
Al-ma'ruf dan puncak amal kebaikan
DALAM al-Quran, banyak disebutkan lafaz-lafaz yang menunjukan segala perbuatan yang baik atau 'amal salih. Misalnya saja: al-ma'ruf, al-khoir, al-birru, al-hasanah, at-thoyyibah, dan al-ibadah.
Ungkapan-ungkapan ini mempunyai tujuan dan makna yang sama, yaitu kebaikan, kebajikan, dan pengabdian.
Prof. Hamka dalam kitab tafsirnya "al-Azhar" mengatakan bahwasanya puncak dari segala amal kebajikan atau amal ibadah itu ada dua, yaitu: pertama, memperhambakan diri kepada Allah; dan kedua memperbanyak perbuatan yang memberi manfaat kepada sesama makhluk.
Antonim lafaz-lafaz di atas adalah al-munkar (kemungkaran), as-sayyiah (keburukan), az-dzunub atau al-itsm (perbuatan dosa) dan al-ma'asiyah (maksiat). Yaitu, suatu perbuatan yang menunjukan sikap membangkang terhadap Allah dan perbuatannya tersebut tidak berfaedah, bahkan justru menimbulkan mudhorat dan kerugian, baik kepada dirinya sendiri atau pun kepada orang lain.
Di dalam surah al-'Ashr ditegaskan, bahwa manusia itu berada dalam kerugian yang nyata, kecuali empat perkara yang menjadikannya beruntung dan bahagia, yaitu iman, amal saleh, saling menasihati untuk menepati kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. (Q.S. al-'Ashr:2-3)
Ayat di atas menggambarkan sebuah hubungan yang begitu erat dan saling menguatkan antara amal saleh (perbuatan kebajikan) dan iman (keyakinan) yang dimiliki oleh pelakunya. Keduanya laksana dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maknanya, iman tanpa diiringi amal saleh akan menyeret pelakunya kepada kerugian, begitu sebaliknya amal saleh yang dikerjakannya akan menjadi sia-sia apabila tidak didasarkan kepada iman kepada Allah SWT.
Mengenai hal ini, Allah menurunkan sebuah perumpamaan yang sangat indah dan penuh makna. "Dan orang-orang kafir, amal perbuatan mereka adalah bagaikan fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila dihampirinya air itu, dia tidak mendapati apa pun." (Q.S. an-Nuur:39).
Oleh sebab itu, dalam melakukan pengabdian secara sempurna kepada Allah sebagai puncak amal kebajikan yang pertama tadi, diperlukan keyakinan yang total kepada Allah SWT.
Kaitannya dengan puncak amal kebajikan yang kedua, Rasulullah saw. pernah bersabda: "Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari).
Secara berulang-ulang, al-Qur'an pun banyak menyebutkan keutamaan mengerjakan amal saleh, di mana Allah SWT menghadiahkan pahala yang sangat besar kepada hamba-hambaNya yang mengerjakan amal kebajikan. Sebagaimana firmanNya dalam surat an-Nahl ayat 97, Allah menjanjikan suatu kehidupan dan balasan yang baik bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. "Barangsiapa mengerjakan kebajikan baik kaum laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Hakikatnya, ayat di atas mendorong kita untuk lebih giat dalam melakukan amal kebajikan. Bahkan kalau dipahami secara teliti dan diiringi keyakinan yang mantap, ayat ini boleh membangkitkan optimisme yang luar biasa pada diri seseorang dalam menjalani proses kehidupan ini. Di mana Allah SWT telah menjanjikan suatu kehidupan yang baik, aman dan tentram (hayatan thoyyibatan) bagi orang-orang yang berbuat amal kebajikan karena Allah SWT. Sedangkan di akhirat nanti, Allah akan memberikan balasan yang lebih baik daripada balasan yang diberikan di dunia.
Selain itu, ayat ini sekaligus mengandung bantahan terhadap orang-orang yang selalu pesimis dan beranggapan bahwa nasib hidupnya itu tidak baik atau kurang beruntung, padahal dirinya telah beribadah dan berbuat kebajikan.
Seseorang hanya akan merasa pesimis dan akan beranggapan negatif kepada Allah, kecuali jika dia mengetahui dan memahami hakikat puncak amal kebajikan dengan sebaik-baiknya. Wallahu 'alam bi showab
Ya ilmuwan , ya ahli ibadah
SEJAK surat pertama turun yang memerintahkan untuk membaca dengan redaksi kata kerja perintah 'iqra’ (bacalah), kita memahami bahwa Islam sangat menekankan pada penggunaan akal pikiran (rasio). Itulah sebabnya, sebelum proses taklif (pembebanan syariat), terlebih dahulu harus diawali dengan proses ta’wid (pembiasaan pada anak usia dini) dan proses tafhim (pemahaman). Tiada agama yang tidak menggunakan akal pikiran (laa dina liman laa ‘aqla lahu).
Hal itu berarti, instrumental yang dikaruniakan oleh Allah SWT secara cuma-cuma kepada hamba-Nya manusia berupa akal pikiran, hendaklah diberdayakan untuk melakukan fungsi dan perannya secara optimal, yaitu melakukan tadabbur, tafakkur dan tadzakkur terhadap ayat-ayat quraniyah, ayat-ayat nafsiyyah dan ayat-ayat kauniyyah. Bahkan semua makhluk ciptaan Allah SWT.
Islam menolak tegas terhadap sesuatu apa pun yang tidak didukung oleh bukti-bukti yang tidak valid, sikap mengikuti suatu pemikiran/paham yang sifatnya membabi buta (taqlid), mengecam terhadap asumsi dan keinginan yang semata-mata dilandasi oleh hawa nafsu. Islam mengharamkan pula semua bentuk sihir, pedukunan, para normal (ramalan) dan bentuk kebatilan yang lain.
Islam sangat menghormati ilmu pengetahuan dan mengangkat derajat para ulama. Bahkan ilmuan lebih mulia daripada ahli ibadah. Islam merespons dengan atusias terhadap ilmu pengetahuan apa saja yang dinilai bisa mendatangkan manfaat bagi kelangsungan kehidupan manusia baik ilmu umum maupun agama.
Karena itu kewajiban menuntut ilmu dijelaskan dalam sebuah hadits dengan menggunakan redaksi “faridhatun”. Ta marbuthah tersebut bukan tanda isim muannats tetapi bermakna mubalaghah – superlatif - (penyangatan). Islam sangat mendukung pemeluknya dalam berpikir dan bertindak secara ilmiah, sehingga dalam menjalankan roda kehidupan dibingkai oleh kesempurnaan ilmu dan keimanan.
Kata kerja ‘aqala’ mengandung pengertian menghubungkan sebagian pikiran dengan sebagian yang lain, dengan mengajukan bukti-bukti yang nyata sebagai argumentasi yang dipahami secara rasional. Dalam al-Quran kata ‘aqala disebut kurang lebih sebanyak 50 kali dan tiga belas kali berupa pertanyaan retorik (istifham tankiri), sebagai protes untuk mengadakan kajian ilmiah.
Belum lagi meneliti kata “nazhara” (menganalisa), “tafakkara” (memikirkan), “faqiha” (memahami), ‘alima' (mengerti, menyadari), "burhan" (bukti, argumentasi), "lubb" (intelektual, cerdas, berakal). Jika kata-kata tersebut diteliti secara lebih cermat, akan menemukan banyak sekali nilai-nilai ilmiah dalam Islam.
Orang-orang kafir yang menolak mentah-mentah ajakan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, oleh al-Quran dideskripsikan sebuah komunitas yang tidak mau menggunakan akal pikirannya. Mereka memenjara potensi akal sehatnya dengan mengekor tradisi yang diwarisi nenek-moyang mereka secara turun temurun. Akal sehat mereka mengalami disfungsi. Tidak digunakan untuk mencari kebenaran dan mengkritisi kultur para pendahulu mereka. Maka, keberadaan mereka laksana binatang ternak bahkan lebih sesat (bal hum adhol). Karena mereka lemah dalam merespons simbol-simbol, ayat-ayat yang bertebaran di sekitar mereka.
Fakta Historis
Secara historis, setidak-tidaknya ada lima langkah penting yang menunjukkan perhatian Islam secara kongkrit terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan penggunaan akal sehat.
Pertama, al-Quran secara tersurat dan tersirat menekankan kepada para pemeluknya agar menggunakan planning yang matang dalam melakuan apa pun. Baik dalam skala kehidupan yang kecil maupun berskala besar.
Hal itu dapat dilihat pada kisah Nabi Yusuf as, ketika dilantik sebagai menteri yang membidangi urusan logistic, dia melakukan perencanaan yang matang dan teliti sehingga berhasil menyelamatkan penduduk Mesir dari kelaparan (krisis ekonomi). Ini menunjukkan bahwa Islam tidak berdiri secara kontradiktif dengan ilmu menejemen sebagaimana yang dipahami oleh orang yang berwawasan picik dalam memahami ajaran islam.
(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, Hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf (12) : 46-47).
Kedua, Rasulullah SAW menggunakan data statistik sejak beliau hijrah dari Makkah ke Madinah dan memulai babak baru dalam ekspansi dakwah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa beliau setelah hijrah ke Madinah memerintahkan sebagian sahabat untuk mendata jumlah orang yang telah memeluk islam. Setelah diteliti, mereka menyimpulkan bahwa jumlah orang yang masuk Islam di Madinah sebanyak 1.500 orang. Di sini kita memahami metode statistik bukan impor dari bangsa lain, tetapi bersumber dari Islam itu sendiri.
Ketiga, Rasulullah SAW terbiasa melakukan uji coba (eksperimen) dalam persoalan duniawi. Demikian pula dilakukan para sahabat. Seperti eksperimen (riset) tentang penyerbukan pohon kurma, yang hasilnya berbeda dengan saran yang dilontarkan oleh beliau. Dan beliau menerima hasil eksperimen yang semula bertentangan dengan pendapat beliau. Beliau bersabda, “Kalian lebih mengetahui terhadap urusan dunia kalian.” (HR. Muslim).
Keempat, Islam mendorong para pemeluknya yang menggali secara optimal teknologi tepat guna, yang dinilai mendatangkan manfaat bagi kelangsungan kehidupan manusia. Hal ini dibuktikan oleh beliau ketika tidak segan mengikuti pendapat Salman Al-Farisi, seorang yang berkebangsaan Parsi tentang penggalian parit di sekeliling kota Madinah. Metode ini sudah biasa dilakukan oleh bangsa Parsi. Beliau pernah dibuatkan sebuah mimbar yang biasa digunakan khutbah dari tukang kayu bangsa Romawi.
Rasulullah SAW bersabda, ilmu pengetahuan itu bagaikan barang yang hilang dari seorang mukimin, di mana saja ia menemukannya maka dia berhak mengambilnya (HR. al-Turmudzi dan Ibnu Majah). Hadits lemah yang matannya bermakna benar.
Kelima, al-Quran menjunjung tinggi nilai-nilai industrialisasi bagi kelangsungan kehidupan manusia. Para hamba pilihan Allah SWT adalah sosok-sosok professional (memiliki profesi tertentu) di bidang industrialisasi.
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman) : Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya.” (QS. Saba (34) : 10).
“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu, maka hendaklah kamu bersyukur.” (QS. Al Anbiya (21) : 25).
Nabi Sulaiman memiliki keahlian dalam mengalirkan cairan tembaga. Pula memiliki kemampuan untuk menundukkan ahli penyelam (ghowwash) dan ahli bangunan (banna) dari kalangan jin, untuk membuat apa saja sesuai kehendaknya. Seperti, gedung-gedung pencakar langit, patung-patung, piring-piring besar seperti periuk yang selalu berada di atas tungku. Sedangkan Zulkarnain memiliki keahlian bisa membangun dinding besar dari besi dan tembaga.
Bahkan sejak awal perkembangan Islam, para sahabat yang memiliki kempampuan dalam bidang tafaqquh fiddin (pendalaman keagamaan) diwadahi khusus oleh Rasulullah SAW dalam emperan masjid yang dikenal dengan ahlush shuffah. Para sahabat yang memiliki keunggulan dalam jihad, diwadahi untuk terjun di medan pertempuran dan mengadakan ekspansi besar-besaran dalam membebaskan negeri, agar tunduk kepada aturan Islam, dan orang-orang dari kalangan grass root pula diberdayakan untuk giat dalam melakukan ibadah.
Harusnya, para penuntut ilmu ya pahlawan perang ya pahlawan ibadah. Ketiganya harus berjalan secara sinergis. Rasulullah SAW berhasil menyatukan ulama, mujahid dan zu’ama’ secara professional dan proporsional dalam dirinya.
Seorang yang mengerti ilmu secara benar, harusnya ia tunduk di bawah wahyu. Selain pandai ia juga ahli ibadah. Tidak seperti sekarang ini. Banyak orang cerdik-pandai tapi justru sombong bahkan menggugat-gugat wahyu, mempertanyakan Nabi para sahabat dan ulama. Akhirnya, karena tidak memahami wahyu banyak orang pandai tapi curang dan culas.
Jika ilmunya benar dan dia tunduk pada wahyu, maka dirinya akan mengangkat ‘izzul islam wal muslimin (semata-mata untuk kejayaan Islam dan umatnya). Apapun yang dilakukan atas ilmunya, digunakan untuk membela agama dan Islam. Jika tidak, pastilah ada sesuatu yang salah pada dirinya. Nah, pertanyaannya, bagaimana dengan kita?
Jadilah pemuda muslim yang berkarakter
ORANG mengulasnya sebagai tokoh yang mengharumkan dunia. Ia bukan saja milik ummat Islam, tetapi panutan kaum Yahudi dan juga Nasrani. Abul Anbiya, Khalilullah, Ibrahim as.
Para pengamat sejarah purba berbeda pendapat tentang negeri asal Ibrahim (Abun Rahim, Bapak Yang Penyayang, Bhs Arab). Ada yang berpendapat bahwa Ibrahim berasal dari kawasan masuk daerah Babilon Mesopotamia, diperkirakan 6000 tahun yang lalu. Pengamat sejarah lain bersepakat bahwa bapak pendobrak paham paganisme ini pada akhirnya menetap di Palestina.
Beliau menetap di sebuah kota kecil bernama Al Khalil, 45 km sebelah barat daya Jerusalem. Kota kecil itu terletak di lambang Jabal Ar Rumaidah, kawasan dikenal sejuk dalam ketinggian 927 meter. Sebenarnya kota kecil itu tidak akan memiliki arti penting dalam lintasan sejarah sekiranya Nabi Ibrahim as. tidak berdiam di sana.
Ibrahim adalah manusia besar. Untuk mengabadikan keharuman namanya, Allah SWT memberinya gelar Khalilullah atau Khalilur Rahman, artinya Kekasih Allah. Di kalangan orang Barat yang merujuk Bybel menyebutnya: "Abraham The Friend of God" (Ibrahim teman dekatnya Tuhan). Dari gelar ini kemudian menjadi nama kediamannya Al Khalil. Kepustakaan Barat lebih senang menyebutnya Hebron (‘Ibrani, Bhs Arab). Hingga kini penduduk asli lebih senang menyebutnya Al Khalil.
Kadang-kadang menyebutnya dengan nama yang lebih indah Khalilur Rahman.
Disanalah Nabi Ibrahim as. menetap bersama isterinya yang cantik dan shalilah, Sarah. Semoga Allah SWT melimpahkan sakinah, mawaddah wa rahmah kepada keluarga ini untuk selama-lamanya. Suasana itulah yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan pisik dan kejiwaan anak, sebagai buah ikatan kekeluargaan. Hingga usia kurang satu abad, Ibrahim bersama Sarah mendambakan keturunan (pelanjut perjuangan).
***
Dalam hadist, pemuda sering diistilahkan dengan kata-kata syaabun. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan bahwa diantara 7 kelompok yang akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari ketika tak ada naungan, selain naungan-Nya, adalah Syaabun nasya’a fii ‘ibaadatillah (pemuda yang tumbuh berkembang dalam pengabdian kepada Allah SWT).
Sepanjang peradaban manusia, pemuda adalah pelopor. Berbagai perubahan terjadi di setiap bangsa, selalu digerakkan oleh pemuda. Di balik setiap transformasi sosial, juga ada anak muda. Ibarat sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat. Yang menentukan fase kehidupan manusia sejak di janin, balita, kanak-kanak, dewasa dan masa tua adalah usia murahiq – masa muda - (antara 30-40), meminjam istilah ahli kepribadian. Berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik mengarah kepada kebaikan maupun kepada kejahatan memiliki dorongan yang sama kuatnya ketika pada masa muda. Itulah sebabnya, kegagalan dan keberhasilan seseorang, kematangan kepribadian manusia pada masa tua ditentukan oleh masa mudanya.
Dalam al Quran pemuda menggunakan istilah ‘fatan’. Sebagaimana firman Allah SWT:
Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (Al Anbiya (21) : 60).
Dalam Islam, dikenal bapak yang mengenalkan tauhid, dialah Ibrahim. Ia menegakkan nilai-nilai tauhid di tengah dominasi dan hegemoni paham paganisme, seorang diri. Bahkan bapaknya sendiri melawannya. Kalau bukan kesabaran dan keyakinan yang terpatri di dalam hati, mustahil misi suci ini bisa diwujudkan.
Sebagaimana kisah Ashabul kahfi pada surat Al Kahfi (18) ayat 10 dan 13.
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa : Ya Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-MU dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).
Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”
Karakteristik Pemuda Pejuang
Eksistensi dan perana pemuda sangat urgen. Dalam al-Quran ataupun hadits, banyak diucapkan karakteristik/jati diri sosok pemuda ideal yang harus dijadikan teladan oleh pemuda yang bercita-cita sebagai orang atau pemimpin sukses.
Pertama, memiliki keberanian (syaja’ah) dalam menyatakan yang hak (benar) itu hak (benar) dan yang batil (salah) itu batil (salah). Katakanlah kebenaran walaupun rasanya pahit (al Hadits). Jihad yang paling tinggi adalah kalimat haq di depan pemimpin yang zalim (al Hadits). Lalu, siap bertanggung jawab serta menangung resiko ketika mempertahankan keyakinannya.
Contohnya adalah pemuda Ibrahim yang menghancurkan “berhala-berhala” kecil, lalu dan menggantung kapaknya ke “berhala” yang paling besar untuk memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu (tuhan selain Allah SWT) sama sekali tidak bisa mendatang manfaat dan menolak bahaya. Kisah keberaniannya dikisahkan dalam surat al-Anbiya’[21] ayat 56-70.
Kedua, ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (curiosity) untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Artinya, tidak pernah berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan (QS al-Baqarah [2]: 260). Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, ia menyadari betapa banyak ilmu yang belum diketahui. Semakin berilmu, semakin tunduk tauhidnya pada wahyu.
Ketiga, selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam binkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus, seperti pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah SWT pada surah al-Kahfi [18] ayat 25. Bukan berkelompok untuk mengadakan konspirasi jahat (makar). Atau berpikir yang aneh-aneh hanya untuk cari sensasi.
Para pemuda pejuang yang berkarakter ala Ibrahim, ia ingin berkelompok bukan untuk huru-hara atau tujuan yang tidak ada manfaatnya. Tetapi berkelompok dalam kerangka ta’awun ‘alal birri wat taqwa (bersinergi dalam kebaikan dan ketakwaan). Bukan berkerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.
Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusilasi. Hal ini seperti kisah nabi Yusuf dalam surah Yusuf [12] ayat 22-24.
Pemuda dengan tipe ini, bisa digambarkan pada sosok Nabiullah Yusuf yang tak tergoda nafsu,meski kesempatan ada. Yusuf tak mau meladeni wanita (Zulaikha) yang terus menggodanya. Ketika Yusuf digoda, ia justru berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik."
Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi serta tidak pernah menyerah pada rintanga dan hambatan. Ia memandang berbagai kesulitan adalah sebagai peluang untuk mengukir prestasi dan sarana kematangan jiwa. Seandainya menjadi manusia besar itu mudah, betapa banyak manusia yang terlahir sebagai pahlawan, meminjam ungkapan ahli sastra Arab.
Hal itu diperagakan oleh sosok pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang untuk sukses hingga ia menjadi pemuda yang bergelar al-Amin (terpercaya) dari masyarakat.
Wahai pemuda, marilah kita ikuti perjalan sosok-sosok yang mengagumkan itu.
Wahai para orantua, tak ada salahnya, kita persiapkan anak-anak kita dalam tipe pemuda yang berkarakter itu. Merekalah sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam al-Quran dan Hadits. Mudah-mudahan mereka bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia masa kini dan masa depan. Wallahu a’lam bishshowab.*MERENGKUH MADU SETELAH TERSENGAT TAWONNYA
PAGI itu, udara terasa segar. Matahari terlihat tersenyum indah, menyapa penduduk bumi dengan sinarnya yang kemerah-merahan dari ufuk timur. Anginpun tak mau kalah. Sesekali ia berhembus, memanjakan siapa saja yang tengah menikmati udara pagi. Kicauan burung nan merdu, yang tengah beterbangan di angkasa, menjadi pesona tersendiri akan keindahan suasana pagi hari itu.
Dari jendela kamar, kulihat tak sedikit orang tersihir menyaksikan secuil Kemahabesaran Allah ini. Sepertinya, hati gadis yang tengah berbunga-bunga. Wajah-wajah kekebahagiaan, nampak jelas tersirat dari senyum yang memerkah dari kedua pipi mereka, seterang mentari yang tengah menunjukkan kedikdayaannya.
Namun itu tidak bagiku. Pagi itu kulalui dengan perasaan begitu berat. Sebabnya, aku masih terngiang-ngiang akan perkataan salah satu familiku dari ujung telepon, yang baru saja kuterima. Dan hal itu cukup mengganjal hati.
“Disuruh ngomong gitu saja tidak bisa! Ya sudah lah, percuma juga sekarang ribut-ribut,” ujarnya kala itu, dengan nada penuh emosi. Setelah berucap demikian, HP pun langsung dimatikan. Saya sebagai lawan bicara, tersentak kaget. Lidah menjadi kelu karenanya.
Sebelumnya, aku tidak pernah mendapatkan perlakuan demikian. Yang ada, justru beliau senantiasa membahagiakanku, ia masih membiayai seluruh keperluan pendidikkanku hingga aku lulus, tanpa dia meminta pamrih. Wajarlah, kalau dia menjadi sosok yang sangat kusegani.
Namun pagi itu, di pertengahan tahun 2007 silam, untuk pertama kalinya aku mendapat amarah. Dan itu bermuara dari ketidaksiapanku melakukan permintaannya; berkata bohong.
Ceritanya, adalah salah satu famili kami (perempuan) yang mencoba mencari keuntungan di negeri seberang, Arab Saudi, sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Awalnya, komunikasi antar kami sekeluarga dengan dia yang berada nun jauh di sana, lancar-lancar saja.
Namun, tidak lama berselang, tiba-tiba saudari kami tersebut berujar, “Jangan hubungi saya terus yah, soalnya majikkan saya suka marah, kalau melihat saya sering menggunakan HP,” begitu pesannya.
Awalnya, kami sekeluarga memaklumi permintaan tersebut. Akan tetapi, semuanya berubah menjadi kekhawatiran yang sangat, manakala kami senantiasa gagal untuk menghubungi dia. Padahal, sudah cukup lama kami putus komunikasi (berkisar 3-4 bulan dari permintaannya tempo hari itu). Tidak satu dua kali kami mencoba menelpon, tapi, hasilnya tetap saja nihil. Semua nomor yang dihubungi pada non-aktif.
Pernah suatu hari, terdengar jawaban dari seberang, ketika keluarga mencoba menelpon nomor majikkannya. Sayang, jawaban yang diterima tidak sesuai dengan yang diinginkan. Mereka bilang, kalau saudari kami tersebut tidak bekerja di sana. Dengan demikian, sudah barang tentu, kecemasan semakin memuncah, dan menghantui kami sekeluarga.
Tidak mau patah arang, pihak keluarga menemui orang yang menjadi wasilah keberangkatan saudari kami itu, tetapi, tetap saja membentur tembok tebal.
Singkat cerita, karena usaha-usaha selalu mentok, pihak keluarga memintaku (Yang memiliki sedikit bekal bahasa Arab) untuk mengubungi pihak majikan. Runyamnya, mereka memintaku untuk mengaku sebagai suami dari saudari kami tersebut.
Terus-terang, ketika mendapat mandat demikian, hatiku berkecamuk, antara menjalankan tugas sesuai dengan apa yang diperintahkan atau tidak. Bagiku pribadi, kejujuran adalah suatu prinsip yang harus dipegang-teguh. Sudah lama aku memupuk prinsip ini. Sebab itu, ketika diminta untuk melakukan kebohongan, batinku berontak. Akhirnya, akupun lebih memilih untuk mengikuti suara hati, dengan berkata jujur; bahwa aku adalah salah satu familinya (bukan sebagai suamisebagaimana yang di’dektekan’).
Pada malam hari yang telah ditentukan, akupun menelepon. Alhamdulillah ada jawaban dari seberang sana. Setelah aku menjelaskan maksud dan tujuanku, si-majikan pun menerangkan posisinya saat itu, kalau dia sedang berada di luar rumah, dan dia memintaku untuk menunggu sekejap. Dia berjanji, ketika sudah sampai rumah, dia akan menghubungi balik.
Untung tidak bisa diraih. Rupanya janji tinggallah janji. Orang tersebut tidak jua menghubungiku. Ketika dihubungi balik, HP-nya pun tidak pernah diangkat. Akhirnya, harapan untuk mampu bercakap-cakap dengan saudariku malam itu, pun pupus jua.
Keesokan harinya, seusai sholat shubuh, salah satu sahabatku berlari-lari kecil menuju arahku, dan menyampaikan kalau ada telepon dari keluarga. Mendengar demikian, akupun sempat ‘kikuk’ barang sesaat, memikirkan bagaimana menjelaskan hasil yang saya peroleh semalam, sekiranya mereka menanyakan hal tersebut. Sejurus kemudian, dengan tekat bulat dan diiringi do’a, dan tentunya dengan menyiapkan mental juga, aku putuskan untuk berterusterang dengan apa yang telah aku lakukan.
Mendengar penjelasanku, sosok yang selama ini kujadikan “pahlawan” hidupku itu, langsung naik pitam. Kemarahannya memuncah. Hasilnya, nada-nada kasar penuh emosi –yang dulunya tidak pernah aku dapatkan- pun meluncur deras dari bibirnya, menghujam hatiku.
Aku hanya bisa diam……diam…..dan diam. Pikirku, percuma juga membela diri, dia tetap tidak akan terima, meskipun diutarakan seribu alasan.
Sejak peristiwa itu terjadi, hampir setiap saat, terutama ketika sedang bersujud (sholat) kepada-Nya, aku senantiasa berdo’a agar Allah melapangkan urusan kami ini.
Allah maha mendengar bagi hamba-hambanya yang yang tulus bermunajat. Persis keesokkan harinya, setelah peristiwa ‘naas’ tersebut, nada dering pesan HP berbunyi. Setelah saya lihat, terpampang nama ‘Aziz’ (nama samaran untuk saudaraku yang mendampratku). Setelah kubuka SMS-nya, subhanallah, keajaiban telah terjadi. Saudaraku itu meminta maaf dengan sangat, atas apa yang telah diucapkannya. Tersirat dari tulisan SMS-nya penyesalan yang mendalam. Dan yang lebih penting lagi, dia memberitahu, kalau saudari kami yang selama ini kami nanti-nantikan kabarnya, telah menelpon, dan memberi kabar, kalau dia baik-baik saja.
Seusai membaca SMS tersebut, hatiku riang tak terkira. Tanpa kusadari, cairan-cairan bening mengalir membasahi pipi. Aku menangis, menangis bahagia.
Selanjutnya, aku pun langsung bersimpuh di hadapan-Nya, bersujud syukur, mensyukuri karunia-karunia yang begitu besar, diantaranya; mengabulkan do’a kami agar mampu mengetahui keberadaan saudari kami yang telah lama kami cari, serta telah menyelamatkanku dari fitnah bohong.
Dan yang menakjubkan, sekaligus mempertebal keyakinanku, kalau semua yang terjadi atas pertolongan Allah semata, yaitu ketika saudari kami tersebut pulang ke tanah air, dan menjelaskan bahwa majikannya sama sekali tidak pernah menyuruh dia menghubungi pihak keluarga di Indonesia. Atas inisiatifnya sendirilah, yang didasari rasa kangen yang begitu besar, sehingga dia menelpon.
Yaaa Allah, Engkaulah Pemutar Balik hati, serta yang membisikkan ke hati saudari kami suatu bisikkan, sehingga dia menghubungi kami, tepat pada waktu yang kami butuhkan. Dan Engkau pun telah menyelamatkanku dari fitnah bohong ini.
Ibaratnya, diriku telah merengkuh ‘madu’ setelah ‘tersengat tawonnya’*
KIRIMAN AMPLOP ITU DATANG BERTUBI- TUBI
Di TENGAH teriknya matahari siang, seorang laki-laki terus saja melangkahkan kakinya, setapak demi setapak, menelusuri jalan perkampungan. Di atas pundak kanannya, bergelayutan barang-barang jualannya, yang berupa mainan anak-anak, yang terdiri dari berbagai jenis, mulai dari mobil-mobilan hingga pistol-pistolan. Dari boneka, hingga jepit rambut.
Dia lalui gang demi gang, tanpa mempedulikan pengatnya sinar sang surya, yang memang bertepatan saat itu, seolah-olah tengah menunjukkan kemahadahsyiatan sinarnya. Setetes demi setetes, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Sesekali, ia mengusap dahi dan wajahnya yang berlumuran peluh, dengan handuk kecil yang tidak lepas dari pundaknya.
”Sayang anak........sayang anak..... yang sayang anak....ini ada berbagai macam mainan.” teriaknya menjajakan mainan, barang kali ada yang minat untuk membeli untuk si-buah hati.
Merasa letih, kemudian dia memilih untuk singgah di sebuah masjid, sekedar untuk mengendurkan urat-urat yang memang –mungkin- terasa tegang, karena jauhnya jarak yang telah ditempuh.
Dia letakkan barang dagangannya di halaman masjid, sedangkan dia sendiri beranjak ke beranda bagian belakang. Sambil mengamati dagangannya, ia sandarkan punggungnya di salah satu tiang, kemudian membujurkan kedua kakinya.
Tangan kirinya, ia jadikan penyanggah badannya. Sedangkan kanan kananya, asyik mengibas-ngibaskan handuk kecilnya, di antara kepala dan dadanya. Nampak jelas dari ekspresinya itu, rasa letih dan haus tengah melilit dirinya.
Tak lama kemudian, dia berujar padaku, yang memang dari tadi mengamati dirinya.
”Mas bisa minta air. Saya tengah haus sekali,” ujarnya lirih.
”Saya cek dulu yah di kamar takmir (pengelola masjid),” timpalku kemudian.
Sayangnya, ketika ditengok rungan yang luasnya tidak lebih dari 2x3 M² itu, tak ada setetespun air. Mau beli, bertepatan aku tidak bawa uang sama sekali. Tak ingin mengecewakannya, aku pun bergegas menuju kantin yang memang tidak jauh dari masjid, untuk mengutang sebotol teh dingin. Karena sudah saling kenal, pihak kantinpun tidak menyoalkan permohonanku.
Ketika disodorkan minuman tersebut, awalnya dia menolak. Dia merasa tidak enak, karena telah merepoti. Namun, karena terus kupaksa untuk meminumnya, dia pun akhirnya luluh, dan meminumnya.
Ketika cairan dingin itu telah melewati tenggorokkannya, tersirat dari rona wajahnya rasa kepuasaan. Senyumnya memerkah indah, bak bunga mawar yang tengah mekar, ”Terima kasih ya, mas. Maaf telah merepotkan”, ujarnya.
Setelah beberapa lama mengobrol, si-penjual mainan itu pun akhirnya berpaminatan, minta undur diri, untuk melanjutkan perjalanannya. Akupun melepaskan kepergiannya dengan senyum dan hati berbunga-bunga, karena sedikit telah mampu membantu orang yang memang dalam kesukaran.
Berlipat Ganda
Entahlah, aku tidak sama sekali pria itu. Ia bukan saudara, teman, tetangga. Namun ada satu hal yang sangat mendasariku untuk menolong laki-laki tersebut, sekalipun harus dengan jalur berhutang. Saya teringat firman Allah yang menjelaskan, bahwa barang siapa yang menginfakkan hartanya, maka dia akan menuai balasan sepuluh, hingga tujuh ratus kali lipat.
Keterangan ini pula, lah, yang kuutarakan pada laki-laki yang sebelumnya tidak pernah kukenal itu, ketika bertanya, kenapa saya dengan mudahnya menolong dia, tanpa rasa curiga sedikitpun, padahal sebelumnya kami tidak saling kenal.
Hari-hari perkenalanku dengan pria tak dikenal sudah lewat. Suatu hari, saya berkunung ke kantor seorang teman. Tanpa diduga, dia menyodoriku sebuah amplop, yang katanya sebagai tanpa ucap terima kasih atasannya, karena sudah berulang kali membantu urusannya. Saya bingung, urusan apa yang pernah saya tolong padanya?
Sesampainya di kediaman, kubuka amplop itu, dan di dalamnya terdapat uang sangat banyak dan sangat berarti bagiku. Puji syukur, kupanjatkan ke pada Allah.
Tambah bingung lagi, selang beberapa menit setelah itu, datang salah satu temanku, memberikan satu amplop lain, yang katanya dari sahabatku yang lain. Agar tidak lama-lama diselimuti rasa penasaran prihal isi amplop, langsung saja kumembukanya. Dan, Subhanallah, ternyata di dalamnya juga terdapat uang, yang ini nominalnya lebih kecil.
Jadi, kalau dikalkulasi, jumlah uang tersebut sangat luar biasa bagi orang seperti saya. Dari sini, aku jadi tambah yakin, bahwa memang sedekah tidak akan pernah menjadikan kita miskin. Yang ada, justru ia akan menambah pundi-pundi harta kita. Kalau tidak di dunia, ya di akhirat nanti. Dengan catatan, tentu kita harus ikhlas.
Dalam kasus ini, saya jadi teringat firman Allah dalam surat Ibrohim ayat tujuh, yang berbunyi, ”.....Dan apabila kalian bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, maka akan kutambah nikmat-nikmat-Ku pada kalian. Tapi, kalau kalian mengkufurinya, sesungguhnya, azab-Ku amatlah pedih.” (Ibrohim 7).
Semoga kita termasuk orang-orang yang ringan tangan dalam menginfakkan/mensedekahkan harta-harta kita di jalan Allah. Karena sesungguhnya berinfaq itu tidak membuat kita miskin. Bahkan sebaliknya, ibarat mengumpulkan tabungan, yang kelak akan diganti oleh Allah baik di dunia maupun di akherat. Tentu saja infaq yang disertai keikhlasan tanpa berharap imbalan.
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (si- apa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan (infakkan), maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik- baiknya.”
(QS. Saba': 39 ).
HIDUPNYA MENDERITA SETELAH BERURUSAN DG KREDIT BANK
BU DWI, itulah janda lima anak itu biasa dipanggail. Wanita yang tinggal di daerah Wonorejo Tegalsari Surabaya ini, dulunya adalah keluarga yang bisa yang tergolong cukup secara ekonomi.
Namun kehidupannya drastis berubah ketika datangnya cobaan. Kala itu, suami yang dicintainya --yang berprofesi karyawan swasta—dipanggil Sang Khaliq karena penyakit paru-paru yang dideritanya.Ia meninggalkan dunia dan keluarga di saat anak pertamanya baru memasuki jenjang SMU.
Usai kepergian sang suami, praktis menjadikan Dwi dia sebagai single parent (orantua tunggal) yang mengasuh kelima anaknya.
Tiap pagi, ia bertugas memasakkan nasi, lauk untuk tukang-tukang yang bekerja di proyek-proyek. Kebetulan, di sekitar rumahnya banyak tukang dan kuli yang nge-kos di situ.
Di saat yang sama, anak pertamanya yang perempuan ikut membantu menjaga toko kelontong di halaman rumahnya. Sementara anak-anaknya yang lain masih duduk di SMP, SD hingga ada yang masih berumur lima tahun.
Karena kebutuhan yang semakin meningkat, dia mencoba meminjam uang kepada saudara-saudaranya. Namun karena malu jika terus-terusan meminjam kepada saudara, dia pun menghentikan meminjam kepada saudaranya dan terpaksa meminjam uang dari salah satu bank pengkreditan.
Keterlibatannya dalam bank pengkreditan ini terjadi setelah perkenalannya dengan seorang wanita yang menawarinya kredit. Dia pun mengiyakan tawarannya. Pertama-tama dia hanya meminjam uang lima ratus ribu. Dia pun bisa membayarnya. Dia kembali meminjam uang di bank dengan pinjaman yang lebih besar seiring kebutuhannya yang semakin besar pula. Namun, lama-kelamaan pinjamannya menggelembung dengan adanya bunga yang ditetapkan oleh bank tersebut.
Maklum, bank tersebut menggunakan sistem riba di dalamnya.
Dia pun memutuskan untuk meminjam uang ke bank lainnya untuk menutupi pinjaman dari bank pertama. Memang tujuan untuk menutupi pinjaman pokok tertutupi. Namun bunga yang masih terdapat di bank itu tetap saja ada. Akhirnya dia pun meminjam uang ke bank lainnya. Begitu seterusnya.
Kegiatan tambal-sulam ini menjadikan Bu Dwi pun terbelit pinjaman dari bank-bank. Bukan hanya dari pinjaman pokoknya, tetapi juga bunga bank yang semakin lama semakin membesar.
Berselang waktu yang tidak lama, datang seorang laki-laki bertubuh kekar yang mengaku debt collector ke rumahnya. Dia bermaksud menagih pinjaman bu Dwi karena pinjamannya sudah jatuh tempo. Pertama-tama dia meminjam tetangganya. Tetapi debt collector yang lain datang lagi. Namun kali ini dia tidak bermaksud untuk meminjam ke tetangganya. Dia bersembunyi di tempat lain dan bilang ke anaknya bahwa dia sedang di luar kota, ada keperluan dan macam-macam alasan lainnya.
Namun seperti pepatah, “Sepandai-pandai bangkai disembunyikan, akhirnya tercium juga.” Bu Dwi pun kepergok oleh seorang debt collector. Dan dia pun dimarah-marahi karena pinjamannya sudah jatuh tempo.
Singkat cerita, semenjak terlibat dengan urusan bank ini, hidupnya tak pernah tenang. Tiap hari, perasaannya dihantui kecemasan dan rasa ketakutan.
Pernah juga dia diancam oleh debt collector bila tak segera melunasi tagihannya. Begitu juga seterusnya seperti itu.
Ketakutannya ini akhirnya membuatnya berisikap gelap dan tak berpikir panjangan. Dia mulai menjual barang-barang kepunyaannya, mulai gelang, kalung, motor hingga TV yang biasa jadi tontonan satu keluarga. Hingga pada akhirnya, barang-barang yang sekiranya bisa dijual dengan harga mahal pun sudah tidak ada lagi alias ludes.
Ibarat harta tinggal tikar, keadaan masih tak berubah. Kondisinya masih saja seperti dulu, tertekan dan stress. Rupanya, anak-anaknya --terutama yang sudah SMP dan SMA-- sudah bisa merasakan apa yang dialami ibunya.
Dalam keadaan seperti ini, Bu Dwi tak ingin membuat suasana rumah dan kondisi menjadi ikut mengguncang jiwa anak-anaknya. Semenjak itu, ia mulai mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dia mulai terlihat aktif sholat berjamaah di masjid dan mulai aktif ikut pengajian setiap malam Jum’at di RT.
Dalam kesempatan berada di masjid tersebut, dia mengadukan segala persoalannya kepada Allah SWT. Dan di kesempatan pengajian tersebut, dia mencurahkan permasalahannya kepada tetangganya yang dipercayainya.
Perubahan perilaku Bu Dwi yang menjadi semakin alim itu semula membuat heran para tetangganya. Karena pada sebelumnya dia memang dikenal jarang sholat, apalagi ke masjid atau ikut pengajian. Namun, hal itu tak diperhatikannya. Dia tetap melakukan amal kecil-kecil secara istiqomah.
Dalam kepasrahan doanya selama ini, tiba-tiba datang seorang wanita istri seorang sang pemilik toko bangunan yang juga donatur utama pengajian setiap malam Jum’at di RT. Singkat cerita, sang ibu, rupanya ibu dengan penderitaan bu Dwi setelah mendengarkan curahan hatinya.
Akhirnya, istri pemilik tokok ini berusaha membantu sesuai kemampuannya. Dia menawari mengambil anak pertamanya sebagai pegawai di tempatnya setelah pulang sekolah. Selain itu, ia menjadikan anak keempat bu Dwi yang masih SD sebagai anak asuhnya.
Bu Dwi percaya, inilah pertolongan dari Allah melalui tangan kedermawanan suami-istri yang memiliki toko bangunan ini. Singkat cerita, hati bu Dwi bahagia tak kepalang. Untuk menunjukkan rasa syukurnya kepasa Allah, ia akhirnya terus memperbanyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Kini, semua anak-anaknya telah dewasa dan bekerja. Sedikit banyak, mereka telah ikut membantu ekonomi keluarga.
Apa yang dilakukan Bu Dwi ini sebenarnya telah dijanjikan oleh Allah Ta'ala.Di antaranya,Allah telah berfirman tidak akan mengabulkan do'a bagi siapa saja yang makanannya diperoleh dengan cara haram, seperti riba (bunga bank), menipu, memakan harta orang lain dengan cara batil.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu , ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda:
"Wahai Manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, Dia tidak menerima ke-cuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa-apa yang diperintahkan oleh para rasul. Maka Dia berfirman, 'Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (Al-Mukminun: 51) dan Dia berfirman, 'Hai orang-orang yang beriman, makan-lah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (Al-Baqarah: 172).
Dan benar saja, semenjak itu, Bu Dwi tak ingin terlibat lagi dengan urusan pinjam-meminjam di bank, apalagi urusan bunga. Dan sejak terlepas dari Bank dan urusan riba ini, hidupnya lebih menggairahkan. Semoga kisah Bu Dwi ini, dapat jadi pelajaran bagi yang lain.*/diceritakan oleh Rian
BANTUAN ITU DATANG SETELAH SHOLAT TAHAJJUD
“Anu, Abi. Beras di dapur sudah habis. Bingung besok enggak ada yang dimasak,” jawabnya sambil menunjukkan karung beras yang sudah kosong melompong.
Kekhawatiran istriku bisa dimaklumi. Pasalnya, jika besok tidak ada beras yang dimasak, maka tiga belas anak yayasan yang kami asuh terancam bakal tidak makan. Itu berarti, mereka akan berangkat sekolah dengan perut kosong.
“Umi tenang saja, ya. Meski beras sudah tidak ada, tapi kita masih punya satu malam untuk shalat tahajud dan meminta kepada Allah,” kataku menenangkan dengan penuh kenyakinan.
“Iya abi, umi yakin. Semoga saja Allah yang Maha Pemberi rezeki berkenan membantu kita,” harapnya meski kekalutan masih tergambar di wajahnya.
Malam harinya, pukul 2.30 dini hari saya dan istri bangun. Sekitar sepuluh menit berwudhu dan memakai pakaian shalat. Setelah itu membangunkan anak-anak yang sedang tidur pulas. Cukup sulit juga membuat mata mereka melek. Meski sudah dipukul pelan dengan sajadah dan kata-kata “Shalatul lail” berulang kali, tetap saja mereka tidak bangun-bangun.
Parahnya lagi, bila ada yang sudah bangun, tak jarang yang tidur lagi. Cukup lama memang agar mau membuka mata mereka melek dan langsung mengambil air wudhu. Mungkin karena masih kecil-kecil jadi sulit dibangunkan. Tapi, setelah sekitar 15 menit dan beberapa kali dibangunkan, akhirnya mereka pun semua bangun.
Sembari menunggu mereka siap-siap, saya dan istri shalat lebih dulu. Biasanya, mereka akan menyusul shalat. Dalam suasana syahdu di sepertiga malam itu saya pun berdoa dan memohon kepada Allah SWT. Kedua tangan kutengadahkan ke langit. Istri dan anak-anak mengamini meski dengan mata merem-melek menahan kantuk.
“Ya Allah, Engkau Maha Kaya. Berilah rezeki yang halal dan berkah untuk kami ya Allah. Kami tidak memiliki apa-apa kecuali dari-Mu. Jika ia ada di langit, turunkanlah, jika di bumi keluarkanlah, jika kotor sucikanlah. Terdengar suara amin para santri. Air mataku meleleh.
Subhanallah. Pagi sekitar pukul 10.00 tiba-tiba datang seseorang perempuan membawa empat karung beras. Entah tahu dari mana, tapi kata perempuan itu ia sengaja mencari yayasan di daerah itu, Sidoarjo, Jawa Timur. Yayasan kecil kami terletak jauh di dalam gang. Tak banyak orang tahu. Selain itu, di sekitar juga banyak yayasan lain jauh lebih besar dan terkenal.
Saya yakin, ia dikirim oleh Allah. Dan saya yakin, itu jawaban atas doa anak-anak yayasan semalam.
“Subhanallah, ternyata betul ya Abi. Allah pagi ini buktikan janji-Nya,” kata istri setelah mengantar dermawan itu pulang.
Sejak itu, saya dan istri makin yakin kekuatan shalat malam. Shalat malam bisa menjadi senjata untuk mengundang pertolongan Allah setiap saat dan dalam kondisi apapun.
Sejak saat itu pula, saya, istri dan seluruh penghuni yayasan melakukan shalat tahahud tiap malam. Dan ternyata, hingga kini Allah selalu mencukupi kebutuhan kami. Kami tidak pernah kelaparan. Pertolongan seperti itu juga sering kami alami.
Pernah suatu saat, tiba-tiba seseorang datang jauh-jauh dari Malang. Kata lelaki yang memiliki salon itu, ia bermimpi disuruh untuk memberikan sedekah ke sebuah yayasan di daerah tersebut.
Ciri-ciri yayasan itu, katanya kecil dan ustadz pemangkunya berbadan kurus. Maka, dicarilah yayasan yang dimaksud dalam mimpinya itu. Tapi, sudah dicari-cari tak jua ketemu. Ketika menemui yayasan kami, yakinlah orang tersebut jika yayasan itu yang ada dalam mimpinya.
“Iya, ini pesantrennya yang ada dalam mimpi saya,” katanya. Meski berkali-kali saya pertanyakan jangan-jangan bukan yayasan ini yang dimaksud, tapi ia tetap bergeming. Ia pun memberi uang Rp 2 juta rupiah.
Tidak hanya itu. Pernah juga ada kejadian serupa. Ceritanya, ada seseorang nyasar yang ingin memberi bantuan. Ia sebenarnya ingin memberi sedekah ke yayasan lain. Tapi, entah kenapa, ia justru datang ke yayasan kami. Saya pun menjelaskan jika yayasan ini bukan yang ia maksud dan memintanya agar menyalurkan sedekahnya ke yayasan semula.
Tapi, meski sudah berkali-kali dibujuk, ia tetap saja bersikukuh. “Sudah, sedekah ini saya berikan untuk yayasan ini saja,” paparnya. Karena tak bisa menolak, sedekahnya pun kami terima. Dalam hati saya berucap dengan sedikit bergurau: “Ternyata, malaikat pinter juga ya mengalihkan orang berbuat baik.”
Saya sendiri sudah beberapa tahun menjadi pengasuh di yayasan Islam di Sidoarjo milik salah satu ormas Islam. Yayasan itu belum terlalu besar. Gedungnya saja masih milik orang lain, hanya disuruh menempati saja. Ada tiga belas anak yang masih sekolah, dari bangku SD hingga SMA. Mereka dari berbagai daerah, ada dari Sidoarjo sendiri, Balikpapan, Madura, Semarang, Surabaya, dan deerah lainnya.
Seperti yayasan pada umumnya, pembiayaan gratis dan berasal dari umat Islam. Tapi, kendati demikian, saya tak pernah khawatir Allah telantarkan kami. Karena itu, agar Allah tak pernah sepi menolong, maka tiap malam kami harus sering meminta dan menagih janji-Nya.
ALLAH MENGGANTINYA DG SEORANG KHAFIDZAH
DI PAGI buta itu, Ustadz Sholeh, demikianlah laki-laki itu biasa dipanggil, tengah asyik membersihkan sepedah motornya. Maklum, hari itu dia memiliki jadwal mengisi pengajian di luar kota. Karenanya, agar perjalanan lancar, dia kudu membersihkan, serta mengecek ’kesehatan’ kendaraan roda duanya, agar di pertengahan jalan tidak menjadi momok.
Dengan menggunakan kain seadanya, dia mengelap sedikit demi sedikit sepedahnya tersebut. Mulai dari sepion, hingga jeruji-jeruji ban, semuanya dibersihkan.
Setelah sesi pembersihan selesai, dia mengecek bensinnya. Diperediksi kurang, Sholeh pun langsung bergegas mengambil gerigen kecil berisi bensin, di dalam rumah. Tak dinyana, ternyata gerigen tersebut menjadi penyebab seluruh keluarganya –kedua anaknya, istri dan cabang bayi yang sedang dikandung- mati terbakar oleh api secara bersamaan.
Amukan Si-Jago Merah
Menurut keterangan Hasan, salah satu sahabat karibnya, peristiwa nahas tersebut bermuara dari keteledoran Sholeh yang meletakkan gerigen bekas bensin tersebut di samping kompor. Nah, selepas keberangkatannya menuju tempat pengajian, si-istri meminta kedua anaknya untuk menyalakan kompor, karena dia ingin memasak.
Ketika si-buah hati menyalakan kompor itu lah, api langsung menyambar gerigen, dan langsung menimbulkan ledakkan. Karena jarak mereka terlalu dekat dari sumber api, mereka akhirnya tidak bisa mengelak, dan langsung menjadi objek amukan api.
Di lain pihak, ketika mendengar suara ledakkan itu, Diana, nama si-ibu tersebut langsung berlari ke arah dapur, untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
Menyaksikan kedua anaknya tengah merenggut nyawa karena terbakar api, Diana bak tersambar halilintar di siang bolong. Karenanya perempuan yang biasa berjilbab besar itu, langsung mengambil langkah seribu, guna menyelamatkan buah hatinya.
Sayangnya, perempuan yang juga tengah hamil tua tersebut bukan saja gagal menyelamatkan kedua anaknya, tapi dia juga tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari bara api. Akhirnya, mereka semua menjemput ajal mereka masing-masing, meninggalkan Sholeh yang tengah menuju tempat pengajian.
Ikhlas dan Ridho
Dikalangan masyarakat sekitar rumah dan kerabat-kerabatnya, Sholeh dikenal sebagai sosok yang ’alim. Dia mahir dalam bidang ilmu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Tafsir. Tidak hanya itu saja, dia juga seorang khuffadz (sebutan bagi para penghafal Al-Quran).
Pemahamannya yang tinggi akan ilmu agama itu pula, yang menjadikannya tetap teguh, sabar, menerima cobaan yang luar biasa berat itu.
Hal itu bisa dibuktikan dengan cara Sholeh menyikapi musibah tersebut. Menurut pengakuan Hasan, Sholeh sama sekali tidak menunjukkan mimik atau tingkah laku yang berlebihan. Lebih-lebih gelagat orang frustrasi. Tidak sama sekali. Dia tetap tenang. “Mungkin itu karena kefakihannya dalam memandang suatu musibah. Bahwa semuanya bersumber dari Allah, dan semua akan kembali kepada-Nya”, papar ayah dua anak ini.
Apa lagi, lanjut Hasan, ketika para sahabatnya menghiburnya dengan membacakan janji-janji Allah yang termaktub dalam Al-Quran atau Al-Hadits, tentang kebaikkan yang akan diterima seorang hamba yang ditimpa musibah.
”Beliau itu kan ahli agama. Jadi, ketika kita hibur dia dengan ayat-ayat/hadits-hadits tersebut, beliau tersenyum, dan mengucapkan terima kasih telah menguatkannya” terang laki-laki berjenggot tebal itu.
Dan masih menurut pengakuan Hasan, salah satu ayat yang menjadi penghibur lara tersebut adalah, bahwa Allah akan mengganti apa saja yang hilang dari setiap hambanya, dengan sesuatu yang lebih baik. ”Jadi, kami katakan kepada beliau. Insya Allah ke depan akan mendapat istri dan anak yang lebih baik, lebih sholeh dan sholehah, lebih taat kepada Allah dan Rosul-Nya”, jelasnya.
Benar saja, tidak lama setelah sepeninggal istri dan anak-anaknya, Sholeh menemukan jodohnya kembali dengan seorang muslimah, yang ternyata dia juga seorang khafidzah. Tidak hanya itu, dia juga mendapat kesempatan untuk melanjutkan studinya dibidang Tafsir, di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta. Maha suci Allah yang telah menunjukkan kebenaran akan janji-janji-Nya.
Aroma Wewangian
Ketika para pen-takziah, berkeruman mendatangi rumah duka, menurut Hasan, ada sesuatu yang ’janggal’ yang dirasakan para pen-takziyah. Mereka mencium aroma kebakaran. Sepertinya, di tempat itu tengah terjadi kebakaran yang sangat dahsyat. Pada hal tidak sama sekali, karena jenazah tersebut telah dievakuasi di kediaman kerabat Sholeh, yang letaknya berjauhan dengan lokasi kebakaran.
Namun tidak lama berselang, para pelayat, merasakan aroma wewangian, yang memenuhi setiap sisi ruangan tersebut. Terang saja, menyaksikan keanehan ini, tidak sedikit para jamaah yang keheran-heranan.
”Mungkin itu satu tanda kalau mereka termasuk orang-orang yang mati syahid. Dan mudah-mudahan gelar tersebut benar-benar mereka dapatkan”, do’a Hasan untuk sahabatnya tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar