Powered By Blogger

Senin, 26 Desember 2011

GAYA HIDUP MUSLIM

Mujahadah, Kunci Utama Meraih Sukses Hakiki




SIAPA yang tidak ingin menjadi orang sukses? Tentu semua orang menginginkannya. Meraih kesuksesan adalah fitrah manusia. Oleh karena itu kita lihat setiap orang punya cita-cita, harapan, kesibukan dan beragam rupa kegiatan.
Setiap anak dimotivasi untuk rajin belajar. Setiap remaja diarahkan untuk cerdas dalam bergaul. Dan, setiap pemuda dibimbing untuk memiliki jiwa kepemimpinan. Semua itu terjadi karena fitrahnya setiap orang pasti ingin meraih sukses.

Sayangnya, di era modern ini sukses selalu identik dengan kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan. Sudah tidak begitu banyak lagi orang yang beranggapan terpeliharanya iman, akhlak, bahkan ketekunan dalam hal ibadah sebagai prestasi. Itu mengapa tidak banyak orang yang benar-benar serius memelihara imannya. Agama tidak lebih dari ritual dan seremonial belaka.

Kondisi tersebut mengantarkan sebagian besar umat Islam pada cara berpikir pragmatis atau cara berpikir instan. Akibatnya mereka tak mampu memahami hakikat kebahagiaan. Hanya kesenangan-kesenangan berupa materi-jasadiah saja yang mampu membuat mereka tersenyum.

Padahal hakikat kesuksesan itu terletak pada kuatnya iman, kokohnya akidah, dan tegaknya amal ibadah dalam diri setiap muslim. Dengan hal itulah seorang muslim tidak akan tersesat lagi menderita.

Jika demikian, hal utama yang mesti dilakukan ialah bermujahadah dalam memelihara iman, memurnikan akidah, dan menegakkan amal ibadah.

Apabila iman terpelihara, akidah terjaga, dan ibadah terlaksana dengan baik, maka akan terbangun mental kerja yang lebih kuat dari pada mereka yang tidak terpelihara imannya. Dalam bahasa Inggris dikenal motto, “Doing the best what can I do.”

Bahkan orang beriman siap ‘bekerja’ lebih hebat tanpa imbalan apapun dari manusia. Baginya, hasbiyallah wani’mal wakil.

Ia yakin benar dengan firman Allah;

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيراً

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al- Israa’ [17]: 7).

Itulah keyakinan para nabi dan rasul yang karenanya mereka dikenang dan dijadikan tauladan oleh Allah bagi kita semua.

Bukan karena atribut, kekeayaan, kedudukan, kekuasaan, atau apapun, nabi dan rasul itu harus diteladani. Tetapi karena keimanannya yang teguh kepada Allah SWT. Serta mujahadah mereka yang sangat luar biasa untuk meraih keridhoan Allah SWT.

Jika dilihat dari sudut pandang keduniaan (materi), hampir semua nabi dan rasul hidup serba kekurangan bahkan sengsara. Kesabaran mereka benar-benar ditempa hingga sampai pada derajat sempurna. Dengan demikian tidak ada prototype manusia paling sukses bagi seorang muslim selain para nabi dan rasul.

Sukses Hakiki

Apa yang dimaksud sukses hakiki bagi seorang muslim? Tentu tiada lain adalah keridhoan Allah SWT. Dengan ridho-Nya kita akan menerima pembalasan terbaik dari-Nya berupa surga. Sebuah tempat penuh kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang dihadiahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang diridhoi.

Mungkinkah kita mendapatkan keridhoan Allah? Keridhoan Allah itu akan diberikan kepada siapa saja yang bermujahadah ingin mendapatkannya. Tidak peduli orang miskin, kaya, tampan, cantik, besar, kecil, putih, hitam, tinggi, pendek, pejabat atau rakyat sekalipun. Semua berpeluang sama untuk mendapat keridhoan Allah SWT. Tinggal mujahadah masing-masing untuk mendapatkannya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِي

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al 'Ankabuut [29]: 69).

Mujahadah Mush’ab ibn Umair

Dunia dan segala kenikmatan di dalamnya hakikatnya hanyalah ujian. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan maka binasalah ia untuk selama-lamanya. Hal ini bisa kita buktikan melalui sunnatullah kehidupan. Bahwa apa pun yang ada di dunia ini akan mengalami perubahan bahkan hilang.

Wanita yang hari ini cantik esok akan tua dan keriput, dan hilanglah kecantikannya. Manusia yang hari ini menjabat, esok akan berhenti, lalu tua renta, dan selesailah riwayatnya. Demikian pula dengan kekayaan. Pada akhirnya semua akan hilang dengan sendirinya dan mau tidak mau pasti ditinggalkan.

Kesadaran tersebut rupanya tertanam kuat pada diri Mush’ab ibn Umair. Pemuda Makkah yang dari lahir hingga dewasa selalu hidup dalam kemewahan. Wajahnya yang tampan menjadikan dirinya sangat mempesona. Tak satu pun gadis di Makkah yang tak mendambakan menjadi istrinya. Termasuk juga para janda, bahkan wanita yang bersuami pun sangat mendambakan Mush’ab ibn Umair.

Mungkin dalam pandangan kaum pragmatis di abad modern ini Mush’ab ibn Umair adalah laki-laki yang sangat beruntung. Ia punya ketampanan, kekayaan, dan kemuliaan. Ibunya, Khannas adalah saudagar terkaya di Makkah.

Namun Mush’ab tak pernah bersifat congkak dan menyombongkan diri. Ia justru dikenal sebagai pemuda yang santun dan rendah hati, lengkap dengan akhlak yang baik, serta kepribadian yang terpuji. Bahkan Mush’ab dikenal memiliki pemikiran yang cerdas lagi bijaksana.

Ketika ia memutuskan diri untuk menganut ajaran Islam, seketika kehidupan Mush’ab ibn Umair berubah. Sang ibu yang sedianya sangat menyayanginya berubah menjadi ganas dan beringas, tatkala mengetahui Mush’ab mengikuti ajaran rasulullah saw. Berkali-kali Mush’ab dipenjara oleh keluarganya, namun ia tetap teguh dengan ke-Islam-annya.

Akhirnya, tatkala penduduk Yatsrib kian banyak yang ingin mempelajari Islam, rasulullah saw pun mengutus Mush’ab ibn Umair untuk mengajari mereka. Setiap hari Mush’ab ibn Umair menghabiskan waktunya untuk mengajarkan al-Qur’an kepada penduduk Yatsrib. Sampai akhirnya tibalah panggilan jihad di Gunung Uhud.

Karena kelalaian pasukan pemanah di atas bukit, pasukan Islam yang tidak lama lagi akan memenangkan peperangan, justru diserang balik dan terus-menerus terdesak. Akhirnya banyak pasukan muslim yang terunuh dalam serangan balik itu. Bahkan, rasulullah saw sendiri menderita luka yang cukup parah.

Di tengah kepanikan serupa itu Mush’ab ibn Umair dan beberapa sahabat lain menjadikan diri mereka sebagai benteng hidup untuk melindungi rasulullah dari serangan musuh. Sambil memegang panji Islam, Mush’ab berteriak lantang membangkitkan semangat tempur umat Islam.

Ibn Qami’ah, seorang kavaleri Quraisy, berusaha menerobos benteng hidup yang melindungi rasulullah saw. Seketika Qami’ah mengayunkan pedangnya ke tubuh Mush’ab ibn Umair. Malang tak terhindarkan, pedang Qami’an membabat putus tangan Mush’ab. Panji Islam terjatuh. Namun, Mush’ab segera meraihnya dengan tangan kiri.

Melihat hal itu, Qami’ah langsung membabat cepat tangan kiri sahabat yang gemar membaca dan mengajarkan al-Qur’an itu. Sekali lagi panji Islam terjatuh. Namun Mush’ab masih berusaha meraih panji itu dengan kedua lengannya yang tersisa. Apa boleh buat, dua penunggang kuda Quraisy dating membantu Ibn Qami’ah. Mereka mengepung Mush’ab hingga akhirnya utusan rasulullah untuk kota Yatsrib itu gugur sebagai syahid. Bahagialah Mush’ab ibn Umair.

Atas peristiwa itu turunlah firman Allah SWT kepada umat Islam, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. 3: 169-170).

Mush’ab sungguh sangat beruntung. Ia meninggal dalam keadaan membela agama Islam. Hari-harinya ia habiskan untuk berdakwah, mengajarkan Islam, membaca al-Qur’an. Sungguh sangat luar biasa Mush’ab ibn Umair. Kejadian yang menimpanya mengundang ayat suci al-Qur’an turun menjelaskan perihal dia yang sesungguhnya.
Ketika para pencinta dunia, harta, tahta dan wanita mati maka habislah rizki baginya dan itulah awal kesengsaraan abadi yang akan dirasakannya. Sungguh sangat malang.

Oleh karena itu, saudaraku seiman, bersemangatlah dalam mengisi hari dan waktumu untuk agama Allah secara sungguh-sungguh. Jangan mudah tergoda oleh bujuk rayu nafsu ataupun janji-janji Syetan. Kesenangan dunia hanyalah sementara, maka pergunakanlah hidupmu untuk akhiratmu.

Bermujahadahlah agar engkau tetap berada dalam keridhoan-Nya. Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk senantiasa mengisi waktu kita dengan amalan sholeh. Hingga saatnya kelak kita akan dipanggil oleh Allah dalam keadaan mulia lagi diridhoi oleh-Nya.

Sungguh tiada jalan lain untuk sukses hakiki, seperti Mush’ab ibn Umair telah raih, selain bermujahadah dalam menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi









Berbangga Menjadi Diri Sendiri


BUDAYA tiru-miniru sepertinya telah menjadi tren hidup masa kini. tidak sedikit orang yang tidak percaya diri dengan identitas mereka sendiri. Padahal ada pepatah mengatakan, “Menjadi kepala ikan teri itu jauh lebih baik, ketimbang menjadi ekor ikan hiu.”

Sebesar apa pun ikan hiu, manakala kita harus menjadi ekor, berarti kita harus mem’beo’ akan apa saja yang dilakukan oleh si-ikan hiu tersebut. Sebaliknya, ketika kita menjadi kepala ikan teri, maka kita lah yang akan menentuka arah perjalanan hidup kita sendiri. Kita akan memilih dan memilah jalan hidup tanpa harus dihantui perasaan minder atau sebagainya terhadap apa yang datang dari luar.

Sayangnya pesona besarnya ikan hiu, ternyata lebih menggiurkan sebagian masyarakat nigeri ini. Akibatnya, mereka selalu meniru apa saja yang datang dari luar diri mereka, tanpa harus berfikir panjang untuk menyaring terlebih dahulu, antara yang pantas ditiru dan yang ditinggalkan atau antara perkara primer dan skunder.

Kasus merebaknya gaya hidup hidonisme adalah buah yang harus kita terima saat ini karena mala-praktek gaya hidup yang kita terapkan. Bahkan terkait masalah ini, ada satu kejadian nyata yang sangat mengiris hati.

Betapa tidak? demi memiliki handphone Blackberry, seorang perempuan dengan ‘rela’ menjual harga dirinya. Kisah ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Dicky Candra, ketika dia menjadi salah satu juri dalam salah satu acara di stasiun TV sewasta. Na’udzubillah min dzalik.

Sikap membeo ini melahirkan fenomena inferior banyak orang. Kedatangan atlit bola LA Galaxy baru-baru ini sebuah contoh tragedi. Banyak gadis-gadis berjejal karcis bukan untuk melihat permainan bola. Tapi hanya ingin melihat wajah si bintang. “Habis cakep sih, “ ujar mereka. Pujian dan histeria dengan sesuatu berbau ''bule". Sampai-sampai ada artis bangga meminta diri tanda-tangan di dadanya. Dia juga bangga dikecup sang atlit yang bukan muhrimnya. Sungguh memilukan!

Nah, yang lebih membahayakan lagi, virus ini ternyata tidak hanya digandrongi oleh anak-anak muda semisal kasus di atas. Namun virus “membeo” ini juga telah menyerang para intelektual negeri ini, khususnya intelektual Muslim.

Berbahaya !!

Budaya meniru buta, atau dalam bahasa Arab disebut ‘Taqlidu Al-‘Amaa’, sejatinya sangat berbahaya bagi kita. Apa lagi kalau hal tersebut menyentuh wilayah keimanan. Bukan hanya di dunia kita merugi, namun di akhirat kita pun mendapatkan hal serupa.

Orang yang suka meniru-niru orang lain adalah cerminan orang yang tidak memiliki kepribadian tinggi. Dia mudah silau dengan apa yang dia temukan dari luar dirinya. Dia akan selalu terombang-ambing. Setiap muncul mode terbaru, maka setiap kali itu pula gaya hidupnya berubah. Tidak ada konsistensi dalam dirinya.

Tentu lah pribadi macam ini akan sulit menggapai kesuksesan. Sebab, salah satu rumus kesuksesan seseorang, dia harus menjaga kekonsistensiannya di dalam melakukan segala hal. Dalam istilah agama disebut dengan Istiqomah.

Nabi sendiri telah menegaskan dengan keras, agar kaum muslimin terhindar dari kebiasaan macam ini. Tidak tanggung-tanggung, melalui sabdanya, beliau mengecam umat Islam yang memiliki pola hidup macam ini, dan menetapkan mereka sebagai bagian dari kaum yang mereka ikuti.

“Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhu.” (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut). Demikian lah penegasan Rosulullah.

Selain itu, menetapkan diri sebagai objek penjajahan adalah beban lain yang harus ditanggung oleh orang yang ‘doyan’ tiru-meniru ini. Penjajahan terjadi dikarenakan dia tidak bebas mengekspresikan kepribadiannya. Dia selalu khawatir, takut, galau kalau-kalau dia akan dihina, dicemooh dikarenakan tidak mengikuti tren yang tengah berkembang. Ketakutan macam ini lah yang menyebabkan dia menjadi santapan empuk penjajahan dalam versi lain.

Anak-anak remaja kita malu jika tidak memiki pacar. Dia resah dengan gelar “jomblo”. Seolah-olah sebutan itu adalah aib dan mencemarkan nama baik keluarga. Padahal, identitas-identitas itu hanya tiruan dan turunan dari budaya pop Barat untuk menanamkan gaya hidup bebas.

Selanjutnya, sudah tentu mereka yang mengalami hal ini tidak akan merasakan kesenangan, ketenangan, kenyamanan, kebebasan sejati, sebab kepuasan yang mereka rasakan hanya bersumber dari hawa nafsu yang menguasai mereka. Padahal, kepuasaan sejati itu ada di hati.

Kita mengaku Muslim, tetapi tidak tahu sumber-sumber ilmu pengetahuan asli dari kandungan al-Quran. Kita bangga berbahasa Inggris, tetapi membaca Kitab Suci saja hanya terjemahan.

Ada sebuah cerita menarik yang terdapat dalam kitab “Qiraa’atu Al-Rasyidah”. Ceritanya, terdapat lah dua ekor keledai yang tengah melakukan perjalanan. Satu di antara keduanya membawa garam, dan satu yang lain membawa karang.

Singkat cerita, di pertengahan jalan keduanya menjumpai telaga. Karena merasa haus, si-keledai yang memikul garam langsung masuk ke telaga guna minum. Dan ternyata bersamaan dengan itu, garam yang berada di punggungnya sedikit demi sedikit mencair, sehingga semakin ringan lah beban yang ia pikul.

Menyaksikan fenomena tersebut, si-keledai yang membwa karang tanpa pikir panjang juga langsung menyebur pula ke dalam telaga. Harapannya tentu untuk menghilangkan rasa haus yang tengah mengerogotinya, dan meringankan beban yang sedang yang dipikulnya.

Namun apa yang terjadi kemudian? Bukannya tambah ringan, namun tambah beratlah bebannya tersebut, sebab karang yang dia bawa bukannya mencair, tapi justru penuh terisi air.

Semoga kisah unik ini menjadi inspirator kita untuk menjadi diri sendiri. Lalu apa kiatnya untuk menuju ke sana?

Kuncinya Syukur

Islam tidak pernah melarang penganutnya untuk bersikap anti-pati terhadap perubahan zaman. Namun untuk keselamatan, kita perlu melakukan proses adapsi yang artinya berusaha memilih dan memilah antara yang sesuai dengan syari’at dan yang menyalahinya. Yang sejalan boleh kita ambil. Namun terhadap yang menyeleweng, kita harus berani mengatakan “NO’. Sekali pun hal tersebut sangat menarik perhatian.

Demikian pula yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu dalam mengkaji penemuan-peenemuan ilmuan Yunani kuno. Sehingga mereka tidak pernah tersesat dikarena mendalami/menyelami peradaban Barat tersebut. Istilahnya, para ulama belajar ilmu Barat, namun mereka tak harus menjadi Barat atau kebarat-baratan.

Kemudian, kata syukur menjadi kata kunci untuk menjadi diri sendiri. Kita memang banyak kekurangan, tapi jangan sampai kekurangan tersebut menjadikan kita minder dalam menatap kehidupan. Syukuri segala apa yang ada di tanggan kita dan berusaha memaksimalkannya untuk menghasilkkan sesuatu yang terbaik.

Khususnya bagi kaum muslimin, cukup lah kita bangga dengan Islam, sebab Islam sendiri telah menduduki posisi kemuliaan. jangan pernah kita silau dengan apa yang datang dari luar, karena baik bagi orang lain, belum tentu bagi kita, lebih-lebih ditinjau dari sisi syari’atnya.

Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami, bagian dari keluarga Muhammad saw.”

Dengan kata lain, saatnya kita semua berkata, “Isyhadu bi ana muslimun.”(saksikanlah, aku adalah seorang muslim).

Di antara cara syukur kita sebagai seorang Muslim adalah menunjukkan identitas kemusliman kita, nilai-nilai kita dan gaya hidup kita yang berbeda dengan gaya hidup yang lain.*









Ingin Bahagia? Rawatlah Selalu Hatimu!


UMUMNYA orang beranggapan bahwa seseorang disebut sakit apabila ada gangguan pada fisiknya. Seperti sakit perut, sakit gigi, sakit jantung, kanker, atau bahkan stroke. Namun demikian sebenarnya ada juga sakit lain yang lebih besar dampaknya, tetapi jarang diperhatikan dan dipedulikan, yaitu “sakit hati” (yang berurusan dengan keimanan).

Kalau sakit fisik (maridh) seringkali disebabkan oleh faktor makanan, pola makan, dan gaya hidup tidak sehat. Akan tetapi jika “sakit hati” ini lebih dikarenakan kurangnya nutrisi iman, ilmu, dan suplemen dzikir pada diri seorang manusia.

Jika iman seseorang lemah, spirit berilmunya juga tidak ditingkatkan, plus ibadahnya kepada Allah juga awut-awutan, maka bisa dipastikan dia akan menjadi manusia yang jahil. Entah suka menggunjing saudaranya, banyak berbicara yang kurang bermanfaat, atau mungkin sampai pada tingkat suka menebar fitnah, bahkan suka mengambil hak orang lain secara dholim, naudzubillahi min dzalik.

Islam sangat mengutamakan kesehatan (lahir dan batin) dan menempatkannya sebagai kenikmatan kedua setelah Iman.

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Mohonllah kepada Allah pngampunan, kesehatan dan keyakinan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah tidak memberikan kepada seseorang setelah keyakinan (Iman) yang lebih baik daripada kesehatan.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu BAkar, sahih sanadnya dari Ibnu Abbas)

“Sakit hati” bisa menimpa siapa saja. Ia tak kenal usia, gender, suku, keturunan, dan apapun juga, termasuk atribut sosial. Entah camat, bupati, gubernur, menteri bahkan presiden. Semua berpeluang terkena yang dampaknya sangat serius bagi kelangsungan kehidupan ummat manusia.

Uniknya, “sakit hati” hampir tidak mempengaruhi fisik manusia. Orang yang “sakit hati”nya tidak akan pernah mengeluh kesakitan bahwa hatinya sedang sakit. Berbeda dengan sakit fisik, ia akan mudah terdeteksi dan disadari dengan segera oleh sang penderita.

Maka dari itu jargon yang pernah mengatakan, “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” (men sana incorporesano) tidak selamanya benar. Buktinya sederhana, pelaku perampokan tidak ada yang cacat fisik. Malahan tubuh mereka bisa dikatakan besar bahkan mungkin kekar.

Jargon di atas lebih tidak terbukti lagi jika melihat gaya sebagian besar selebritis wanita yang cantik, namun suka memamerkan aurat, cipika-cipiki dengan lawan jenis di depan kamera. Jika orangtua kita dulu melihat perilaku tersebut mereka pasti akan mengatakan tindakan tersebut sangat tidak baik. Namun hari ini, semua itu justru harus dilakukan, dengan mengatasnamakan profesionalisme. Oleh karena itu, sebagian dari mereka melakukan tindakan yang tidak dibenarkan dalam Islam itu dengan penuh kebanggaan, dan tanpa penyesalan sedikitpun.

Demikian pula halnya dengan para koruptor. Umumnya mereka terdidik, mengerti sopan santun, pandai membuat regulasi. Baju dan pakaian yang mereka kenakan selain bajunya bagus-bagus juga rapi. Namun berbeda seratus delapan puluh derajat antara penampilan fisik dengan kondisi hatinya. Mereka suka mengambil hak orang lain, mengabaikan amanah, bahkan terbiasa bersilat lidah (berdusta) dan ujungnya tetap saja “mencuri”.

Banyak dari kita hanya memperhatikan aspek jasmani (fisik) tetapi lalai terhadap urusan “hati” (ruhaninya). Untuk urusan fisik, seseorang rela mengeluarkan kocek ratusan juta. Bahkan jika perlu melakukan ceck kesehatan ke luar negeri. Ironisnya jarang di antara mereka yang sengaja menjadwalkan diri untuk menuntut ilmu, mendekatkan diri kepada Allah atau bermuhasabah untuk kebaikan “hati’nya.

Indikasi “Sakit Hati”

Indikasi terkuat seseorang terjangkit penyakit “hati” ialah, seringnya melakukan dosa dan ia tidak peduli dengan dosa yang diperbuatnya. Apalagi ia merasa rizki yang Allah berikan kepadanya juga terbilang cukup bahkan lebih. Apabila kita menemukan situasi seperti ini maka waspadalah!

Sebab rasulullah saw pernah bersabda, “Apabila engkau melihat seorang hamba masih mendapatkan karunia dunia dari Allah sesuka hatinya, sementara ia masih gemar melakukan maksiat, sesungguhnya karunia itu tidak lain adalah istidraj. Kemudian rasulullah saw membaca QS. Al-An’am: 44.” (HR. Ahmad).

Secara umum istidraj adalah anugerah yang masih dan terus Allah berikan kepada manusia yang suka bermaksiat kepada-Nya. Jadi jangan salah kaprah, kenapa orang yang berdosa justru kaya? Itu semua tidak berarti Allah menyayangi orang tersebut. Sebaliknya, Allah sengaja memberikan apa yang diinginkan agar jelas statusnya kelak sebagai orang yang menghadap kepada-Nya dengan penuh dosa.
Allah berfirman;

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِي

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa dengan sekonyong-konyong, maka seketika itu mareka terdiam berputus asa. Maka orang-orang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-An’am: 44-45).

Orang yang istidraj akan menganggap berbuat dosa itu nikmat. Ia akan sadar akan kekeliruannya manakala rumah tangganya telah hancur berantakan, dijauhi oleh teman-teman dekatnya, banyak tertimpa musibah dan kesulitan, atau mengalami kebangkrutan yang menyeretnya tenggelam dalam gelombang depresi yang luar biasa hebat, dan akhirnya, bagi yang gagal kembali kepada jalan yang benar, akan berakhir pada kehilangan akal sehat (gila).

Merawat Hati

Jadi, mari kita bersama-sama berupaya untuk senantiasa melakukan check-up terhadap “hati” kita. Apakah “hati” ini sudah sangat gemar membaca al-Qur’an atau malah suka mengolok-olok teman. Apakah “hati” kita sudah cinta kepada kebaikan atau malah cenderung berbuat keburukan.

Agar “hati” kita tetap sehat, kita harus selalu menjaga dan merawatnya dengan memperbanyak dzikir, membaca al-Qur’an, senantiasa berusaha mencintai ilmu, dan berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

Sebab jika tidak maka kita akan mengalami kerugian besar. Rasulullah saw telah memberikan satu isyarat penting bahwa kita harus merawat “hati”. Beliau bersabda, “Dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari).

Agar “hati” baik, maka mengingat Allah adalah solusinya. Sebagaimana firman-Nya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. 13: 28).

Ibarat tumbuhan, untuk hidup, tubuh butuh nutrisi. Nutrisi "hati" adalah banyak-banyak berdzikir dan menyebut Allah. Baik saat shalat atau tidak. Juga bertafakkur, berpuasa dan melakukan amalan-alaman kebaikan lain.

Mengapa berdzikir? karena dzikrullah (memperbanyak mengingat Allah), adalah ibadah agung yang bisa dilakukan di manapun, dalam keadaan apapun.

Oleh karena itu, marilah menjaga dan menata "hati", bisa kita jadikan sebagai prioritas penting dalam hidup ini.

Jika “hati” yang sehat itu menempel pada orang yang kaya, ia akan menjadi orang yang merelakan hartanya untuk agama, untuk Allah dan Rasul-Nya. Seperti Sayyidah Khadijah, Rasulullah saw, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka terjaga dari sifat sombong, sum’ah, ujub seperti Fir’aun, Qarun, dan Haman.

Apabila “hati” yang sehat itu ada pada orang yang miskin dan penuh kekurangan, maka hasil-nya ia akan menjadi orang yang qana’ah, sabar serta penuh kesyukuran. Singkat kata, apapun yang terjadi, jika “hati” kita sehat niscaya kita akan bahagia. Sebab “hati” yang sehat adalah “hati” yang selalu ingat kepada-Nya. Wallahu a’lam.*/Iman Nawawi










Momentum Mengkalkulasi ‘Laba’ Perniagaan Hidup

SEBENTAR lagi adalah pergantian tahun. Biasanya, pada malam-malam pergantian, semua orang bergembira dengan mengucapkan “Happy New Year”.

Seperti sebelum-sebelumya, aroma kemeriahan pesta tahunan tersebut telah tercium dari jauh hari, dengan membludaknya iklan-iklan promosi perayaan tahun baru, baik itu melalui baleho-baleho di jalan-jalan, hingga tayangan-tayangan di stasiun-stasiun televisi. Yang lebih membuat tahun 2012 mendatang ini terasa lebih ‘spesial’ dan dinanti-nanti, karena sebelumnya telah tayang sebuah film Hollywood yang memprediksikan kiamat akan terjadi pada tahun depan. Benarkah akan terjadi demikian? Jawabnya, Wallau ‘alam Bish-Shawab

Namun, terlepas dari itu semua, ada pertanyaan mendasar, khususnya kaum mukminin, adakah hikmah yang mampu kita petik dari fenomena ini?

Perhitungan Untung-Rugi

Bagi seorang mukmin, pergantian tahun memiliki arti yang sangat penting. Bahkan, jauh lebih penting dari peringatan pergantian tahun itu sendiri. Hal ini tidak lain karena ketika berbicara masalah pergantian tahun, berarti kita tengah membahas masalah waktu. Sedangkan membahas masalah waktu berati kita tengah membincangkan masalah kehidupan kita di dunia ini.

Hidup dan waktu bagai dua keping mata uang yang tak terpisahkan. Keduanya saling berkaitan. Waktu semakin bertambah berarti jatah hidup semakin berkurang. Kalau pada tahun 2011 umur kita masih 24 tahun misalnya, maka tahun depan, pada 2012 akan menginjak ke 25. Kalau Allah menjatahi kita hidup hingga umur 60 tahun, misalnya, berati jatah hidup kita telah berkurang 25 tahun, sehingga tinggal 35 tahun lagi. Hal ini senada dengan apa yang digambarkan oleh Abu Nuwas dalam salah satu bait sya’irnya yang sangat terkenal: “Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumin” (Dan umurku setiap hari semakin berkurang).

Oleh sebab itu, pemanfaatan waktu perlu diperhatikan dengan sangat. Bagi seorang mukmin, waktu adalah pedang. Maka tergantung kita, bagaimana kita memanfaatkan atau menggunakan waktu tersebut. Apa bila ia kita gunakan untuk kebaikkan, maka beruntung lah kita. Namun, apa bila sebaliknya, maka kerugian tengah melanda diri kita. Untuk mengoptimalkan waktu, prinsip hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin, benar-benar harus terpatri dalam diri kita.

Dan agar tidak salah langkah, perlu kiranya kita memperhatikan rambu-rambu Allah dalam al-Quran tentang pemaknaan hidup. Allah melalui firman-Nya menerangkan bahwa kehidupan di dunia ini tak ubah sebuah perniagaan.

Dan sudah menjadi sesuatu yang lazim, dalam setiap perniagaan itu ada untung dan ada rugi. Peluang kedua posisi ini menghampiri kita sama-sama besar. Tergantung sejauh mana kejelian kita dalam menentukan pilihan, baik itu jenis perniagaan, lebih-lebih teman bisnis kita.

Namun dalam al-Quran, Allah justru memberikan tawaran perniagaan bagi manusia, yang pasti membawa keuntungan, baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Bahkan tidak hanya sebagai tawaran, Allah dengan firman-Nya secara langsung menjamin bahwa perniagaan tersebut benar-benar tidak menghasilkan kerugian sedikit pun bagi mereka yang ingin berniaga dengan-Nya.

Perniagaan macam apakah itu? Berikut bunyi tawaran Allah yang terdapat dalam surat Ash-Shaff, ayat 10-11:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan rosul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan hartamu dan jiwamu. Itu lah yang lebih baik bagi dirimu jika kamu mengetahui." (Ash-Shaff: 10-11).

Jadi ini lah jenis perniagaan yang Allah tawarkan ke pada kita, yang dijanjikan dengan keuntungan yang nyata. Bagi mereka yang enggan berterangsaksi dengan-Nya, maka secara sepontanitas dia telah menetapkan dirinya sebagai orang yang merugi dalam perniagaan.

Merugi karena dia tidak bisa merengguh keuntungan hakiki, yaitu keridhaan Allah dan Rosul-Nya.

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kesucian adalah separuh keimanan, Alhamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran merupakan sinar. Al Qur’an bisa sebagai pembela bagimu, bisa pula sebagai bumerang bagimu. Setiap pagi manusia dapat menjual dirinya, apakah ia akan memerdekakan dirinya atau akan membinasakannya.” (HR. Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Ath Thaharah/223/Abdul Baqi])

Dari hadits di atas, secara jelas kita bisa menangkap pesan-pesannya, bahwa memang di dalam mengarungi samudra kehidupan ini, manusia bak tengah berniaga. Ada yang membawa ke pada keuntungan, namun ada pula yang menjerumuskan ke pada kebinasaan. Nah, pertanyaan selanjutnya ada di pihak manakah kita saat ini?

Di sini lah kita perlu bermuhasabah. Layaknya seorang saudagar, ketika telah mendekati akhir tahun, itu berarti dia akan melakukan tutup buku untuk tahun tersebut, dan membuka pembukuan baru untuk tahun yang akan datang. Makanya, dia kudu menghitung dengan teliti proses perniagaan selama satu tahun yang telah berlalu, antara pendapatan dan pengeluara. Semuanya harus jelas dan terinci, sehingga hasil yang diperoleh tidak salah, antara untung dan ruginya.

Begitu pula kaitannya dengan kita. Agar tahun depan, 2012 dan seterusnya, menjadi lebih baik dari tahun yang telah dilalui, maka kita harus mengevaluasi akan kinerja kita selama ini. Jangan sampai ‘jual-beli’ yang kita lakukan selama ini (peribadatan) belum mampu mendatangkan laba yang besar bagi kita. Bukan karena Allah ingkar janji, namun karena kualitas pelayanan yang kurang dari kita.

Terlebih lagi kalau perniagaan kita bersimpangan jalan dengan apa yang telah ditawarkan Allah, dalam arti hanya berdimensi materi, maka seharusnya kita cepat menyadarinya, dan berusaha membuka lembaran baru, dengan membuka relasi perniagaan dengan Allah, dengan sebaik-baik perniagaan.

Dengan ini, semoga waktu-waktu kita di masa mendatang, benar-benar kita gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Sering-sering lah ‘menghitung’dan mengevaluasi proses perniagaan kita dengan Allah, sebelum tiba hari di mana tidak berguna lagi kegiatan ‘tijarah’, kecuali hanya tinggal penghitungan hasil atau rugi dari perniagaan di dunia. Dan semoga kita tidak termasuk orang yang merugi, dikarena kelalaian kita dalam memanfaatkan peluang yang telah Allah berikan ke pada kita. Ingat, dunia adalah tempat kita beramal tanpa dihisab, dan akhirat adalah tempat kita dihisab tanpa beramal. Jadi, “Haasibuu Anfusakum Qabla An Tuhaasabuu.” (Hisablah diri kalian masing-masing sebelum kalian disisab).*








Mewaspadai Bahaya Berhutang!



Di zaman kredit yang relatif murah dan mudah sekarang ini, siapa yang tidak punya hutang? Beli motor, hutang. Beli rumah, hutang. Beli komputer, hutang. Sebagian ibu rumah tangga juga gemar memenuhi rumahnya dengan perabotan yang dibeli secara berhutang, mulai dari kulkas, televisi, VCD player, dipan, almari, sampai panci dan alat penggorengan. Bahkan, ada juga yang naik haji dengan – difasilitasi oleh – hutang!

Lalu, apakah berhutang itu tercela dan dilarang? Bukan begitu. Hutang samasekali tidak dilarang. Bahkan, ayat terpanjang dalam Al-Qur’an justru membicarakan masalah hutang. Silakan periksa surah al-Baqarah: 282.

Secara terinci sekali Allah membimbing kita bagaimana caranya mengelola transaksi hutang-piutang ini, nyaris sama dengan cara Allah mengajari kita bagaimana membagi harta warisan. Berbagai kemungkinan diantisipasi di dalamnya, mulai dari pencatatan, persaksian, saksi cadangan, jaminan, wali, dan lain sebagainya. Sepertinya, di dunia ini tidak ada Kitab Suci yang membicarakan hutang-piutang dan transaksi keuangan, serta mendudukkannya pada posisi yang tidak kalah pentingnya dengan masalah-masalah spiritual, selain Al-Qur’an. Akan tetapi, yang hendak kita waspadai adalah penyakit-penyakit yang kerapkali muncul akibat berhutang itu.

Karena pentingnya urusan hutang ini dengan aherat, maka Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau terbunuh di jalan Allah dalam kondisi bersabar mengharap ridha Allah dan maju tak gentar tidak mundur, maka Allah akan menebus kesalahan-kesalahanmu KECUALI HUTANG. Begitulah yang dikatakan Jibril kepadaku barusan.” [HR Abu Dawud].

Jadi, urusan hutang ini adalah urusan akherat. Sebab gara-gara hutang belum terselesaikan, semua amalan-amalan kita bisa lenyap.

Masalahnya, banyak kaum Muslim saat ini terjerat dengan sistem ribawi. Di mana mereka dibuat bangga menjadi penghutang. Salah satu contohnya adalah pengguna kartu kredit. Bagaimana orang dibuat bangga menjadi “penghutang” dan boros. Kasus terakhir adalah pembunuhan terhadap Nasabah Citibank yang tewas setelah dihajar debt collector akibat tunggakan hutang.

Betapa jauh serta mendalamnya pandangan Nabi terhadap persoalan ini. Jelas sudah, bukan berhutangnya yang dilarang. Tetapi, beliau meminta kita berhati-hati terhadap hutang karena ia potensial memicu dua kesalahan besar, yaitu: berbohong dan ingkar janji.

Mari kita amati. Ketika seseorang terhimpit hutang dan tidak sanggup melunasinya, sangat mungkin ia berbohong dan ingkar janji. Betapa beratnya untuk secara jujur dan gentle mengakui tidak mampu serta meminta keringanan. Adakalanya karena malu, gengsi, sungkan, atau niat-niat yang tidak baik.

Misalnya, ketika tagihan datang, bisa saja ia justru berdusta dengan mengatakan bahwa sebenarnya punya uang sekian-sekian tapi masih dibawa si fulan, atau punya aset begini-begitu dan sekarang dalam proses penjualan. Padahal, sebenarnya tidak ada samasekali. Atau, ia berjanji pada tanggal sekian akan segera membayar, namun kemudian mengingkarinya.

Maka, Rasulullah pun mengajari kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berhutang ini, sebab beliau khawatir kita akan berbohong dan mengingkari janji. Mengapa keduanya sangat berbahaya?

Sebuah hadits lain akan menjelaskan letak masalahnya. Nabi bersabda, “Ada empat sifat, siapa saja yang keempatnya ada dalam dirinya, maka dia adalah seorang munafik sejati. Tetapi, siapa saja yang dalam dirinya terdapat salah satu darinya, maka di dalam dirinya terdapat salah satu sifat munafik sampai ia meninggalkannya. Yaitu: jika dipercaya ia khianat, jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika berdebat/bersengketa dia akan curang/zhalim.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash).

Jadi, adakalanya berhutang akan menjerumuskan kita ke dalam kemunafikan tanpa sadar. Jika saja seseorang banyak berhutang, lalu dalam transaksi-transaksi ini dia sering berbohong atau mengingkari janjinya, bisa dipastikan ia tengah mendidik dirinya sendiri untuk menjadi munafik. Pelan-pelan, ia akan terjerat jaring-jaring kemunafikan, hingga suatu saat sudah tak bisa lepas lagi. Seluruh bagian dirinya dipenuhi kebohongan, kepalsuan, tidak bisa dipercaya, pendeknya: tipuan. Dan, inilah hakikat munafik itu sendiri: menampakkan iman tetapi menyimpan kekufuran. Na’udzu billah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an;

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah semakin memperparah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Qs. al-Baqarah: 8-10).

Dengan kata lain, ketika beliau mengajari kita untuk “berlindung dari himpitan hutang”, beliau sebenarnya sangat khawatir jika kita terjangkiti penyakit nifaq. Beliau tidak melarang berhutang, karena hutang-piutang adalah bagian dari interaksi normal dalam kehidupan, dan di dalamnya pun terkandung sikap tolong-menolong yang dianjurkan Islam.

Hanya saja, jika kita harus berhutang, beliau meminta kita untuk sangat berhati-hati, yakni jangan sampai terjatuh dalam kebiasaan berbohong dan ingkar janji; yang merupakan bagian dari kemunafikan. Sebab, ancaman Allah sangatlah berat kepada sifat yang satu ini.

Allah berfirman;

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (Qs. an-Nisa’: 145).

Maka, mohonlah pertolongan Allah, dan berhati-hatilah! Semoga kita tidak terjangkiti penyakit gemar berbohong dan ingkar janji gara-gara hutang.

Diceritakan oleh ummul mu’minin ‘Aisyah, bahwa Rasulullah pernah berdoa dalam shalatnya, agar terlindung dari himpitan hutang.

“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari pemicu dosa dan himpitan hutang.” Lalu, ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Betapa seringnya Anda memohon perlindungan dari hutang, wahai Rasulullah.” Beliau menanggapi, “Sungguh seseorang itu, bila terhimpit hutang, ia berbicara lalu bohong, dan berjanji lalu ingkar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Mudah-mudahan kita terhindang dari himpitan hutang, berbohong serta inkar janji/ Amin. Wallahu a’lam









Lebih “Sehat” dengan Shadaqah


HIDUP adalah perjuangan yang harus ditempuh dengan liku-liku dan penuh problematika. Di antara problem hidupan yang banyak dihadapi manusia adalah musibah dan ujian. Termasuk ujian berupa datangnya penyakit.

Sedangkan Islam, adalah agama yang diturunkan sebagai rahmat bagi alam semesta. Islam datang memberikan solusi berbagai persoalan dan problem umat manusia. Rasulullah menerima Islam ini tidak dengan duduk bersimpuh, tetap beliau membawa missi ke dalam realitas kehidupan ke tengah-tengah kencah kehidupan manusia dengan 1001 macam persoalannya. Kehadiran Islam justru untuk memecahkan persoalan-persoalan hidup yang riil itu, dalam berbagai aspeknya.

Salah satu bentuk rahmat Islam adalah menuntun kepada kita untuk memancarkan rasa bahagia dalam kalbu sesama. Caranya dengan memberi, dalam bentuk apapun rupa pemberian itu.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan pentingnya setiap orang untuk memberi shadaqah setiap hari.

"Tiadalah tiap-tiap jiwa keturunan Adam kecuali harus bershadaqah, setiap hari, di mana terbit padanya matahari," begitu kata Nabi. Mendengar sabda tersebut, seorang sahabat dari kalangan tak berpunya bertanya:"Ya Rasulullah! Darimana shadaqah yang harus kami keluarkan bagi kami-kami ini?" Rasulullah menjawab: "Sesunggunya pintu-pintu kebajikan sangat banyak. Kemudian beliau menyebutkan satu persatu: Mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil dengan khusyu' adalah shadaqah. Yakni shadaqah untuk ruhani. Diisi dengan kekuatan baru dengan taqarrub kepada Allah."

"Sesungguhnya ruhanimu memiliki hak atas dirimu. Agar senantiasa kita rawat dengan baik. Jangan dibiarkan lemah. Mengajak kepada yang baik, mencegah dari yang mungkar adalah shadaqah. Menyingkirkan sesuatu yang dapat menyakiti orang dari jalan, memperdengarkan orang yang tuli, sehingga ia terhindar dari bahaya, menuntun orang buta, memberi petunjuk kepada orang minta petunjuk mengenai keperluannya (adalah shadaqah)."

Pada penutub hadits Rasulullah bersabda, "Dan senyummu bila berhadapan dengan saudaramupun adalah shadaqah.!"

Dari dialog tersebut terlihat bahwa nilai dari satu pemberian tidaklah semata-mata ditentukan oleh besar kecilnya materi yang diberikan. Ada nilai lain yang lebih menentukan, yaitu nilai immaterial, nilai maknawi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Allah swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) shadaqah dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepaa manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu." (QS. Al-Baqarah: 264)

Tidak selamanya shadaqah itu harus berupa uang, materi, senyuman dari muka yang jernih terhadap sesama manusia adalah bentuk pemberian yang tidak memerlukan harta.

Semua bentuk kebajikan terhadap sesama manusia dalam bentuk apapun yang dilakukan adalah shadaqah, karena bertolak dari sumber yang satu, yaitu kemanusiaan yang tulus.

Rasa kemanusiaan inilah yang menggerakkan seseorang untuk menyingkirkan duri dari jalan, menuntun orang buta, mendukung orang yang lemah, memberi senyum harapan kepada orang yang patah hati. Atau melompat ke dalam air bah untuk menolong orang, walau taruhannya adalah nyawanya sendiri. Rasa kemanusiaan ini ibarat lembar-lembar sutra yang saling menjalin individu-individu dalam ikatan ukhuwah (persaudaraan yang sesungguhnya).

Itulah fungsi shadaqah dalam kehidupan sosial. Bisa rasa solidaritas dibeli dengan harta yang banyak, buat sementara waktu. Akan tetapi apabila uang habis, kekayaan ludes, rasa solidaritas lenyap!

"Walaupun kamu membelanajakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah yang mempersatukan mereka." (QS. Al-Anfal: 63)

Definisi shadaqah yang diberikan oleh Rasulullah dalam dialog di atas, menegaskan bahwa nilai-nilai yang menentukan dalam kehidupan ini bukanlah semata-mata nilai material. Akan tetapi juga nilai ideal. Nilai-nilai kemanusiaan seperti rasa keadilan, persaudaraan dan silidaritas, kejujuran, martabat kemanusiaan (HAM).

Nilai-nilai kemanausiaan tersebut tidak kita temukan dalam kamus teknologi dan ekonomi modern. Ia berada di lingkungan lain, di lingkungan pandangan dan falsafah hidup; di bidang moral dan ideologi.

Selain dapat berdampak ekonomi dan sosial, shadaqah juga bisa berdampak fisik Salah satu faedah lain dari ber-shadaqah disebutkan oleh Rasulullah Muhammad.

“Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan shadaqah.” (HR. Baihagi).

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, "Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar makruf nahi-munkar." (HR. Bukhari dan Muslim )

Tentusaja, keyakinan bershadaqah dikarenakan Allah subhanahuwata’alah –lah yang menyembuhkan semua penyakit, bukan uang atau bantuan pemberiannya.

Al-Quran juga menyinggung soal hubungan shadaqah dengan setiap kesulitan yang sedang dihadapi manusia.

فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

"Adapun orang yang memberikan (hartanya dijalan ALLAH) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (QS: Al Lail (92) : 5 - 7 )

Semoga semua kandungan al-Quran memberikan pelajaran dan ilmu berharga bagi kita. Bagi yang sedang ditimpa musibah dan penyakit, teruslah berikhtiar untuk mencari kesembuhan dan tak ada salahnya bershadaqah dan tanamkanlah niat shadaqah tersebut di dalam hati kita agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan penyakit yang sedang menimpa kita.









Menjadi Kaya Juga Perlu, Tapi..


SEORANG Muslim tidak sepatutnya mengkondisikan dirinya hidup dalam kekurangan harta. Apalagi hidup pasif tanpa usaha dan selalu meminta-minta. Ia harus berupaya mencari karunia Allah berupa perbendaharaan harta untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Dengan cara demikian, maka setiap Muslim akan mampu berkontribusi (secara finansial) dalam upaya-upaya strategis guna memajukan kondisi ummat Islam di segala sektor.

Dalam sejarah kita bisa lihat bagaimana Utsman bin Affan, saudagar Muslim pertama yang menjadi sahabat utama rasulullah saw setelah Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar justru memberikan seluruh kekayaannya untuk perjuangan Islam. Tatkala ditanya oleh nabi, “Apa yang anda sisakan untuk keluarga anda?” Dengan tegas Abu Bakar menjawab, “Cukup Allah dan rasul-Nya.” Demikian pula dengan Abdurrahman bin Auf, saudagar Muslim terkaya di Madinah yang menyumbangkan banyak sekali hartanya untuk perjuangan ummat Islam.

Seorang Muslim boleh untuk mengkondisikan dirinya dalam kekurangan apabila memang ada alasan yang bisa menguatkan iman dan dalam rangka memberikan teladan. Sebagaimana Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib, Salman al-Farisi, dan tentu siapalagi kalau bukan tauladan kita Rasulullah Muhammad Salallahu alaihi wassalam.

Beliau-beliau itu ingin memberikan contoh agar para pemimpin tidak terlena dengan jabatan yang diembannya, sehingga terperosok dalam kelalaian dan kesombongan. Sementara rakyat dibiarkan miskin, bodoh, nganggur, dan tercerai-berai.

Salman al-Farisi misalnya, sekalipun beliau memegang amanah sebagai gubernur, saat wafat, pakaian yang digunakannya tidak kurang dari seratus tambalan.

Demikian pula Umar bin Khattab, tatkala protokoler kekhilafahan hendak mengganti piring makannya yang sudah kurang layak, Umar menolak. Bahkan hari-hari Umar tidak mau duduk manis di kantor pribadinya. Ia lebih suka berkeliling melihat kondisi rakyatnya, tidur di atas pelepah daun kurma dan bercengkrama dengan rakyatnya.

Perilaku Umar dan Salman Al-Farisi adalah perilaku mulia yang dimiliki seorang pemimpin. Tapi ingat keduanya adalah seorang Muslim yang kaya hati, cerdas, memiliki ilmu, dan tentu kokoh aqidah dan keimanannya. Jika kita mengambil sikap seperti itu, kemudian tidak memiliki kekuatan ilmu dan kekuatan aqidah dan iman yang benar, maka kelirulah sikap tersebut.

Lalu bagaimana bagi kita yang bukan pemimpin publik laksana Umar atau pun Salman al-Farisi? Sikap Abdurrahman bin Auf layak untuk kita teladani.

Miliki Skill

Hampir semua orang mafhum bahwa Abdurrahman bin Auf adalah kaum Muhajirin yang dengan tegas menolak tawaran baik dari saudaranya dari kalangan Anshar. Tawaran pun bukan sekedar tawaran. Mungkin bagi anggota DPR jika tawaran itu diberikan secara cuma-cuma akan diterimanya dengan senang hati. Bagaimana tidak Abdurrahman bin Auf ditawari rumah, tanah, istri, dan perkebunan.

Dengan tegas Abdurrahman bin Auf hanya mengatakan, “Tunjukkan kepadaku dimana pasar!”

Mengapa Abdurrahman bin Auf menolak tawaran yang sangat menggiurkan itu? Dua hal yang dapat kita simpulkan. Pertama ia hanya ingin bergantung kepada Allah dan ingin membuktikan bahwa hijrah baginya adalah gerbang untuk menang. Kedua, Abdurrahman bin Auf ingin mengajarkan kepada kita seorang mukmin “haram” hukumnya menjadi pemalas. Abdurrahman punya skill (keahlian) yang baik di bidang bisnis, niaga ataupun perdagangan. Karena itu, beliau minta ditunjukkan tempat perdagangan, yakni pasar.

Dalam tempo yang tidak begitu lama, pasar di Madinah sudah berhasil dikuasainya. Bahkan dalam riwayat dijabarkan bahwa suat ketika, di Madinah terlihat debu tebal yang mengepul ke udara berarak dari tempat ketinggian di batas kota, debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpal hingga nyaris mentutup ufuk pandangan mata.

Peristiwa itu menjadikan penduduk sempat salah tanggap. Dikira ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Namun tak lama kemudian terdengarlah suara hiruk pikuk, yang memberi tanda bahwa ada kafilah besar panjang sedang menuju pusat Madinah. Ternyata, tidak kurang dari 700 kendaraan yang sarat muatan memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Itulah kafilah Abdurrahman bin Auf.

Subhanallah, ternyata 700 kendaraan itu tak sampai kerumah Abdurrahman bin Auf. Segera Abdurrahman bin Auf berkata, “Kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah Azza Wajalla”. Lalu dibagikanlah seluruh hasil perniagaan Abdurrahman bin Auf itu kepada seluruh penduduk Madinah.

Riwayat menyebutkan pula bahwa ada tiga hal yang sering dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf. Bila tidak sedang shalat di masjid, dan juga tidak sedang berjihad di jalan Allah maka ia sedang serius mengurusi perniagaannya.

Apabila kita mampu memiliki skill sebagaimana Abdurrahman bin Auf lalu dengan teguh hati memegang aqidah Islam. Menjadikan harta yang dimiliki sebagai sarana mendapat ridha Allah, tentu kebahagiaan hakiki-lah baginya.

Allah berfirman,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ثُمَّ لاَ يُتْبِعُونَ مَا أَنفَقُواُ مَنّاً وَلاَ أَذًى لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah (2) ; 262).

Dalam konteks kekinian dan ini mendesak, harus ada di antara ummat Islam yang ahli di bidang ekonomi, bisnis, perniagaan dan perdagangan. Sebagaimana telah diteladankan oleh rasulullah saw dan Abdurrahman bin Auf. Dan, hal tersebut saat ini sangat dibutuhkan. Bagaimana tidak ummat Islam Indonesia hari ini menjadi mangsa pasar negara-negara industri. Inilah yang oleh para pemikir disebut dengan “Global Economic War” atau “Ghazwatul Iqtishodiyah” (perang ekonomi).

Dengan demikian skill itu perlu dan harus dipelajari bahkan sampai dikuasai secara sempurna. Harus ada di antara ummat Islam yang pakar IT juga pakar hadis. Harus ada yang pakar tafsir yang juga ahli ekonomi. Prinsipnya harus ada skill yang dapat kita andalkan untuk turut serta jihad fi sabilillah.

Akhirul kata, harus ada ummat Islam yang kaya, karena kaya itu juga perlu. Tapi harus diingat, ummat Islam harus kaya sejati, yaitu kaya ilmu, kaya iman, dan kaya harta. Hal itu sangat diperlukan untuk menyelamatkan ummat Islam dari kekufuran. Sebab ada hadis nabi yang menegaskan bahwa kefakiran mendekati kekufuran.

Jadi kaya seperti apa yang diharapkan Islam? Seorang yang kaya raya seperti Siti Hadijah atau Usman bin Affan. Khadijah adalah seorang pengusaha kaya raya. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad, beliau adalah pegadang sukses. Hanya saja, kekayaan Siti Khadijah rela dikorbankan untuk mendukung perjuangan dan Islam. Wajar jika Nabi menyebut Khadijah salah satu penghuni syurga.

Ketika Jibril as datang kepada Nabi saw, dia berkata: "Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan." [HR. Bukhari].


Hingga Khadijah telah tiadapun, Nabi senantiasa mengenangnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Salallahu alaihi wassalam bersabda: "Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa."

Itulah Khadijah yang telah berjuang dengan harta dan kekayaannya. Begitu pula sahabat-sahabat Nabi lain yang telah dijamin syurga atas hartanya.

Abu Hurairah pernah berkata; "Utsman bin Affan sudah membeli surga dari Rasulullah dua kali; pertama ketika mendermakan hartanya untuk mengirimkan pasukan ke medan perang, Kedua ketika membeli sumber air (dari Raimah)." (HR: Tirmizi)

Usman telah menyumbang 20.000 ribu dirham untuk sumur milik orang Yahudi. Di perang Tabuk, Usman telah berinfak 300 unta dan 1.000 dirham.

Adapula kisah sahabat Abdurrahman bin Auf. Ia berinfak sebanyak dua ratus uqiyah ketika perang Tabuk. Ketika Rasulullah menanyakan apa yang ia tinggalakan untuk keluarganya, maka Abdurrahman menjawab, "Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan." "Berapa?" Tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, "Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Allah SWT berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ
أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud[11]: 15-16).

Allah tak melarang kita mengumpulkan kekayaan, bahkan pasti akan diberikan Allah apa yang kita inginkan itu, kecuali pahala dan syurga Nya.

Karenanya, Rasulullah Salallahu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu dilaknat, berikut segenap isinya juga dilaknat, kecuali jika disertai untuk tujuan kepada Allah SWT.” (Al Hadits).
Nah, pada akhirnya, kaya sangat tidak dilarang. Bahkan dianjurkan jika itu untuk dakwah dan perjuangan serta berinfaq membantu fakir dan miskin.
Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar