? Jawaban atas berbagai pertanyaan itu hanya Allah yang tahu. Sebagai kaum beriman, tugas kita hanya meyakininya.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar