Powered By Blogger

Jumat, 22 April 2011

KATA MAKNA



INILAH CARA MEMBANGUN OPTIMISME


"SUDAHLAH! Jangan ngoyo, kita nggak akan berhasil!" Kata-kata seperti ini mungkin pernah kita dengar pada saat orang atau kelompok orang menyusun rencana dan target kerja.

Ada dua kemungkinan mengapa kata-kata ini keluar dari mulut seseorang. Pertama, rencana yang dibuat memang tak realistis. Kedua, ada orang yang selalu memandang berat setiap masalah. Alasan kedua inilah yang biasa disebut sebagai sikap pesimis.


Sikap pesimis merupakan halangan utama bagi seseorang untuk menerima tantangan. Orang yang telah terjangkiti virus pesimis selalu merasa hidupnya penuh dengan kesulitan. Ia selalu berada dalam ketidakberdayaan menghadapi masa depan.

Penyakit pesimis dapat terbangun akibat proses pendidikan yang kurang baik: bisa dari masa kecil atau akibat peristiwa sesaat yang sangat menyakitkan. Penyebab pertama, biasanya akan lebih sulit diperbaiki, karena pesimisme telah menyatu dalam kepribadian orang tersebut. Mereka memiliki konsep diri yang kurang baik dan memiliki pandangan yang buram terhadap kehidupan dan masa depan nya. Sedang pesimisme yang terjangkit akibat pengalaman pahit, lebih mudah diatasi sejauh orang tersebut dapat menata kembali target dan langkah-langkahnya dalam mencapai target tersebut.

Berikut beberapa-hal yang dapat menumbuhkan perasaan pesimistis dalam diri seseorang:

1. Terlalu sering dibantu. Anak yang tumbuh dalam suasana sering dibantu seringkali tak dapat mengenali kemampuannya. Ia akan sering mengatakan, "Saya tak bisa." Ini terjadi karena anak tak dibiarkan menghadapi kesulitan sedikitpun. Ketika si anak mengeluh tentang sulitnya ‘PR’ dari sekolah, orang tua lantas mengambil alih PR tersebut. Ketika anak menghadapi masalah dengan mainannya, orang tua segera mengatasi masalah tersebut. Dalam jangka panjang, anak ini akan tumbuh sebagai orang yang merasa tak mampu menghadapi kesulitan. Ia akan selalu mengharapkan bantuan orang lain dalam mengatasi masalah-masalahnya. Manakala bantuan itu tak ia peroleh, ia pun merasa tak dapat berbuat apa apa.

2. Terlalu sering dilecehkan. Orang yang dalam masa pertumbuhannya seringkali dilecehkan akan menganggap dirinya menjadi orang terbodoh se-dunia. Keadaan ini tentu membuatnya memandang buram potret diri dan masa depannya. Ia juga akan merasa tak mampu mengatasi persoalannya sendiri.

3. Sikap negatif terhadap kegagalan. Kalau kita lihat dalam keseharian, ada orang yang merasa selalu ditimpa kegagalan. Pada kenyataanya, tak ada seorang pun di dunia ini yang selalu gagal dan tak pernah berhasil. Masalahnya adalah bagaimana ia menyikapi kegagalan. Ada orang yang merasa begitu hancur ketika ditimpa kegagalan. Kegagalan menjadi peristiwa yang amat besar dalam hidupnya, sebab keberhasilan tak pernah ia syukuri sedikitpun. Akibatnya, ia merasa sebagai pecundang, bodoh dan tak punya masa depan.

4. Dampak optimisme berlebihan. Optimisme berlebihan seringkali menyisakan pengalaman pahit dalam diri seseorang. Pengalaman ini membuat orang tak lagi bergairah membicarakan target-target yang telah gagal itu. Orang seperti ini menghadapi trauma untuk membicarakan hal tersebut. Keadaan seperti ini tentu akan menyulitkan bagi orang tersebut untuk bangkit dari kegagalan. Ia akan lebih tertarik untuk membicarakan dan memulai hal-hal baru daripada mengulang kembali pengalaman pahit tersebut.

Pesimisme, baik yang dialami oleh individu maupun kelompok, memang harus diatasi. Namun, dibutuhkan keteguhan dalam membatasi masalah kejiwaan yang satu ini, karena pesimisme terbangun dari pengalaman dan kita tak bisa mengubah hal-hal yang telah terjadi. Ada bebarapa hal yang mungkin dilakukan untuk membangun kembali optimisme kita:

1. Temukan hal-hal positif dari pengalaman masa lalu, sepahit apapun pengalaman itu. Dalam kegagalan, sekalipun masih ada keberhasilan-keberhasilan kecil yang terselip, cobalah temukan keberhasilan itu dan syukuri keberadaannya. Upaya ini paling tidak akan mengobati sebagian dari perasaan hancur yang kita derita. "Tapi bagaimanapun saya telah gagal" Buang jauh-jauh pikiran tersebut, karena pikiran tersebut tak akan membantu kita dalam meraih nikmat Allah berikutnya. Allah hanya akan menambahkan nikmatNya pada orang yang mau mensyukuri pemberianNya meskipun nikmat itu sedikit.

2. Tata kembali target yang ingin kita capai. Jangan terbiasa membuat target yang berlebihan. Kita memang harus optimis, tapi kita perlu juga mengukur kemampuan diri sendiri. Kita juga perlu menelaah lebih jeli cara apa yang mungkin kita lakukan untuk mencapai target tertentu. Cara Irak menghadapi agresor/penjajah AS mungkin dapat dijadikan contoh. Dari awal Irak tak mengatakan akan menang dalam pertempuran. Tapi mereka hanya mengatakan "AS akan menghadapi kesulitan jika berhadapan dengan tentara dan perlawanan rakyat Irak." Irak pun menghitung-hitung dalam medan mana ia dapat memberikan perlawanan yang sengit terhadap para agresor/penjajah tersebut. Mungkin Irak berusaha memenangkan pertempuran di medan opini dunia dan jalur diplomatik. Ini adalah satu contoh bagaimana sebaiknya menetapkan target dengan melihat kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki.

3. Pecah target besar menjadi target-target kecil yang dapat segera dilihat keberhasilannya. Seringkali ada manfaatnya untuk melihat keberhasilan-keberhasilan jangka pendek dari sebuah target jangka panjang. Hal ini akan semakin menumbuhkan semangat dan optimisme dalam diri kita. Tentu kita harus terus mensyukuri apa yang kita peroleh dari capaian target-target kecil tersebut. Jangan pernah terbetik dalam hati, "Ah baru segini, target kita masih jauh." Sikap ini sama sekali tak membangun rasa optimis.

4. Bertawakal kepada Allah. Menyadari adanya satu kekuatan yang dapat menolong kita di saat kita menghadapi rintangan merupakan modal dasar yang cukup ampuh dalam membangun optimisme. Bertawakal tentu harus dilakukan bersamaan dengan upaya kita memperbaiki target dan strategi pencapaiannya.

5. Langkah terakhir kita perlu merubah pandangan kita terhadap diri sendiri dan kegagalan. Kita perlu lebih sayang dan menghargai diri sendiri. Jangan kita terus menerus mengejek diri sendiri. "Aku ini orang bodoh, tak bisa apa apa." Ini bukanlah sikap merendah, tapi merupakan sikap ingkar terhadap kelebihan yang telah Allah karunikan kepada kita. Wallahu’alam.





KETEKUNAN ITU MAHAL



Di sebuah negeri hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan. Mereka adalah pengrajin emas dan pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil kerja itu ke kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada rombongan tamu agung mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang. Tentu, berita ini mendorong para pedagang agar membuat lebih banyak barang untuk dijajakan. Tak terkecuali dua orang pengrajin yang menjadi tokoh kita ini.


Siang-malam terdengar suara logam ditempa. Tungku-tungku api seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang membara seakan mewakili semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias telah dihasilkan. Hari pasar makin dekat. Dan, lusa adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah sayang.., ada kontras diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tidak berkilau. Ulir-ulirnya kasar. Pokok-pokok simpul rantai tidak rapi. Seakan pembuatnya adalah orang yang tergesa-gesa.

”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam. ”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi. ”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu”

Pengrajin kuningan hanya tersenyum. Ketekunannya mengasah logam membuat semua hasil karyanya lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap dipandang mata.

Ketekunan memang mahal. Hampir semua orang yang lewat tak menaruh perhatian pada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup membuat mereka tertarik dan mau membelinya. Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Perajin emas tertegun diam dan perajin kuningan tersenyum senang.

Hari pasar usai. Para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah membereskan barang dagangan. Dan, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

Teman, ketekunan memang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalaninya. Begitupun kemuliaan dan harga diri. Tak banyak orang yang menyadari bahwa kedua hal itu tak berasal dari apa yang kita sandang hari ini. Setidaknya tindak-laku kedua pengrajin di atas adalah potongan siluet kehidupan kita.

Ketekunan adalah titin jalan panjang yang licin berliku. Seringkali jalan panjang itu membuat kita tergelincir dan jatuh. Sering pula titian itu menjadi saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kepada kebahagiaan di ujung simpulnya. Namun percayalah, ada balasan bagi ketekunan. Di ujung sana ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan tentu punya nilai yang berbeda. Tapi, apakah kemuliaan dinilai hanya apa yang disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan dari simbol-simbol yang tampak dari luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari pengrajin kuningan bahwa kemuliaan adalah buah dari ketekunan. Dan, bahwa kemalasan akan membuahkan kelemahan jiwa.

Membentuk ketekunan mungkin hampir sama sulitnya dengan menempa logam, bahkan lebih sulit. Tanyakan saja kepada mereka yang berusaha untuk tekun qiyamullail, betapa sulit dan keras usahanya. Atau tanyakan kepada mereka bagaimana beratnya membiasakan diri shoum sunnah. Atau coba tanyakan kepada mereka yang sudah menekuni tilawah Qur’an 10 halaman hingga satu juz setiap harinya. Tanyakan kepada mereka yang punya hafalan 5 juz. Atau coba tanyakan pula kepada saudara kita yang sudah berusaha menekuni diri selalu hadir di majelis halaqoh dan majelis taklim. Apalagi mereka yang menekuni peran sebagai guru, murabbi atau ustadz. Hanya orang bermental baja yang bersedia menekuni pekerjaan itu.

Sekali lagi, ketekunan itu mahal. Dan, ketekunan itulah yang bisa merubah nilai atau harga diri seseorang, walaupun pada mulanya ia hanyalah berasal dari keluarga "kuningan" bukan keluarga "emas". Karakter diri yang kuat, kedewasaan, daya juang yang tinggi dan kematangan bertindak hanya mungkin diraih oleh orang-orang yang punya ketekunan dan mau berproses untuk bisa menjadi tekun. Tingkat ketekunan adalah ukuran yang bisa dipercaya untuk menilai seseorang.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga bila ulir-ulir hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia, jika lekuk-lekuk kalbu kita koyak dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga jika pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya tak dipenuhi dengan simpul-simpul ikhlas dan perangai nan luhur?

Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari kita bentuk ulir dan leku-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya. Susunlah simpul-simpul itu dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah dengan kesungguhan diri agar hati kita tidak keras dan menjadi lembut, luwes, serta mampu memenuhi hati orang lain. Percayalah, ada imbalan untuk semua itu. Amin.




MANISNYA BUAH PEMAKSAAN


Budaya diri itu tidak tercipta seketika. Ada proses panjang yang harus dilalui. Seperti sebuah pahatan yang berkelas, ia adalah paduan antara kreasi, ide, kesabaran, dan semangat kerja yang tak ada habisnya. Begitulah sebuah budaya diri yang baik. Ia mulanya -bahkan kebanyakan- adalah ‘pemaksaan’, lantas berubah menjadi kebiasaan. Lalu sesudah itu orang bisa mengalir dalam jalan kehidupannya yang baik. Dengan sesekali terjadi pasang surut semangat, tetapi ia tidak lupa dengan tujuan akhir hidupnya. Beberapa hal berikut, adalah buah yang sangat berharga dari ‘pemaksaan’ diri untuk menjadi baik.

1. ‘Pemaksaan’ membuat orang tidak terkejut dengan perubahan.

Tidak ada yang stabil dalam hidup ini. Seiring perginya pagi dan datangnya siang, selalu saja ada hal baru yang berubah. Kadang ia mengenakkan. Tak jarang pula ia menyesakkan. Orang-orang yang terbiasa hidup dengan semangat yang kuat, dengan ‘pemaksaan’, tidak akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.


Hubungan antara pemaksaan diri dengan keterkejutan sangat dekat. Manusia adalah anak kebiasaannya. Jika ia terbiasa bersusah payah, ia tidak akan terkejut dengan kesusahan. Sebaliknya, yang tidak terbiasa dengan kesulitan, dan hanya mengerti hidup yang enak, akan sulit membiasakan diri dengan hal-hal yang sulit. Selebihnya, sejarah anak manusia banyak membuktikan teori itu. Sungguh banyak cerita keberhasilan seseorang yang diawali oleh situasi sulit tapi ia tabah dan mampu melawan kesulitannya. Sungguh banyak kisah keterpurukan orang yang sulit bangkit karena ia tak mampu melawan dinamika hidup.

Bercermin pada peri hidup Rasulullah SAW saja, kita dapat memahami bagaimana proses penempaan pribadi pemimpin agung itu. Bagaimana ia sejak kecil hidup mandiri dan terlepas dari orang tua yang seharusnya terlibat dalam perjalanan hidupnya ketika itu. Rasul ditinggal oleh ayahnya sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Tak berapa lama setelah lahir, giliran sang ibu yang meninggalkannya. Kemudian sang kakek yang mengasihinya. Di sela-sela itu, Rasulullah juga merasakan sulitnya menghidupi diri lewat upayanya sebagai penggembala kambing. Ia juga ikut mendampingi pamannya berdagang ke sejumlah tempat. Begitulah. Proses hidup itu antara lain yang makin menguatkan mental dan kepribadian Rasulullah hingga ia berhasil mengemban amanah Allah SWT untuk memperjuangkan aqidah tauhid.

2. Pemaksaan itu kerap disadari manfaatnya di kemudian hari.

Tak terhitung manfaat yang bisa dirasakan dari pemaksaan suatu kebaikan. Seperti juga di akhirat kelak, baru tersadar bahwa manfaat pemaksaan diri begitu besar bagi upaya orang memohon masuk surga. Seringkali pemaksaan diri baru terasa manfaatnya kelak di kemudian hari. Seperti seorang anak kecil, yang selalu dipaksa ibunya menggosok gigi. Kelak, ia akan menyadari, betapa pemaksaan itu begitu memberi arti bagi kesehatan giginya di usia dewasa. Sementara si anak ketika itu, mungkin lebih merasakan kegiatan menggosok gigi itu sebagai beban yang memberatkan.

Dalam konteks kehidupan dunia dan akhirat, seorang mukmin juga harus punya prinsip seperti itu juga. Betapa tidak ringan, memaksa diri untuk shalat malam, untuk berpuasa, untuk menjauhi larangan Allah. Tetapi betapa bahagianya orang di surga kelak, ketika ia mendapati balasan dari Allah, mendapati pahala yang telah dijanjikan Allah.

Sesungguhnya surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai. Sementara neraka dkelilingi dengan hal-hal yang disukai. Maka, untuk mengharap surga Allah, salah satu jalan yang harus dilalui adalah memaksa diri untuk memilih jalan yang ‘tidak kita sukai’, dan meninggalkan jalan yang lebih disukai’.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, "Hendaknya para orang tua selalu membiasakan anaknya untuk bangun di akhir malam. karena ia adalah waktu pembagian pahala dan hadiah (dari Allah). Maka di antara manusia ada yang mendapatkan bagian yang banyak, ada yang hanya mendapatkan sedikit, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkannya. Sesungguhnya jika seorang anak telah terbiasa bangun di akhir malam sejak masa kecilnya maka akan menjadi lebih mudah baginya untuk membiasakannya di masa dewasanya." (Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, 241)

3. Pemaksaan memberi contoh yang baik.

Pemaksaan memang terkesan berkonotasi negatif dan semena-mena. Tapi dalam konteks kebaikan, manfaatnya bisa dirasakan langsung, baik oleh orang yang memaksa, orang yang menjadi objeknya, bahkan juga oleh orang lain yang hanya sekedar melihat dan memperhatikan. Bagi orang yang memaksakan kebaikan kepada orang lain, biasanya akan menjadi cambuk untuk dirinya sendiri agar tidak melanggar apa-apa yang ia paksakan pada orang lain. Ini artinya, ia akan terpacu untuk tampil lebih baik dan lebih disiplin. Karena mau tidak mau ia sadar dirinya akan menjadi contoh dan ditiru oleh orang lain. Bagi yang menjadi objek pemaksaan, dalam konteks amal-amal yang baik, ia pun akan mendapatkan manfaat pembinaan dirinya. Sementara bagi orang lain, yang melihat bentuk pemaksaan dan pendisiplinan itu, akan berbuah ketertarikannya pada kebaikan yang ia saksikan. Bisa jadi juga ia akan mengikuti kebaikan itu pada akhirnya.

Contoh baik seperti ini kemudian akan juga dirasakan oleh generasi selanjutnya. Biasanya, fenomena ini berlaku antara pimpinan dan bawahannya. Antara ketua dan anak buahnya, juga antara orang tua dan anak-anaknya. Lalu mengalirlah cerita indah kekaguman kita pada orang-orang yang memaksakan kita dengan kedisiplinan. Muncullah komentar-komentar tentang pemimpin dalam perusahaan yang berhasil membentuk suasana kondusif untuk bekerja dan produktif. Keluarlah pengakuan bahwa hasil paksaan itu pada akhirnya telah menciptakan jiwa yang siap bertarung, bermental kuat untuk menghadapi keadaan dan sebagai bekal dalam meniti hidup. Kita pun jadi mengerti betapa indahnya harga sebuah kedisiplinan yang meski dipaksakan pada awalnya.

4. Pemaksaan mengurangi kebiasaan buruk

Jiwa manusia mempunyai potensi baik dan buruk. Selalu terjadi tarik menarik antara dua potensi itu. Allah SWT menyinggung masalah ini dalam istilah jalan untuk fujur(dosa) dan jalan untuk taqwa. Dua jalan itu terhampar di hadapan setiap orang. Tentu saja, jalan dosa secara lahir kerap menipu dan memperdaya. Keburukan kerap diselimuti oleh sesuatu yang melenakan. Sebaliknya kebaikan kerap dikelilingi oleh sesuatu yang sepertinya melelahkan. Di sinilah perlunya pemaksaan terhadap jiwa. Kecenderungan pada keburukannya harus ditahan atau setidaknya diminimalisir. Orang akan cenderung memilih sesuatu yang sifatnya santai, nyaman, tidak menanggung resiko, bebas, merdeka. Tapi ini harus dilawan. Karena bila tidak kecenderungan buruk itu akan terus menerus merongrong tak kenal henti.

Pemaksaan bukan saja diperlukan karena alasan ketidakmengertian orang untuk melakukan sesuatu. Untuk seorang anak, mungkin ia tidak mengerti kenapa ia harus melakukan ini dan itu. Tapi bagi seorang dewasa, kecenderungan hati untuk santai, menunda-nunda pekerjaan, menganggap remeh suatu masalah, harus dipaksa untuk diminimalisir. Proses ini memang akan berat. Tapi biasanya keberatan itu hanya terjadi di awal-awalnya saja. Selanjutnya, bila telah terbiasa dilakukan, maka aktivitas yang tadinya dipaksakan malah bisa menjelma menjadi sesuatu yang rutin dilakukan secara sukarela. Dan bahkan terasa dibutuhkan. Seseorang menjadi tidak enak bila belum melakukan sholat wajib. Seseorang bisa menjadi gelisah bila lalai membaca Al Qur’an. Seseorang bisa merasa tidak tenang tatkala belum mengeluarkan uang untuk zakat. Dan seterusnya.

5. Pemaksaan adalah benteng pertahanan terbaik

Pemaksaan adalah benteng pertahanan diri yang terbaik. Menjadi baik harus dipaksa dan diawasi. Kita bisa perhatikan bagaimana saat ini prilaku korupsi tidak hanya dilakukan oleh pejabat, pengusaha, politisi, intelektual, dan kaum pegawai, tetapi juga oleh orang-orang yang berhubungan dengan lembaga-lembaga sosial, bahkan lembaga keagamaan. Di mana saja ketika ada kesempatan, orang akan melakukan korupsi. Dari kalangan atas hingga pegawai rendahan yang paling sederhana misalnya bisa ditemukan dalam bentuk pengutan dan tarikan iuran dari warga yang sering tidak dipertanggungjawabkan. Kepanitiaan yang dibentuk dari warga sendiri tidak jarang juga berbuat nakal.

Di kalangan pejabat dan kalangan atas lainnya korupsi tidak kalah atraktif. Seiring tuntutan pemberantasan korupsi-kolusi dan nepotisme (KKN), makin banyak pula kasus korupsi yang terkuak. Permainan akal-akalan antara pejabat dan pengusaha misalnya, telah mengakibatkan kerugian negara hingga ratusan triliun rupiah. Bagaimana mengerem itu semua? Dengan dipaksa agar keuangannya diaudit. Bisa dipaksa untuk tidak korupsi dengan ancaman hukuman penjara dan hukuman berat lainnya. Bisa dengan membentuk sistem organisasi yang bisa saling mengontrol dan sebagainya.

Dalam konteks pribadi, pemaksaan adalah benteng pertahanan paling ampuh untuk menahan arus hedonis, pelanggaran norma, kebebasan tanpa aturan, dan sebagainya. Karena tanpa adanya pemaksaan, yang lahir dari diri sendiri maupun orang lain, kuat kemungkinan kita akan terseret oleh arus-arus sosial yang kini menggejala di mana-mana.

Manfaat pemaksaan berbuat baik tak pernah habis. Karena saat perbuatan baik itu telah biasa dilakukan, maka itu adalah aset kebaikan yang terus mengalir. Mengalir, bagi orang yang melakukan pemaksaan, dan terutama bagi orang yang telah menjadi baik oleh pemaksaan itu. Ketika itulah, seseorang benar-benar menikmati indah dan manisnya sebuah pemaksaan.

Wallahu’alam







BERUBAH DENGAN SEDERHANA


Kesalahan banyak orang-menurut Ustadz Muhammad Ghazali-adalah memulai lembaran baru dalam hidupnya dengan tahun baru.atau ulang tahun; terlampau rumit dalam berubah dan hanya akan menghasilkan kegagalan.

Berubah adalah sebuah hukum Allah Swt. untuk alam dan seisinya. Kita tidak tetap muda karena, adanya perubahan. Anak-anak kita akan tumbuh dewasa juga karena perubahan. Bunga-bunga menjadi layu tidak lain karena perubahan. Bulan tampil memikat juga karena perubahan.


Silih bergantinya malam dan siang terjadi karena perubahan. Pusat peradaban dunia bergeser dan berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain-karena perubahan. Seorang Umar bin Khathab tercatat dalam sejarah karena perubahan monumental yang dilakukannya, dan siapa pun bisa menjadi legenda karena perubahan.

Bagi anak cucu Adam a.s., perubahan bukan sesuatu yang sederhana. Setiap perubahan selalu dibarengi dengan hambatan dan tantangan. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap proses perubahan menuju kebaikan merupakan pergumulan seru antara nurani dan bisikan setan. Nurani menyediakan himmah sedangkan bisikan setan mengancam dengan beban berat. Karena adanya faktor himmah atau tekad di satu sisi dan bisikan setan di sisi yang lain, tampaknya kita harus kembali menyimpulkan bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang sederhana.

Terlepas dari rumit dan sulitnya perubahan, faktor ketidaksederhanaan dalam berubah, kerap menambah kerumitan proses perubahan. Paduan antara kesulitan normatif dengan ketidaksederhanaan itulah yang semakin membuat perubahan-bagi kebanyakan kita-bagai tergantung di atas langit tinggi.

Ketidaksederhanaan pertama adalah yang disinyalir oleh Ustadz Muhammad Al-Ghazali. Menurut beliau, kesalahan banyak orang adalah memulai lembaran baru dalam hidupnya dengan tahun baru atau ulang tahun. Penetapan momentum khusus adalah salah satu bentuk dari ketidaksederhanaan dalam perubahan. Padahal, perubahan yang efektif adalah perubahan yang dilakukan sesegera mungkin dari saat timbulnya himmah atau tekad. Karena, ketika himmah menguat maka beban melemah. Ketika tekad membesar maka beban menjadi ringan. Menunda perubahan adalah ketidaksederhanaan.

Mungkin kita adalah pihak yang kerap tergoda untuk menyelenggarakan acara pencanangan ini dan itu, atau membuat acara grand opening sebuah program, atau menetapkan usbu’ tematis, atau menetapkan hari Jumat atau Ramadhan atau tahun baru Hijriah sebagai momentum perubahan atau yang lain. Jika para aktivis perubahan meletakkan acara pencanangan, grand opening, usbu’ tertentu, Ramadhan, dan lain sebagainya sebagai momentum eksternal dan konsumsi publik, tentu bukanlah sebuah masalah. Bahkan, seremonial tersebut menjadi hal penting dalam era ini. Namun, jika momentum eksternal yang seharusnya menjadi konsumsi publik tersebut juga merupakan momentum kita, itulah ketidaksederhanaan bagi seorang mujahid. Para aktivis perubahan yang hakiki adalah mereka yang mampu menjadikan himmah sebagai momentum utamanya. Menjadikan himmah atau tekad untuk berubah sebagai momentum internal adalah sebuah kesederhanaan dalam proses perubahan. Kesederhanaan inilah yang sesungguhnya lebih memberikan jaminan bagi keberlangsungan perubahan.

Ketidaksederhanaan kedua adalah dalam menetapkan simbol perubahan. Perubahan memang memerlukan simbol. Rencana perubahan, mission statement, dan jargon dapat dijadikan simbol perubahan. Semakin matang sebuah rencana merupakan sebuah simbol bagi semakin jelasnya arah perubahan. Semakin bagus mission statement dan jargon perubahan memang merupakan sebagian simbol dari bagusnya sebuah proses perubahan. Simbol tersebut sah-sah saja kita angkat ke permukaan karena dunia memerlukan itu semua dan-selain itu-simbol-simbol tersebut adalah sebagian dari produk komunitas kita.

Namun-jangan lupa bahwa-simbol paling sederhana dan mendasar dalam berubah adalah bergerak, tanpa bermaksud untuk mengabaikan simbol perubahan yang lainnya. Adalah sebuah ketidaksederhanaan ketika para pecinta perubahan meremehkan simbol sederhana ini. Bergerak tanpa ilmu memang sebuah kekonyolan. Namun, perencanaan, jargon, serta misi tanpa gerakan adalah ironis dan menyedihkan.

Lalu mengapa kita masih juga terjebak dalam ketidaksederhanaan dalam berubah? Justru dengan simbol sederhana kita dapat memaknai perubahan yang telah dan akan kita lakukan. Teman, bergeraklah Anda menuju tujuan perubahan maka Anda sudah memiliki simbol perubahan. Anda tidak perlu berkecil hati dengan kelemahan Anda mempresentasikan rencana Anda dalam perubahan. Kita tidak perlu ragu dengan perubahan yang kita lakukan ‘hanya’ karena kita gagap dalam menetapkan misi kita. Kita seharusnya merasa sangat memadai untuk melakukan perubahan ‘hanya’ dengan kemampuan kita untuk bergerak, yaitu bergerak menuju tujuan perubahan. Wallahu’alam.





ORANG SHALIH..



Semua orang lahir sebagai manusia biasa. Tidak membawa kecerdasan istimewa, apalagi keshalihan istimewa, kecuali apa yang dibawa dari trah darah dan keringat orang tua dan siapa saja yang ada pada jalur silsilah nasabnya. Ayah, kakek, orang tua kakek, dan seterusnya ke atas. Juga ibu, nenek, orang tua nenek, dan seterusnya. Rasulullah SAW bersabda, "Pilihlah (tempat yang baik) untuk (menyimpan) nutfah kalian karena watak orang tua itu bisa muncul (pada anak)”. Dalam riwayat lain, "Karena watak orang tua itu tajam (bisa menurun kepada anak)." (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)."

Seorang anak yang baru lahir belum bisa dikatakan sebagai anak yang shalih. Mungkin ia membawa potensi dan bakat keshalihan. Tetapi pertarungan untuk mewujudkan potensi itu masih panjang, melawan segala godaan hawa nafsu dan bisikan syetan. Apalagi selain potensi kebaikan juga ada potensi keburukan. Keduanya kekuatan dalam jiwa yang saling berlawanan dan bisa saling mengalahkan: "MakaAllah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan don ketakwaannya."(QS. Asyams: 8 ). Karenanya anak yang belum baligh belum menerima perintah menjalankan Islam kecuali sebagai sebuah pembiasaan. Ia tidak wajib shalat, tapi dianjurkan untuk dibiasakan shalat. Bila seorang anak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, maka walinya yang mengganti kerugian itu.

Semua manusia lahir mulanya sebagai orang biasa. Termasuk orang-orang shalih yang banyak mengisi sejarah. Hanya Nabi Isa yang lahir langsung bisa bicara dan menjelaskan tugasnya sebagai Rasul. Hanya para Rasul yang ma’sum dari kesalahan. Allah swt telah berfirman, "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak punya pengetahuan apapun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78).

Ayat di atas menegaskan, bahwa semua orang dibekali Allah dengan modal yang sama: pendengaran, penglihatan, dan hati. Maka setiap orang sebenamya punya peluang yang sama untuk menjadi manusia-manusia shalih. Caranya? Dengan memfungsikan ketiga bekal itu, lalu memohon petunjuk dan taufik Allah. Saat itulah orang akan tumbuh menjadi manusia shalih dengan kadar dan derajat yang berbeda-beda. "Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah me ukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." (QS. Al-Ahqaf: 19) "Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk."(QS Maryam: 76). ”Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."(QS. AI-Isra’: 84)

Prinsip itu pula yang mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa orang-orang shalih yang pernah dikenal sejarah kehidupan umat manusia juga tumbuh dengan logika keshalihan seperti itu. Mereka mulanya biasa saja. Lahir sebagai anak dengan segala bakat dan potensinya. Lalu mereka belajar mengenali Allah, kemudian mencintai-Nya sepenuh hati. Maka Allah pun mencintai mereka. Mereka mendekat kepada Allah, Allah pun mendekat kepada mereka. Kadang mereka juga salah, tapi mereka segera bertaubat.
Pada tiga sisi kehidupan utama mereka - kehidupan sebagai manusia, sebagai muslim, dan sebagai da’i- makin kita temukan bahwa dalam derajat keshalihan yang luar biasa, mereka tetap manusia biasa. Ini bukan untuk mengecilkan kebesaran mereka, apalagi untuk merasa bahwa kita lebih baik. Tidak, sama sekali tidak. Tapi untuk memberi daya dorong kepada jiwa kita bahwa kita pun bisa menjadi orang-orang shalih, dalam batasan maksimal yang kita miliki untuk menjadi shalih, dan dalam batasan kemanusiaan yang ada pada diri kita. Masalah utamanya bukan pada sejauh mana orang punya atau tidak punya persoalan hidup yang ruwet. Tapi seberapa besar semangat dan keseriusan kita untuk menempa diri menjadi orang-orang shalih. Sebab siapapun yang lahir dan hidup di dunia ini, pasti akan menemui problema-problema kehidupan. Maka perhatikanlah bagaimana orang-orang-shalih itu mengarungi tiga peran utamanya dalam kehidupan:

Pertama, sebagai manusia.
Sebagai manusia, orang-orang shalih itu juga memiliki masalah dalam hidup. Masalah dengan keluarga, masalah mencari rezeki, atau masalah pribadi yang terkait dengan diri sendiri. Kadang hidup mereka susah, kadang kelaparan, kelelahan, bahkan kadang mengalami kegoncangan. Mereka harus bekerja keras mencari pekerjaan. Mencari makan, juga mencarikan makan untuk anak-anak dan istrinya. Tak lama setelah diangkat menjadi khalifah, Abu Bakar masih saja berdagang kain ke pasar. "Lalu apa yang akan dimakan keluargaku kalau aku berhenti berdagang?" katanya ketika Umar memintanya berhenti. Abu Bakar tetap berdagang sampai akhimya Umar meminta ia digaji dari Baitul Mal, agar bisa konsentrasi mengelola urusan kekhilafahan.

Fatimah radhiyallahu’anha pernah lecet-lecet tangannya karena mengerjakan sendiri urusan rumahnya. Ia sempat meminta pembantu kepada ayahnya. Tapi Rasulullah menggantinya dengan yang lebih baik: do’a.

Para salafusshalih itu juga banyak yang menerima ujian berat. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Zaid bin Arqam diuji Allah dengan kebutaan. Tetapi ia tetap sabar. Karena itu Rasulullah menghibumya bahwa baginya surga. Ummu Salamah pemah ditinggal mati suami yang sangat dicintainya. Menurutnya tak ada orang sebaik Abu Salamah. Ia pun tidak menikah lagi kecuali setelah Rasulullah yang melamarnya. Karena baginya, hanya Rasulullah yang bisa mengalahkan Abu Salamah.

Orang-orang shalih itu kadang juga berselisih pendapat, tapi mereka segera sadar kemana mencari penengah. Suatu hari Rasulullah menugaskan Khalid untuk memimpin sebuah ekspedisi perang. Dalam rombongan ada Ammar bin Yasir. Sebelum perang, dikirim utusan untuk memberi tahu kaum yang dituju itu agar mau masuk Islam. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menemui Ammar. "Wahai Ammar, aku dan keluargaku telah memilih Islam. Apakah itu bermanfaat jika aku tetap tinggal di kampungku." Ammar menjawab, "Tinggallah, engkau aku jamin aman."

Lalu Khalid memeriksa kampung tersebut. Orang-orang sudah banyak yang kabur. Kecuali keluarga laki-laki itu. Segera ia tangkap keluarga laki-laki itu. Ammar berteriak, "Mereka sudah masuk Islam, tak ada alasan kamu menangkapnya."
"Apa urusanmu dengan dia? Apakah kamu memberi jaminan padaku, padahal pemimpin pasukan ini adalah aku?" tanya Khalid.
"Ya, aku menjaminnya meski engkau pemimpin pasukan."
Keduanya bersilang pendapat bahkan saling mencela. Setelah pulang ke Madinah, keduanya menghadap Rasulullah. Rasulullah membolehkan tindakan Ammar yang memberi jaminan itu, tapi melarang untuk mengulanginya sesudah itu. Keduanya tetap saling bersitegang. Khalid marah, "Ya Rasulullah, mengapa ia masih saja menghinaku padahal di hadapanmu. Demi Allah, ia berani mengejekku karena ada engkau." Mendengar itu Rasulullah marah. "Cukup wahai Khalid. Siapa yang membenci Ammar, akan dibenci Allah, siapa melaknat Ammar, akan dilaknat Allah." Ammar keluar. Khalid mengikuti. Khalid segera menarik-narik baju Ammar untuk meminta maaf dan meminta keridhaannya. Akhirnya Ammar meridhainya. (Diriwayatkan oleh Thabrani, Nasa i, dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

Dalam ekspedisi lain bernama Dzatussalasil yang dipimpin Amru bin Ash, Umar bin Khattab hampir saja melabrak sang komandan. Sebab, para pasukan dilarang menyalakan api. Keadaan gelap gulita. Abu Bakar yang juga menjadi prajurit saat itu segera mencegah Umar yang marah. "Jangan, sesungguhnya dia tidak diangkat sebagai panglima kecuali karena keahliannya dalam berperang." Umar pun tenang.

Itulah gambaran sejarah yang menunjukkan bahwa para salafusshalih adalah manusia dengan segala kemanusiaannya. Mereka para salafushalih bukanlah Nabi yang ma’sum. Mereka juga bukan malaikat yang selalu taat dan benar.

Kedua, sebagai muslim.
Dalam menjalankan kewajiban sebagai muslim orang-orang shalih itu juga punya rintangan. Jangan dikira untuk menjadi muslim yang taat mereka tak perlu kerja keras. Mereka juga perlu usaha kuat untuk mengejar keshalihan tersebut. Perlu mendidik jiwa mereka dengan tulus serta menyucikannya. Mereka tidak bisa begitu saja menjalani agama ini dengan tanpa beban, tanpa tarik-menarik antara hawa nafsu dan suara tulus hatinya. Mereka juga harus berjuang mengusir godaan syetan. Bahkan kadang mereka juga tergelincir, tapi mereka segera bertaubat. Atau segera diingatkan oleh sahabatnya yang lain. Seperti kisah Anas bin Malik di masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Ia pernah masuk ke majlis sang Khalifah. Ia bercerita, "Aku datang kepada Utsman bin Affan. Waktu di jalan aku bertemu dengan seorang wanita. Aku meliriknya dan memperhatikan kecantikannya. Utsman berkata, ”Telah masuk salah seorang di antara kalian sedang di matanya ada bekas zina. Tidakkah engkau tahu bahwa zinanya mata adalah pandangan? Hendaknya engkau bertaubat, kalau tidak, akan aku kenakan hukum ta’zir (pengasingan) kepadamu?"

Anas bin Malik heran dari mana Utsman tahu. Maka ia berkata, "Apakah turun wahyu setelah Rasulullah tiada?" Utsman menjawab, "Bukan wahyu, melainkan ini adalah pandangan mata hati, tanda-tanda, dan firasat yang benar."

Ibnu Qudamah menukil kisah Rabi’ bin Khaitsam, seorang tabi’in terkenal. Rabi’ pernah digoda oleh seorang wanita. Sebenamya, wanita itu suruhan sekelompok orang yang tidak suka kepada Rabi’. "Jika kamu mau melakukannya, kami akan memberimu hadiah seribu dirham," begitu orang-orang itu menjanjikan.

Mendengar tawaran tersebut wanita itu segera mengenakan pakaian terbagus dan parfum terharum yang ia miliki. Ia siap dengan tipu muslihatnya. Lantas ia menunggu Rabi’ di depan masjid. Begitu keluar, wanita itu segera berjalan menyejajari Rabi’ yang merasa kagum juga atas kecantikannya. Apa yang dilakukan Rabi’? Ia berkata kepada wanita itu, "Bagaimana kelak bila dirimu terkena panas, sehingga warna kulitmu menjadi pucat dan menghilangkan kegembiraanmu? Bagaimana kelak bila dirimu didatangi oleh malaikat pencabut nyawa, lalu dia memutuskan urat nadimu? Dan bagaimana kelak bila dirimu ditanya oleh Malaikat Munkar dan Nakir?" Mendengar pertanyaan Rabi’, wanita itu
menjerit dan jatuh pingsan. Setelah siuman ia berubah total. Ia menjadi ahli ibadah hingga akhir hayatnya.

Bukankah Rasulullah pernah menyatakan bahwa bila Allah mencintai hambanya, maka ia akan mengujinya? Bukankah ia juga mengatakan bahwa yang paling berat ujiannya adalah para nabi-nabi, lalu yang sesudahnya dan sesudahnya?

Ketiga, sebagai da’i.
Orang-orang shalih itu juga punya agenda da’wah yang padat. Suatu hari Ibnu Abbas baru saja memulai i’tikaf. Tiba-tiba ada orang yang perlu bantuan lantaran punya masalah dengan orang lain. Akhirnya Ibnu Abbas keluar meninggalkan i’tikafnya untuk menyelesaikan urusan orang tersebut. Sambil berderai air matanya ia teringat sabda Rasulullah, "Barang siapa berjalan memenuhi kebutuhan seorang muslim maka baginya lebih baik dari itikaf sepuluh tahun." (Diriwayatkan oleh Thabrani, Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

Bahkan kesibukan da’wah orang-orang shalih itu kadang tak lagi dari pena ke pena. Atau dari majelis lisan ke majelis lisan lainnya. Tapi medan da’wah mereka dari jihad perang ke jihad perang lainnya. Tidak sekadar ke desa tetangga, tapi ke berbagai belahan bumi. Berhiaskan kilatan pedang, dinginnya malam, jauh dari sanak keluarga, dalam bayang-bayang kematian yang nampak lebih jelas.

Di masa Khulafaurrasyidin, para sahabat terus menebarkan da’wah. Khalid bin Walid ke Irak, Hudzaifah menaklukkan Iran, Abu Ubaidah ke Syam, Yordania, Damaskus, Suria bagian Selatan. Amr bin Ash ke Mesir, begitu juga para sahabat lainnya. Pada masa Utsman, da’wah Islam menembus Afrika Barat, Sudan, Kabul, Turki, Azerbaijan, dan Armenia.

Pada masa Khilafah Umawiyah da’wah juga terus berkembang dari Damaskus ibukotanya. Daerah di sekitar Laut Tengah adalah tempat-tempat para salafusshalih itu mendermakan baktinya kepada Allah SWT, tak lelah membimbing para muallaf, mengajari mereka bagaimana memasuki agama baru secara utuh dan sempurna. Mereka bahkan menuju Konstantinopel. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, da’wah telah merambah ke kaum Bar-Bar. Umar bin Abdul Aziz menugaskan sepuluh ahli fiqih untuk mereka. Sementara Musa bin Nushair membuka jalan da’wah ke Andalusia.

Pada masa kekhilafahan Bani Abbasiyah, muncul ulama-ulama fiqih yang empat, juga ulama hadits Imam Bukhari, Muslim, Sufyan Tsauri, Ibnul Mubarak (yang punya agenda rutin satu tahun haji dan satu tahun pergi ke medan perang) dan lainnya. Semua sibuk menda’wahkan ilmu yang mereka miliki. Tetapi hingga akhir hayat mereka, tak ada catatan bahwa kesibukan mereka berda’wah mengurangi keshalihan mereka. Justru sebaliknya.

Keshalihan bisa dimiliki oleh siapa saja. Asal ada usaha sungguh-sungguh dan do’a yang tulus. "Dan mereka yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS Al-Ankabut: 69) Maka, pancangkan semangat dan keyakinan, bahwa kita bisa menjadi orang-orang shalih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar