MENGENAL AL HABIB HUSEN BIN ABU BAKAR ALYDRUS
Beliau lahir di Migrab, dekat Hazam, Hadramaut, Datang di Betawi sekitar tahun 1746 M. Berdasarkan cerita, bahwa beliau wafat di Luar Batang, Betawi tanggal 24 Juni 1756 M. bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah dalam usia lebih dari 30 tahun ( dibawah 40 tahun ). Jadi diduga sewaktu tiba di Betawi berumur 20 tahun. Habib Husein bin Abubakar Alaydrus memperoleh ilmu tanpa belajar atau dalam istilah Arabnya “ Ilmu Wahbi “ , yaitu pemberian dari Allah tanpa belajar dahulu. Silsilah beliau : Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah bin Abubakar Al-Sakran bin Abdurrahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath.
Habib Husein yang lebih terkenal dengan sebutan Habib Keramat Luar Batang, mempunyai perilaku “ Aulia “ (para wali) yang di mata umum seperti ganjil. Seperti keganjilan yang dilakukan beliau, adalah :
Habib Husein tiba di Luar Batang, daerah Pasar Ikan, Jakarta, yang merupakan benteng pertahanan Belanda di Jakarta. Kapal layar yang ditumpangi Habib Husein terdampat didaerah ini, padahal daerah ini tidak boleh dikunjungi orang, maka Habib Husein dan rombongan diusir dengan digiring keluar dari teluk Jakarta. Tidak beberapa lama kemudian Habib Husein dengan sebuah sekoci terapung-apung dan terdampar kembali di daerah yang dilarang oleh Belanda. Kemudian seorang Betawi membawa Habib Husein dengan menyembunyikannya. Orang Betawi ini pun berguru kepada Habib Husein. Habib Husein membangun Masjid Luar Batang yang masih berdiri hingga sekarang. Orang Betawi ini bernama Haji Abdul Kadir. Makamnya di samping makam Habib Husein yang terletak di samping Masjid Luar Batang.
Habib Husein sering tidak patuh pada Belanda. Sekali Waktu beliau tidak mematuhi larangannya, kemudian ditangkap Belanda dan di penjara di Glodok. Di Tahanan ini Habib Husein kalau siang dia ada di sel, tetapi kalau malam menghilang entah kemana. Sehingga penjaga tahanan (sipir penjara) menjadi takut oleh kejadian ini. Kemudian Habib Husein disuruh pulang, tetapi beliau tidak menghiraukan alias tidak mau pulang, maka Habib Husein dibiarkan saja. Suatu Waktu beliau sendiri yang mau pergi dari penjara.
Sumber dari Buku Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi – Idrus Alwi Almasyhur
BIOGRAFI AL-HAFIZH IBNU KATSIR
Beliau adalah seorang yang dijuluki sebagai al-Hafizh, al-Hujjah, al- Muarrikh, ats-Tsiqah Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir al- Qurasyi al-Bashrawi ad-Dimasyq asy-Syafi’i.
Lahir di sebuah desa yang bernama Mijdal daerah bagian Bushra pada tahun 700 H. Ayahnya meninggal ketika beliau berusia tiga tahun dan beliau rerkenal sebagai khatib di kota itu. Adapun Ismail Ibnu Katsir merupakan anak yang paling bungsu. Beliau dinamai Ismail sesuai dengan nama kakaknya yang paling besar yang wafat ketika menimba ilmu di kota Damaskus sebelum beliau lahir. Pada tahun 707 H, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus, dan di sanalah dia mulai menuntut ilmu dari saudara kandungya Abdul Wahhab2 Ketika itu dia telah hafal al-Qur’an, dan sangat menggandrungi pelajaran hadits, fikih, maupun tarikh. Beliau juga turut menimba ilmu dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Wafat tahun 728 H). Begitu besarnya cintanya kepada gurunya ini sehingga dia terus-menerus bermulazamah (mengiringinya), dan begitu terpengaruh dengannya hingga mendapat berbagai macam cobaan dan hal-hal yang menyakitinva demi membela dan mempertahankan gurunya ini.3
Pergaulan dengan gurunya ini membuahkan berbagai macam faedah yang turut membentuk keilmuannya, akhlaknya dan tarbiyah kemandirian dirinya yang begitu mendalam, karena itulah beliau menjadi seorang yang benar-benar mandiri dalam berpendapat. Beliau akan selalu berjalan sesuai dengan dalil, tidak pernah ta’assub (fanatik) dengan mazhabnya, apalagi mazhab orang lain, dan karya-karya besarnya menjadi saksi atas sikapnya ini.4 Beliau selalu berjalan di atas Sunnah, konsekuen mengamalkannya, serta selalu memerangi berbagai bentuk bid’ah dan fanatik madzhab.
Di antara guru beliau yang terkemuka selain Ibnu Taimiyah, Alamuddin al- Qashim bin Muhammad al-Barzali (wafat tahun 739 H) dan Abul Hajjaj Yusuf bin az-Zaki al-Mizzi (wafat tahun 748 H). Para ulama di zamannya maupun yang datang sesudahnya banyak memberikan kata pujian terhadap dirinya, di antaránya ai-Imam adz-Dzahabi yang berkata mengenai dirinya, “Beliau adalah ai-Imam al-Faqih al-Muhad-dist yang ternama, seorang faqih yang handal, ahli hadits yang tersohor, serta seorang ahli tafsir yang banyak menukil.”5 Muridnya yang bernama Ibnu Hijji berkata, “Dia adalah orang yang pernah kami temui dan paling kuat hafalannya terhadap matan hadits, paling paham dengan takhrij dan para perawinya, dapat membedakan yang hadits shahih dengan yang lemah, banyak menghafal di luar kepala berbagai kitab tafsir dan tarikh, jarang sekali lupa, dan memiliki pemahaman yang baik serta agama yang benar.”6
Al-Allamah al-Aini berkata, “Dia adalah rujukan ilmu tarikh, hadits,dan tafsir.”7
Ibnu Habib berkata, “Dia masyhur dengan kekuatan hafalan dan redaksi yang bagus, dan menjadi rujukan dalam ilmu tarikh, hadits maupun tafsir.”8 Di antara karya besarnya, Tafsir al-Qur’anuí Azhim, Jami’ al-Masanid iya as- Sunan, at-Takmu fi Ma’rifatis Tsiqat wa ad-Dhuafa’ wa al-Majahil -dalam kitab ini beliau menggabungkan apa yang terdapat dalam kitab Tahdzibul Kamal karya besar al-Mizzi dan Mizanul ‘idal karya adz-Dzahabi dengan sedikit penambahan dalam ilmu jarh wa at-ta’du- dan kitab lainya yaitu al-Bidayah wan Nihayah.
1. Kejadian makhluk-makluk besar seperti ‘Arsy, kursi, langit, bumi, apa-apa yang terdapat di dalamnya
Kitab terakhir ini merupakan ensiklopedi ilmu sejarah. Beliau memulai kitabnya ini dengan menyebutkan kejadian makhluk-makluk besar seperti ‘Arsy, kursi, langit, bumi, apa-apa yang terdapat di dalamnya dan apa-apa yang terdapat di antara langit dan bumi berupa para malaikat, jin maupun setan-setan kemudian beliau berbicara tentang proses penciptaan Adam as, kisah para nabi dan Rasul hingga zaman Isa bin Maryam as, kisah umat-umat yang semasa dengan mereka, sikap para umat terhadap para rasul yang diutus ketengah mereka, dan bagaimana akhir dari perjalanan dan nasib umat-umat tersebut, dengan inilah beliau mengkahiri bagian pertama dari kitabnya.
2.Adapun bagian kedua,
Kitab ini memuat berita umat-umat terdahulu dari bani Israel dan umat lainnya, hingga akhir zaman al-fatrah (masa kekosong-an nabi, pent.) kecuali zaman Arab pra-Islam dan masa jahiliyyah (di mulai dari juz 2/102) menurut naskah cetakan Darul Fikri di Beirut tahun 1398 H-1978 M.
3. Bagian ketiga,
Kitab ini memuat berita tentang sejarah Arab (dari juz 2/156) dan diakhiri dengan pernikahan antara Abdullah bin Abdul Muth-thalib dengan Aminah binti Wahab, Ibu Rasulullah saw.
4.Bagian keempat,
Kitab ini memuat sirah (sejarah) Rasulullah saw. (dimulai dari juz 2/252). Penulis mulai menerangkan tema sirah Nabi dengan pemba-hasan yang panjang, beliau membaginya menjadi beberapa bagian,
Pertama, mulai masa kelahiran Rasul hingga beliau diutus sebagai Rasul
Kedua, mulai masa beliau diutus sebagai Rasul hingga hijrah.
Ketiga, Peperangan-peperangan, pasukan-pasukan kecil yang dikirim (detasemen/ saariyah), pengiriman para utusan, haji wada’, sakit beliau hingga wafatnya. Ibnu Katsir mengulasnya sesuai dengan kronologis waktu. Dimulai dari tahun pertama hijrah, kemudian beliau menulis biografi Nabi, istri-ístri beliau, surat-surat yang beliau kirim, para penjaganya, kuda-kudanya, pakaianpakaiannya.dan seterusnya, kemudian menutup pembicaraan tentang sirah nabi dengan tema-tema yang berkaitan dengan sirah di antara-nya, kitab Syama’il (6/11) kemudian kitab Dala’il an-Nubuwah (tanda-tanda kenabian) (6/65) kemudian beliau berbicara mengenai fadha’il (keutamaan nabi) dan kekhususan beliau (6/257)
5. Bagian kelima,
Kitab ini memuat sejarah Islam pertama, catatan kejadiankejadian penting pada masa itu, serta catatan wafatnya tokoh-tokoh penting. Beliau menyusun kejadian-kejadian itu sesuai dengan urutan tahun. Dimulai dari tahun ke 11 hijriyah (juz 6/301), metode beliau dalam bagian kelima ini, yaitu menyebutkan kejadian-kejadian penting setiap tahun, Kemudian barulah beliau menyebutkan wafatnya tokoh-tokoh penting pada tahun itu. Beliau banyak menyebutkan biografi dari tokoh-tokoh tersebut, walaupun terkadang beliau hanya menyebutkan tahun wafat mereka saja, dan begitulah seterusnya metode pengarang hingga akhir buku ini. Kitab tarikh yang beliau tulis ini berhenti hingga tahun 768 H, yaitu tujuh tahun sebelum beliau wafat.
6. Bagian keenam,
Kitab ini memuat tentang fitnah dan bencana yang akan terjadi di akhir zaman, tanda-tanda hari kiamat, kemudian mengenai hari berbangkit, berkumpulnya manusia di padang mahsyar, karakter neraka maupun surga. namun sayang bagian ini tidak dicetak bersamaan dalam kitab ini, tetapi dicetak secara terpisah dengan judul, an-Nihayah fi al-fitan zua al-Malahim walaupun sebenarnya beliau telah menyebutkan bagian ini dalam mukaddimah,9 dan beliau kembali menyebutkan perihal ini diakhir pembahasan tentang sirah nabi,10 dan itulah yang beliau maksud dari kata wan Nihayah dalam judul kitab.
METODE DAN REFERENSI YANG DlGUNAKAN
Dalam menulis karya besar ini al-Hafizh Ibnu Katsir menggunakan referensi dasar yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, dibarengi dengan atsar dan khabar yang maqbul (diterima) oleh para ulama pewaris nabi yang biasa mengambil rujukan dari lentera sunnah nabi Muhammad saw. Beliau berkata, “Kami tidak akan menyebutkan riwayat-riwayat Israiliyyat, kecuali yang telah diizinkan syariat untuk dinukil yang tidak menyelisihi al-Qur’an dan sunnah RasulNya saw, dan inilah bagian dari hal-hal yang tidak boleh dibenarkan ataupun didustakan yang biasanya menceritakan secara lebih luas berita-berita ringkas yang terdapat dalam agama kita, seperti penyebutan nama yang tidak disebutkan dalam syariat kita, yang hakikatnya tidak begitu penting untuk kita ketahui detailnya, maka dalam hal ini kami akan sebutkan sebagai pelengkap saja bukan sebagai hujjah yang akan dijadi-kan sebagai landasan, sebab sandaran
Sebenarnya hanyalah al-Qur’an yang mulia dan riwayat-riwayat yang dinukil secara shahih ataupun hasan, adapun riwayat-riwayat yang lemah akan kami jelaskan kelemahannya.”11 Inilah metodologi yang dipakai pengarang bukubuku sirah nabi dan berita-berita para nabi sebelumnya, dan demikian juga halnya metode yang dipakai pada bagian akhir kitab ini (tentang fitnah dan huru-hara hari kiamat) beliau selalu bersandar kepada al-Qur’an dan riwayat-riwayat hadits yang menafsirannya baik secara marfu’ ataupun mauquf, baik hadits tersebut shahih ataupun hasan, dan beliau akan menyebutkan riwayat yang terdapat kelemahan di dalamnya sambil mengingatkannya.
Keunikan metode ini, beliau selalu menyebutkan hadits-hadits maupun atsar lengkap dengan sanadnya, agar para pembaca maupun peneliti dapat mengetahui kedudukan sanad tersebut, dan akan lebih mudah untuk meng-kritisinya, beliau tidak pula menyebutkan berita Israiliyyat kecuali yang dibolehkan syariat saja, selain itu beliau tidak menyebutkannya kecuali untuk mengingkarinya.
Beliau telah menyebutkan kritikannya kepada ulama-ulama umat ini yang memuat dalam buku-buku mereka riwayat israiliyyat, beliau berkata, “Kami tidak akan mengikuti jejak mereka, ataupun menempuh jalan mereka, kami tidak akan sebutkan riwayat-riwayat seperti itu kecuali sedikit saja agar lebih ringkas,
kemudian akan kami terangkan yang haq dan yang sesuai dengan apa-apa yang terdapat dalam agama kita, adapun berita yang menye-lisihi konsep agama kita pastilah akan aku ingkari.”12
Jadi referensi beliau di bagian pertama adalah sebagai berikut,
1.Al-Qur’anul karim dan kitab-kitab tafsir bil ma’tsur (tafsir dengan atsar maupun hadits, pent), kemudian asbabun nuzul (sebab turun ayat).
2. Sunnah-sunnah yang diriwayatkan dari Nabi saw| baik yang terdapat dalam kitab-kitab Shahih (yang memuat hadits shahih saja, pent), kitab Sunan, Musnad, maupun Jami’.
3. Atsar yang dinukil dari perkataan sahabat dan para tabi’in.
4. Kitab-kitab yang terdahulu seperti, Taurat dan Injil, namun beliau akan memilih-milih dari kitab tersebut -sebagaimana yang beliau sebutkan lebih dari sekali-, berita-berita yang boleh kita riwayatkan sebagaimana sabda Nabi saw,
“Silakan menyampaikan riwayat dari bani Israil tidaklah mengapa, namun siapa saja yang berdusta atas namaku maka hendaklah mangambil tempat di neraka.”13
5. Di antara referensi beliau dalam penulisan sirah, kitab-kitab maghazi wa ad dalailun nubuwwah, khususnya kitab Maghazi Ibnu Ishaq dan Musa bin Uqbah, ataupun kitab Dalail an-Nubuwwah karya Abu Nu’aim ataupun Dalilun Nabi karya al-Baihaqi. Disebabkan begitu luasnya bacaannya dan hafalannya terhadap sunnah nabi, sehingga seolah-olah beliau benar-benar mengusai semua yang terdapat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan, Musnad, Mushannaf, dan kitab-kitab tafsir bil ma’tsur yang berkaitan dengan tema-tema yang terdapat dalam sirah nabi. Adapun referensi beliau dalam menulis kejadian-kejadian penting dan wafatnya para tokoh adalah kitab-kitab yang telah disebutkan tadi, khususnya penukilan dari kitab Tarikh Rusul wal Muluk karya Ibnu Jarir ath-Thabari (wafat 310 H), Tarikh Madinah ad-Dimasyqi karya Ibnu Asakir (wafat 571 H), kitab al- Muntazham karya Ibnu al-Jauzi (wafat 597), kitab al-Kamilfi at-Tarikh karya Ibnu al-Atsir (wafat 630).
Adapun ketika menulis Masa Dinasti Ayyubi dan Dinasti Mamalik beliau bersandar kepada kitab penulis yang hidup di zaman itu, seperti Kitab Mir’atu az- Zaman fi Tarikh al-A’yan karya Sibt al-Jauzi (wafat 653 H) dan kitab ar-Raudatain fi akhbar ad-Daulatain an-Nuriyah wa as-Salahiyyah karya Abdurrahman bin Ismail al-Maqdisi (wafat 669 H), kitab al-Jami’ al-Mukhtasar `fi Unwan at-Tawarikh wa Uyun as-Siyar karya Ibnu Anjab yang dikenal dengan Ibnu as-Sa’iy (wafat 673), kitab Wafayatul’A'yan wa anba’u Abnai az-Zaman karya al-Qadhi Ibnu Khalkan (wafat 681 H), kitab Qutbuddin al-Yunini (wafat 736 H) yang merupakan syarah 13 Diriwayatkan oleh al-Bukhar¡ dalam Sfjahiñnya, Kitab Ahadits al-Anbiya. (b/ 496 dengan FathulBan). kitab Mir’atu az Zaman karya Sibt al-Jauzi, kitab al-Muqtafa fi at-Tarikh yang
merupakan penjelasan dari kitab Tarikh Abu Syarnah karya Alamuddin al-Qashim al-Barzali (wafat 739 H).14
Beliau juga banyak mengambil referensi dari kitab Tarikh Islam karya imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H) khususnya ketika menukil tanggal wafat para tokoh dan biografi mereka, tidak hanya itu saja tetapi beliau juga banyak mengambil dari sejarah yang beliau alami dan beliau saksikan sen-diri. Ditambah pula dengan sejarah yang dialami dan saksikan para gurunya. Di antara sekian informasi
sejarah penting itu beliau lebih mengkhususkan diri dengan mengkaji berbagai keterangan dari berita-berita yang disampaikan guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, baik mengenai perdebatannya dengan lawan-lawannya, sepak terjangnya dalam berjihad maupun sikapnya.
Nampak jelas bagi kita dari buku ini betapa luas wawasan Ibnu Katsir dalam masalah ilmu-ilmu syariat, istiqomah dan kelurusan aqidah maupun pemikirannya dan kecenderungannya terhadap sunnah nabi. Tidak hanya sekedar menukil, tetapi beliau banyak mengkritisi nash-nash yang sampai kepadanya, selain itu beliau akan saring dan pilih dengan seksama sambil terus berusaha untuk meringkas, merangkum, mengkritik sanad dan matannya, dan terkadang mendiskusikan serta membantah pendapat-pendapat yang keliru dengan buah pikirannya yang jelas dan jitu. Namun terkadang terlihat dirinya mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu meski-pun sebenarnya beliau tidak merasa puas dengan berbagai pendapat terse-but.15
1 – Bidayah wan Nihayah, 31/ 142.
2 Az-Zahab, 6/232
3 Ahmad Syakir, MuqoddimahUmdah At-Tafsir, 1/28
4 Al-Mu’jam al-Mukhtas, Him. 74
5 An-Nuaimi, ad-Darís fi Akhbar al-Madarís 1/ 36-37.
6 An-Nujum adz-Dzahirah 11/123
7 Syazarat asz-Dzahab 6/231.
8 Al-Bidayah wan Nihayah, 1/6.
9. Lihat Mas’ud ar-Rahman an-Nadawi, Ibnu Katsir ka al-Muarrikh him. 116-121, 136-139
10 Al-Bidayah wan Nihayah, 8/202.
ULAMA , WARA DAN PERADAPAN ISLAM
Mengapa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin ia berbuat salah? Apa kalau begitu, tidak sebaiknya menjadi orang bodoh saja?” Begitu tanya seorang teman dekat saya. Saya tentu saja tertegun dibuatnya. Bukan apa-apa, dia adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Timur.
Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin pertanyaan ini lahir dari para mahasiswa yang sedang berada di jenjang pendidikan tinggi. Tidakkah mereka menyadari bahwa mereka sendiri sedang berproses menjadi orang “pintar”? Bukankah dia berada di sebuah perguruan tinggi Islam, yang seharusnya menjadi tempat pelopor bagi “kegiatan intelektual” umat Islam.
Lalu, bagaimana peradaban Islam akan maju jika umatnya berpandangan dan bersikap demikian? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan ini, saya menyadari, yang ketika itu mereka fikirkan dan yakini, yang kemudian mereka ekspresikan ke saya dalam bentuk pertanyaan, adalah satu ‘akumulasi’ kebingungan, kegundahan, dan pencarian jawaban.
Tak dapat disangkal, inilah hasil dari “menu” harian kita. Di mana banyak orang dengan pendidikan tinggi “mempertontonkan” kecerdikannya dalam menyakiti rakyat. Lihatlah kasus korupsi yang sedang ramai menjadi perhatian kita. Para pencuri dan penilap uang rakyat bukanlah orang-orang bodoh. Mereka justru orang-orang pandai dengan latar-belakang ilmu yang tinggi.
Jika kasus-kasus kejahatan ekonomi dan sosial –dengan pelaku kejahatan adalah orang cerdik pandai—terus berlangsung, bukan tidak mungkin akan menjadi persepsi negatif di pikiran masyarakat bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, makin mudah baginya untuk menipu atau berjuat jahat.
Realitas ini menarik kita bahas tentang “siapa orang berilmu”? Dalam terminolgi Islam “orang yang berilmu” dikenal dengan ulama. Maka dari itu, kita perlu melihat kembali secara jernih dan mendasar, siapa sebenarnya ‘orang berilmu” dan siapa ulama sesungguhnya? Apakah setiap orang yang hanya karena telah menempuh satu pendidikan tertentu langsung disebut ulama? Jika tidak, lantas, siapa mereka (ulama)? Dan bagaimana seharusnya mereka bersikap dan menggunakan ilmunya?
Ulama: Orang yang memilki Ilmu
Terakhir ini ulama di monopoli oleh orang memilihi pengetahuan tentang Islam seperti Tauhid, Fikih, Akhlak Tashauf, Tafsir.Berbeda dengan ulama diabad pertengahan pengetahuan mereka berabaur antara Ilmu cabang keislaman dan Ilmu cabang filsafat sehingga saat itu sosok ulama berpadu anatara cendekiawan dan ulama.
Orang yang berilmu harus wara’
Wara’ Artinya menerapkan ilmunya untuk kemaslahatan, Jadi Yang punya Ilmu tentang ekonomi wara’ dalam ilmunya bukan membodohi orang lain dengan ilmunya, Yang punya Ilmu tentang perbankan wara’ dalam ilmunya jangan membodohi apalagi merugikan nasabah, yang punya ilmu hukum wara’ dengan ilmunya jangan malah memeilih jalan yang tidak diridhoi, Orang yang berilmu harus merasa bertanggungjawab dan merasa diawasi Tuhannya.
Untuk mengenal diri kita dari kaca mata keilmuan dan pengamalannya, menarik melihat apa yang dikatakan oleh Al-Khalil bin Ahmad: “Arrijaalu arba’ah: Rajulun yadrii wa yadrii an-nahu yadrii fadzalika ‘alimun fas-aluhu, wa ra julun yadrii wa laa yadrii an-nahu yadrii fadzalika naasin fa dzakkiruhu, wa rajulun laa yadrii wa yadrii an-nahuu laa-yaddri fa dzalika mustarsyidun fa-arsyiduhu, wa rajulun la yadrii wa laa yadriii an-nahuu laa yadrii fa dzalika jaahilun farfudhuhu.” (Orang itu terbagi menjadi empat karakter. Pertama, orang yang tahu, dan ia tahu bahwa dirinya tahu, dialah orang alim, maka bertanyalah (belajarlah) kepadanya. Kedua, orang yang tahu, tapi ia tidak tahu bahwa dirinya tahu. Inilah orang yang lupa. Maka ingatkanlah ia. Ketiga, orang yang tidak tahu, dan ia tahu bahwa dirinya tidak tahu. Inilah orang yang minta bimbingan, maka bimbinglah ia. Keempat, orang yang tidak tahu, tapi ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, inilah orang bodoh. Maka jangan bergaul dengannya) (Baca: Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Diin: 86).
Demikianlah, orang alim itu adalah orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu. Orang ini paham apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Tidak sekedar itu, ia juga tahu hak-hak ilmu, kemudian menunaikannya. Artinya, walaupun seseorang itu sudah menempuh jenjang pendidikan tertentu, namun ia belum dikatakan sebagai seorang ‘alim’ kecuali setelah mengamalkan ilmunya. Hal ini telah diungkapkan juga oleh Ali ibn Abi Thalib, “innamal alim man amila bima alima.” Ini karena tujuan utama ilmu adalah untuk diamalkan. Dan amal itu sendiri harus dilandasi oleh ilmu. Atau dengan kata lain, orang alim itu hanya mengamalkan apa yang diilmuinya.
Berikutnya, orang alim itu tidak akan merasa puas dengan ilmu yang diketahuinya. Justru ia akan merasa perlu untuk belajar dan terus belajar. Dalam hal ini, Abdullah bin Mubarak berkata, “Seseorang tetap dikatakan alim selagi ia terus menuntut ilmu. Jika ia menyangka ilmunya telah cukup, maka sesungguhnya dia masih bodoh.” Dan dalam sejarah, kita tahu, Imam Ahmad yang telah hafal satu juta Hadits (menurut ar-Razi), tidak pernah lepas dari pena dan tinta. Saat beliau ditanya oleh seseorang, “sampai kapankah Anda membawa tinta?” Beliau menjawab, “membawa tinta sampai ke kubur.” Di sini, sungguh beliau bertekad mencari ilmu hingga ajal menjemput. Sebuah proses pendidikan yang tuula az-zaman.
Atas dasar ini, tidak heran jika kelompok umat yang memiliki karakter kedua di atas tidak dimasukkan dalam golongan ulama. Sebab, mereka ini memang sudah mengetahui ilmu, tapi perbuatannya bertentangan dengan apa yang diketahuinya. Mungkin, sebagian besar dari kita masuk kategori ini. Kita sudah mengetahui suatu perintah, tapi belum juga melaksanakan. Sudah tahu yang haram, namun masih lebih sering terjerumus ke dalamnya. Padahal, di saat bersamaan kita juga tahu yang halal. Maka, dalam keadaan seperti ini kita perlu diingatkan. Misalnya dengan secara rutin mendatangi majelis-majelis. Insya Allah dengan cara ini, kelalaian kita akan cepat teratasi, sehingga kita bisa meningkat ke peringkat pertama tadi.
Jika tidak melakukan ini, berarti kita memelihara “kelalaian” itu. Padahal, tidak ada yang lebih berbahaya dari orang yang dianggap mengetahui ilmu, tapi menyengaja berbuat dosa. Na’udzubillahi min dzalik. Umar bin Khattab berkata:
قال عمر رضي الله عنه: إن أخوف ما أخاف على هذه الأمة المنافق العليم. قالوا وكيف يكون منافقا عليما؟ قال عليم اللسان جاهل القلب والعمل
(Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan terjadi pada umat ini adalah adanya seorang munafik yang alim.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana ada munafik tapi alim?” Beliau menjawab, “Yakni orang yang hanya pintar di lidah, namun bodoh dalam hati dan amalnya). Imam al-Ghazali menyebut mereka ini sebagai ‘ulama su’, yang justru akan melemahkan pondasi bangunan peradaban Islam.” (Baca: Ihya’ Ulumiddin).
Demikianlah, tidak semua orang yang punya ilmu itu disebut sebagai ‘alim (jamak: ‘ulama), apalagi mereka yang memang tidak berilmu, seperti yang tergambar dalam kategori ketiga dan keempat di atas.
Pemetaan ini penting kita ketahui, agar kita tidak salah dalam melihat fenomena yang berkembang, di mana ada sebagian orang yang punya ilmu malah “memimpin” pelanggaran ajaran agama. Jika tidak, kita akan berfikir, lebih baik tidak menuntut ilmu daripada ikut-ikutan terjerumus pada perbuatan salah itu. Padahal, sebagaimana dinyatakan oleh Sahl rahimahulla, “Tidaklah Allah Azza wa Jalla didurhakai dengan kedurhakaan yang lebih buruk dari kebodohan. Dan kebodohan yang paling parah adalah bodoh terhadap kebodohannya sendiri.“
Di samping itu, yang perlu kita sadari adalah, adanya “tuntutan” agar mengamalkan ilmu yang kita peroleh itu ‘tidak boleh’ meniadakan kemauan atau rasa tanggung jawab untuk menuntut ilmu. Sebab, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki merupakan satu kesalahan itu sendiri. Ini telah nyata tergambar dalam pernyataan Abu Hurairah ketika ditanya oleh seseorang:
وقال رجل لأبي هريرة رضي الله عنه: أريد أن أتعلم العلم وأخاف أن أضيعه، فقال: كفى بترك العلم إضاعة له.
(Sebenarnya saya ingin menuntut ilmu, tapi saya takut akan menyia-nyiakannya (yakni khawatir tidak bisa mengamalkannya).” Beliau menjawab, “cukuplah kamu dianggap menyia-nyiakan ilmu jika kamu tidak mau belajar).
Pondasi Peradaban
Apa yang terjadi di atas, selayaknya menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang telah mencapai tingkat tertentu dalam menuntut ilmu. Di mana gerak-gerik mereka sangat mempengaruhi pandangan masyarakat. Jika mereka berbuat positif, maka secara tidak langsung telah mengajak dan mendorong masyarakat untuk terus menuntut ilmu. Namun sebaliknya, jika dengan ilmunya itu kemudian seseorang malah berbuat yang tidak terpuji, tentu lambat laun ini akan memberi pengaruh negatif terhadap masyarakat luas.
Tentu, bagi kita semua, ketakutan masyarakat yang muncul akibat perilaku buruk orang-orang yang punya ilmu itu menjadi satu keprihatin. Bagaimana tidak, saat ini, kita sedang berjuang membangun kembali Peradaban Islam. Sejarah telah berbicara, kebangkitan peradaban Islam ditopang oleh ilmu pengetahuan sehingga, upaya membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang sedang nyaris lumpuh adalah dengan menegakkan kembali bangunan ilmu pengetahuan. Sebab dalam Islam, ilmu merupakan prasyarat untuk menguasai dunia, akhirat, dan dunia-akhirat sekaligus. Atau, dapat dikatakan, ilmu adalah akar peradaban dan peradaban adalah buah dari ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kemunduran umat Islam saat ini lebih karena krisis ilmu.
Melihat hal ini, tidak heran jika dalam perkembanganya, ulama-ulama yang lahir dari “aktifitas” menuntut ilmu tersebut sangat mewarnai maju-mundurnya peradaban Islam. Bahkan, bisa dibilang ‘sangat menentukan’.
Karena itu, sekali lagi, kita sangat prihatin manakala ada yang berfikir dan berpandangan bahwa aktifitas menuntut ilmu itu tidak akan mendatangkan suatu manfaat, bahkan sebaliknya. Sungguh, ini perlu pelurusan. Dalam hal ini, semoga tulisan yang serba singkat ini memberi sedikit kontribusi. Wallahu a’lam bi as-shawab.
IBNU QAYYIM AL JAUZIYAH
Tokoh ini dikenal sebagai imam, allamah, muhaqqiq, hafizh, ushuli, faqih, ahli nahwu, berotak cemerlang, dan banyak mengeluarkan karya. Nama lengkapnya Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, namun lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Kampung kelahirannya adalah Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damsyq (Damaskus), Suriah.
Berkat pendidikan intensif yang diberikan orangtuanya, Ibnul Qayyim pun tumbuh menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya. Terlebih ketika itu, bidang keilmuan sedang mengalami masa jaya dan para ulama pun masih hidup.
Dari ayahnya, Ibnu Qayyim belajar ilmu faraidl karena sang ayah memang sangat menonjol dalam ilmu itu. Selain itu, dia belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab Al-Mulakhkhas li Abil Balqa’, kitab Al-Jurjaniyah, juga sebagian besar kitab Al-kafiyah was Syafiyah. Kepada Syaikh Majduddin at-Tunisi dia belajar satu bagian dari kitab Al-Muqarrib li Ibni Ushfur.
Cakupan bidang keilmuannya demikian luas. Misalnya saja dia pernah belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, ilmu fikih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Harraniy. Dia pun terkenal dalam pengetahuannya tentang mazhab-mazhab Salaf.
Hingga akhirnya dia bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H. Ketika itu, Ibnu Qayyim sedang pada awal masa mudanya.
Oleh karenanya dia berkesempatan mereguk sumber ilmunya dari mata air yang luas. Pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dia cerna benar-benar. Ibnul Qayyim pun amat mencintainya, sampai-sampai dia mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim juga menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.
Mereka berdua seakan tak terpisahkan. Keduanya pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.
Banyak faedah besar yang dia petik selama berguru kepada tokoh kharismatik itu, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitab Alquran dan sunnah Rasulullah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus Shalih.
Ibnul Qayyim telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para ulama besar supaya dapat menyerap ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.
Penguasaannya terhadap ilmu tafsir tiada bandingnya. Pemahamannya terhadap ushuluddin mencapai puncaknya serta pengetahuannya mengenai hadis, makna hadis, pemahaman serta istinbath-istinbath rumitnya, sulit ditandingi.
Begitu pula, pengetahuannya di bidang ilmu suluk dan ilmu kalam-nya Ahli tasawuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail mereka. Ibnu Qayyim memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu ini.
Semua itu menunjukkan bahwa tokoh ini amat teguh pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syariah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah Al-Aziz serta sunah Rasulullah.”
Dia pun senantiasa berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid. Diambilnya istinbath hukum berdasarkan petunjuk Alquran, sunnah nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para sahabat serta apa-apa yang disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan para imam fikih.
Waktu yang ada benar-benar telah dicurahkannya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan berdialog. Karenanya, banyak tokoh-tokoh ternama adalah para muridnya. Mereka merupakan ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab Al-Hambali Al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, dan masih banyak lagi.
Ibnul Qayyim juga merupakan seorang peneliti ulung. Dia mengambil semua ilmu dan segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.
Kemudian disusunnya kitab-kitab fikih, kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisannya sangat banyaknya, dan keseluruhan kitab-kitabnya itu memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanya Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.
Beberapa karya besarnya antara lain; Tahdzib Sunan Abi Daud, I’lam al-Muwaqqi’in an Rabbil Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I’ul Fawa’id, Amtsalul Quran, dan Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina Wajhan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751 Hijriyah. Setelah dishalatkan keesokan harinya usai shalat Dzuhur di Masjid Jami Besar Dimasyq (Al-Jami Al-Umawi), ulama ini dikuburkan di tanah pekuburan Al-Babus Shaghir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar