Powered By Blogger

Jumat, 01 April 2011

KATA INDAH PENUH MAKNA

Barang siapa yang berharap selamat
Tak ada jalan selain mengikuti Muhammad
Itulah jalan yang lurus, sedang yang lain adalah
jalan sesat, menyimpang dan kebinasaan
Ikutilah kitab Allah dan sunnah yang shahih
Bila engkau mengikutinya, maka itulah petunjuk
Jauhi pertanyaan dengan mengapa dan bagaimana
Itu adalah pintu yang membutakan orang yang berilmu
Agama ialah sabda Rasul n dan para sahabatnya
dan dititi generasi Tabi’in dan para pengikutnya
مَنْ كَانَ يَرْغَبُ فِـي النَّجَاةِ فَـمَا لَـهُ
غَيْرُ اتِّبَاعِ الْمُصْطَـفَى فِيْـمَا أَتَـى
ذَاكَ سَـبِيْلُ الْمُسْتَـقِيْـمُ وَغَـيْرُهُ
سُبُلُ الضَّلاَلَـةِ وَالْغِوَايَـةِ وَالرَّدَى
فَاتْبَعْ كِتَابَ اللَّـهِ وَالسُّـنَنَ الَّتِـيْ
صَحَّتْ فَذَاكَ إِنِ اتَّبَعْتَ هُوَ الْهُدَى
وَدَعِ السُّـؤَالَ بِلِمَ وَكَيْـفَ فَإِنَّـهُ
بَابٌ يَجُرُّ ذَوِيْ الْبَصِيْرةِ لِلْعَـمَـى
الدِّيْنُ مَا قَالَ الرَّسُـوْلُ وَصَحْـبُـهُ
وَالتَّابِعُـوْنَ وَمَنْ مَنَاهِجَهُمْ قَــفَا


[Siyar A'lam an-Nubala', jilid 23, hlm. 314, Muassasah ar-Risalah, cet. 7, Bairut, Libanon, tahqiq Dr. Basysyar Awwad Ma'ruf dan Dr. Muhyi Hilal as-Sarhan, Ma'a Syaikhinaa Naashir as-Sunnah wa ad-Diin, Muhammad Nashiruddin al-Albani, karya Syaikh Ali Hasan al-Halabi, hlm. 30]




KEYAKINAN MUSLIM SEJATI


Jika pengikut setia Ahmad1) dijuluki WAHABI2)
Maka aku adalah seorang wahabi

أَنْفِي الشَّرِيْكَ عَنِ اْلإِلَهِ فَلَيْسَ لِيْ
رَبٌّ سِوَى الْمُتَفَرِّدِ اْلوَهَّابِ

Kutolak sekutu bagi Allah, bagiku
Tiada Ilah selain Yang Maha Tunggal AL-WAHHAB3)

لاَ قُبَةٌ تُرْجَى وَلاَ وَثَنٌ وَلاَ
قَبْرٌ لَهُ سَبَبٌ مِنَ اْلأَسْبَابِ

Bukan kubah, berhala maupun kuburan
Yang diharapkan sebagai penyebab segala sesuatu

كَلاَّ وَلاَ حَجَرٌ، وَلاَ شَجَرٌ وَلاَ
عَيْنٌ وَلاَ نُصُبٌ مِنَ اْلأَنْصَابِ

Sekali bukan tetap bukan, demikian juga
Bukan batu, pohon, mata air4) dan monumen5)

أَيْضًا وَلَسْتُ مُعَلِّقًا لِتَمِيْمَةِ
أَوْ حَلَقَةٍ، أَوْ وَدْعَةٍ أَوْ نَابِ

Juga, aku tidak menggantungkan jimat,
Gelang, kerang undian atau taring6)

لِرَجَاءِ نَفْعٍ، أَوْ لِدَفْعِ بَلِيَّةٍ
اللهُ يَنْفَعُنِيْ، وَيَدْفَعُ مَا بِيْ

Tuk dapatkan manfaat atau tolak petaka
Allah sajalahYang memberi manfaat dan menghilangkan petaka

وَاْلاِبْتِدَاعُ وَكُلُّ أَمْرٍ مُحْدَثٍ
فِي الدِّيْنِ يُنْكِرُهُ أُوْلُو اْلأَلْبَابِ

Bid’ah dan perkara baru dalam agama
Diingkari oleh orang-orang yang berakal7)

أَرْجُوْ بِأَنِّيْ لاَ أَقَارِبُهُ وَلاَ
أَرْضَاهُ دِيْنًا، وَهُوَ غَيْرُ صَوَابِ

Aku tidak ingin mendekatinya dan
Tidak meridhainya sebagai agama, itu adalah keliru

وَأَعُوْذُ مِنْ جَهْمِيَّةٍ عَنْهَا عَتَتْ
بِخِلاَفِ كُلِّ مُؤَوِّلِ مُرْتَابِ

Akupun berlindung dari Jahmiyyah8) yang membangkang
Aku menyelisihi setiap penyeleweng makna lagi ragu9)

وَاْلاِسْتِوَاءُ فَإِنَّ حَسْبِيْ قُدْوَةٌ
فِيْهِ مَقَالُ السَّادَةِ اْلأَنْجَابِ

Adapun istiwa’10), maka cukup bagiku sebagai teladan
Pendapat para tokoh yang mulia

الشَّافِعِي وَمَالِكٍ وَأَبِيْ حَنِيْـ
ـفَةَ وَابْنِ حَنْبَلِ التَّقِيِّ اْلأَوَّابِ

Asy-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah
Dan Ibnu Hambal yang bertakwa lagi terhormat

وَبِعَصْرِنَا مَنْ جَاءَ مُعْتَقِدًا بِهِ
صَاحُوْا عَلَيْهِ مُجَسِّمٌ وَهَّابِيْ

Adapun di zaman kita, siapa saja yang berkeyakinan
Seperti keyakinan mereka, dijuluki mujassim11) wahabi

جَاءَ الْحَدِيْثُ بِغُرْبَةِ اْلإِسْلاَمِ فَلْـ
يَبْكِ الْمُحِبُّ لِغُرْبَةِ اْلأَحْبَابِ

Hadits telah memberitakan tentang asingnya Islam
Maka menangislah pecinta kebenaran, karena sedikitnya teman

فَاللَّهُ يَحْمِيْنَا، وَيَحْفَظُ دِيْنَنَا
مِنْ شَرِّ كُلِّ مُعَانِدٍ سَبَّابِ

Allah-lah Yang melindungi kita dan menjaga agama kita
Dari kejahatan setiap penentang lagi pencela

وَيُؤَيِّدُ الدِّيْنَ الْحَنِيْفَ بِعُصْبَةٍ
مُتَمَسِّكِيْنَ بِسُنَّةٍ وَكِتَابِ

Dia-lah Yang menguatkan agama nan lurus, dengan perantaraan
Suatu kelompok yang berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan Sunnah

لاَ يَأْخُذُوْنَ بِرَأْيِهِمْ وَقِيَاسِهِمْ
وَلَهُمِ إِلَى اْلوَحْيَيْنِ خَيْرُ مَآبِ

Tidak mendahulukan akal dan qiyas mereka
Bagi mereka, kedua wahyu adalah sebaik-baik pedoman

قَدْ أَخْبَرَ الْمُخْتَارُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ
غُرَبَاءُ بَيْنَ اْلأَهْلِ وَاْلأَصْحَابِ

Sang terpilih12) telah memberitakan keadaan mereka
Merekalah orang-orang yang dikucilkan oleh keluarga dan teman

سَلَكُوْ طَرِيْقَ السَّالِكِيْنَ إِلَى الْهُدَى
وَمَشَوْا عَلَى مِنْهَاجِهِمْ بِصَوَابِ

Meniti jalan para pencari hidayah
Meneladani prinsip mereka dengan benar

مِنْ أَجَلِ ذَا أَهْلُ اْلغُلُوِّ تَنَافَرُوْا
عَنْهُمْ فَقُلْنَا لَيْسَ ذَا بِعُجَابِ

Karena itulah orang-orang ekstrim memusuhi mereka
Maka kami katakan, bahwa hal itu tidaklah mengherankan

نَفَرَ الَّذِيْنَ دَعَاهُمْ خَيْرُ اْلوَرَى
إِذْ لَقَّبُوْهُ بِسَاحِرٍ كَذَّابِ

Telah lari orang-orang yang diseru sebaik-baik manusia (Rasulullah)
Bahkan mereka menjulukinya sebagai penyihir lagi pendusta

مَعَ عِلْمِهِمْ بِأَمَانَةٍ وَدِيَانَةٍ
فِيْهِ وَمَكْرَمَةٍ، وَصِدْقِ جَوَابِ

Meski mereka tahu tentang ketinggian amanah dan agamanya
Kemuliaan dan kejujuran jawabannya

صَلَّى عَلَيْهِ اللَّهُ مَا هَبَّ الصَّبَا
وَعَلَى جَمِيْعِ اْلآلِ وَاْلأَصْحَابِ

Semoga sholawat Allah tercurah atasnya selama angin Shoba13) berhembus
Demikian juga atas segenap keluarga dan sahabatnya.

————————————

1. Yakni: Nabi Muhammad yang salah satu nama beliau adalah Ahmad
2. Nisbat dan penyematan kepada Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab, ulama reformis di jazirah arab
3. Salah satu nama Allah yang bermakna Maha Memberi
4. Mata air yang dipakai mandi untuk tabarruk dan penyembuhan suatu penyakit.
5. Yakni: Monumen yang beralih fungsi menjadi berhala yang diibadahi selain Allah
6. Dua benda terakhir yang disebutkan, banyak digantungkan pada kapal sebagai usaha meraih keberuntungan
7. Karena agama ini telah sempurna, kenapa masih ditambahi?
8. Kelompok sesat yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, bahkan berpendapat bahwa Allah dimana-mana. Na’uudzubillaah min dzalik, apakah Allah juga berada di tempat sampah, kotor lagi najis?? Padahal Allah berfirman: (Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thoha: 5)
9. Yakni: terhadap nama dan sifat Allah.
10. Yakni: perkara bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy, sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an surat Thoha:5.
11. Kelompok sesat yang menganggap Allah memiliki badan persis dengan makhluk-Nya
12. Yakni: Rasulullah yang telah dipilih oleh Allah dari sekian banyak makhluk-Nya.
13. Angin pagi yang sepoi-sepoi.




SHOLAT YANG BERUBAH KEBERUNTUNGAN



Seorang penyair berkata:

أَلاَ فِي الصَّلاَةِ الْخَيْرُ وَالْفَضْلُ أَجْمَعُ ِ لأَنَّ بِهَا اْلآرَابَ لِلَّـهِ تَخْـضَعُ

وَأَوَّلُ فَرْضٍ مِـنْ شَرِيْـعَةِ دِيْنِـنَا وَآخِرُ مَا يَبْقَى إِذِ الدِّيْنُ يُرْفَـعُ

فَـمَنْ قَامَ لِلتَّكْبِيْرِ لاَقَـتْهُ رَحْـمَةٌ وَكَانَ كَعَبْدٍ بَابَ مَوْلاَهُ يَقْـرَعُ

وَ صَارَ لِرَبِّ الْعَرْشِ حِـيْنَ صَلاَتِـهِ نَجِيًّا فَيَا طُوْبَاهُ لَوْ كَانَ يَخْشَـعُ

Ketahuilah! shalat mengandung banyak kebaikan dan keutamaan
Dengan shalat akan pasrah kepada Allah seluruh anggota badan
(Shalat) merupakan kewajiban pertama dalam syariat agama kita
Dan perkara terakhir yang akan tersisa tatkala diangkatnya agama
Siapa yang mengerjakannya niscaya rahmat (Allah) menghampirinya
Seolah-olah dirinya sedang mengetuk pintu Rabb yang melindunginya
Dengan shalatnya kepada Rabb Pemilik ‘Arsy ia akan selamat (dari siksa)
Duhai, alangkah beruntung sekiranya ia khusyu’ saat mengerjakannya




UMMU AIMAN PUN MENANGIS



Anas bin Malik bercerita: Abu Bakar berkata kepada Umar sepeninggal Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-: Bawalah kami ke kediaman Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu juga mengunjunginya. Sesampainya di sana, ternyata Ummu Aiman sedang menangis. Abu Bakar dan Umar bertanya: Apa yang membuatmu menangis? Segala yang ada di sisi Allah tentu lebih baik bagi Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Ia menjawab: Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-, tetapi aku menangis karena wahyu dari langit telah terhenti. Ternyata ucapannya itu menggugah hati mereka berdua dan akhirnya merekapun larut dalam isak tangis bersamanya. (HR. Muslim, no. 2454)

Berkenaan dengan ini Syaikh Husain bin Audah al-’Awaisyah hafizhahullâh berkata:

يَا أُمَّ أَيْمَـنَ قَـدْ بَكَيْـتِ وَ إِنَّـنَا نَلْـهُوْ وَ نَمْجُنُ دُوْنَ مَعْرِفَةِ الأَدَبِ

لَمْ تُبْصِرِيْ وَضْعَ الْحَدِيْثِ وَلاَ الْكَذِبِ لَمْ تُبْصِرِيْ بَعْضَ المَعَازِفِ وَ الطَّرَبِ

لَمْ تَشْهَدِيْ شُرْبَ الْخُـمُوْرِ أَوِالزِّنـَا لَمْ تَلْحَظِيْ مَا قَدْ أَتَانَا مِنْ عَطَـبِ

لَمْ تَلْحَظِيْ بِـدَعَ الضَّلاَلَةِ وَ الهَـوَى لَوْلاَ مَـمَاتُكِ قَدْ رَأَيْتِ بِنَا العَجَبِ

لَمْ تَعْلَمِيْ فِعْـلَ الْعَـدُوِّ وَصُـحْبَهُمْ هَا نَحْنُ نَجْثُوْ لِلْيَهُوْدِ عَلَى الرُّكَبِ

وَا حَـرَّ قَلْبِيْ مِنْ تَمـَزُّقِ جَـمْـعِنَا أَضْحَتْ أُمُوْرُكِ أُمَّتِيْ مِثْلَ اللُّعَـبِ

تَاللَّـهِ مَا عَـرَفَ البُـكَاءُ صِـرَاطَنَا وَ مَعَ التَّبَـاكِيْ لاَ وَشَائِجُ أَوْ نَسَبِ

Wahai Ummu Aiman! engkau menangis, sementara kita
Terus berbuat sia-sia tanpa rasa malu dan kenal etika

Engkau belum pernah melihat hadits palsu atau dusta
Juga belum menyaksikan alat-alat musik dan dansa

Belum pula engkau melihat minuman arak atau zina
Serta aneka ragam musibah yang terus menimpa kita

Engkau belum melihat bid’ah-bid’ah sesat dan hawa
Andai belum mati, pasti kau lihat hal aneh pada kita

Engkau belum mengetahui ulah musuh dan sekutunya
Beginilah! kami bertekuk lutut tuk Yahudi dengan hina

Alangkah panasnya hatiku ini sebab perpecahan kita
Segala urusan umatmu ini menjadi seperti mainan boneka

Demi Allah, sekarang (berbeda), kita tidak bisa menangis lagi
Meski sekedar berpura-pura menangisi saudara senasab (yang mati)




INNER BEAUTY


Kecantikan adalah impian para wanita,
Mereka berdandan, berhias, menunjukkan perhiasan dan kemolekan tubuh
Hanya untuk mendapatkan gelar ratu kecantikan
Tidakkah mereka mengetahui kecantikan yang hakiki?
Inilah nasehat seorang ayah kepada puterinya
Akan makna kecantikan yang hakiki

syair1

Kecantikan jiwa lebih tinggi nilainya

Wahai puteriku, jika engkau menginginkan kecantikan menghiasi tubuh dan akalmu

Tinggalkanlah kebiasaan bertabarruj (bersolek), karena kecantikan jiwa itu lebih tinggi dan lebih mulia

(Hal ini sebagaimana) bunga buatan yang dibuat oleh para penghiasnya, namun bunga yang berada di taman tidak ada yang menyaingi keindahan dan bentuknya

Wahai putriku jadilah engkau seperti matahari yang menyinari manusia, baik yang mulia maupun yang hina

syair2

Rasa malu dan sikap lemah lembut adalah perangai terpuji

Jadikanlah rasa malu sebagai perangaimu

Karena rasa malu lebih utama dalam diri seorang wanita

Tidak ada kebahagiaan sedikitpun pada seorang gadis jika rasa malu sudah lenyap darinya

Dan jika engkau melihat seorang yang tertimpa kesusahan

Ulurkanlah kepadanya bantuan dan iringilah dengan cucuran air mata kebaikan

Karena air mata yang keluar dari rasa kebaikan lebih indah dalam pipi dan lebih cantik dan lebih tinggi nilainya dari permata

Dialihbahasakan oleh Abu Hasan Arif dari kitab al-Adwa fil Lughatil Arabiyyah






SETETES KEMISKINAN PADA LUASNYA SAMUDRA KARUNIA


Seseorang datang kepada Ja’far bin Muhammad mengeluhkan pahitnya kemiskinan kepadanya. Lalu Ja’far melantunkan beberapa bait syairnya seraya berucap:

graphic11

Janganlah berkeluh kesah bila sehari kau merasa susah
Betapa sering Dia membuatmu ridha dengan yang mudah
Janganlah putus asa, sebab itu merupakan pengingkaran
Semoga Allah memberimu dari yang sedikit sebuah kecukupan
Jangan pernah pula berprasangka buruk dengan Tuhan
Sebab Allah jauh lebih berhak untuk disebut dengan kebaikan

Orang itu berkata: Ternyata kesulitan yang aku dapatkan hilang begitu saja dari diriku.

[Alfu Qishah wa Qishah karangan Hani al Haaj, hlm 8 & 9, Maktabah at Taufiqiyyah]





TELAH TIBA WAKTU BERPISAH


Di penghujung acara Dauroh Syar’iyyah VIII, Trawas, Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari mempersembahkan beberapa bait syair karya beliau sendiri kepada para peserta. Beliau bertutur:

حَانَ الوَدَاعُ وَ ذَا الوَدَاعُ قَرِيْبُ آنَ الفِرَاقُ وَ فِي النُّفُوْسِ نَحِـيْبُ

فَـإِلَى اللِّقَا عَلَّ اللقاءَ يَحُـضُّنَا نَحْوَ الثَّبَـاتِ وَ رَبُّنَا لَمُجِيْــبُ

يَا إِخْوَتِيْ فِي اللهِ هَاكُمْ كِلْـمَةً مِنْ صَادِقٍ فِي النُّصْحِ وَهُوَ حَبِيْبُ

هَيَّا اسْتَجِيْبُوْا نُصْحَنَا مِنْ قَلْبِـنَا فَالخُلْقُ فِيْـكُمْ حَاضِرٌ وَ أَدِيْـبُ

اِلْزَمْ أُخَيَّ لِنَهْجِ أَسْـلاَفٍ مَضَوْا اِنْفِذْ طَرِيْقَ الحَقِّ أَنْتَ غََرِيْــبُ

وَعَلَيْكَ بِالْعِلْمِ الشَّرِيْفِ سَـلاَمَةً فَـالجَهْلُ دَاءٌ وَ العَلِيْمُ طَبِــيْبُ

لِنْ يَا أَخِيْ فَـالحَقُّ يُثْـقِلُ غَيْرَهُ وَ اللِّيْنُ يَسْمُوْ بِالهُدَى وَيَطِيْــبُ

حَافِظْ أُخَيَّ عَلَى صَدِيْقِكَ سَالِماً مِنْ كُلِّ ظَنٍّ أَنْتَ فِيْـهِ مَعِيْــبُ

خُذْ مَا صَفَا إِنَّ الوُضُوْحَ لَجَيِّـدٌ دَعْ كُلَّ كَدْرٍ فِيْهِ أَنْتَ مُرِيْــبُ

إِنَّ التَّحَزُّبَ وَالتَّعَصُّبَ قَـاتِـلٌ وَاللَّهُ مِنْ فَوْقِ الأَنَـامِ حَسِيْــبُ

وَ انْظُرْ أُخَيَّ إِلَى الحَيَاةِ بِبَسْـمَةٍ لاَ لَسْتُ أَرْضَاكَ بِـذَاكَ كَئِيْـبُ

وَدَعِ التَّهَاجُرَ وَ التَّخَاصُمَ إِنَّـهُ بَابٌ إِلَى كَسْرِ القُلُوْبِ رَهِيْــبُ

يَا أَيُّهَا الإِخْوَانُ أَنْتُمْ صَــفْوَةٌ فِي دَعْوَةٍ ذَا غُـصْنُهَا لَرَطِيْــبُ

أَمَّا الخِتَـامُ فَحِرْصُنَا يَا إِخْوَتِيْ أَنْ تُوْقِنُوْا أَنِّيْ بِـذَاكَ مُصِيــْبُ

Waktu berpisah telah tiba dan telah begitu dekat
Perpisahan kan datang, dan jiwa ini terasa berat
Sampai jumpa, semoga pertemuan ini mendorong kita
Menuju keteguhan dan Rabb kita Maha menjawab doa
Wahai saudaraku seagama, ku persembahkan sepatah kata
Dari jiwa yang tulus menasehati seraya mengharap pahala
Ayo, perkenankanlah olehmu nasehat dari lubuk hati kami
Sebab, akhlak kalian selalu hadir dengan penuh sopan diri
Wahai saudaraku, genggamlah erat manhaj salaf umat ini
Laksanakan jalan kebenaran, engkau kan semakin asing
Wajib oleh kalian menuntut ilmu mulia demi keselamatan
Sebab bodoh adalah racun dan ulama adalah dokter kesembuhan
Saudaraku, bersikap lembutlah, kebenaran ini berat bagi jiwa
Dengan petunjuk-Nya kelembutan terangkat dan baik adanya
Wahai saudaraku, jagalah sahabatmu selamat senantiasa
Dari segala praduga yang engkau dapat tercela dengannya
Ambillah yang suci, sebab yang terang adalah hal baik
Tinggalkan segala kotoran yang membuatmu menjadi ragu
Sungguh, berkelompok dan fanatik dapat menghancurkan
Dan Allah di atas segala makhuk-Nya Maha menyaksikan
Wahai saudaraku, sambutlah hidup ini dengan senyuman
Tidak, aku tidak rela engkau terjerumus dalam penderitaan
Dan tinggalkan sikap saling tidak tegur sapa dan bermusuhan
Karena semua itu pintu penghancur hati yang menakutkan
Wahai saudaraku sekalian, kalian merupakan manusia pilihan
Sebagai pengemban dakwah yang berbatang kekokohan
Dan sebagai penutup, maka antusias kami wahai saudaraku
Semoga kalian yakin, aku berucap benar dalam menasehatimu











Tidak ada komentar:

Posting Komentar