Powered By Blogger

Rabu, 29 Juni 2011

IPTEK


KINI , PASANGAN MENIKAH MENJADI MINORITAS DIAMERIKA


Pemerintah Amerika melaporkan citra Amerika bahwa kebanyakan rumah tangga diisi dengan pasangan suami-istri sekarang menjadi cerita masa lalu.

Pada tahun 1950, lebih dari tiga-perempat rumah tangga di Amerika didiami pasangan suami-istri, dan pasangan menikah dengan anak-anak sering ditayangkan dalam acara-acara televisi zaman itu. Tetapi Biro Sensus pemerintah melaporkan bahwa tahun lalu pasangan suami-istri hanya mewakili 48 persen rumah tangga Amerika, pertama kali angka itu turun di bawah 50 persen.

Bersamaan dengan itu, jumlah keluarga – yang didefinisikan sebagai pasangan suami-istri dengan anak-anak– sekarang hanya merupakan satu dari setiap lima rumah tangga, turun sekitar lima persen dalam dekade terakhir.

Jumlah pasangan tidak menikah yang hidup bersama di Amerika telah meningkat tajam, menjadi sekitar satu dari setiap delapan rumah tangga, lonjakan 25 persen dalam 10 tahun terakhir.

Laporan pemerintah itu mengatakan beberapa tempat yang terbanyak rumah tangga dengan pasangan tidak menikah adalah di kota-kota industri tua di timur laut Amerika, di mana prospek pekerjaan lebih terbatas dibanding dengan tempat-tempat lain.

Para analis mengatakan pasangan yang tanpa prospek pekerjaan yang pasti sering enggan menikah sampai mereka lebih yakin mengenai masa depan ekonomi mereka.

Warga Amerika juga kini hidup lebih lama, sehingga banyak rumah tangga sekarang mencakup lansia lajang yang jumlahnya bertambah banyak. *




VIDEO GAMES RUSAK KEMAMPUAN BACA PADA ANAK


Para peneliti memperingatkan permainan komputer merusak kemampuan membaca anak-anak. Berdasarkan Daily Mail, peneliti menemukan kemampuan membaca anak usia 9 dan 10 tahun merosot di negara dengan rumah tangga yang setidaknya memiliki satu komputer.

Tim dari Universitas Gotheburg di Swedia membandingkan kemampuan membaca dari siswa berusia 9 dan 10 tahun di Swedia, Amerika Serikat, Italia dan Hungaria. Mereka menemukan bahwa sejak 1991 rata-rata kemampuan membaca menurun di AS dan Swedia, tapi meningkat di Italia dan Hongaria.

Anak-anak di AS dan Swedia juga meminjam lebih sedikit buku dari perpustakaan dan menghabiskan sedikit waktu luang mereka untuk membaca. Para peneliti menemukan bahwa kemampuan anak laki-laki sedikit lebih menurun daripada para perempuan, kemungkinan karena mereka cenderung menghabiskan lebih banyak waktu bermain video games.

"Kemampuan membaca turun karena penggunaan komputer di waktu luang meningkat," kata Profesor Monica Rosen, pemimpin penelitian, Senin (30/5). Penting bila kita tidak cepat mengambil kesimpulan bahwa penjelasan lengkap dari kurangnya membaca adalah kekurangan dalam pendidikan.

Kebalikannya, cara di mana komputer merusak kemampuan membaca menunjukkan dengan jelas bahwa waktu luang setidaknya sepenting saat tiba waktunya untuk mengembangkan kemampuan membaca berkualitas tinggi.*




MENGAPA BELAJAR DIUSIA TUA SULIT?


Otak orang yang berusia paruh baya tidak lagi lincah sebagaimana otak orang muda disebabkan semua stres yang pernah dialaminya. Demikian sebuah studi terbaru yang dirilis hari Selasa (31/5) di Journal of Neuroscience menyebutkan.

Stres menyebabkan sel saraf otak menciut dan kehilangan plastisitas (kemampuan untuk membentuk hubungan yang disebut sinapsis).

Hasil penelitian para ilmuwan Amerika Serikat itu memberikan pemahaman tambahan tentang proses penuaan dan mengapa sebagian orang kemampuan berpikirnya berkurang lebih cepat dibandingkan orang lain.

"Kami menduga sel-sel saraf (otak) berubah karena umur, tapi kehilangan platisitas sinapsis dalam konteks pengalaman hidup terbukti memberikan implikasi pada penurunan kemampuan berpikir yang terkait dengan umur," kata John Morrison dari Mount Sinai School of Medicine.

Morrison bersama rekan-rekannya meneliti tikus muda, tikus paruh baya dan tikus tua yang ditempatkan dalam sebuah area selama beberapa jam, yang bisa mengeluarkan hormon stres penyebab perubahan sel otak di prefrontal cortex atau bagian otak yang dipakai dalam proses belajar.

Tim peneliti itu mengkaji perubahan pada bagian sel otak yang disebut spines yang digunakan untuk membentuk sinapsis. Ketika mereka melihatnya lewat mikroskop, mereka mendapati perubahan pada spines milik tikus-tikus muda, yang menunjukkan bahwa mereka bisa beradaptasi dengan pengalaman yang menimbulkan stres.

Spines pada otak tikus-tikus separuh baya tidak berubah banyak. Sementara spines pada tikus tua tidak ada yang berubah.

Dari sana disimpulkan, bahwa proses penuaan menyebabkan kehilangan signifikan pada kemampuan otak untuk merespon stres, sesuatu yang sangat penting dalam proses belajar.

"Prefrontal cortex secara konstan 'menyambung kembali' sebagai respon dari pengalaman hidup," kata Morrison.

Namun, otak-otak tua secara signifikan kehilangan spines, dan kalaupun ada yang masih memiliki, kemampuannya kurang dalam merespon situasi yang memerlukan adanya 'penyambungan kembali' saraf-saraf otak.

"Saya tidak akan berusaha untuk mempelajari bahasa (asing)," kata Morrison, mengingat kemampuan otak orang tua yang menurun. "Sebagian orang bisa melakukannya, tapi tidak akan seperti anak-anak kemampuannya," tegas Morrison yang berusia 58 tahun.

Untungnya meskipun menua, seseorang tidak akan kehilangan keterampilannya dalam melakukan sesuatu.

"Anda tidak akan kehilangan sinapsis dan sirkuit-sirkuit yang sangat stabil," kata Morrison.

Temuan tersebut bermanfaat untuk lebih memahami penyakit Alzheimer. Jika ingin memerangi Alzheimer, maka orang harus melakukan pencegahan sejak dini, kata Morrison.

Alzheimer banyak menyerang orang-orang yang memasuki usia senja. Otak penderita penyakit ini ukurannya menciut dan kemampuan kerja otak mereka menurun drastis sehingga mempengaruhi kemampuan kerja anggota tubuh lain. Para penderita antara lain akan mengalami kesulitan dalam berbicara, pikun, tidak bisa mengurus dirinya sendiri, sulit untuk berpikir, kehilangan orientasi ruang dan waktu, serta mudah berubah minat, kondisi kejiwaan dan kepribadiannya.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar