Powered By Blogger

Jumat, 01 April 2011

SEBUAH MAKNA

JIHAD DALAM ISLAM


Jihad merupakan tulang punggung dan kubah Islam. Kedudukan orang-orang yang berjihad amatlah tinggi di surga, begitu juga di dunia. Mereka mulia di dunia dan di akhirat. Rasulullah r adalah orang yang paling tinggi derajatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh karena itulah, beliau amat harum namanya (di sisi manusia-pent) dan paling mulia di sisi Allah.

Allah ta’ala memerintahkan beliau untuk berjihad semenjak beliau diutus sebagai Nabi, Allah berfirman :

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqon : 51-52).

Surat ini termasuk surat Makiyah yang didalamnya terdapat perintah untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta menyampaikan Al-Qur’an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada dibawah kekuasaan kaum muslimin, Allah ta’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS. At-Taubah : 73).

Jihad melawan orang-orang munafik (dengan hujjah-pent) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir (dengan pedang-pent), karena (jihad dengan hujjah-pent) hanya bisa dilakukan orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia. Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi Allah.[2]

Termasuk semulia-mulianya jihad adalah mengatakan kebenaran meski banyak orang yang menentang dengan keras seperti menyampaikan kebenaran kepada orang yang dikhawatirkan gangguannya. Oleh karena inilah, para Rasul -sholawatullahi ‘alaihim wa salaamuhu- termasuk orang-orang yang paling menonjol dalam hal ini. Dan Nabi kita -shollallah alaihi wa sallam- termasuk yang paling sempurna.

Jihad melawan musuh-musuh Allah diluar (kaum muslimin) termasuk cabang dari jihadnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri (hawa nafsu) di dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi -shollallah alaihi wa sallam- :

المُجَاهِدُ مَن جَاهَدَ نَفسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ وَ المُهَاجِرُ مَن هَاجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنهُ

“Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam mentaati Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah” (HR. Ahmad dan sanadnya jayyid/baik).

Oleh sebab itu, jihad terhadap diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad melawan orang-orang kafir dan hal tersebut merupakan pondasinya. Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap dirinya sendiri dalam mentaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang dengan ikhlas karena-Nya, maka bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan orang-orang kafir3. Bagaimana dia bisa melawan orang-orang kafir sedangkan musuh (hawa nafsu) nya yang berada disamping kiri dan kanannya masih menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir) sehingga dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad.[4]

Kedua musuh itu adalah sasaran jihad seorang hamba. Tapi masih ada yang ketiga, yang dia tidak mungkin berjihad melawan keduanya kecuali setelah mengalahkan yang ketiga ini. Dia (musuh yang ketiga ini) selalu menghadang, menipu dan menggoda hamba agar tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Dia senantiasa mengambarkan kepada seorang hamba bahwa berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan kelezatan dan kenikmatan (dunia). Tidak mungkin dia berjihad melawan kedua musuhnya tadi kecuali terlebih dahulu berjihad melawannya.

Oleh karenanya, jihad melawannya adalah pondasi dalam berjihad melawan keduanya. Musuh yang ketiga itu adalah setan, Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu)” (QS. Faathir : 6).

Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh merupakan peringatan agar (seorang hamba) mengerahkan segala kekuatan dalam memeranginya, karena musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang masa.

(Kemudian beliau berkata -pent) Jika hal diatas sudah dimengerti maka jihad terbagi menjadi empat tahapan[5]:

1- Jihad melawan diri sendiri (hawa nafsu), dan hal ini terbagi lagi menjadi empat tingkatan :

a. Berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat kecuali dengannya.

Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia akan sengsara di dunia dan di akhirat.

b. Berjihad dalam mengamalkan ilmu yang dia pelajari, karena ilmu tanpa amal jika tidak memadharatkannya, minimal ilmunya tidak bermanfaat.

c. Berjihad dalam dakwah (menyeru manusia) kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari adzab Allah.

d. Berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah serta gangguan manusia karena Allah.
Jika seorang hamba telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka dia tergolong Robbaaniyyiin (orang-orang Robbani). Para salaf dahulu telah sepakat bahwa seorang alim tidak bisa dikatakan Robbani hingga dia tahu kebenaran, lalu mengamalkan dan mengajarkannya. Barangsiapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya, maka dia akan tersanjung dikalangan para penghuni langit.

2- Jihad melawan setan, dan hal ini terbagi menjadi 2 bagian :

a. Berjihad dalam menolak syubhat (kerancuan) dan keraguan dalam keimanan

b. Berjihad dalam menolak bisikan syahwat.

Jihad yang pertama akan melahirkan keyakinan dan jihad yang kedua akan menghasilkan kesabaran Allah ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.As-Sajdah : 24).

Allah ta’ala mengkabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh hanya dengan kesabaran dan keyakinan. Kesabaran dapat menolak nafsu syahwat serta keinginan jelek sedangkan keyakinan bisa menolak keraguan serta kerancuan.

3- Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Hal ini meliputi empat hal : jihad dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih dikhususkan dengan lisan.

4- Jihad melawan orang-orang dzolim, ahli bid’ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki tiga tahapan. Dengan tangan bila mampu, jika tidak maka pindah dengan lisan dan jika tidak mampu juga maka dengan hati.
Inilah tiga belas tahapan dalam jihad dan (Barangsiapa yang mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan)[6]

Dan tidak akan sempurna jihad melainkan dengan hijrah dan tidak ada hijrah serta jihad tanpa keimanan[7]. Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang menjalankan ketiga hal tersebut, Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-Baqoroh : 218).

Sebagaimana keimanan adalah kewajiban bagi setiap orang, maka diwajibkan pula kepada mereka dua hijrah di setiap saat :

1- Berhijrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, ikhlas, bertobat, tawakkal, mengharap, dan cinta kepada-Nya.

2- Berhijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnah beliau, tunduk kepada perintah beliau, membenarkan kabar yang beliau sampaikan serta mendahulukan perintah beliau daripada perintah yang lainnya. Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda yang artinya : “Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah kepada dunia atau perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrohnya kepada apa yang dia niatkan”[8].

Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah dan jihad melawan setan adalah fardhu ‘ain yang tidak bisa diwakilkan kepada seorangpun. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardhu kifayah.

————————————————————

1. Kami terjemahkan dari kitab “Zaadul ma’aad fii hadyi khoiril ‘ibaad” 3/5-11 oleh Ibnul Qoyyim -rahimahullah-, tapi ada sebagian yang kami anggap tidak perlu diterjemahkan (hal 6-8) agar tidak terlalu panjang. Dan kami hadiahkan terjemahan ini kepada mereka yang selalu meneriakkan kata jihad dengan pedang (pengeboman), yang senantiasa mengajak umat untuk memberontak penguasa dengan nama jihad, yang menuduh para ulama Dakwah Salafiyah tidak berjihad dan menihilkan jihad. (pent)
2. Dari keterangan Ibnul Qoyyim -rahimahullah- ini, masihkah ada orang yang mencela dan mencaci maki para ulama, karena mereka belum pernah mengangkat pedang dan hanya bisa mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah di masjid-masjid ??? Ataukah justru mereka akan menvonis bahwa Ibnul Qoyyim menihilkan jihad ? (pent)
3. Diantaranya dengan berjihad menuntut ilmu agama yang benar sesuai dengan pemahaman salafush sholeh serta menghilangkan kebodohan dalam dirinya terutama dalam masalah aqidah. (pent)
4. Adapun hadits yang berbunyi “Kita telah kembali dari jihad kecil kepada jihad besar” maka hadits ini tidak shohih. Lihat “Kasyful khofa’ “1/424. (pent)
5. Dari sini terlihat jelas kesalahan sebagian orang yang hanya menyempitkan arti jihad dengan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata. (pent)
6. HR.Muslim (1910).
7. Tidakkah mereka yang selalu mengembar-ngemborkan jihad melawan orang-orang kafir Yahudi maupun Nashoro memahami hal ini ? Mereka menyeru umat untuk berjihad siang dan malam sedangkan banyak dari umat Islam ini yang masih rusak aqidah dan keimanannya. Akankah mereka terus meneriakkan jihad ditengah kaum muslimin sedangkan kesyirikan, penyembahan terhadap wali-wali, sunan-sunan serta kyai-kyai yang telah meninggal di pelupuk mata mereka ??? Apakah mereka sengaja menutup mata ? Mengapa mereka tidak mau dan enggan untuk memulai dan menfokuskan dakwah mereka terlebih dahulu kepada dakwah Tauhid dan memberantas kesyirikan seperti yang dilakukan Rasulullah -shollallah alaihi wa sallam- ? Apakah mereka menganggap metode yang mereka jalankan lebih baik dari metode dakwahnya Rasul -shollallah alaihi wa sallam- dan para rasul-rasul lainnya ??? (pent)
8. HR. Bukhori dan Muslim.




DIANGKATNYA AMANAH


Pujian bagi Allah Rabb semesta alam, aku bersaksi tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Dialah wali/pelindung bagi orang-orang yang sholeh. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad -shollallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan Rasul-Nya yang jujur, pemberi peringatan dan orang yang terpercaya. Sholawat dan salam dari Rabbku semoga tercurah atasnya serta keluarga dan para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat dan atas semua Rasul Allah yang lainnya.

Amma ba’du: Allah telah menurunkan amanah pada setiap hati, maka penuhlah hati-hati tersebut dengan iman, dan jiwa-jiwa pun merasa damai nan aman. Kemudian turun al-Qur’an dan manusia pun mengetahui dari al-Qur’an dan dari Sunnah batasan-batasan amanah dan keharusan mereka tentang amanah.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَدِيْثَيْنِ رَأَيْتُ أَحَدُهُمَا وَأَنَا أَنْتَظِرُ اْلآخَرَ، حَدَّثَنَا أَنَّ اْلأَمَانَةَ نَزَلَتْ فِيْ جَذْرِ قُلُوْبِ الرِّجَالِ، ثُمَّ عَلِمُوْا مِنَ اْلقُرْآنِ، ثُمَّ عَلِمُوْا مِنَ السُّنَّةِ وَحَدَّثَنَا عَنْ رَفْعِهَا، قَالَ : يَنَامُ الرَّجُلُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ اُلأَماَنَةَ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ أَثَرِ اْلوَكْتِ. ثُمَّ يَنَامُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ فَيَبْقَى أَثَرُهَا مِثْلَ الْمَجَلِ كَجَمْرٍ دَحْرَجْتَهُ عَلَى رِجْلِكَ فَنَقِطَ فَتَرَاهُ مُنْتَبِرًا وَلَيْسَ فِيْهِ شَيْءٌ، فَيُصْبِحَ النَّاسُ يَتَبَايَعُوْنَ فَلاَ بَكَادُ أَحَدُهُمْ يُؤَدِّيَ اْلأَمَانَةَ، فَيُقَالُ : إِنَّ فِي بَنْي فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِيْنًا وَيُقَالُ لِلرَّجُلِ : مَا أَعْقَلَ، وَمَا أَظْرَفَهُ، وَمَا أَجْلَدَهُ، وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ جَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ. وَلَقَدْ أَتَى عَلَيَّ زَمَانٌ وَمَا أٌُبَالِي أَيُّكُمْ بَايَعْتُ، لَئِنْ كَانَ مُسْلِمًا رَدَّهُ عَلَيَّ اْلإِسْلاَمُ، وَإِنْ كَانَ نَصْرَانِيًّا رَدَّهُ عَلَيَّ سَاعِيُهُ. فَأَمَّا اْليَوْمَ فَمَا كُنْتُ أُبَايِعُ إِلاَّ فُلاَناً وَفُلاَناً

Di dalam shohih Bukhari dan Muslim dari hadits Hudzaifah Ibnul Yaman –RadhilAllahuanhuma- berkata: Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda tentang dua hadits, aku telah mendengar salah satu diantaranya dan aku menunggu hadits yang lain, Beliau bersabda bahwasanya amanah diturunkan di pangkal hati seseorang, kemudian turun alqur’an dan mereka mendapatkan ilmu dari al-Qur’an dan dari sunnah. Kemudian Nabi menjelaskan tentang diangkatnya amanah, beliau bersabda : « ketika seseorang tidur maka diangkatlah amanah dari dalam hatinya dan hal tersebut berbekas seperti berbekasnya tanda lahir pada kulit tubuh, kemudian ia tidur dan diangkatlah amanah dari hatinya maka hal tersebut berbekas seperti bola api yang digelindingkan di kakimu kemudian melepuh dan kamu lihat bekas luka itu menyembul, padahal tidak ada sesuatu didalamnya. Lalu pada pagi harinya manusia saling berjanji setia, hingga dari mereka tidak ada yang menunaikan amanah, maka dikatakan bahwa di Bani Fulan ada seorang lelaki yang jujur. Dan dikatakan kepada lelaki itu : “Alangkah tabahnya dia! Alangkah pandainya dia! Alangkah cerdiknya dia. Padahal tidak ada dalam hatinya iman meski seberat biji sawi.” Hudzaifah berkata : “Sungguh akan datang kepadaku suatu zaman yang aku tidak menghiraukan siapa yang telah kubai’at saling berjanji setia. Apabila ia seorang muslim, niscaya ia akan dikembalikan kepadaku oleh Islam, dan apabila ia seorang Nasrani, niscaya ia akan dikembalikan kepadaku oleh pemimpinya. Adapun hari ini aku tidak berjanji setia kecuali kepada si fulan dan fulan”.Shohih Bukhari No. 6497, Shohih Muslim No. 367

Amanah (dapat dipercaya) lawan kata dari khianat (tidak dapat dipercaya), amanah dinisbatkan kepada perbuatan manusia yang berjanji akan melaksanakannya baik di dalam perkara yang syar’i atau yang lainnya. Iman adalah amanah, ketaatan adalah amanah, dan setiap hak-hak Allah atas semua hamba-Nya adalah amanah bagi mereka, dan setiap hak orang lain atas kalian juga merupakan amanah, dan tidak ada iman bagi orang yang tidak ada amanah pada dirinya.

Ayat-ayat al-Qur’an tentang amanah

1. Perintah tentang amanah dalam firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”QS. an-Nisaa’: 58

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menunaikan amanah secara sempurna tanpa dikurangi kepada yang berhak. Dan yang termasuk dalam hal amanah adalah wilayah kekuasaan, harta, rahasia-rahasia, dan hal-hal yang diperintahkan, tidak ada yang mengetahui akan hal-hal tersebut kecuali Allah.

2. Pujian bagi ahli amanah dalam ungkapan orang mukmin yang khusyu’
Allah Ta’ala berfirman:

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istr-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang mewarisi. Yang akan mewarisi surga firdaus, mereka kekal didalamnya”.QS. al-Mukminun: 1-11

Beruntunglah orang-orang yang menunaikan amanah di dalam sholat dengan kekhusu’an, di dalam urusan zakat dengan menunaikannya, di dalam perbuatan-perbuatan yang tidak berguna dengan menjauhinya, dan tentang kemaluannya dengan menjaganya, dalam janji-janji dengan memperhatikannya. Dengan hal-hal tersebut maka kalian berhak mendapatkan kejayaan dan kesuksesan yaitu mendapatkan surga

3. Penjelasan beratnya amanah dan keberanian manusia untuk memikulnya.
Allah Ta’ala berfirman:

“Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat dholim dan amat bodoh. Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” QS. al-Ahzab: 72-73

Allah mengagungkan perkara amanah, sehingga orang-orang yang dibebani merasa dapat dipercaya untuk menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Dan Allah –subhanahu waTa’ala- menjelaskan bahwa telah ditawarkan amanah ini kepada seluruh makhluk, mereka pun enggan memikulnya, maka dipikullah amanah oleh manusia sedangkan manusia itu lemah dan serba terbatas, manusia itu bodoh tentang apa itu amanah, dholim terhadap diri mereka sendiri dengan menerima beban yang berat ini, dan manusia terbagi tiga golongan dalam hal penunaian amanah tersebut.
Orang-orang munafik menampakan bahwa mereka telah menunaikan amanah padahal mereka mendustakannya, orang-orang musyrikin mereka meninggalkan amanah secara dhohir dan batin, orang-orang mukmin melaksanakan amanah secara dhohir dan batin. Maka orang-orang munafik dan musyrikin berhak mendapat adzab yang sangat pedih, sedangkan orang-orang mukmin Allah telah menerima taubat-taubat mereka dan mengampuni hal-hal yang telah mereka tinggalkan karena ketidak mampuan mereka dan Allah telah mengganti jerih payah yang mereka pikul dan mereka kerjakan dengan surga.

4. Hubungan amanah dengan takwa kepada Allah dan anjuran berbuat amanah dalam muamalah.
Allah Ta’ala berfirman:

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanah dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah”al-Baqarah: 283

5. Larangan menyelisihi amanah.
Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”al-Anfaaal: 27

Allah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan melarang mengkhianatinya.

6. Penafian cinta Allah terhadap orang-orang yang berkhianat.
Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat” QS. al-Anfaal: 58

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat” QS. al-Hajj: 38

7. Akibat buruk bagi yang berkhianat.
Allah Ta’ala berfirman:

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah pengawasan dua hamba yang sholeh diantara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (nereka). QS. at-Tahrim: 10

Diangkatnya amanah dan diangkatnya ilmu

Amanah jika sudah diambil dari hati, maka orang yang amanah akan berubah menjadi pengkhianat, akan jarang ditemukan orang-orang yang amanah, dan dalam sebuah hadits: “Seorang lelaki ketika tidur diangkat amanah dari dalam hatinya, maka bekas tersebut menutupinya laksana noda hitam pada kulit, kemudian lelaki itu tidur dan diangkat amanah dari dalam hatinya, maka bekas tersebut menutupinya laksana bengkak atau bekas luka terbakar pada kulit. Sebagaimana sabda Nabi saw: “Seperti bola api yang digelindingkan di kakimu kemudian melepuh dan kamu lihat bekas luka karena melepuh”

Jika ilmu itu diangkat dengan matinya ulama, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّ اللهَ لاَيَقْبِضُ اْلعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ اْلعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ اْلعِلْمَ بِقَبْضِ اْلعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ، اِتَّخَدَ النَّاسُ رُؤُسًا جُهَّالاُ، فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu secara langsung dari hati-hati setiap hamba, akan tetapi ilmu itu diangkat dengan meninggalnya para ulama hingga tidak tersisa seorang alim pun. Maka manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, apabila ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”(shohih Bukhari No. 100)

Sesungguhnya amanah itu diangkat dari hati orang yang amanah, maka berubahlah keadaan orang amanah menjadi seorang yang pengkhianat – semoga Allah menjauhkan hal tersebut dari kita – hingga hampir-hampir engkau tidak menemukan seorang yang amanah, dan hampir-hampir cara pandang masyarakat dalam menilai sesuatu bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya. Seperti ada seorang yang dipuji dengan ucapan : Alangkah sabarnya dia! Alangkah pahamnya dia! Alangkah cerdasnya dia! Padahal tidak ada dalam hatinya iman meski seberat biji sawi, kita berlindung kepada Allah dari lemahnya bersifat amanah dan sedikitnya orang-orang yang dapat dipercaya.

Apabila seorang Hudzifah bin Yaman –RadhiAllahuanhuma- seorang sahabat yang mulia mengeluh karena sediktnya orang-orang yang amanah pada zaman beliau, maka apa yang dikatakan oleh salah seorang diantara kita sedang kita hidup diakhir zaman? Nabi kita -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرُ السَّاعَة

“Apabila amanah telah disia-siakan maka tinggal tunggulah kehancuran”

para sahabat bertanya: “Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?” Nabi bersabda: “Apabila suatu perkara itu diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

Ya Allah kuatkanlah kelemahan-kelemahan kami, dan berilah taufikmu kepada kami agar kami bisa memegang teguh agama-Mu, syari’at-Mu dan Sunnah Nabi-Mu -shollalahu alaihi wa sallam-, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang disebutkan dalam sabda Nabi-Mu -shollalahu alaihi wa sallam-:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ، لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Senantiasa akan ada sekelompok dari umatku membela kebenaran, tidaklah mencelakakan mereka orang-orang yang memusuhi dan menyelisihi mereka, senantiasa mereka akan tetap tegar hingga datangnya hari kiamat”(shohih Muslim No. 4950)





PENA BERMATA DUA


Semoga Allah memuliakan pena, sebagai makhluk pertama ciptaan-Nya(ulama berselisih tentang makhluk pertama yang Allah ciptakan menjadi dua: kelompok pertama menyatakan, makhluk pertama adalah pena. Kelompok kedua berpendapat makhluk pertama adalah Arsy), sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-. Dan Allah telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya. Allah berfirman:
Nūn, demi qolam (pena) dan apa yang mereka tulis. (QS. al-Qolam: 1)

Allah bersumpah dengan pena bahwa dakwah agama Islam bersandar kepada seseorang Nabi yang ma’shūm yang sempurna akal dan kekuatannya. Oleh sebab itu, Allah meneruskan ayat di atas dengan firman-Nya:

Berkat nikmat Rabb-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. (QS. al-Qolam: 2)

Sebab, gila merupakan penyakit yang dapat menghalangi diri dari menjalankan kewajiban agama dan menyampaikan dakwah, juga merupakan salah satu faktor penyebab melampaui batas.

Karena itu, siapa yang ada padanya penyakit gila, ia tidak boleh memegang pena atau menulis dengannya. Apa jadinya jika pena ini disandarkan kepada seorang gila yang ada di muka bumi ini? Sungguh tiada lain dia akan merusak umat. Sehingga kondisinya tak jauh berbeda dengan orang gila yang diberi bom atau senjata penghancur masa lainnya.

Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pena pada beberapa tempat pada kitab-Nya yang mulia, seperti pada firman-Nya:

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu) Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqmân: 27)
Rasulullah n juga telah menjelaskan akan urgensi ilmu dan ketinggian kedudukannya dalam Islam. Kemudian, –selain Allah telah bersumpah dengan pena pada surat al-Qolam- sesuatu yang pertama kali mengetuk pendengaran Nabi n dari beberapa ayat al-Qur`an yang mulia adalah pengagungan terhadap kedudukan pena pada beberapa ayat pertama yang Allah turunkan kepada nabi-Nya n. Allah berfirman:

(Allah) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena (baca tulis). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-’Alaq: 4-5)
Maka itu, karena begitu pentingnya ilmu dan sarana-sarana untuk memperolehnya, Allah menjelaskan hal itu kepada kita pada sela-sela surat al-‘Alaq. Karena masyarakat Jahiliyah dahulu adalah umat yang Ummiy; tidak bisa baca tulis kecuali sedikit, dan ini merupakan penyakit terparah dalam sejarah perjalanan waktu.

Kemudian, tatkala bahan bacaan mudah terlupakan dan hilang, maka agama Islam mewajibkan agar bacaan itu dicatat dengan sarana tulisan, sedangkan pena adalah pena meskipun bentuk dan sarananya berubah-ubah dan berbeda-beda.

SEBUAH NASEHAT

Pena adalah amanah yang ada pada pundak orang yang membawanya, tidak sepatutnya ia menggoreskan pena itu melainkan untuk menulis risalah yang diturunkan kepada para Nabi dan pewaris mereka, yaitu ulama. Maka, salah dalam menggunakan pena seperti salah dalam memainkan senjata, keduanya sama-sama mengakibatkan rusaknya akal dan jiwa. Dan dalam kesempatan ini, seorang pujangga bersyair:

إِذَا اهْتَزَّ فِي طِرْسِهِ مُعْجَباً أَذَلَّ شُعُوْباً وَأَعْلَى شُعُوْباً

Andai ia menulis pada lembaran kertasnya dengan sombong
Maka ia dapat menghinakan suatu bangsa dan meninggikan yang lainnya
Oleh karenanya, wajib hukumnya bagi para penulis untuk bertakwa kepada Allah dengan goresan pena-pena mereka. Sebab ucapan adalah amanah yang dikalungkan pada ujung pena mereka, dan perkataan merupakan amanah yang melingkar di leher-leher mereka. Dan Allah akan menanyakan pertanggungjawaban mereka atas amanah tersebut, sebuah amanah yang enggan dipikul oleh langit-langit, bumi dan gunung-gunung, bahkan semuanya bergetar selama beberapa hari lantaran begitu beratnya amanah itu.

Tidak boleh bagi pada pemilik pena yang beriman kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad n sebagai nabi dan rasul untuk melampaui batas dalam menggunakan pena, sehingga bisa berakibat menyimpang dari kebenaran, memihak kepada kebatilan dan kesesatan, menuduh orang lain, mengejek mereka, mengolok-olok mereka, berlaku masa bodoh dengan mereka dan memuji diri sendiri, atau pula memuji temannya namun sayangnya ia tidak memuji Rabb-nya.

Maka, pena diciptakan untuk mensucikan dan mengagungkan Allah, mengajak manusia kembali kepada-Nya, mengenalkan Allah kepada mereka sebagai sesembahan satu-satunya yang haq, bukan untuk mendekatkan diri kepada penghuni dunia, atau melariskan dagangan bid’ahnya, atau menuliskan pujian dusta, dan tidak pula untuk mendakwahkan manhaj-manhaj rusak dan hal-hal buruk lainnya.

Alangkah banyaknya pena yang harus dipatahkan, betapa banyak para penulis yang harus diberhentikan. Sebab mereka tidak cakap dalam menggunakan pena, mereka malah membuka lembaran-lembaran kebatilan, demi mendapatkan kesenangan jiwa dan kepuasan. Wallâhul Musta’ân.






BELAJAR DARI PENGALAMAN



Dalam mengarungi samudra kehidupan ini, manusia memiliki prinsip dasar hidup yang berbeda-beda. Setiap mereka berpegang teguh dengan norma-norma yang telah diatur dan ditata oleh setiap prinsip masing-masing. Jika ada suatu kelompok yang mengejek atau menghina aturan yang lain, maka mereka tidak terima dan membalas lebih dari sekedar ejekan atau hinaan. Wajar saja jika gesekan antara satu sama lain terkadang tak dapat dihindarkan. Dan akhirnya dapat berwujud permusuhan, saling benci, saling melecehkan, bahkan bisa berbuntut kepada perkelahian dan pembunuhan. Itulah manusia yang memiliki sifat enggan direndahkan dan selalu ingin lebih tinggi dan lebih kuat dari yang lainnya.

Ketika mereka begitu perhatian dengan prinsip dasar hidup masing-masing, tenggelam dengan norma-normanya dan menjunjung tinggi segala aturan adat-istiadat, ternyata mereka lupa atau bahkan sengaja melupakan sebuah aturan yang jauh lebih berhak untuk dipegang dan diikuti dari pada semua aturan yang ada, yaitu aturan agama. Sebuah aturan yang berbuah kedamaian antar sesama. Sebuah prinsip yang menerangi manusia dari gelap-gulitanya ketidaktahuan menuju terangnya cahaya ilmu. Sebuah syariat sempurna yang mengajak kita untuk berfikir bahwa setiap manusia telah diciptakan sama oleh Rabb alam semesta meskipun daerah, suku dan warna kulit saling berbeda. Tidak ada nilai lebih bagi hamba di sisi-Nya melainkan dengan ketakwaan dan keimanan. Inilah agama Islam, agama satu-satunya yang diterima di sisi Allah Yang Maha Kuasa.

Islam mengajarkan kepada kita bagaimana menghormati sesama. Terlebih lagi, bagaimana kita menghormati dan beribadah kepada Allah sesuai tuntunan dan syariat-Nya. Dan juga, bagaimana kita menghormati dan memuliakan Rasulullah n yang telah mewariskan kepada umat ini ilmu agama yang melimpah ruah. Sebanyak apa yang telah kita ambil, sisanya masih jauh lebih banyak lagi.

Maka itu, wajib bagi kita untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya, tunduk dan patuh kepada aturan-Nya, bukan aturan manusia yang berupa adat-istiadat yang banyak menyelisihi aturan agama. Apabila sejalan dengan agama maka tidak mengapa kita mengambilnya. Namun jika bertolak-belakang, tentu wajib bagi kita untuk menomorsatukan syariat agama dan membuang jauh-jauh segala aturan yang menyelisihinya.

Janganlah kita sengaja mengolok-olok dan melecehkan syariat Islam, mengatakan bahwa agama tidak layak lagi diterapkan di tengah-tengah masyarakat modern, atau mencibir seraya berkata: “Agama akan menjadikan umat ini semakin mundur dan terus mundur.”

Sungguh benar, ketika seorang menghidupkan agama Islam maka dia akan semakin mundur. Namun ia mundur menjauh dari neraka dan mendekat ke surga. Lantas, adakah kehidupan yang lebih kita damba-dambakan dari kehidupan surga. Adakah cita-cita dan kemenangan yang lebih tinggi darinya. Setiap orang berakal pasti memiliki asa, dan asa termulia seorang muslim adalah surga Rabb alam semesta.

Sebaliknya, orang-orang yang mengklaim diri mereka maju dan tidak mau menyentuh nilai-nilai agama atau membatasinya ketika berada di tempat ibadah (masjid) saja, kemanakah sebenarnya mereka maju?! Apa sebenarnya definisi “maju” versi mereka?!

Tidaklah orang-orang tersebut semakin “maju”, melainkan mereka akan kian jauh dari agama dan surga. Pintu-pintu kesesatan di hadapan mereka kian lebar. Hati-hati mereka bak di neraka, panas dan kering kerontang dari siraman sejuk embun agama, meskipun mereka hidup mewah, harta melimpah hingga seolah-olah dunia berada dalam genggaman mereka.

Sadar atau tidak, mereka telah begitu jauh dari ajaran agama. Mereka telah menyalahi tuntunan Islam, mencampakkan sunnah-sunnah Nabi n yang membawa keberkahan bagi siapa saja yang menghidupkannya. Mereka pun telah bermaksiat kepada Allah yang telah menciptakan mereka dan memudahkan segala jalan untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Kita hanya bisa berdoa, semoga hidayah Allah segera menyapa mereka selama hayat masih dikandung badan.

KEBINASAAN UMAT TERDAHULU

Allah -subhanahu wata’ala- telah menjelaskan kepada kita dalam banyak ayat al-Qur`an bagaimana kesudahan suatu kaum yang menyelisihi perintah rasul-Nya, bermaksiat kepadanya dan menentang ajaran dan aturan yang ia bawa.

Kaum nabi Nuh -alaihi salam- Allah binasakan dengan banjir yang tiada duanya. Raja Firaun lantaran kalimat kufur yang keluar dari mulutnya (Dua kalimat kufur yang penah diucapkan Firaun tersebut adalah: (1). Aku tidak mengetahui tuhan bagi kalian selain diriku (2). Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi. Lihat keterangannya pada surat al-Qashash ayat 38 dan surat an-Nâzi’ât ayat 24.) dan enggan taat kepada nabi Musa dan Harun -alaihima salam- Allah binasakan ia dan kaumnya dengan gulungan air laut. Tsamud kaum nabi Shalih -alaihi salam-, ‘Aad kaum nabi Hud -alaihi salam- dan kaum-kaum nabi-nabi yang lain yang bermaksiat kepada nabi utusan, semuanya Allah binasakan dengan adzab yang begitu mengerikan.

Kisah nyata tersebut tidaklah Allah sebutkan di al-Qur`an begitu saja tanpa faedah atau tujuan. Justru faedahnya begitu melimpah, di antaranya adalah agar kita mengambil pelajaran bahwa siapa saja yang meragukan, durhaka, melecehkan, membenci, mencela, mengingkari, menetang dan memusuhi setiap rasul yang Allah utus pasti ada akibatnya cepat atau lambat.

Di akhir surat Yūsuf Allah ta’âlâ berfirman:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Yūsuf: 111)

Itulah kaum yang telah berlalu. Apabila mereka baik tentu ada pahalanya, dan jika tidak maka ada balasan yang setimpal pula. Firman-Nya:

Itu adalah umat yang lalu, baginya apa yang telah diusahakan dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 134)

BALASAN DI DUNIA

Allah telah memperingatkan umat ini agar tidak menyelisihi perintah rasul-Nya n. Allah ta’âlâ berfirman:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasululllah) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS. an-Nūr: 63)

Siapa saja yang mencela atau melecehkan salah satu ajaran atau sunnah Rasul -shollallahu alaihi wa sallam-, sadar atau tidak dia telah membenci agama Islam. Dan kosekuensinya adalah Allah akan menimpakan adzab kepadanya, mungkin di dunia, mungkin di akhirat, atau mungkin juga di dunia dan di akhirat. Dan Allah Maha Mengetahui segala gerak-gerik setiap hamba-Nya.

Di bawah ini, kami akan ketengahkan beberapa kisah aneh yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita lantaran keraguan mereka terhadap ajaran Islam atau sunnah Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, menyelisihi, melecehkan, mengolok-olok atau bahkan mengingkarinya. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

• Rupa Berubah Keledai.

Ibnu Hajar -rahimahullah- pernah menyampaikan cerita tentang sebagian penuntut ilmu, bahwasanya ada di antara mereka yang melakukan perjalanan ke Damaskus untuk menimba hadits dari seorang Syaikh tersohor yang ada di sana. Lalu ia pun belajar dan membacakan beberapa hadits di hadapan Syaikh tersebut. Akan tetapi Syaikh itu selalu membatasi antara diri dengan murid-muridnya dengan sebuah tabir, sehingga mereka tidak dapat melihat wajahnya.

Ketika seorang murid tersebut telah lama mengambil ilmu darinya, dan ia mengetahui betapa antusias murid yang satu ini, akhirnya ia membuka tabir agar muridnya itu dapat melihat wajahnya. (Setelah dibuka) ternyata rupa Syaikhnya berwujud keledai.

Kemudian Syaikh tersebut berkata seraya menasehati: “Berhati-hatilah wahai muridku dari mendahului imam (dalam shalat), karena sesungguhnya aku pernah membaca sebuah hadits (Hadits tersebut berbunyi:

أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ

Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala keledai?! -HR. al-Bukhari dan Muslim) dan aku menganggap hal itu tidak mungkin terjadi. Lalu aku pun mendahului imam dan ternyata wajahku berubah seperti yang engkau lihat sekarang ini. [al-Qaul al-Mubîn fî Akhtâ` al-Mushallîn, karya Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, hlm. 252, cetakan Dâr Ibnul Qayyim dan Dâ Ibn Hazm]
Semoga Allah merahmati Syaikh dan mengampuni segala dosanya.

Meskipun ia pernah meragukan sebuah hadits Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, namun alhamdulillâh ia bertaubat kepada Allah dan menasehati murid-muridnya agar tidak meragukan, melecehkan atau menentang sunnah yang datang dari beliau -shollallahu alaihi wa sallam-.

• Kaki Lumpuh Seketika.

Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata: Ahmad bin Marwan al-Maliki bercerita dalam kitabnya al-Mujâlasah: Zakaria bin Abdurrahman al-Bashri pernah bercerita kepadaku: Aku pernah mendengar Ahmad bin Syu’aib bertutur: Kami pernah menghadiri majlis ilmu ulama hadits. Kemudian ia bercerita kepada kami hadits Nabi -shoallahu alaihi wa sallam- berikut:

وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

Dan sesungguhnya malaikat-malaikat meletakkan sayapnya lantaran ridha kepada penuntut ilmu. (Hadits shahih. Lihat: Shahîh Abî Dawūd, no. 3641, Shahîh Ibn Mâjah, no. 223, Shahîh at-Tirmidzi, no. 2682, dll)

Dan tatkala itu ada seorang mu’tazilah ikut hadir bersama kami. Ia melecehkan hadits tersebut seraya berkata: “Demi Allah, besok akan aku penuhi alas kakiku dengan paku untuk menginjak sayap malaikat.”

Ternyata ia benar-benar melakukannya. Dan tatkala ia berjalan dengan alas kakinya itu, tiba-tiba kedua kakinya langsung lumpuh dan seketika itu pula keduanya dipenuhi dengan ulat (belatung).

Ath-Thabrani juga bercerita: Aku pernah mendengar Abu Yahya Zakaria bertutur: Dahulu kami pernah berjalan di lorong kota Bashroh menuju majlis ulama hadits. Kami berjalan dengan tergesa-gesa. Dan pada waktu itu ada seorang yang fasik berjalan bersama kami. Lalu ia berkata seraya mengejek: Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap malaikat! Awas, jangan sampai merobeknya!

Dan anehnya, tiba-tiba kedua kaki orang itu langsung lumpuh dan ia jatuh tersungkur di tempatnya itu. [Miftâh Dâr as-Sa'âdah, karya Ibnul Qayyim, jilid 1, hlm. 256-257, cetakan Dâr Ibn Affân]

• Akibat Menyindir Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-.

Kisah yang lain lagi diceritakan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir -rahimahullah- dalam kitabnya kalimah al-Haq, hlm. 149-153. Ia berkata: “Bahwasanya raja Fuad (Mesir) akan melaksanakan shalat di masjid Abidin. Lalu diundanglah Syaikh Muhammad al-Mahdi, karena dia adalah seorang khatib yang pandai berbicara, dan raja Fuad senang shalat di belakangnya. Dan mentri Waqaf pun telah menunjukknya sebagai khatib di masjid itu.
Peristiwa itu bertepatan dengan datangnya Toha Husain yang baru saja merampungkan pendidikan S3 juruan Sastra di Perancis. Dan raja Fuad adalah orang yang memberikan bea siswa kepadanya dan mengirimnya untuk belajar di Perancis.

Kemudian Muhammad al-Mahdi ingin menyanjung raja Fuad yang telah memuliakan seorang yang buta, yakni Toha Husain. Ia berkata:

مَا عَبَسَ وَ لاَ تَوَلَّى لَمَّا جَاءَهُ الأَعْمَى

Dia (raja Fuad) tidak bermuka masam dan tidak berpaling tatkala seorang buta datang kepadanya.

Dia berucap demikian dengan maksud untuk menyindir Nabi n, yang mana Allah ‘azza wa jalla berfirman:

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. (QS. ‘Abasa: 1 & 2)

Jika demikian, maka sikap raja Fuad lebih utama dari pada sikap Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- di mata khatib yang telah menjual agamanya dengan harga murah dan segelintir logam dirham ini.

Dan pada waktu itu Syaikh Muhammad Syakir -rahimahullah-, ayah Syaikh Ahmad Syakir -rahimahullah- ada di sana, yang mana ia bekerja sebagai wakil di masjid al-Azhar. Ia bangkit dan berkata: “Wahai sekalian manusia, shalat kalian batal dan khatib kafir, maka itu ulangilah shalat kalian.”

Hal itu mengakibatkan terjadi sedikit kegaduhan dan keributan. Namun raja Fuad hanya diam saja. Setelah itu Syaikh Muhammad pergi ke istana Abidin dengan membawa fatwa untuk raja dan memerintahkannya untuk mengulangi shalat zhuhur.

Namun Muhammad al-Mahdi adalah orang yang memiliki banyak pembela dan penasehat. Dan mereka pun menyuruhnya untuk melayangkan surat gugatan kepada hakim atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad Syakir.

Sedangkan Syaikh Muhammad Syakir mengirim surat kepada para orientalis asing yang memiliki ilmu dan pengalaman atas kandungan makna ungkapan-ungkapan arab. Di dalam surat itu ia bertanya, apakah ucapan khatib –Muhammad al-Mahdi- ini mengandung sindiran terhadap Nabi mulia -shollallahu alaihi wa sallam- atau tidak. Sengaja beliau tidak pergi datang kepada ulama al-Azhar agar tidak dikatakan beliau mencari dukungan dari mereka (sebab beliau merupakan ulama al-Azhar). Dan tatkala diketahui bahwa kasus ini akan berbuntut fitnah dan khatib itu pasti kalah di pengadilan, maka para penasehatnya melarang Muhammad al-Mahdi untuk melanjutkan kasus itu ke pengadilan.

(Ketika bercerita kisah ini) Syaikh Muhammad Syakir bersumpah dengan nama Allah dan berkata: “Sungguh, aku melihat kejadian ini dengan kedua mataku, dan waktu telah lama berlalu dari orang ini (Muhammad al-Mahdi), yang mana dahulu ia termasuk khatib besar kota Mesir yang begitu masyhur, sampai-sampai raja Fuad semangat untuk shalat di belakangnya, sungguh aku telah melihatnya begitu hina dina, ia menjadi tukang bersih-bersih dan penitipan alas kaki di salah satu masjid. Aku sengaja bersembunyi darinya -karena dia mengenalku dan aku pun mengenalnya- agar dia tidak melihatku. Dan aku tidak merasa iba dengannya, karena dia tidak layak mendapatkan rasa iba dariku.”

Sungguh Allah telah mensegerakan baginya balasan buruk di dunia sebelum di akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari dicampakkan oleh-Nya. [Kalimah al-Haq, karya Syaikh Ahmad Syakir, hlm. 149-153]

BELAJAR DARI PENGALAMAN

Inilah tiga kisah dari orang-orang sebelum kita –dan kisah seperti ini yang lainnya masih banyak lagi-, bagaimana mereka meragukan, melecehkan atau menentang sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, semuanya berakibat kepada turunnya adzab dari Allah.

Maka itu, hendaklah orang-orang yang masih meragukan, melecehkan, mengolok-olok, merendahkan, menghinakan, menentang atau mengingkari sunnah Nabi n segera bertaubat dan kembali kepada Allah l dengan segala penyesalan. Hendaklah mereka jera dari menyalahi atau menyelisihi ajaran Islam. Hendaklah mereka belajar dari pengalaman, bahwa kesudahan buruk akan menimpa siapa saja yang melecehkan sunnah Nabi-Nya, cepat atau lambat. Dan hendaklah mereka juga merubah gaya hidup yang buruk menjadi menjadi pola hidup yang sesuai dengan syariat Islam, yang dapat menghantarkan setiap orang kepada kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Dan hanya kepada Allah-lah kita bertaubat dan memohon ampunan. Karena hanya Dia-lah Rabb Pemberi taufiq para hamba-Nya lagi Maha mengampuni segala dosa dan kesalahan. Tiada Ilâh yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Rabbul ‘Alamîn. Wallâhu ta’âlâ a’lam.





IMAN KUAT , UJIAN BERAT


Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah, wa ba’du.

Kita semua pasti pernah mendapatkan suatu ujian, baik dengan kenikmatan maupun musibah. Dan dalam menurunkan ujian itu, Allah ta’ala membedakan tingkatannya sesuai kadar keimanan yang ada pada setiap orang, semakin kuat imannya maka semakin besar ujiannya.

Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْباً اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِيْ عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal mereka lalu orang yang seperti mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kuat maka ujian baginya semakin berat. Namun bila agamanya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya tersebut. Dan ujian itu akan senantiasa menimpa seorang hamba hingga membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa memiliki dosa sedikitpun. (at-Tirmidzi (2/64), Ibnu majah (4023), ad-Darimi (2/320), ath-Thohawi (3/61), dll. at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih)

Demikianlah, semakin dia kuat imannya maka semakin berat ujiannya. Sebagaimana berbagai ujian telah menerpa dan menghiasi kehidupan Para Nabi sebagai manusia yang paling beriman dan bertakwa kepada Allah azza wa jalla.

Aisyah -radhiallohu anha- pernah bercerita tentang ujian yang menimpa Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam :

مَا رَأَيْتُ رَجُلاً أَشَدَّ عَلَيْهِ الْوَجَعُ مِنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih berat penyakitnya dari pada Rasulullah n. (HR. Muslim)

Inilah persaksian Aisyah -radhiallohu anha-, seseorang yang paling dekat dengan Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, yang banyak mengetahui tentang peristiwa dan kejadian yang menimpa suami tercinta.

Dan ini adalah sebuah ucapan yang menunjukkan bahwa beliau sendiri sebagai seorang Nabi, yang memiliki keimanan dan ketaatan yang sempurna kepada Allah, beliau tidak pernah luput dari ujian, cobaan, penyakit dan gangguan yang terus meliputi hari-hari beliau -shollallahu alaihi wa sallam-.

Maka itu, ujian apa saja yang menimpa seorang dari kita, hendaklah kita bandingkan dengan sederet cobaan yang jauh-jauh hari telah menimpa Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-. Semoga saja segala ujian tersebut akan menjadi ringan bagi kita dan dapat kita lewati dengan mudahnya. Wa billahit taufiq.





BERSANDAR KEPADA ALLAH SETIAP WAKTU


Menyandarkan hati kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah termasuk ibadah yang sangat diperintahkan dalam Islam. Hal itu karena seorang hamba selalu memerlukan Rabb-nya dalam setiap keadaan.

Allah -Subhanahu wata’ala- sendiri telah menyifati diri-Nya dengan Dzat yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:

الله الصمد

Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. al-Ikhlâsh: 2)

Ibrahim berkata: ”ash-Shamad artinya Dzat yang menjadi tempat bergantungnya para hamba dalam kebutuhan-kebutuhannya”. (ad-Durr al-Mantsūr, jilid 15, hlm. 782)

Bergantung kepada Allah setiap saat.

Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- telah mengajarkan umatnya beberapa doa yang khusus untuk dibaca setiap pagi dan sore hari atau yang lebih dikenal dengan adzkâr ash-Shabâh wa al-Masâ` (dzikir pagi dan petang). Di dalamnya banyak berisi permohonan kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, antara lain doa agar diberikan perlindungan dan keselamatan pada hari atau malam itu.

Salah satu doa Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- tersebut adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas -radhiallohu anhu- berikut, ia berkata: Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- berkata kepada Fatimah -radhiallohu anha-

مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِيْ مَا أُوْصِيْكِ بِهِ ؟ أَنْ تَقُوْلِيْ إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ

Apa yang menghalangimu dari mendengarkan wasiatku kepadamu ? Hendaklah engkau membaca (doa ini) apabila berada di waktu pagi hari dan sore hari:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلىَ نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Wahai Dzat Yang Maha Hidup Kekal, Wahai Dzat Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku walaupun hanya sekejap mata”. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, no. 48 dan dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shahîhah, jilid 1, hlm. 449, no. 227)
Hal itu menunjukkan bahwa seorang hamba harus senantiasa merasa bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan.

Kembali kepada Allah meskipun dalam permasalahan yang terlihat sepele.

Dalam permasalahan yang terlihat sepele dan ringan saja, seorang muslim dianjurkan dan diperintahkan agar berdoa kepada Allah. Rasulullah -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:

لِيَسْتَرْجِعْ أَحَدُكُمْ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ، حَتىَّ فِيْ شِسْعِ نَعْلِهِ، فَإِنَّهَا مِنَ الْمَصَائِبِ

Hendaklah seorang dari kalian mengucapkan istirjâ’ (Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ūn: sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya semata kita akan kembali) meskipun dalam hal tali sandalnya, karena hal itu adalah termasuk musibah. (Hadits hasan, al-Kalim ath-Thayyib, dengan takhrîj al-Albani, hlm. 81, no.140)

Contoh Sikap Bergantungnya orang Shalih kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Apabila kita buka lembaran sirah para ulama, maka akan didapati banyak sekali praktek mereka dalam menjalankan ibadah yang sangat agung ini, yaitu bersandar kepada Allah dalam segala hal, setiap waktu dan semua permasalahan.
Berikut ini adalah beberapa contoh praktek mereka dalam bersandar kepada Allah.

1. Abu Hanifah.
Apabila beliau mendapatkan kesulitan, beliau beristighfar kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:

Dari Abu Ja’far al-Balkhi, salah seorang ahli fiqih, ia berkata: “Telah sampai kepadaku bahwasanya Abu Hanifah -semoga Allah merahmatinya- dahulu apabila mendapatkan kesulitan dalam suatu permasalahan atau mendapatkan syubhat di dalamnya beliau berkata kepada para sahabatnya: “Tidaklah ini terjadi melainkan karena dosa yang telah aku perbuat”, lalu beliau beristighfar dan kadang-kadang beliau berwudlu dan melakukan shalat dua rakaat lalu beristighfar, maka terselesaikanlah masalahnya, lalu beliau berkata: “Aku optimis, karena aku berharap bahwasanya aku telah diampuni oleh Allah sehingga aku dapat menyelesaikan masalah tersebut”.

Ketika berita ini sampai kepada Fudhail Bin ‘Iyadh, ia menangis sejadi-jadinya lalu berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, hal itu dapat terjadi karena sedikitnya dosa yang ia miliki, sedangkan selain beliau, mereka tidak memperhatikannya, karena dosanya telah menenggelamkan dirinya”. (‘Uqūd al-Jumân fî Manâqib al-Imâm al-A’zham Abu Hanîfah an-Nu’mân, karya Imam Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi asy-Syafi’i (wafat 942), hlm. 228-229)

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Apabila beliau merasa kesulitan dalam menafsirkan suatu ayat dalam al-Qur`an, beliau memohon kepada Allah seraya membaca:

الَلَّهُمَّ يَا مُعَلِّمَ آدَمَ وَإِبْرَاهِيْمَ، عَلِّمْنِيْ، وَيَا مُفَهِّمَ سُلَيْمَانَ فَهِّمْنِيْ

Wahai Dzat yang mengajari Adam dan Ibrahim, ajarilah aku, dan Wahai Dzat yang memberi kepahaman kepada Sulaiman, jadikanlah aku paham.

Setelah membaca doa ini, Allah pun mengabulkan permintaannya. (al-Majmū’ah al-’llmiyyah, hlm. 181, karya Syaikh Bakr, jauh sebelumnya ungkapan ini sudah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lâm al-Muwaqqi’în, jilid 4, hlm. 257 dengan lafal yang lebih pendek)

3. Abu Ishaq p-Syirazi.
Imam an-Nawawi -rahimahullah- menjelaskan tentang keadaannya, bahwasanya dirinya tidak mengatakan tentang suatu masalah pun melainkan mendahuluinya dengan beristi’ânah (memohon pertolongan) kepada Allah. Selain itu juga, tidaklah beliau menulis suatu permasalahan melainkan mendahuluinya dengan shalat beberapa rakaat. (Muqaddimah al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 15)

4. Urwah Bin Zubair.
Beliau mengatakan:

إِنِّيْ لأَدْعُوْ اللَّهَ فِيْ حَوَائِجِيْ كُلِّهَا، حَتَى بِالْمِلْحِ

Sesungguhnya aku benar-benar berdoa kepada Allah dalam segala keperluanku sampai (dalam hal) garam. (al-Fawâkih ad- Dawâni Syarh Risâlah Ibn Zaid al-Qirwâni, karya Ahmad bin Ghunaim al-Maliki, jilid 1, hlm. 211)

5. Sa’id bin al-Musayyib.
Hampir-hampir Sa’id Bin al-Musayyab tidak berfatwa dengan suatu fatwa atau melontarkan suatu ucapan melainkan mengatakan:

الَلَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّيْ

Ya Allah, selamatkanlah aku dan selamatkanlah ia dariku. (al-Madkhal ilâ as-Sunnan al-Kubrâ, karya al-Baihaqi, no. 824, hlm. 439-440)

Bergantung kepada selain Allah termasuk perusak hati.

Sesungguhnya hati manusia dapat menjadi rusak disebabkan oleh beberapa perusak, di antaranya adalah bergantungnya seseorang kepada selain Allah.

Ketika Ibnul Qayyim t menjelaskan tentang perusak-perusak hati dalam Madârij as-Sâlikîn, beliau menerangkan bahwa bergantung kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala- termasuk perusak yang paling besar terhadap hati secara mutlak, karena tidak ada yang lebih berbahaya dan lebih dapat memutuskan hati dari kebaikan dan kebahagiaanya dari pada bergantung kepada selain Allah tersebut. Selain itu, apabila seseorang bergantung kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala-, maka ia akan diserahkan kepada objek yang menjadi tempat bergantungnya tersebut. (Madârij as-Sâlikîn, jilid 1, hlm. 492)

Orang yang bergantung kepada selain Allah telah merugi dengan kerugian yang besar karena telah bergantung kepada sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan madharat.

Ibnul Qayyim telah membuat perumpamaan berikut: “Perumpamaan orang yang bergantung kepada selain Allah itu laksana orang yang berteduh dari dingin dan panas dengan sarang laba-laba, yang merupakan selemah-lemahnya rumah” (Madârij as-Sâlikîn, jilid 1, hlm. 492)

Setelah mengetahui bagaimana pentingnya kembali, bergantung dan bersandar kepada Allah dalam segala urusan, maka kita akan mengetahui pentingnya melakukan shalat istikhârah dan membaca do’anya sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah n. Bahkan al-Imam al-Qurthubi mengatakan: “Sebagian ulama mengatakan: “Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk maju dan memilih suatu perkara duniawi sampai ia meminta kepada Allah pilihan dalam hal itu dengan shalat istikhârah sebanyak dua rakaat “. (al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, jilid 18, hlm. 306)
Semoga Allah memberi bimbingan kepada kita untuk dapat selalu bergantung kepada-Nya dan melindungi hati-hati kita dari sikap ketergantungan kepada selain-Nya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar