Powered By Blogger

Kamis, 31 Maret 2011

ISLAMI


Wisata Alam Buana Tirta - Pangkalan


DOA PENYELAMAT KELUARGA


Betapa banyak rumah tangga diselamatkan oleh Allah dari kehancuran, karena doa seorang suami atau istri untuk pasangannya. Doa, bisa mengubah sesuatu yang sepertinya tak mungkin, menjadi mungkin. Tentu saja, dengan izin Allah ta’ala.

Sebagai contoh kongkrit, marilah kita simak penuturan seorang suami yang dahulunya selalu memperlakukan istrinya dengan kasar dan semena-mena. Ia berkata, “Bila aku tidak menemukan pakaianku terletak di tempatnya, langsung saja aku dengan kemarahan dan kalap memukulinya dan menempeleng wajahnya. Begitu juga bila kurang garam dalam makananku. Betapa malangnya dia. Aku bertambah marah dan naik pitam bila dia menasihatiku. Jika dia menyuruhku shalat, aku pun marah dan justru menghidupkan musik. Kadang aku juga memaksanya menghadiri tempat-tempat atau berbagai pesta yang tidak layak dihadiri oleh seorang wanita muslimah.”

Istrinya pun dihadapkan pada dua pilihan. Meminta cerai, atau bersabar serta mengadukan segalanya hanya kepada Allah ta’ala, serta meminta solusi kepada-Nya? Ia yang masih memiliki rasa cinta kepada suaminya, memilih alternatif kedua. Setiap malam, pada waktu sahur ia bermunajat kepada Allah ta’ala.

Sang suami melanjutkan kisahnya. “Terkadang, di malam hari aku bangun dari tidurku…tidak melihat istriku berbaring di atas ranjang. Maka aku pun bangkit mencarinya. Ternyata ia sedang berdiri menghadap Allah ta’ala dan merintih dalam doanya. Kejadian seperti ini diulanginya berkali-kali.

Hingga pada suatu malam, ketika ia sedang menangis lirih, berdoa kepada Allah dalam shalat malamnya, aku terbangun. Tangisan dan doanya itu telah membangunkanku. Lalu aku merasakan sakit di dadaku. Rasa sakit itu menjadikanku mengingat kembali tentang kehidupanku selama ini, perlakuanku terhadapnya…terbayang…terus terbayang dengan jelas. Sementara ia tetap dalam untaian doanya yang terdengar pilu di telingaku…betapa tidak? Ia memohonkan untukku sebuah hidayah dan kebaikan tingkah laku….

Dengan sigap, aku bangkit bergegas menuju tempat wudhu, yang selama ini selalu kujauhi… Aku mulai berwudhu kemudian shalat berjamaah subuh di masjid. Sejak saat itulah aku mulai mengenali diriku dan istriku dalam posisi yang kontradiktif. Ia penuh kesabaran dan taat beribadah. Sebaliknya diriku, penuh kemarahan dan sangat ingkar terhadap ibadah.”

Bagaimana akhir kisah ini? Mari kita simak penuturan sahabat lelaki itu. Dia berkata, “Demi Allah…sekarang ini aku berharap bisa berbuat seperti yang dia perbuat kepada istrinya…Kepribadiannya begitu sopan, lembut, dan kewaraannya luar biasa. Bertolak belakang dengan sikap sebelumnya….Kini ia terpilih sebagai petugas muadzin di salah satu masjid jami’ di kota kami tinggal. Sungguh jiwanya telah melekat dengan masjid, padahal dahulunya sangat jauh. Maha Suci Allah yang membolak-balikkan hati.” [1]

Contoh-contoh lain bisa kita temui di sekitar kita, atau kita baca pada buku-buku kisah nyata.

Terasa sempitnya hidup ini, atau berbagai gambaran negatif yang sering terbentuk saat melihat kejadian-kejadian di hadapan kita, kerap menyeret kita ke arah ketidakbahagiaan. Salah satu penyebab hal itu adalah keengganan kita mendoakan orang lain. Cobalah Anda berdoa agar Allah ta’ala melapangkan hati pasangan, insya Allah, kelapangan hati pun akan Anda dapatkan.

Ini sejalan dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ’aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Riwayat Muslim)

Jadi…, mari berdoa untuk pasangan kita tercinta!







ALLAH PEMBERI REJEKI

Banyak orang tua mendambakan anaknya menjadi orang yang berhasil di dunia ini. Meraih jabatan tinggi, memiliki pekerjaan bergaji besar dan lain sebagainya. Keinginan orang tua tersebut tentu saja tidak hanya sebatas keinginan.

Bahkan, dia pasti akan berusaha mengarahkan dan membimbing anak agar dambaan itu bisa terwujud. Sedikit banyak usaha yang dilakukan orang tua itu pasti akan memengaruhi wawasan dan keilmuan si anak. Orang tua yang senantiasa berpandangan materialis bisa menyebabkan anak terpengaruh pandangan tersebut.

Sebagai orang tua muslim yang beriman, tidaklah pantas untuk memiliki pandangan materialis, sehingga menuntut dari anaknya kelak untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Karena hal semacam itu seringnya akan melalaikan dari perkara yang lebih penting dari sekadar mengumpulkan harta dunia. Akan melalaikan dari akhirat, melalaikan dari peribadahan dan penghambaan diri kepada Allah -ta’ala-.

Orang tua muslim hendaknya memiliki pemahaman yang benar akan rezeki Allah -ta’ala-. Sehingga kemudian pemahaman itu bisa dia tularkan kepada anaknya. Memang semua orang pasti meyakini bahwa Allah adalah pemberi rezeki. Sampai pun orang-orang musryik di zaman Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– ketika mereka ditanya siapa yang memberi rezeki kepada mereka, mereka menjawab, Allah. Akan tetapi, cukupkah pengetahuan sebatas itu?

Yang perlu diketahui dan diajarkan
Berikut ini beberapa hal berkaitan dengan rezeki Allah, yang harus kita ketahui, yakini, dan kita ajarkan kepada anak-anak kita.

1- Semua rezeki datangnya dari Allah, karena semua yang ada di dunia hanyalah milik Allah. Inilah yang telah diyakini oleh fitrah setiap manusia, termasuk orang-orang musyrik.

2- Allah telah menjamin rezeki bagi seluruh makhluk-Nya, termasuk manusia. Dalam al-Quran Allah berfirman,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Hud: 6)

Dalam hadits, Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فيِ رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فيِ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan ajalnya dan mengambil seluruh rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan baik. Dan jangan sampai anggapanmu akan lambatnya rezeki mendorongmu untuk mencarinya dengan maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya apa yang di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati-Nya.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Lihat Shahihul Jami’ no. 2085)

3- Rezeki harus tetap dicari. Karena meskipun Allah telah menjamin bagi setiap kita, namun tawakal tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan sebab-sebabnya. Bahkan mengharap rezeki Allah tanpa disertai usaha, hanyalah angan-angan semata, bagaikan seorang petani yang mengharap hasil panenan tanpa mau menanam.

4- Dalam mencari rezeki, tidak boleh melalui jalan yang haram, sebagaimana telah ditegaskan dalam hadits di atas. Karena bagaimanapun juga, rezeki itu adalah milik Allah, dan Dia berhak melarang kita dari jalan-jalan yang haram.

5- Karena rezeki (duniawi) telah dijamin, jangan sampai ia menjadi fokus utama dalam kehidupan. Bahkan, jadikan fokus utama adalah menggapai rezeki akhirat. Itulah yang lebih baik, lebih utama dan lebih kekal.

Abu dan Ummu yang dirahmati Allah. Jika kita ajarkan beberapa poin di atas, insya Allah ketika kelak anak kita sudah bisa mencari rezeki, dia tidak akan mendahulukan dunia atas akhirat. Bahkan diharapkan dia akan menjadikan rezeki yang diperoleh sebagai jalan untuk menggapai rezeki akhirat. Yaitu dengan mensyukurinya sebenar-benar rasa syukur.









HUKUM MINTA DIDOAKAN ORANG LAIN

“Ya Akhi…tolong doakan saya ya…doain saya moga sukses…” kata seorang ikhwan yang ingin mengikuti ujian kepada temannya. Ada pula seseorang yang mengatakan kepada temannya, “Wahai saudaraku … doain ya … moga kampung kita senantiasa diberkahi oleh Allah”.

Penggalan cerita di atas adalah fenomena yang sekarang ini banyak kita dapatkan di sekeliling kita. Seringkali seseorang meminta dari temannya untuk mendoakan kemaslahatan bagi dirinya atau bagi semua orang secara umum. Hal ini sebenarnya sebuah kewajaran, karena seseorang itu memiliki banyak kebutuhan, baik kebutuhan jasmani yang harus dia penuhi untuk melangsungkan hidupnya atau menyempurnakan hidupnya di dunia ini, atau kebutuhan yang bersifat rohani seperti ibadah yang di antaranya adalah berdoa kepada Allah.

Namun, terkadang seseorang berlebihan dalam meminta doa dari orang lain, sehingga dia merendahkan dirinya sendiri, menganggap dirinya banyak berlumuran dosa sehingga tidak berani berdoa secara langsung kepada Allah, sehingga mendorong mereka untuk meminta temanya atau gurunya agar mendoakan kemaslahatan bagi dirinya yang menyebabkan dirinya bergantung kepada selain Allah, hingga hampir-hampir dia tidak pernah mendoakan dirinya sendiri atau malah menjadikan orang yang dimintai doa sombong dan takabur karena telah dipercaya oleh orang banyak untuk memberikan doa.

Oleh karenanya, sudah seyogianya kita melihat fenomena ini dari kacamata hukum islam. Bagaimana islam memandang meminta doa dari orang lain. Apakah meminta doa dari orang lain itu disyariatkan? Apakah islam membolehkannya atau tidak?

Syekh Shalih Ali Syekh menyatakan, “Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini (meminta doa dari orang lain) bahwa amalan ini tidak disyariatkan, artinya tidak diwajibkan, tidak pula disunnahkan”. (As’ilah wal Fawaid, Maktabah Syamilah)

Lalu, apakah boleh meminta doa dari orang lain?

Beliau –Syekh Shalih Ali Syekh- menyatakan, “Hukum asal meminta doa dari orang lain adalah makruh, sebagaimana riwayat dari para sahabat dan tabi’in yang membenci perbuatan ini, bahkan melarang orang yang meminta doa dari mereka.

Mungkin timbul pertanyaan, “Mengapa dimakruhkan? Bukankah banyak sekali riwayat yang menunjukkan bolehnya meminta doa dari orang lain, bahkan Nabi sendiri pun meminta doa dari orang lain?”

Memang benar ada beberapa hadits shahih, yang dhohirnya menunjukkan bolehnya meminta doa dari orang lain, sebagai contoh adalah hadits-hadits di bawah ini:

a. Umar meminta izin kepada Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — untuk menunaikan umrah, maka Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — berkata, “Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doa-doamu dan jangan lupakan kami.” (Riwayat Ahmad dan Tirmizi). Dalam hadits ini, secara jelas menunjukkan bolehnya meminta doa dari orang lain, bahkan sekalipun dari orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah kedudukannya, sebagaimana nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — yang kedudukannya lebih tinggi meminta doa dari umar yang lebih rendah kedudukannya.

b. Dalam hadits Ukasyah bin Muhshan, bahwa Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda, “Ada sekelompok dari umatku sejumlah tujuh puluh ribu yang akan masuk surga dalam keadaan wajah-wajah mereka bersinar terang seperti terangnya sinar bulan purnama”, kemudian Ukasyah berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakan saya agar termasuk dari mereka.” Kemudian Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — berdoa, “Ya Allah, jadikanlah Ukasyah dari mereka”. (Riwayat Muttafaqun ‘alaih)

c. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Shafyan bin Abdullah, beliau berkata, “Saat aku datang ke Syam, maka aku mendatangi Abu Darda’ di rumahnya, namun aku tidak mendapatinya, aku hanya mendapati istrinya, lalu istrinya berkata, “Apakah kamu ingin menunaikan haji tahun ini?”, aku menjawab, “Ya, benar”, kemudian istrinya berkata lagi, “Doakanlah kebaikan bagi kami, karena sesungguhnya Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda, “Doanya seorang mukmin tanpa diketahui oleh orang yang didoakan adalah pasti terkabulkan, di samping kepalanya ada seorang malaikat yang diberi tugas untuk mengawasinya, jika dia berdoa kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat akan mengaminkannya dan berkata, “Semoga Allah memberikan semisalnya kepadamu”.

Tiga hadits di atas, jika dilihat dari zhahirnya, memang menunjukkan bolehnya meminta doa dari orang lain. Terus, mengapa dikatakan makruh????
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan tiga sebab mengapa meminta doa dari orang lain dimakruhkan, yaitu:

a. Dalam permintaan seseorang kepada saudaranya agar mendoakan dirinya, terdapat bentuk meminta-minta kepada manusia. Sedangkan ketika Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — dibaiat oleh para sahabatnya, beliau — shollallohu ‘alaihi wa sallam — mengatakan kepada mereka, “Janganlah kalian meminta pada orang lain sedikit pun juga (syai’an)” Syai’an (sedikit pun) di sini adalah kata dalam bentuk nakirah. Dalam kalimat tadi, kata nakirah tersebut terletak dalam konteks nafi (peniadaan). Sehingga yang dimaksud sedikit pun di situ adalah umum (mencakup segala sesuatu), -termasuk meminta doa kepada orang lain,pen-.”

b. Orang yang meminta doa dari orang lain, terkadang lahir dalam dirinya sikap memandang rendah dirinya sendiri dan berburuk sangka kepada dirinya hingga dia meminta doa kepada orang lain, padahal Allah berfirman, “Berdoalah kepada Rabb-mu, dengan merendah diri dan suara lembut (al-A’raf: 55).” Kemudian, sebagian orang jika meminta kepada saudaranya yang terlihat shalih untuk mendoakan dirinya, maka orang ini terkadang menyandarkan diri pada doa orang shalih tadi. Bahkan, sampai-sampai dia tidak pernah mendoakan dirinya sendiri (karena keseringan meminta pada orang lain).

c. Boleh jadi orang yang dimintakan doa tadi menjadi terperdaya dengan dirinya sendiri. Orang shalih ini bisa menganggap bahwa dirinya-lah yang pantas untuk memintakan doa. (Inilah bahaya yang ditimbulkan dari meminta doa pada orang lain).

Selain tiga alasan tersebut, jika kita lihat keadaan para sahabat dan tabi’in, maka kita dapatkan mereka membenci bahkan melarang orang yang meminta kepadanya untuk didoakan. Diriwayatkan dari Hudzaifah dan Mu’adz, mereka berkata kepada orang yang meminta doa darinya sebagai wujud pengingkaran, “Apakah kami itu nabi?”

Demikian pula Imam Anas bin Malik, beliau saat dimintai doa, maka beliau melarangnya untuk meminta doa darinya, beliau khawatir jika orang-orang memandang beliau memiliki kedudukan lebih, beliau khawatir orang-orang yang bergantung kepadanya.

Kapan meminta doa diperbolehkan?

Syekh Islam Ibnu Taimiyah — rohimahulloh — telah menjelaskan dengan gamblang dalam buku beliau “Qaidah Jalilah fit-Tawassul wal Wasilah”. Beliau menyatakan, “Apabila seseorang berkata kepada saudaranya, “Doakanlah saya atau kami”, kemudian dia mengharapkan agar saudaranya juga mendapatkan kebaikan dengan berbuat baik padamu atau dia ingin agar saudaranya juga mendapatkan manfaat karena telah mendoakanmu dalam keadaan dirimu tidak mengetahuinya, maka dia telah meneladani Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — dalam meminta doa dari orang lain. Namun, apabila dia hanya menginginkan semata-mata kemanfaatan pada dirinya sendiri saja, maka dia tidak meneladani nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — dalam meminta doa dari orang lain”.

Dari penjelasan Syekh Ibnu Taimiyah, bisa kita tarik kesimpulan, bahwa meminta doa dari orang lain itu boleh, ketika seseorang meminta doa orang lain itu berniat agar saudaranya juga mendapatkan manfaat, yaitu manfaat karena diaminkan oleh malaikat dan mendapatkan kebaikan yang semisal atau manfaat yang ditimbulkan oleh umumnya lafadz doa, seperti permintaan seseorang dari orang lain untuk mendoakan kampung mereka diberkahi oleh Allah.

Adapun tiga hadits yang terdahulu, maka diartikan bahwa mereka meminta doa dari orang lain, bukan semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri, akan tetapi, mereka mengharapkan orang lain yang dia minta doa darinya mendapatkan manfaat juga.

Adapun mengenai kisah Umar bin Khathab — rodhiyallohu ‘anhu — yang meminta pada Uwais Al Qarni untuk mendoakan dirinya, maka ini adalah perintah Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Dan ini adalah khusus untuk Uwais saja, bukan yang lainnya. Oleh karena itu, tidak pernah diketahui bahwa sahabat lain meminta pada Umar untuk mendoakan dirinya atau meminta pada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, berdoalah pada Allah untuk kami.” Padahal Abu Bakar lebih utama daripada Umar dan lebih utama daripada Uwais, bahkan lebih utama dari sahabat lainnya.

Jadi permintaan Umar pada Uwais ini hanyalah khusus untuk Uwais. Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — telah memotivasi para sahabat, siapa saja yang bertemu Uwais, maka katakanlah padanya, “Wahai Uwais, berdoalah pada Allah untukku.” Kisah Uwais ini hanyalah khusus untuk Uwais saja, tidak boleh dipukul rata pada yang lainnya. Wallahu a’lam.






SEHAT BUGAR DG SHOLAT

Penelitian membuktikan gerakan shalat sesuai contoh Rasulullah saw dan tumaninah bermanfaat bagi kesehatan. Bahkan, kita memperoleh manfaat serupa meski sekadar melafalkan kata ‘Allahu Akbar’. Subhanallah!

Menurut penulis buku Shalatku Sehatku, dr Surahman Sjah Samsudin, gerakan shalat yang benar berdampak pada kekhusyukan dan membuat tubuh sehat plus bugar. “Sehat ketika tubuh dalam keadaan diam dan bugar saat tubuh dalam keadaan aktif,” kata anggota seksi kerohanian Islam Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Bogor ini.

Nah, syarat bugar dilihat dari gerakannya. Di antaranya meningkatkan kekuatan jantung, paru-paru, daya tahan otot, serta kelenturan otot dan persendian. Percaya atau tidak, semua gerakan shalat itu mampu meningkatkan faktor-faktor tadi. Berikut penjelasan dokter Surahman:

Tegak

Berdiri tegak dengan kaki sejajar bahu dengan kepala lurus agak menunduk menandakan posisi tubuh stabil dan rileks. Sikap tubuh ini bermanfaat memelihara sumsum tulang belakang dan mempermudah pergerakan shalat. Sebab, tekanan ruas atas dan bawah seimbang.

Takbir

Tarikan tangan ke belakang membuat otot bagian bahu dan punggung bagian atas meregang menarik paru-paru. Sehingga, oksigen masuk ke dalam tubuh. Gerakan berulang dan berkelanjutan itu dapat meningkatkan daya tahan, kekuatan, kelenturan otot dan persendian.

Saat menarik tangan ke belakang, tahan sesaat. Lalu mengucap Allahuakbar. Ucapkan ‘Al..’ sambil menekan lidah lalu geser ke atas mengucap “..Lahuakbar”. Pelafalan ini berpengaruh bagi kesehatan jiwa.

Meletakkan kedua tangan di dada

Kedua tangan lurus di atas dada membentuk sudut 60 derajat, membuat paru-paru dan otot kembali rileks.

Rukuk

Saat posisi tubuh ditekuk 90 derajat terjadi peregangan otot di daerah punggung dan penegak batang badan. Sehingga, keduanya menjadi lentur. Posisi ini terbukti ampuh mencegah nyeri punggung bagian bawah dan hernia.

Tekukan lurus pada kaki menguatkan persendian dan kestabilan lutut serta mencegah cedera ligamen. Sementara, tulang punggung yang diregangkan sampai lurus dapat mencegah kebungkukan.

I’tidal

Bangun dari rukuk dan mengangkat kedua tangan dapat memperkuat jantung. Sebab, ketika rukuk, semua otot menegang lalu mendorong aliran pembuluh darah naik ke jantung. Pada saat bersamaan, terjadi penekanan otot perut sehingga tubuh banyak mengeluarkan CO2.

Saat i’tidal, rongga dada terbuka dan menghirup oksigen. Sementara darah yang sudah menumpuk di atas saat rukuk, masuk ke dalam jantung. Gerakan ini mempercepat pengembalian darah ke jantung. Akibatnya jantung memompa cepat, paru-paru makin kuat, otot jadi lentur.

Sujud

Telapak tangan lebih dulu menyentuh tanah mencegah kerusakan tulang rawan dan sendi lutut. Saat kening sebagai titik tumpu menyentuh tanah, tulang punggung lurus mencegah tubuh dari kebungkukan dan mencegah terjadinya gangguan wasir.

Saat sujud, aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Selain itu, darah turun ke kepala sehingga banyak oksigen mengalir ke otak. Alhasil, sujud secara berkelanjutan berdampak memacu kecerdasan.

Nah, jika posisi ini bertahan lebih dari satu menit, tubuh mengeluarkan zat nitrik oksida. Zat ini dapat melebarkan pembuluh darah dan melawan peningkatan kadar zat adrenalin yang berefek menyempitkan pembuluh darah. Gerakan yang berulang menambah elastisitas pembuluh darah otak. Alhasil, ketika terjadi penekanan dalam otak, pembuluh darah tidak mudah pecah dan kita terhindar dari stroke.

Duduk di antara dua sujud

Posisi paha menempel pada betis ini merangsang pengeluaran zat keringat dan mencegah osteoporosis.

Tasyahud Akhir

Menekuk jari-jari kaki sebelah kanan dan telapak kaki tegak menguatkan otot telapak dan kelengkukan kaki. Saat tasyahud awal dan akhir terjadi penekukan maksimal. Posisi ini sebenarnya mengakibatkan aliran darah terhenti dan pembusukan jaringan kaki. Namun, karena gerakannya bertahap, tubuh jadi terlatih membentuk sistem kolateral. Sehingga, pembuluh darah menjadi lebih elastis. Bahkan, dapat mencegah terjadinya sumbatan pada arteri, vena dan komplikasi penyakit diabetes akibat gangguan pembuluh darah.

Salam

Mengucap salam lalu menolehkan kepala membuat otot leher rileks dan mengurangi sakit kepala. Jalur padat cairan getah bening ada di leher bagian kiri. Itu sebabnya, kita lebih dulu menoleh kepala ke kanan. Tujuannya, memijat leher bagian kiri dan membuat otot meregang. Getah bening yang berfungsi menyaring dan memakan kuman penyakit dalam darah pun mengalir lancar.

Ternyata, tak perlu repot untuk mendapatkan tubuh yang bugar dan sehat. Shalat dengan gerakan yang benar adalah jawabannya. Ratna Kartika

BOX

Tahukah Anda?

- Shalat mencegah kepikunan karena gerakannya meningkatkan brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Yakni, sejenis protein yang berfungsi menguatkan neuron. Otak yang mengandung banyak BDNF mampu menampung lebih banyak informasi.

- Lakukan dengan tenang untuk mendapatkan hasil optimal. Jika tergesa-gesa akan memperberat kerja jantung dan paru-paru.

- Peregangan otot perut saat sujud dan rukuk memperlancar sistem pencernaan. Sebab, organ pencernaan dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian.

- Gerakannya digunakan dokter sebagai bagian dari fisioterapi.










MENJADI AGEN PERUBAHAN

Mengawal visi perubahan yang ideal sebagaimana yang diarahkan Allah dalam Al-Qur’an, dibutuhkan agen perubahan yang andal. Lalu, seperti apa agen perubahan yang mampu mengawal visi besar tersebut?

Agenda Besar Perubahan

Kondisi apa yang hendak diwujudkan dengan perubahan yang digulirkan oleh para da’i – agen perubahan? Kondisi yang hendak diwujudkan adalah apa yang menjadi misi semua nabi sepanjang zaman, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak ayat Qur’an, antara lain, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS An-Nahl [16]: 36).

Jadi sebetulnya, agenda besar para nabi hanya satu, yakni menggiring, mengarahkan dan mengajak manusia agar mengabdi kepada Allah swt serta menolak mengabdi kepada sesuatu apa pun selain Allah. Dan itu pulalah yang harus menjadi agenda besar para da’i sebagai agen perubahan. Itu dalam konteks hubungan manusia dengan Allah: pengabdian total dan utuh kepada Allah.

Dalam konteks hubungan umat beriman dengan komunitas lain, kondisi ideal yang ingin dicapai oleh para agen perubahan adalah seperti dijanjikan Allah swt dalam ayat-Nya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (QS An-Nur [24]: 55).

Apa yang Allah gambarkan dalam ayat di atas itu menjadi visi dakwah kita. Jika kita jabarkan lebih jauh, kondisi ideal yang akan dicapai oleh para agen perubahan adalah:

Pertama, layastakhlifannahum fil-ardhi (Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi).

Kaum Muslimin bukan saja menjadi orang yang merdeka dari penjajahan bangsa manapun. Tapi lebih dari itu, mereka menjadi pemimpin atas manusia dan pengendali peradaban umat manusia. Dan hal itu bukan utopia karena memang telah terbukti dalam sejarah selama lebih kurang tujuh abad. Fakta sejarah itu mengatakan kepada kita bahwa kaum Muslimin, dengan berpegang teguh pada ajaran-ajaran Allah swt adalah pihak yang layak dan punya kekuatan untuk membuat hidup manusia lebih hidup dan menjadikan manusia hidup lebih manusiawi.

Kedua, walayumakkinanna lahum diinahumul-ladzi-rtadha lahum (dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka).

Teguhnya agama adalah manakala Islam menjadi rujukan dalam kehidupan manusia.

Ketiga, walayubaddilannahum min ba’di khoufihim amna (dan Dia benar-benar akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa).

Sejarah pula yang membuktikan bahwa rasa aman ini bukan hanya dirasakan oleh kaum Muslimin, tapi juga oleh semua orang yang bernaung dalam kekuasaan Islam. Tidak ada yang dapat menolak fakta sejarah bahwa bukan saja toleransi yang diberikan melainkan pemerintahan Islam di zaman Khalifah Umar Bin Khattab terhadap kalangan minoritas baik Nasrani maupun Yahudi, bahkan memberi mereka perlindungan.

Keempat, ya’buduunanii laa yusyrikuuna bii syaian (Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku).

Pencapaian seperti di atas pastilah memerlukan agen perubahan yang andal. Maka agen perubahan sejatinya adalah:

Pertama, menjadi agen hidayah Allah

Mustahil seseorang dapat menjadi agen perubahan jika dia tidak menjadi agen hidayah Allah swt. Rasulullah saw diutus oleh Allah dengan tugas utama menjadi agen hidayah Allah swt. Seperti tercantum dalam ayat berikut, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS Asy-Syura [42]: 52).

Tentu saja yang dimaksud dengan agen hidayah di sini adalah dalam batas penyampaian (tabligh). Karena kewenangan memasukkan hidayah dalam hati setiap orang adalah di tangan Allah swt semata. Dalam hal itu Rasulullah saw sekalipun tidak punya kekuasaan. Allah swt menegaskan, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS Al-Qashash [28]: 56).

Manusia membutuhkan bimbingan wahyu. Tanpa wahyu, manusia tidak mampu menciptakan rumus kebenaran hakiki. Nabi Ibrahim pun menyadari betapa tanpa hidayah dari Allah, dirinya akan tetap berada dalam kesesatan, sebagaimana yang digambarkan dalam ayat, “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: ’Inilah Tuhanku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat’.” (QS Al-An’am [6]: 77)

Seorang agen perubahan hendaknya berkaca pada Rasulullah saw (lihat: Sang Penebar Hidayah). Kehadirannya harus selalu membuat orang lain menjadi semakin dekat dengan nilai-nilai ilahiyyah, semakin mencintainya, dan semakin kuat dalam berkomitmen kepadanya. Bukan sebaliknya, membuat orang-orang menjadi jauh dari ajaran Islam bahkan membencinya gara-gara perilaku yang mengatasnamakan Islam padahal kenyataannya sama sekali jauh dari ruh Islam.

Dan tidaklah mungkin seseorang menebar hidayah Allah jika dirinya hampa dari hidayah Allah tersebut. Keberhasilan Rasulullah saw menjadi penyampai hidayah Allah tidak lain karena hidayah Allah merasuk ke dalam kalbu beliau saw. “Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” (QS Asy-Syu’ara [26]: 194).

(Bersambung)

BOX

Sang Penebar Hidayah

Dengan hidayah Allah, Rasulullah saw telah berhasil melakukan perubahan bukan hanya pada wajah Arab tapi wajah dunia. Dalam bahasa Michael Hart, Rasulullah saw adalah manusia paling besar pengaruhnya dalam kehidupan dunia. Selain dari sisi cakupan geografis, pengaruh Nabi Muhammad, dengan hidayahnya, benar-benar mengubah wajah peradaban umat manusia.

Kecintaan Rasulullah saw untuk selalu menebar hidayah dilukiskannya sendiri dalam sabdanya, Perumpamaan aku (dalam menyelamatkan umat manusia) adalah bagaikan saat seseorang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekelilingnya, mulailah kupu-kupu dan binatang-binatang mengerumuni api dan terjatuh ke dalamnya. Orang itu mengusir binatang-binatang itu (agar menjauh dari api) akan tetapi binatang-binatang itu mengalahkannya dan menerobos masuk ke dalam api. Itulah perumpamaanku dengan kalian. Aku memegang pinggang kalian supaya tidak masuk ke dalam api. Menjauhlah kalian dari api. Menjauhlah kalian dari api. Tapi kalian menerobos dan masuklah ke dalamnya” (HR Muslim).

Begitulah Rasulullah saw dalam menjalankan peran sebagai agen hidayah Allah swt. Bukan hanya dengan kata-kata beliau menyebarkan hidayah Allah melainkan dengan akhlak mulia dan keteladanan yang baik. Betapa banyak orang yang mendapat hidayah Allah disebabkan perilaku Rasulullah saw yang amat terpuji.











JANGAN BIARKAN ANAK BINGGUNG DG MASA DEPANNYA

Tak tahu ingin jadi apa, atau bagaimana mencapainya, adalah satu gambaran tentang betapa minimnya pemahaman anak tentang masa depan. Tanpa pengetahuan yang memadai, bagaimana kelak mereka menjalani masa depannya?

Semasa anak menjalani pendidikan di sekolah dasar, orangtualah yang banyak berperan memilihkan sesuatu untuknya. Namun selepas SD, anak-anak mulai dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan studinya. Walau kemudian, lagi-lagi orangtua masih berperan besar dalam keputusan yang diambil.

Ketika SMA, pilihan-pilihan itu semakin banyak. Mulai dari memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan yang akan diambil, lulus sekolah mau kuliah atau bekerja. Kalau kuliah jadi pilihan, mereka pun harus menentukan mengambil D3 atau S1, di universitas mana, program studinya apa, dan sederet pilihan lainnya. Anak, dalam hal ini remaja, semestinya sudah bisa memutuskan pilihannya sendiri. Karena semua pilihan yang ia ambil sebenarnya adalah pilihan tentang masa depannya.

Pendidikan yang Tidak Fokus

“Memang, yang sering terjadi di Indonesia, khususnya, pendidikan tidak banyak membicarakan tentang masa depan. Sehingga saat anak-anak lulus SMA, mereka kaget dan tidak tahu mau ngapain,” kata psikolog Eri Vidiyanto, M. Psi, konsultan di Essa Consulting, Jakarta, tentang kebingungan anak-anak soal masa depannya.

Sebagai gambaran, Eri mengaku banyak menemukan kasus anak-anak yang sudah berpayah-payah mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan diterima di jurusan yang ia tuju, tapi akhirnya mundur karena merasa tak cocok. Sebagian yang lain, malah ngotot ikut SPMB berulang-ulang untuk masuk ke fakultas yang diinginkannya, seperti fakultas kedokteran, tapi tak juga lulus. “Padahal, menurut saya, kapasitasnya bukan di situ. Kenapa memaksa di situ?” ujar Eri. Sikap remaja yang seperti ini jelas menunjukkan kebingungan mereka pada masa depan, imbuhnya.

Eri, yang mendapat gelar master di bidang psikologi pendidikan Universitas Indonesia, juga menyesalkan sistem pendidikan negeri ini yang mewajibkan siswanya mengambil mata pelajaran yang sudah ditentukan. Padahal belum tentu semua itu bermanfaat nyata bagi kehidupan mereka. “Sudah mengeluarkan usaha yang besar, tapi enggak tahu manfaatnya apa,” terangnya.

Berbeda dengan pendidikan di beberapa negara lain yang memungkinkan siswanya hanya mengambil mata pelajaran sesuai minatnya, semacam sistem perkuliahan. Secara tidak langsung ini akan menunjukkan minat mereka. “Anak tidak lagi dituntut menguasai semua hal, tapi profesional di bidang tertentu,” jelas ayah satu anak ini.

Bimbingan Orangtua

Ketidakmampuan anak memfokuskan diri pada masa depan yang akan mereka jalani, tak terlepas dari peran orangtua. Belum banyak orangtua yang bisa mengarahkan dan membimbing anaknya untuk fokus pada masa depan. Sebagian orangtua kelihatannya memang peduli tapi mereka hanya menginginkan masa depannya anak sesuai dengan rencananya, tanpa melibatkan anak.

Mereka ingin anaknya jadi seperti yang mereka inginkan, misalnya dokter, bankir, dan sebagainya. Keinginan anak tak mereka hiraukan. Sementara di sisi lain, ada orangtua yang permisif, terserah anak, apa saja boleh. Tipe orangtua seperti ini tidak memberi arahan sama sekali. Akibatnya, anak kebingungan sendiri.

Peran orangtua yang ideal, kata Eri, adalah yang mengarahkan, tapi tidak memaksakan kehendak. Orangtua semestinya mengenali potensi anak, kemudian membantu dan memberikan alternatif yang bisa anak lakukan. “Berikan beberapa alternatif, tapi biarkan anak yang memutuskan karena urusan masa depan adalah urusan pribadi anak,” katanya. Jadi, anak tetap dilibatkan dalam urusan masa depannya.

Ketika sudah beranjak remaja, namun ia tak juga punya cita-cita atau pilihan karier di masa depan, sebenarnya ini adalah warning bagi orangtua untuk secepatnya memberi arahan masa depan bagi anak-anaknya. Remaja tak punya cita-cita atau target hidup, tegas Eri, tidaklah wajar.

Merancang dan Mendiskusikan Masa Depan

Sejak dini sebenarnya orangtua dapat mengarahkan anak tentang masa depannya. Pengenalan kepada berbagai pekerjaan yang bisa dijalaninya di masa depan bisa dimulai sejak usia TK atau SD. Namun pemantapan atau pematangan baru bisa dilakukan saat anak duduk di sekolah menengah pertama dan atas.

Pada usia SMP dan SMA inilah orangtua harus mulai membicarakan masa depan secara lebih serius. Tentunya dengan gaya yang bisa diterima anak. Sebab, anak-anak usia belasan tak bisa diatur dan diajak bicara dengan gaya directive yang mengatur ini-itu. “Pendekatannya harus perlahan dan kesadaran harus timbul dari dalam diri mereka,” ujar lelaki yang hobi membaca dan diskusi ini.

Dengan bijak, orangtua bisa memberi gambaran tentang bagaimana masa depan itu dan seperti apa tuntutannya. Untuk mendukung ini selayaknya orangtua juga sudah mampu mengenali potensi anak. “Dengan potensi yang dimilikinya, kira-kira apa yang bisa dilakukan anak untuk menjawab tantangan masa depannya,” ujar Eri.

Bagi anak sendiri, gambaran masa depan yang pastinya semakin kompetitif bisa jadi akan menimbulkan kecemasan. Tak mengapa rasa ini muncul, namun perlu tindakan lanjut untuk mengatasinya. “Rasa cemas ini akan mendorong anak untuk membuat target dalam mencapai kesuksesan, ‘Saya harus cari kuliah yang bikin saya sukses sesuai potensi saya.’ Pada saat inilah mereka perlu bimbingan orangtua atau tenaga ahli,” jelasnya.

Orangtua kemudian semestinya membimbing anak membuat perencanaan. Berikan saran-saran berdasarkan pengalamannya yang memang relatif lebih banyak dari anak. Paparkan juga potensi anak yang bisa menjadi acuan dalam merancang masa depannya. Misal, “Ibu lihat kamu selalu menjadi tempat curhat teman-temanmu dan kelihatannya kamu senang. Mungkin kamu bisa pikirkan untuk kuliah di fakultas psikologi.”

Orangtua bisa pula mengajak anak menilai kembali kemampuannya bila ternyata ia memilih suatu bidang di luar kemampuannya. Contohnya, anak ingin masuk fakultas kedokteran tapi kemampuannya kurang memadai. Coba tawari ia untuk masuk bidang lain yang terkait dengan kesehatan juga, seperti pendidikan keperawatan.

Soal kemampuan orangtua, terutama finansial, juga perlu dibicarakan. “Ada anak yang saking excited-nya, bikin target tinggi dan kurang melihat kemampuan, bukan hanya potensi diri tapi juga materi,” kata Eri.

Orangtua memang akan melakukan apa pun untuk masa depan anak, namun tentu kemampuannya terbatas. Nah, berikan gambaran itu padanya. Mungkin bisa diusahakan untuk mencari beasiswa atau melanjutkan pendidikan sejenis tapi dengan biaya yang lebih terjangkau, misalnya mengambil program D3 dulu.

Saat anak merasa mantap dengan keputusannya, disertai pertimbangan yang matang terkait dengan potensinya dan pertimbangan lainnya, juga sudah melibatkan orangtua, maka keputusan ini dapat dianggap sebagai keputusan terbaik. Kini orangtua mesti mengawasi konsistensi anak dalam menjalankan semua rencananya. “Kalau anak keluar jalur, tanyakan lagi, ‘Kamu kan dulu yang memilih ini, kenapa jadi ke sana?’ Jadi ada proses tanggung jawab dari si anak,” terang Eri.

Kerja sama dan keterbukaan antara anak dan orangtua adalah kunci keberhasilan dalam merancang masa depan. Jangan biarkan remaja bingung sendirian. Eri menuturkan, anak-anak yang didukung orangtua biasanya lebih cepat mencapai keberhasilan dibanding mereka yang menemukan jalannya sendiri. Maka bantu dan dukunglah anak-anak kita merancang masa depan mereka.

Asmawati

Wawancara: Ratna Kartika

====Box====

Ajak si Kecil Kenali Hari Esok

Membicarakan masa depan, bisa dimulai sejak usia taman kanak-kanak. Karena di masa itu mereka sudah mengenali lingkungan di luar dirinya dan keluarga. Namun, pengenalan masa depan bagi anak usia TK dan SD tetap harus memerhatikan tahapan perkembangannya.

· Anak usia TK pola pikirnya didasarkan pada hal-hal yang konkret. Jadi, pada tahapan ini kenalkan saja mereka beragam profesi yang mungkin bisa mereka pilih di masa depan. Ajak mereka bertemu langsung dengan orang-orang yang berprofesi tertentu atau bermain peran sesuai profesi tertentu.

· Anak usia SD yang sudah mampu berpikir abstrak dan mengembangkan imajinasi biasanya memilih profesi “hebat” dalam pandangan mereka, seperti ingin menjadi astronot karena bisa pergi ke bulan, atau jadi polisi karena bisa naik motor besar. Memang belum ada pertimbangan logis saat mereka memilih satu profesi sebagai cita-cita.

· Wajar bila cita-cita mereka terus berubah dari waktu ke waktu karena semakin banyak yang mereka lihat atau pengaruh teman-temannya. Tetap hargai cita-cita yang selalu berubah itu.

· Jadikan apa pun cita-cita mereka sebagai motivator mereka untuk belajar dan berbuat lebih baik. Orangtua bisa bilang, misalnya, “Kalau mau jadi dokter, Ade harus rajin belajar.”









BERPALING DARI ALLAH DIJAMIN JAUH DARI KEBAHAGIAAN YANG ALAMI


"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan,'" (QS Thaahaa [20]: 124 – 126).

Setiap manusia pasti ingin bahagia dan sukses. Sementara pemilik kebahagiaan dan kesuksesan adalah Allah swt. Maka, dapatkah seseorang merengkuh kebahagiaan sejati dengan menjauh dan berpaling dari Allah rabbu'l 'alamin?

Ayat di atas menjelaskan betapa menderitanya kehidupan manusia yang jauh dari dzikrullah (mengingat Allah) dan berpaling dari ajaran-Nya.

Makna Berpaling dari Dzikrullah (Mengingat Allah)

Allah, dalam ayat di atas, mengancam orang-orang yang berpaling dari mengingat-Nya dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Berpaling dari dzikrullah memiliki banyak makna. Menurut Imam Ibnu Katsir, maksud ayat tersebut adalah menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Aku turunkan kepada Rasul (utusan)-Ku. Yaitu berpaling darinya, berpura-pura lupa kepadanya dan mengambil selain petunjuk-Nya (Tafsir Ibnu Katsir III/385).

Sementara Sayyid Quthb memaknai 'berpaling dari dzikrullah' dengan memutus hubungan dengan Allah dan rahmat-Nya yang luas (Fii Zhilaal Al Qur'an IV/2355).

Sedangkan Prof Dr Wahbah Az Zuhaili menafsirkannya, berpaling dari agama Allah, berpaling dari membaca kitab Allah dan berpaling dari mengamalkan isi dan kandungan kitab-Nya (At Tafsir Al Munir XVI/298).

Semua makna tersebut tercakup maksud 'berpaling dari dzikrullah'. Termasuk juga, berpaling dan menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya yang terkandung dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Meragukan validitas ajaran Allah dan Rasul-Nya, tidak mengimani universalitas dan integralitas agama Islam dan keberadaannya yang relevan untuk semua zaman dan makaan (tempat), atau mengimani sebagian isi Al-Qur'an dan mengkufuri sebagian yang lain, menentang, melawan dan memerangi orang-orang yang berjuang dan berdakwah untuk tegaknya ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan lain-lain.

Semua perbuatan, perilaku dan sikap tersebut dapat masuk dalam kategori 'berpaling dari dzikrullah' dan semua itu membawa pelakunya pada kehidupan yang sempit, nestapa dan sengsara di dunia dan akhirat.

Ancaman bagi Orang yang Berpaling dari Allah

Ada dua ancaman yang ditimpakan kepada manusia yang berpaling dari Allah, sebagaimana diterangkan dalam ayat di atas.

Pertama, penghidupan yang sempit (ma'iisyatan dhankan). Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna dhank (sempit) dalam ayat tersebut.

Menurut Ibnu Abbas ra, maksud 'penghidupan yang sempit' adalah kehidupan yang sengsara.

Beliau juga menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, "Setiap kali Aku (Allah) anugerahkan sesuatu kepada seorang hamba dari hamba-hamba-Ku, sedikit atau banyak, tapi tidak digunakan untuk takwa kepada-Ku, maka tidak akan pernah ada kebaikan di dalamnya dan inilah maksud kesempitan dalam hidup."

Sementara menurut Imam Adh Dhahhaak, Ikrimah dan Malik bin Dinar, yang dimaksud dengan 'penghidupan yang sempit' adalah perbuatan buruk dan rezeki yang busuk.

Sufyan bin Uyainah meriwayatkan pendapat sahabat Abu Sa'id Al Khudri ra tentang tafsir 'penghidupan yang sempit', yaitu kuburnya kelak menjadi sempit sehingga tulang-tulangnya remuk.

Imam Al Bazzaar meriwayatkan dengan sanad lengkap sampai ke Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, tentang firman Allah swt "maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit", bersabda Rasulullah, "Penghidupan yang sempit adalah bahwa Allah menguasakan atasnya 99 ular yang menggerogoti dagingnya hingga hari Kiamat."

Dalam hadits lain dengan sanad jayyid, Nabi saw bersabda tentang makna "maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit", yaitu, Azab kubur” (lihat semua pendapat dan riwayat di atas dalam Tafsir Ibnu Katsir III/386).

Perbedaan pendapat tersebut masuk dalam kategori Ikhtilaf Tanawwu' (perbedaan yang variatif), bukan Ikhtilaf Tadhadd (perbedaan yang kontradiktif). Dengan demikian semua pendapat itu relevan dan masuk dalam kandungan makna 'penghidupan yang sempit'.

Kedua, "Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Ada beberapa pendapat tentang maksud 'buta' dalam ayat ini (lihat Tafsir Ibnu Katsir III/386):

Imam Mujahid, Abu Shalih dan As Suddi berpendapat, maksudnya adalah ia dihimpun pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah (argumentasi, ketika diminta pertanggungjawaban).

Menurut Ikrimah, maksudnya ia dibutakan atas segala sesuatu kecuali jahannam. Bisa juga bermakna ia dibutakan dari jalan ke surga dan keselamatan. Kemungkinan lain, maksud ayat tersebut adalah sesungguhnya ia akan dibangkitkan atau digiring ke neraka dalam keadaan buta mata dan hati sebagaimana firman Allah, "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan peka, tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam" (QS Al-Israa' [17]: 97).

Karena itu ia bertanya keheranan, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (yakni ketika di dunia).

Allah berfirman, "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan." Begitulah ia diperlakukan oleh Allah dengan perlakuan orang yang lupa sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya yang lain, "Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami,” (QS Al-A'raaf [7]: 51).

Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir III/386) mengatakan, "Adapun orang lupa terhadap lafazh Al-Qur'an dengan tetap memahami makna dan mengamalkan kandungannya, maka tidak masuk dalam ancaman khusus ini, meskipun ada ancaman tentang hal ini dari sisi yang lain. Yaitu hadits Nabi saw, "Tidaklah seseorang membaca Al-Qur'an lalu melupakannya kecuali ia akan bertemu Allah di hari pertemuan (hari Kiamat) dalam keadaan berpenyakit ajzam," (HR Ahmad).

Demikianlah ayat ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa seseorang, keluarga atau komunitas apa pun—ormas, partai, lembaga, instansi bahkan bangsa—yang jauh dari Al-Qur'an atau mengenyampingkan ayat-ayat Allah dan tidak mewarnai kehidupannya dengan nilai-nilai Qur'ani, maka sesungguhnya mereka itu 'buta' sebelum nantinya di akhirat benar-benar buta.

Maka, jangan butakan mata hati kita, anak, istri, keluarga besar serta bangsa dan negara kita dengan menjauhkan mereka dan berpaling dari dzikir (mengingat Allah) dan fikir (merenung kebesaran Allah) serta dari ayat-ayat Allah agar kita terjauh dari kehidupan yang 'sempit' dan tidak dihimpun dalam keadaan 'buta'. Wallahu a'lam.









NERAKA DERITA TANPA JEDA
Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala.Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman. (QS.al-Lail 14-16)

Suatu hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengimami Shalat Maghrib dengan membaca Surat al-Lail. Tatkala bacaan sampai pada firman-Nya, “fa andzartukum naaran talazhzha..”, beliau menangis hingga tak mampu melanjutkan bacaannya. Kemudian beliau mengulanginya dari awal, namun sampai pada ayat yang sama, beliau kembali menangis dan tak sanggup melanjutkannya. Hal itu terjadi dua atau tiga kali, lalu beliau membaca surat yang lain.

Kita memang tidak bisa mengukur persis, gejolak macam apa yang membuncah di dada beliau, hingga air mata tumpah tak terbendung. Tapi, begitulah karakter ulama, “innama yaksyallaha min ‘ibaadihil ‘ulama’, hanyasanya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama’.

Mereka merasa menjadi obyek langsung dari Kalamullah. Lantas seperti apa perasaan seseorang yang merasa diingatkan langsung oleh Allah? Apalagi, tatkala peringatan itu berupa ancaman siksa neraka, yang tak ada lagi level penderitaan yang menandinginya.

Orang yang Paling Celaka

Neraka tidak dimasuki kecuali oleh orang yang paling celaka. ”La yashlaaha illal asyqa”, Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka. Tidak ada lagi orang yang lebih celaka darinya. Karena neraka disifati dengan segala kepungan penderitaan dan kesengsaraan, dan dinihilkan dari segala hiburan dan kesenangan.

Di dunia, kita memang sering menyaksikan dan mendengar kisah tentang penderitaan seseorang. Tentang orang yang miskin papa, beratnya penyakit yang menipa, atau dahsyatnya musibah yang menerpa. Tapi, itu semua sungguh tidak seberapa, ketika dibanding dengan neraka. Pasti ada jeda derita di dunia, pun banyak faktor yang bisa membuat beban menjadi ringan dirasa. Tidak sebagaimana derita di neraka, bersabar atau tidak bersabar sama saja bagi mereka.

Intensitas siksa yang tiada jeda dan tanpa koma, bahkan tak ada sedikit waktu meski hanya sekedar menurunnya kadar derajat siksa. Hingga para penghuninya berkata,

”Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari” (QS al-Mukmin: 49)

Menu Makanan di Neraka

Pada galibnya, makanan dan minuman itu identik dengan kenikmatan dan kelezatan. Tapi tidak demikian halnya dengan menu yang disediakan di neraka. Makanan menjadi siksa, minuman juga sebagai siksa, dan buah-buahan pun berupa siksa.

Ada makanan dhaari’, yang tidak menghilangkan rasa lapar, apalagi membuat perut menjadi kenyang. Rasapun bertentangan dengan selera lidah, bahkan untuk menelannya harus dengan merobek tenggorokan, karena ia berupa duri,

“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS al-Ghasyiyah:6-7)

Disediakan pula menu buah untuk mereka. Namun bukan untuk menambah vitamin atau hidangan penutup yang menyempurnakan kenikmatan. Bentuknya menyeramkan, tumbuh dari tempat yang sangat mengerikan,

”Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zhalim.. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar naar jahim. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. (QS. Ash-Shaffat 63-65)

Tentang rasa, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda memberikan perumpamaan yang menakutkan,

”Seandainya satu tetes dari zaqum diteteskan ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan di dunia, lantas bagaimana halnya dengan orang yang memakannya?” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shahih)

Tidak disebutkannya akhir dari orang yang menyantapnya itu menunjukkan kedahsyatannya, hingga sulit digambarkan dengan kata-kata, atau dibayangkan dengan nalar manusia, semoga Allah menjauhkan kita dari neraka.

Jenis makanan lain yang disediakan bagi penghuni neraka adalah ghisliin,

“Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.” (QS. al-Haaqah: 36)

Di antara ulama menafsirkan bahwa ghisliin adalah adonan dari seluruh kotoran yang keluar dari tubuh penghuni neraka, baik nanah, keringat, ludah, maupun kotoran dari depan maupun belakang, nas’alullahal ‘aafiyah.

Minuman yang Disediakan di Neraka

Jika makanan penghuni neraka begitu mengerikan, lantas bagaimana dengan minumannya? Sebagaimana halnya makanan, mereka juga diberi aneka jenis minuman. Tapi masing-masing minuman menjanjikan sisi penderitaan yang berbeda-beda, dengan tingkat derita yang paling ekstrim.

Ada minuman ’hamiim’, air yang mencapai tingkat panas yang paling puncak, hingga meluluhlantakkan segala isi perut yang meminumnya,

“dan diberi minuman dengan air yang mendidih (hamim) sehingga memotong-motong ususnya.” (QS. Muhammad: 15)

Jauh sekali dari kesegaran, tidak pula bermanfaat untuk mengusir haus dan dahaga, bahkan peminumnya menanggung derita tiada tara saking panasnya. Berbeda halnya dengan minuman ‘shadiid’, siksa yang dirasakan bukan semata karena panasnya, namun karena bau dan wujud yang sangat menjijikkan,

“Diminumnya air nanah (shadiid) itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya.” (QS. Ibrahim: 17)

Dan terakhir adalah minuman dari air ‘muhl’, cairan besi yang mendidih, sebagaimana firman Allah,

“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. 18:29)

Begitu komplit jenis penderitaan neraka yang tak diselingi sedikitpun oleh kenikmatan ataupun kesenangan. Itulah balasan bagi orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari ketaatan. Semoga Allah menjauhkan kita dari neraka. Amin.









SATU SEDEKAH SERIBU BERKAH


Dikisahkan dalam Kitab Min ‘Ajaa’ibish Shadaqah, suatu malam ada orang fakir mengetuk pintu rumah seorang ulama, lalu orang alim itu bertanya kepada istrinya tentang sesuatu yang dimilikinya. Sang istri berkata, “Kita tidak memiliki apa-apa selain sepuluh butir telur ayam.” Suaminya berkata, ”Berikanlah telur-telur itu kepadanya.” Maka telur itu diberikannya kepada si fakir, dan disisakan satu butir telur untuk anaknya tanpa sepengetahuan suaminya. Tak lama kemudian, datang seorang tamu mengetuk pintu dan membawa rejeki yang diperuntukkan untuk keduanya sebanyak 90 dinar. Lalu orang alim itu bertanya kepada istrinya, ”Berapa telur yang kamu berikan kepada si fakir?” Istrinya menjawab, ”sembilan butir.” Lalu beliau berkata, ”Kita mendapatkan 90 dinar, setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali.”

Kisah ini hanyalah sampel tentang sedekah yang membuahkan keberkahan. Qadarullah, Allah berkehendak menjadikan berkah tersebut begitu nyata dan dapat dihitung dengan rumus matematika, Allah menggantinya dengan sepuluh kali lipat. Meski tentunya tak selalunya ’reward’ itu bisa diindera sedemikian rupa. Yang pasti, seseorang akan mendapatkan hasil lebih banyak dari apa yang ia sedekahkan karena Allah.

Penderma Lebih Butuh dari Penerima

Sekilas, tatakala seseorang mendermakan hartanya kepada orang fakir, maka si fakirlah yang mendapat manfaat dari sedekah itu. Namun sejatinya, keuntungan yang didapatkan oleh penderma, jauh lebih banyak dan lebih besar. Tidak berlebihan jikalau disimpulkan bahwa kebutuhan kita untuk bersedekah itu lebih besar dari kebutuhan orang fakir terhadap harta yang kita sedekahkan. Bukankah Allah telah berfirman,

”Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka (faedahnya) itu untuk kamu sendiri.” (QS. al-Baqarah: 272)

Begitupun dengan firman-Nya, ”In ahsantum ahsantum li anfusikum”, jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk diri kamu sendiri. Ini menjadi kaidah umum untuk seluruh kebaikan. Adapun kebaikan berupa sedekah sangat nyata dirasakan pengaruhnya oleh orang yang pernah mengalaminya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah meyakinkan kita, bahwa harta tidak berkurang dengan disedekahkan,

“Tidaklah berkurang harta yang disedekahkan.” (HR Muslim)

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Muslim, bahwa maksud tidak berkurang itu mengandung dua pengertian. Pertama bahwa harta itu diberkahi dan dengannya madharat bisa tercegah, sehingga berkurangnya harta secara fisik tergantikan dengan keberkahan, dan ini bisa dirasakan dan terbukti sebagaimana pengalaman yang bisa disaksikan. Yang kedua, meskipun secara dzatnya berkurang, namun dari sisi pahala lebih banyak dari harta yang berkurang.”

Ada hadits lain yang menguatkan bahwa, setiap sedekah yang kita keluarkan, pasti akan mendapatkan ganti. Sebagai pengabulan doa dari para malaikat sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,

Tiada datang waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun atas manusia, lalu satunya berdoa, “Ya Allah, Berilah ganti bagi yang bersedekah.” (HR. Bukhari)

Seribu Berkah Ba’da Sedekah

Allah tidak akan menjadikan orang yang berdema menjadi pailit. Bahkan sebaliknya, berkah yang melimpah akan disandang oleh para dermawan. Logika iman mengajarkan, bahwa sedekah berarti investasi kepada Allah yang pasti untung dan mustahil merugi.

Jika seseorang atau badan usaha yang profesional, datang kepada kita dengan cashflow yang menjanjikan keuntungan, ditambah lagi dengan kemungkinan minimnya resiko, lalu menawarkan saham untuk kita, tentulah kita akan bergegas untuk menyambutnya, dan menanamkan modal demi keuntungan yang besar. Meskipun keuntungan itu masih bersifat asumsi maupun prediksi. Masih ada resiko kerugian, atau bahkan kebangkrutan. Baik disebabkan oleh keteledoran dalam mengelola usaha, atau adanya faktor eksternal di luar perhitungan. Anehnya ketika tawaran itu datang dari Dzat yang menjanjikan keuntungan jauh lebih tinggi, Dia juga Maha Menepati janji, dan Mahakuasa membagi rejeki, masih ada orang yang meragukan untuk menyambut tawaran-Nya. Masih berfikir jikalau investasi itu akan berujung pada kerugian dan kemiskinan. Alangkah buruk persangkaan mereka kepada Allah.

Bagaimana mungkin akan merugi, investasi usaha yang dikelola oleh Allah yang Maha Mengatur segala alam semesta? Mari kita simak, jaminan keuntungan yang Allah janjikan bagi siapapun yang berkenan menanam investasinya kepada-Nya,

”Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. al-Hadiid: 11)

Adakah yang lebih layak dipercaya selain Allah, yang Mahakaya, dan Maha Berkuasa atas segalanya? Bagaimana mungkin orang yang berakal ragu untuk menitipkan investasinya kepada Allah?

Allah subhanahu wa ta’ala pun telah berjanji dalam hadits qudsi,

“Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Berinfaklah wahai Anak Adam, niscaya Aku akan berinfak untukmu.”

(HR al-Bukhari)

Pun begitu, ganti yang dijanjikan itu belum tampak di depan mata. Hanya orang yang yakin dan tawakal yang berani mengambil keputusan. Toh, fakta menunjukkan, tak ada cerita orang yang miskin lantaran over dosis dalam berderma.

Keberkahan sedekah tak hanya mengundang datangnya kemaslahatan yang diharapkan, tapi juga mencegah kemadharatan yang ditakutkan. Sedekah yang kita lakukan seakan menjadi tebusan hingga di kemudian hari kita aman dari suatu bahaya yang mengancam.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan tentang Yahya bin Zakariya yang memerintahkan Bani Israil dengan lima hal, salah satunya adalah, “Aku memerintahkan kalian untuk bersedekah. Karena perumpamaan sedekah itu seperti seseorang yang ditawan musuh, lalu tatkala musuh sudah memegang leher dan hendak menebasnya, tiba-tiba dia berkata, ”Aku menebusnya dari kalian dengan harta sedikit dan yang banyak.” Maka iapun berhasil membebaskan diri dari mereka.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, ”hadits hasan shahih”)

Ibnu Syaqiq bercerita, bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seseorang tentang luka di lututnya yang terus mengeluarkan nanah sejak tujuh tahun. Dia juga sudah berusaha menempuh berbagai macam pengobatan, pergi ke tempat para tabib, namun juga belum menunjukkan hasilnya. Maka Ibnul Mubarak menyarankan, ”Pergilah dan buatkanlah sebuah sumur di tempat perkampungan yang membutuhkan air, saya ber-harap air bisa mengalir di sana, dan ketika itu lukamu akan sembuh. Orang itupun melakukan saran beliau dan kemudian sembuh.

Buah Sedekah di Akhirat

Begitulah keajaiban faedah sedekah di dunia. Sedangkan faedah sedekah di akhirat lebih hebat lagi. Karenanya, Andai saja manusia setelah mati dikembalikan ke dunia, maka yang ingin mereka lakukan adalah bersedekah,

”Wahai Rabbi, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” (QS. al-Munaafiqun: 10)

Ini menunjukkan betapa mereka melihat bahwa di akhirat sedekah sangat bermanfaat. Orang yang bersedekah akan tahu, bahwa harta sejati yang menjadi miliknya adalah harta yang disedekahkannya. Sedangkan harta yang tersisa, atau telah dipergunakan itu akan fana.

Ketika ummul mukminin ditanya oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang kambing yang disembelih, adakah masih tersisa? Aisyah menjawab, ”Telah habis dibagi, hanya tersisa sebelah bahunya saja.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”(yang benar), masih utuh semua, kecuali sebelah bahunya.” (HR Muslim)

Yang dibagik-bagikan itulah hakikat harta yang sebenarnya, sedangkan yang tersisa itu bukanlah menjadi miliknya selain hanya sementara saja. Kemurahan Allah yang melipatkan pahala sedekah hingga 700 kali lipat dan bahkan bahkan masih lebih banyak lagi.

Kedermawanan akan mendekatkan pelakunya menuju jannah, sekaligus membentengi dan menjauhkan pelakunya dari neraka. Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat bakhil. Amin.






PERINGATAN , BUKAN HINAAN

“Sepeninggalku, tidak aku tinggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya untuk lelaki melebihi wanita.”(Mutafaq ‘alaih) “Wanita itu kurang agamanya.” “Kebanyakan penduduk neraka adalah wanita.” (al Hadits)

Jika dibaca dengan kacamata buram milik orientalis dan kaum liberal, mungkin yang bakal tampak dari petikan hadits di atas adalah “Islam merendahkan kaum perempuan. Hadits-hadits ini mestinya dinonaktifkan dari fungsinya sebagai dalil karena sudah tidak sesuai dengan jaman. Jika tidak, Islam bisa tercoreng namanya karena masih saja mendeskreditkan perempuan, padahal di zaman sekarang persamaan gender telah menjadi tuntutan.”

Tapi kacamata seorang muslimah, wanita yang berserah diri kepada syariat-Nya, tentunya tidak demikian. Imannya akan membuat lensanya lebih jernih dalam membaca dan menyelami isi dari setiap kata yang disabdakan utusan-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Pandangannya akan lebih dalam menembus sampai ke dasar hikmah. Ada ‘material’ husnudzan, rasa berserah diri dan keyakinan bahwa sabda Rasul n adalah al haq, yang menyusun potongan kaca yang dipakainya. Dan inilah yang membuat objek yang tampil di retina hatinya berwujud sempurna, tidak terbalik dan indah sebagaimana mestinya.

Oleh karenanya, image yang ditangkap dari hadits-hadits seperti di atas bukanlah “Islam mendeskreditkan wanita”. Sama sekali bukan. Tapi yang tampak justru ke dalaman rahmat dari sang pencipta kepada kaum Hawa. Sabda baginda itu diterima sebagai pemberitahuan dan peringatan atas sisi lemah wanita yang sangat krusial. Kelemahan pada wanita yang harus diwaspadai atau ditambal dengan sisi kelebihan yang lain. Bukankah semua makhluk memang dicipta memiliki kelemahan?

Wanita itu fitnah atau godaan yang sangat besar bagi kaum lelaki. Terhadap hadits ini, seorang muslimah tidak akan bersu’udzan bahwa Islam menganggap wanita hanyalah makhluk penggoda dan pengganggu bagi lelaki. Tidak. Sabda ini akan dipahami sebagai peringatan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa potensi fitnah (godaan) dalam diri wanita sangatlah besar. Karenanya wanita pun akan sadar dan waspada lalu menjaga agar potensi itu tidak menyelinap keluar atau bahkan meledak. Wanita memang ditakdirkan untuk memiliki daya tarik yang menggoda itu, tapi di sisi lain, wanita juga diwajibkan menjaganya.Nah, Islam pun memberikan cara bagaimana menjaga diri agar potensi itu tidak keluar. Ada jurus menjaga aurat, menundukkan pandangan, menjaga hubungan dengan lelaki, menghindari make up berlebihan dan sebagainya. Dengan mengaplikasikan jurus-jurus ini, yang akan merasa aman bukan hanya lelaki saja tapi juga wanita.

Kalau direnungkan secara mendalam, hadits ini bukan hanya peringatan bagi lelaki, tapi juga wanita. Memang, yang terkena dampak fitnah wanita secara langsung adalah lelaki. Hanya saja dalam beberapa kondisi, fitnah wanita yang dibiarkan terumbar liar juga akan berimplikasi buruk terhadap sesama wanita.

Ambil contoh, saat anda sedang bersama suami, tiba-tiba datang atau lewat seorang wanita yang membiarkan dua biji ‘kamera’ di kepala lelaki yang menatapnya bebas menelusuri kulit kakinya hingga 50 % di atas lutut, atau kulit lehernya hingga 50 % ke dadanya. Itu fitnah yang diumbar. Dan fitnah itu jelas ditujukan kepada lelaki. Tapi apa yang anda rasakan jika suami anda melirik? Sakit bukan? Lebih menyakitkan lagi jika kulit si wanita itu lebih bagus dari milik anda. Bahkan wanita bercelana jins dan berkaus ketat yang tengah bersama pacarnya di sebelah sana pun –misalnya ada-, boleh jadi akan mencubit pacarnya, sambil pasang muka cemberut lagi mengancam jika pacarnya ikut-ikutan melirik. Apa lagi jika masalahnya bukan sekadar melirik, selingkuh misalnya, tentu akan lebih menyakitkan lagi. Jadi, wanita juga akan terganggu dengan fitnah wanita yang tidak dijaga.

Nah, coba bandingkan jika yang hadir adalah seorang wanita berjilbab rapi dengan warna kain yang tidak mencolok, atau bahkan memaki cadar misalnya. Adem. Anda, suami anda dan juga semua orang di sekeliling anda akan merasakannya. Jadi, pada dasarnya sabda Rasul n di atas adalah peringatan untuk wanita dari bahaya fitnah wanita yang juga akan berdampak kepada wanita.

Soal status wanita yang diennya disebut “kurang” dan menjadi mayoritas ahli neraka, Rasulullah ingin memberi peringatan pada sisi lemah wanita dalam hal ini. Wanita secara kodrati mendapatkan haid dan menghalanginya dari ibadah selama sekian waktu. Ini kelemahan. Dengan menyadari hal ini, wanita diharapkan dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan sisi-sisi lebih yang diberikan kepadanya untuk meningkatkan value(nilai) dirinya. Semangat inilah yang akan muncul dalam diri muslimah dan bukan perasaan kecewa karena menganggap Islam menganak tirikan wanita. Dan bukankah pada tataran praktis, tidak sedikit kaum wanita yang kualitas diennya jauh lebih baik dari lelaki?

Kalau ternyata rasul mengatakan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka, itu berarti Beliau ingin menyampaikan bahwa realitanya kebanyakan wanita tidak mengikuti bimbingan rel syariat. Karena jika patuh pada syariat, dia akan masuk jannah. Bahkan ratunya para bidadari surga adalah wanita-wanita shalihah yang masuh jannah. Oleh karenanya, kalau tidak ingin merasa tersinggung dengan hadits ini, caranya mudah yaitu dengan menjadi wanita shalihah.

Kesimpulannya, saat membaca hadits-hadits semacam ini yang harus dikedepankan adalah iman. Para shahabiyah dulu tidak pernah komplain dengan hadits-hadits di atas dan menganggapnya sebagai diskriminasi terhadap kaum perempuan. Keyakinan mereka bahwa sabda Nabi adalah bimbingan ilahi memudahkan hati mereka menerima dan mencoba mendulang hikmahnya. Jangan terkecoh dengan bualan kaum liberal, mereka hanya ingin agar kita menentang syariat, merasa punya dalil saat bermaksiat dan akhirnya celaka di akhirat.Wallahua’lam.








SA'ID BIN AMIR AL JUMAHI

Sahabat mulia Khubaib bin ‘Adiy radiyallahu ‘anhu mengajarkan kepada Sa’id bin ‘Amir al arti kehidupan yang sebenarnya dan apa yang harus diperjuangkan dan diharapkan dalam kehidupan dunia ini ketika beliau belum masuk Islam. Seperti apa kisahnya?

Saat itu Khubaib bin ‘Adiy radiyallahu ‘anhu tertawanan Kafir Quraisy.Dengan terikat kedua tangannya, beliau diarak menuju tempat kematiannya.Para wanita dan anak-anak bersorak riuh, sekadar luapan dendam kekalahan mereka pada Perang Badar.

Ketika semua orang telah berkumpul. Sa’id bin ‘Amir al jumahiy berdiri di depan Khubaib, memandangnya dengan tajam.Saat itu ia mendengar suara lirih Khubaib yang takkan pernah dilupakannya,“Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum kalian membunuku”. Tak masalah bagi mereka memenuhi permintaan terakhir Khubaib. Seusai shalat Khubaib berkata lantang, “Demi Allah! Jika bukan karena persangkaan kalian bahwa shalatku hanya untuk mengulur waktu karena takut mati, niscaya aku akan shalat lebih lama lagi.”

Detik menjelang ajal kian dekat. Tampaknya orang Quraisy tak ingin kematiannya berlangsung mudah. Karena itu, mereka mengiris bagian tubuhnya sepotong demi sepotong. Mereka nikmati drama penyiksaan tersebut sembari mengejek, “Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu dan engkau selamatkan?” Dengan tegar beliau menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan senang dalam keadaan aman dan tenang bersama istri dan anakku, sementara Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tertusuk duri”, bergemuruhlah teriakan “Bunuh dia…! Bunuh dia…!” Sa’id bin ‘Amir dengan seksama memperhatikan Khubaib a, beliau menngangkat kepala ke langit dan berdoa dengan nafasnya yang teakhir, “Ya Allah..Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan sisakan seorang pun!”

Kejadian tersebut membuat Sai’d shock. Hatinya mempertanyakan.Seteguh itukah pengikut Muhammad menjaga keyakinannya? Motivasi apa yang mampu membakar keyakinan mereka, meskipun nyawa menjadi taruhannya?Pengalaman itu pun mengantarkan sa’id kepada Islam. Agama terakhir yang ia yakini kebenarannya.

Pada masa Umar bin khattab radiyallahu ‘anhu , Said merupakan tokoh penting yang menjabat sebagai gubernur Homs, Syiria. Sebenarnya beliau setengah hati menjadi pejabat. Jika bukan karena Umar yang meminta, beliau pasti menolaknya.

Secara periodik, Umar memanggil pejabat dari berbagai wilayah untuk melaporkan pemerintahan di daerahnya. Umar juga meminta daftar fakir miskin yang berhak mendapat tunjangan dari negara. Umar begitu kaget kala membaca daftar dari Homs. Ternyata nama Sa’id bin ‘Amir tercantum dalam daftar tersebut. Setengah tidak percaya. Beliapun mengkonfirmasi, benarkah nama tersebut adalah guberhur Homs. “Betulkah Gubernur kalian miskin?”“Sungguh ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Sering kami melihat api tak menyala di rumahnya!” Jawab mereka.Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau menetes membasahi jenggotnya.

Beberapa waktu kemudian. Saat mengikuti perjanjian penyerahan Baitul Makdis, Umar menyempatkan diri mengunjungi kota Homs.Beliau menanyakan kepada warganya tentang pelayanan publik yang menjadi tugas para pejabat. Terutama sang gubernur Sai’d bin Amir. Beberapa warga mengeluhkan beberapa kebiasaan khalifah yang mereka anggap tidak baik. Sebagai khalifah yang bijak. Umar tidak serta merta menyalahkan Gubernur dan memihak rakyat. Beliau pertemukan kedua belah pihak untuk mencairkan masalah tersebut. Tapi, dalam hati umar berdoa, “Semoga persangkaan baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”

Warga Homs mengeluhkan empat hal. Pertama, gubernur selalu terlambat datang ke tempat kerja ketika matahari sudah tinggi. Kedua, Sa’id tidak mau melayani warganya pada malam hari. Ketiga, Sa’id menambah liburnya sehari tiap bulan. Terakhir, Sa’id sering sekali pingsan, lalu meninggalkan majlis. “Apa tanggapanmu, Sa’id?” tanya Umar.

“Sebenarnya saya keberatan menanggapinya, tetapi apa boleh buat. Pertama, saya tidak mempunyai pembantu. Setiap harisaya lah yang memasak roti untuk keluarga.Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat.

“Saya juga telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat. Karena itu malam hari aku gunakan untuk bertaqarrub kepada Allah.”

“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badanku ini. Saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani mereka.

“Terakhir, dulu ketika saya masih musyrik, saya menyaksikan Khubaib bin ‘Adiy dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib sepotong demi sepotong. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib ‘Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu dan engkau kami selamatkan?’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan senang dalam keadaan aman dan tenang bersama istri dan anakku, sementara Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tertusuk duri.’

“Demi Allah!Tiap mengenang peristiwa itu, dimana saya membiarkan Khubaib dan tidak membelanya sedikitpun, saya merasa bahwa dosa saya tidak akan diampuni Allah subhanahu wa ta’ala. Saya pun pingsan.”

Mendengar jawaban tersebut hati Umar benar-benar lega. Seperti ada beban berat yang tiba-tiba terlepas. “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan persangkaan baikku benar.” Ucap khalifah menutup dialog.

Beberapa waktu kemudian, Umar mengirimkan seribu dinar kepada Sa’id, sebagai tunjangannya dari negara.Namun apa kata Sa’id? “Dakhalat ‘alayya dunya litufsida akhirati, ada dunia yang datang untuk merusak akhiratku.” Said tidak menolak uang tersebut. Ia ingin harta itu lebih bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya..“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagi kita” Kata Sa’id kepada istrinya.

“Mengapa?” tanya istrinya.“Dengan begitu berarti kita depositkan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Sa’id.“Baiklah kalau begitu,” kata istrinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.” Kemudian uang itu dimasukkan Sa’id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya, “Pundi ini berikan kepada janda si Fulan, pundi ini kepada anak yatim si Fulan, yang ini kepada keluarga si Fulan yang miskin dan keluarga si fulan yang fakir.Subhanallah!






AMANAH YG MENDATANGKAN BERKAH


Ibnu Jarir ath-Thabari bercerita, “Saya berada di Mekah saat musim haji. Saya melihat seseorang dari Khurasan berkata, “Wahai sekalian orang yang berhaji, penduduk Mekah ataupun pendatang, saya kehilangan sebuah kantong berisi uang seribu dinar, bagi yang menemukan dan mengembalikannya, semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik, membebaskannya dari neraka, serta mendapatkan pahala yang besar di hari hisab.”

Lalu seorang kakek berdiri dan berkata, “Wahai orang Khurasan, negeri kami sedang krisis, pintu pencaharian juga lagi susah, boleh jadi harta itu ditemukan oleh seorang mukmin yang fakir lagi tua, lalu ia berjanji akan mengembalikannya kepadamu selagi diberi upah sebagian saja agar menjadi harta yang halal.” Orang Khurasan itu berkata, “Berapa kira-kira hadiah yang diharapkan?” Kakek itu berkata, “Sekitar sepuluh persennya, yakni seratus dinar.” Orang Khurasan itu berkata, “Aku tidak rela, aku serahkan saja urusannya kepada Allah, aku akan menuntutnya di Hari Kiamat, hasbunallah wa ni’mal wakiil.”

Aku (Ibnu Jarier) berkata dalam hati, “Kakek itu seorang yang fakir, jangan-jangan dia telah menemukan barang itu, lalu ingin mendapatkan sebagian darinya.” Maka aku mengikutinya hingga ia sampai ke rumahnya. Ternyata dugaanku benar, aku mendengar ia memanggil istrinya dan berkata, “Wahai Lubabah, saya bertemu dengan pemilik dinar itu, tapi dia tidak mau memberi hadiah sedikitpun bagi yang menemukannya. Tatakala aku memintanya untuk memberikan seratus dinar bagi yang menemukannya, dia menolak dan akan menyerahkan urusannya kepada Allah, lalu apa yang harus aku perbuat wahai Lubabah? Saya harus mengembalikannya, saya takut kepada Allah.”

Sang istri berkata, “Suamiku, aku sudah hidup miskin bersamamu selama 50 tahun, sementara kamu mempunyai banyak tanggungan. Ambil saja harta itu, lalu kamu berikan sisanya setelah kamu mencukupi tanggunganmu dan melunasi hutang-hutangmu.”

Kakek tua itu berkata, “Wahai Lubabah, apakah aku akan makan harta haram setelah aku bersabar dengan kefakiranku selama 86 tahun, lalu aku relakan tubuhku dilalap api neraka? Apakah aku rela mendapatkan murka Allah sementara aku telah dekat dengan liang kuburku? Demi Allah aku tidak akan melakukannya.”

(Keesokan harinya, terjadilah peristiwa seperti hari sebelumnya, pemilik dinar itu tak hendak memberikan upah bagi yang menemukannya, meskipun hanya dengan sepuluh dinar, dan dia menyerahkan urusannya kepada Allah. Hal yang sama juga terjadi pada hari yang ketiga)

Hingga kemudian sang kakek berkata, ”Wahai orang Khurasan, ayo ikut aku, dinarmu ada padaku, saya tidak bisa tidur sejak menemukan harta itu.”

Orang Khurasan itu mengikuti sang kakek, hingga tatakala sampai di rumah, sang kakek menyerahkan dinar itu dan berkata, ”Ambillah hartamu, semoga Allah mengampuniku dan memberikan karunia-Nya kepadaku.” Tanpa ragu, orang Khurasan itu mengambil uangnya. Namun tatkala hendak keluar rumah, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berkata, ”Wahai Kakek, ayahku telah meninggal, dia mewarisiku uang sebanyak 3000 dinar, lalu berwasiat, ”Keluarkanlah yang sepertiganya untuk orang yang menurutmu paling layak.” Lalu aku mengikat sepertiganya dalam kantong ini hingga bertemu dengan orang yang layak mendapatkannya. Demi Allah, saya tidak melihat orang yang lebih layak mendapatkannya selain Anda. Ambillah seluruhnya, semoga Allah memberkahimu, dan membalasmu dengan kebaikan karena amanahmu, juga kesabaranmu saat berada dalam kefakiran.” Orang itupun menyerahkan uang seribu dinar itu, kemudian pergi. (Arsyif Multaqa ahlil hadits)






TANDA KIAMAT, PENGHIANAT DIBERI AMANAT


Suatu ketika, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan didengar oleh Abdullah bin Amru, kata beliau:

“Kiamat tidak akan terjadi sampai merajalelanya omongan kasar dan saling umpat, pemutusan tali rahim serta buruknya hubungan antar tetangga, dan sampai pengkhianat diberi amanat sedang yang terpercaya di anggap pengkhianat.” (HR. Ahmad)

Prediksi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan senantiasa terbukti. Kalau para shahabat dahulu hanya bisa merasakan kekhawatiran akan munculnya tanda-tanda kiamat, saat ini kita ditakdirkan menjadi generasi umat ini yang menyaksikannya. Omongan kasar dan umpatan, pemutusan silaturahmi dan buruknya hubungan dengan tetangga, gambaran nyatanya dapat kita saksikan setiap hari. Omongan kasar danmesummenjadi bumbu di setiap obrolan, anak bersengketa dengan bapaknya bahkan tega membunuhnya, ibu-ibu membunuh atau membuang bayinya, individualisme yang semakin parah serta hubungan tetangga yang buruk. Tetangga yang semestinya menjadi ‘saudara dekat’, tak jarang malah jadi rival abadi. Tak pernah rukun meski satu Rukun Tetangga (RT). Kini, fenomena-fenomena buruk semacam itu laksana kawah lumpur yang menyemburkan kotoran ke muka bumi, saban hari.

Ditambah tanda yang terakhir, lumpur-lumpur yang menyembur pun kian pekat warnanya dan makin menusuk baunya. Dari semua fenomena akhir zaman yang disebutkan dalam hadits di atas, sepertinya tanda yang terakhir memiliki dampak paling merugikan, tidak hanya bagi yang melakukan, yang tidak tahu apa-apa pun akan merasakan akibatnya.

“Pengkhianat justru diberi amanat”, kalau yang dimaksud sekadar amanat berupa barang titipan, lalu yang dititipi kabur membawa titipan itu, dampak buruknya tidaklah seberapa. Tapi jika amanat yang dimaksud adalah amanat kepemimpinan dan jabatan, apalagi jabatan dalam skup negara tentu akan lain urusannya. Dampak buruknya akan jauh lebih besar dan mengenai banyak orang. Kalau pejabat tidak amanat dan suka korupsi, rakyat yang tidaktahu apa-apa akan merasakan dampaknya berupa terpuruknya perekonomian.

Imam al Qurthubi dalam kitabnya “at Tadzkirah” menjelaskan:

“Apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beritakan kepada kita dalam bab ini(hadits ini) dan yang lainnya, dari apa yang telah terjadi dan yang akan datang, kebanyakan di antaranya sudah muncul dan merajalela di tengah manusia. Jabatan diembankan kepada orang yang bukan ahlinya hingga jadilah orang-orang yang memimpin justru manusia-manusia rendahan, orang-orang kelas budak dan manusia-manusia bodoh. Mereka menguasai negeri dan kepemerintahan, dengan itu mereka menumpuk harta dan meninggikan gedung-gedung, sebagaimana yang bisa kita saksikan pada zaman ini. Mereka tidak mau mendengarkan nasihat dan tidak pernah istirahat dari maksiat. Mereka adalah manusia-manusia bisu, tuli dan buta.” (I/726)

Jika pada zaman Imam al Qurthubi saja fenomena ini bisa dirasakan, di zaman ini tentunya jauh lebih nyata wujudnya. Sekarang ini orang begitu mengagungkan demokrasi. Semua orang berhak dan merasa berhak menjadi pemimpin dan pejabat. Kompetensi diri, skill manajemen dan leadership bukanlah syarat penentu terpilihnya seseorang. Lebih-lebih soal apakah mereka adalah orang yang amanah atau tidak, lebih tidak menjadi bahan pertimbangan. Uang dan pengaruhlah yang menjadi juri penentu kemenangan.Yang lebih mampu mencetak banyak pamflet, spanduk, banner, bendera partai, menggelar acara-acara kepartaian dan memberikan sokongan dana, dialah yang berpeluang mendapat kursi jabatan. Atau kalaupun yang menjabat adalah orang yang benar-benar mampu dan bukan yang menyokong dana, kebijakan-kebijakannya pun tidak akan jauh-jauh dari pesanan “orang tua asuh”-nya yang telah mendanai.

Karenanya tidak mengherankan jika setelah menjabat, fokus utamanya bukanlah menunaikan amanah tapi lebih kepada usaha mengembalikan modal yang harus keluar dimasa perjuangan merebut suara. Sekarang, pagelaran drama dengan tema “mengembalikan modal dengan cepat” itu tersaji dalam potongan-potongan berita korupsi, suap dan permainan hukum. Sekian puluh pejabat yang ditangkap karena suap, mata rantai mafia hukum yang menyeret pejabat satu demi satu, korupsi yang dilakukan secara berjamaah dan sistemik membuktikan bahwa mereka adalah “al kha`inun al mu`tamanun” para pengkhianat yang diberi kepercayaan. Selain itu, seperti dikatakan imam al Qurthubi di atas, banyak kegiatan-kegiatan yang tidak penting semisal pembangunan gedung tinggi nan mewah menjadikanpengkhianatan itu kian jelas terpampang diatas lukisan kemiskinan rakyat.

Sebaliknya, “yukhawanul amin” orang-orang yang terpercaya dianggap sebagai pengkhianat. Orang-orang yang jujur dan berusaha amanah, adalah ‘parasit’ dalam sistem yang korup. Perangkap demi perangkap pun akan dipasang guna menjatuhkan mereka dari jabatannya. Apalagi yang berani gembar-gembor menghapus korupsi dan mengambil langkah nyata untuk itu, ancamannya akan lebih besar.

Wallahul musta’an. Inilah realita yang harus kita hadapi. Cukup sulit menjelaskan bagaimana solusi untuk keluar dari masalah ini. Masalah pengkhianatan dalam jabatan bukan problem ringan. Ditambah dengan munculnya berbagai keburukan akhir zaman yang lain, persoalan jadi kian runyam. Ada banyak hal yang harus kita hindari serta waspadai sekaligus menjadi PR bagi kita, dan begitu sedikitnya teman yang bisa menguatkan. Barangkali hanya semangat dan keyakinan untuk tetap menjaga iman serta usaha perbaikan sesuai kemampuanlah yang bisa kita lakukan. Harapannya, kita bisa selamat sampai di penghujung periode hidup yang kita tempuh.Wallahua’lam.









MENDOAKAN TEMAN MESKI BERJAUHAN



Sering saya mendapatkan kiriman sms dari orang yang tidak saya kenal, isinya kalau tidak iklan produk ya iming-iming hadiah yang ujung-ujungnya hanya penipuan. Tapi kali ini berbeda, dalam selang waktu yang berjauhan dua sms masuk ke inbox saya. Isinya hampir sama dan sungguh menyejukkan hati, untaian doa kebaikan untuk diri saya dan keluarga. Saya yakin itu bukan sms acak yang dikirim ke nomor sembarang, karena dengan jelas ia sebut nama saya dalam doanya sambil merinci kebaikan yang diharapkan; semoga saya dan keluarga dikaruniai kesehatan, rizki yang halal dan dimudahkan urusan serta dijauhkan dari kemaksiatan. Tapi pengirimnya tidak saya kenal. Ketika saya mencoba menanyakan identitasnya, tidak ada jawaban. Akhirnya saya hanya bisa menjawab, “Amin. wa laka mitsluhu wa barakallah fiikum. (Amin, semoga engkau mendapatkan yang semisal dan semoga barakah Allah menyertaimu)

Saat itu saya hanya bisa husnudhan, mungkin ia ingin mengamalkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Apabila seseorang mendoakan sau-daranya tanpa sepengetahuannya, maka Malaikat akan berkata; amin, dan semoga engkau mendapatkan hal yang sama.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Agar doa mustajab

Beragam cara kita tempuh untuk terkabulnya doa kita, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Berusaha berdoa pada waktu dan tempat yang tepat, ini mungkin yang sering kita lakukan. Seperti saat sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu, diantara adzan dan iqamah dan di hari Jumat. Namun banyak diantara kita yang belum tahu bahwa ternyata ada satu cara agar doa kita mustajab, yaitu dengan mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuannya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah mustajab. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Ahmad)

Imam An-Nawawi t. menjelaskan hadits di atas bahwa makna “bi dhahril ghaib” adalah tanpa kehadiran orang yang didoakan di hadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang seperti ini benar-benar menunjukkan dalamnya keikhlasan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga juga menjanjikan pahala bagi mereka yang suka mendoakan saudaranya:

“Barangsiapa memohonkan ampunan kepada kaum mukminin dan mukminat maka Allah akan menulis baginya satu kebaikan setiap mendoakan seorang mukmin atau mukminah.” (HR. Thabrani dan dihasankan oleh Albani)

Kebiasaan orang-orang shaleh

Mendoakan sesama muslim tanpa sepengetahuan orangnya termasuk kebiasaan baik yang telah diamalkan oleh para Nabi u dan juga orang-orang shaleh yang mengikuti mereka. Mereka senang kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan, sehingga merekapun mendoakan saudaranya di dalam doa mereka tatkala mereka mendoakan diri mereka sendiri.

Seperti doa Nabi Ibrahim alaihissalam:

“Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan segenap orang-orang yang beriman pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

Juga doa yang dilantunkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallamuh q:

“Wahai Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28)

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam juga mendapatkan perintah dari Allah dengan firman-Nya:

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Allah juga menyebutkan tentang doa yang dilantunkan oleh orang-orang shaleh sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Potongan beberapa ayat di atas dengan jelas menunjukkan tentang disyareatkannya mendoakan kebaikan bagi saudara kita tanpa sepengetahuan dan kehadiran mereka di hadapan kita.

Ibnul Jauzy dalam kitabnya Shifatus Shafwah menuturkan biografi singkat Ath-Thayyib bin Ismail atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hamdun. Abu Hamdun adalah salah seorang qurra (pembaca Al-Quran). Ia mempunyai selembar kertas yang di dalamnya tertulis 300 nama teman-temannya dan ia selalu mendoakan mereka setiap malam. Di suatu malam, lelaki tersebut tertidur. Kebetulan ia belum membacakan doa kepada teman-temannya sebagaimana yang lazim ia lakukan setiap hari. Diceritakan, dalam tidurnya ia bertemu dengan salah seorang. Seseorang itu menyerunya, “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau belum menyalakan lampu malam ini?” Ia pun segera terbangun. Menyalakan lampu. Lalu mengambil selembar kertas itu dan mendoakan mereka satu per satu sampai selesai.

Abu Hamdun adalah manusia biasa seperti kita. Di malam hari, dia merasakan kantuk sebagaimana kita. Dia makan, minum, perlu istirahat, mencarikan nafkah untuk menghidupi diri dan keluarganya. Dia juga orang yang sangat sibuk dengan aktivitasnya. Akan tetapi satu yang tidak dilupakan olehnya, sebelum memejamkan matanya, ia selalu berdoa pada Allah untuk mengampuni dosa teman-temannya.

Selanjutnya mari kita bertanya kepada diri kita, berapa sering kita berdoa kepada Allah? Dan seberapa sering pula kita menyempatkan untuk mendoakan saudara-saudara kita? Mestinya tanpa diminta pun kita akan selalu mendoakan mereka, sebagai bentuk kasih sayang diantara kaum muslimin. Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan, “Sejelek-jelek saudara adalah yang kamu sampai perlu mengatakan, “Ingatlah aku dalam doamu”.”

Semoga Allah menghilangkan dari diri kita penyakit ghil (dengki) yang bisa menghalangi timbulnya sifat cinta dan kasih sayang kepada kaum muslimin. Sehingga kita tidak perlu merasa gengsi dan berat hati jika harus melantunkan doa untuk kebaikan dan kesuksesan saudara kita sesama muslim. Karena sejatinya dengan mendoakan mereka berarti kita telah mendoakan diri kita sendiri










BISIKAN BIJAK YANG MENYESATKAN



Mendengar suara-suara hati, kadangkala tidak mudah bagi kita untuk membedakan mana yang benar-benar kata hati atau bahkan petunjuk dari malaikat, dan mana yang bisikan setan atau suara nafsu yang ditunggangi setan.Memang, secara mudah kita bisa membuat klasifikasi hitam-putih; bisikan untuk melakukan atau meraih sesuatu yang baik adalah bisikan dari malaikat atau hati nurani. Sedang bisikan hati untuk melakukan keburukan, pasti datang dari setan.

Klasifikasi di atas memang tidak salah. Pasalnya,suara-suara hati tidak bernada, yang satu tidak lebih sumbang dari yang lain dan punya wujud yang sama hingga sulit dibedakan siapa yang membisikkan. Kita tidak bisa mengenali siapa pembisiknya kecuali dari motif dan tujuannya. Kalau baik berarti dari hati nurani atau malaikat, kalau jahat berarti setan.

Hanya saja, rasanya setan juga tahu akan hal ini. Kalau cuma melulu membisikkan agar manusia berzina, menjadi sombong dan pelit, trik penyesatan setan akan mudah dikenali. Hati orang beriman akan resisten terhadap bisikan-bisikan semacam itu. Ibarat virus, eksistensi dari virus tersebut sudah terlalu familiar bagi antivirus hingga akan segera di remove (dibuang). Harus ada jebakan, tipuan dan manipulasi. Kalau manusia mengidentifikasi bisikan baik sebagai bisikan hati yang harus dituruti, maka tidak menutup kemungkinan setan akan menjebak manusia dengan bisikan baik. Namun dibalik itu, sebenarnya manusia sedang digiring secara perlahan menuju kebinasaan.

Coba kita ambil contoh sebagai renungan, saat menerima gaji bulanan yang hanya 500 ribu, tidak mudah bagi seseorang untuk langsung memikirkan infak. Sebab dalam bayangannya, uang tersebut sudah habis dibagi untuk pos-pos pengeluaran yang sudah menunggu sejak awal bulan; makan, listrik, sewa rumah, bulanan sekolah anak dan membayar utang karena kemarin sakit -misalnya.Sebuah bisikan pun muncul, “Andai gajimu 10 juta sebulan, tentu kau bisa banyak berinfak, membantu kegiatan keislaman, menyekolahkan anak yatim, bahkan memberangkatkan haji ayah dan ibu. Karena itu, bekerjalah lebih keras!”

Bersit hati ini, tak sedikitpun mengisyaratkan keburukan. Tidak mungkin berasal dari setan. Benarkah? Belum tentu. Ada kemungkinan ini tipuan setan. Setelah bekerja keras, siang dan malam dan gaji benar-benar menjadi 10 juta, apakah yang akan terjadi adalah meningkatnya jumlah infak menjadi 6 digit, pos pengeluaran bertambah item: bulanan anak yatim, cicilan haji, bantuan bencana, infak pengajian danbuku-buku Islam?

Belum tentu juga. Jika ini jebakan, pasti ada lubang pada ujungnya. Setan akan membuat nilai 10 juta itu menjadi kecil dengan pertanyaan berikut: “Gaji segitu masak iya masih naik motor keluaran tahun 90, bukan mobil? belum bisa nyicil rumah dan masih kontrak? masih makan di warung pinggir jalan dan belum merasakan restoran? Tidak mengajak keluarga refreshing keluar kota setiap bulan? Kalung dileher istri hanya 3 gram dan tangannya dibiarkan rusak gara-gara cucian?Kapan punya pembantu?anak sekolah di sekolah kelas internasional?HP dan laptop masih jadul? Minyak wangi masih bibit murahan?Dan sebagainya.

Setelah gaji menjadi 10 juta, setan akan berusaha untuk memastikan bahwa seseorang akan menjawab, “ Tidak. Wajarkan kalau semua itu harus berganti?” Dandengan jawaban itu, angka 10 juta akan menjadi kecil, bahkan mungkin kurang. Bagaimana dengan draft anggaran infak? Angan akan kembali dibisikkan, andai saja penghasilanmu bisa menambahkan satu saja angka nol dibelakang 10 juta. Begitu seterusnya.

Pada awalnya, bisikan itu memang mengisyaratkan kebaikan. Tapi ketidakjelian hati bisa membuat kita terjebak. Sebenarnya saat itu kita tengah digiring untuk mengejar harta. Dengan motivasi dan tujuan awal yang baik, seakan-akan menjadi jaminan bahwa kita tidak akan mabuk dengan harta. Padahal, Imam Yahya bin Muadz ar Rozi menasehatkan:

“Dunia itu arak setan. Siapa yang dibuat mabuk olehnya, dia tidak akan sadar kecuali setelah berada diantara laskar orang-orang yang sudah mati, membawa sesal menyatu bersama golongan orang yang menyesal.”(Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, ket. Hadits no. 40)

Dan harta adalah salah satu elemen utama dari “dunia” selain wanita dan tahta. Dengannya setan akan menjanjikan dan membuat manusia berjanji, memberi angan dan membuat manusia berangan. Sedang janji dan angan setan hanyalah tipuan. Dan sudah banyak yang mabuk, dan benar-benar tak bisa sadar kecuali setelah pindah rumah ke kuburan.

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An Nisa’:120)

Dengan semua ini selayaknya kita waspada. Secerdik inilah jebakan-jebakan setan akan menjerat kita. Seakan-akan kita tengah melakukan atau meraih sesuatu yang baik, tapi hakikatnya kita tengah diseret secara perlahan menuju kehancuran. Bukan berarti kita tidak boleh kaya, hanya saja kita harus waspada karena harta adalah alat utama bagi setan untuk menyesatkan manusia. Artinya saat kita bercita-cita menjadi kaya, atau bahkan sudah mendapatkannya, kita harus sadar bahwa gelas-gelas penuh arak itu tengah mengelilingi kita. Jangan sampai mabuk, karena orang yang mabuk akan mengira semua yang dilakukannya ketika mabuk sebagai sesuatu yang wajar. A’adzanallah waiyakum,Wallahua’lam bish shawab









SHALIH SENDIRI TIDAK BANYAK BERARTI


Ada kaidah yang disebutkan oleh bapak sosiologi, Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya, “Muqaddimah Ibnu Khaldun”, bahwa “al-Insanu Madaniyyun bith Thab’iy”. Manusia adalah makhluk sosial. Ya, ini tidak bisa dipungkiri karena memang manusia tidak bisa hidup sendiri. Harus ada tolong menolong antar sesama, terlebih dalam kebaikan dan takwa.

Allah berfirman yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah : 2).

Karena itu pula, Allah menggunakan subjek plural dalam ayat al-Fatihah berikut, “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in….hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”, bukan dengan, “Hanya kepada-Mu aku beribadah hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan ?” Menurut sebagian ulama, ibadah atau penghambaan diri seorang muslim, akan sempurna bila dilakukan secara kolektif. Maksudnya, bukan berarti setiap jenis ibadah harus dilakukan bersama-sama, tapi unsur ‘kebersamaan’ wajib ada dalam implementasi ibadah secara umum.

Dari sinilah, ada perintah shalat berjama’ah, baik harian, mingguan (Jum’atan) maupun tahunan (Ied). Haji juga dilakukan secara berjama’ah, bahkan berjama’ah-jama’ah dari berbagai negara di dunia. Begitu juga shalat tarawih, pelaksanaan puasa ramadhan, perayaan hari raya iedul adha, dan masih banyak jenis ibadah lain, termasuk hidup berumah tangga. Ada banyak ibadah yang belum sempurna bila dikerjakan seorang yang masih single. Sehingga ada salah seorang salaf yang mengatakan, “Ibadah seorang pemuda itu tidak sempurna hingga ia menikah.”

Pangkal keshalihan

Untuk merealisasikan ibadah kolektif ini harus ada muslihun, orang-orang yang mengadakan perbaikan. Mushlih lebih baik daripada shalih. Karena shalih hanya untuk diri sendiri sementara muslih, ia shalih li nafsihi wa li ghairihi. Ia tidak hanya mementingkan keshalehan pribadi semata tapi juga keshalihan orang-orang di sekitarnya. Tapi orang seperti ini; sangat langka.

Dalam tafsirnya, Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb merumuskan al-Mushlihun dengan, “Al-mushlihuna hum al-ladzina ‘indahum qudrah yashuddu biha al-‘adzabu wa al-fasad.” Al-mushlihun adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menolak adzab dan kerusakan. Tak hanya kuat dari sisi nahi mungkar, melainkan juga teguh dalam amar makruf. Ketika seseorang itu menolak kedzaliman dan kerusakan, otomatis ia juga mendatangkan maslahat. Begitu juga sebaliknya, bila ia mendatangkan maslahat, secara otomatis juga ia menolak adanya mafsadat. Sehingga keduanya saling melengkapi.

Peran muslihun menjadi semakin nyata bila kita membaca firman Allah dalam kitab-Nya,

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 116-117).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ummat zaman dahulu musnah karena, “tidak didapati orang-orang baik yang mencegah kejelekan, kemungkaran dan kerusakan di bumi yang ada di tengah-tengah mereka. Mereka sebetulnya ada tapi menjadi minoritas. Namun, hanya mereka yang masih selamat ketika datang siksa dan adzab-Nya yang datang dengan tiba-tiba.” Oleh karenanya Allah memerintahkan umat yang mulia ini agar menghasilkan orang-orang yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

Allah berfirman yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran : 104).

Sebetulnya, kehancuran suatu peradaban bangsa merupakan puncak dari kedzaliman bangsa tersebut sendiri. Baik dzalim kepada hak Allah, sesama manusia maupun diri sendiri. Allah maha adil, siksa dan adzab-Nya tidak akan mendatangi suatu negeri sekalipun sehingga mereka berbuat zhalim. Sebagaimana tercantum dalam firman-Nya, “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Hud : 101)

Bahkan, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa makna dzalim pengundang siksa adalah kesyirikan atau kekufuran. Jadi maknanya, Allah tidak akan membinasakan suatu negeri sekalipun penduduknya melakukan kesyirikan dan kekufuran, selama mereka berbuat kebaikan dengan memenuhi hak sesama mereka. Maksudnya, Allah tidak akan membinasakan mereka karena kekufuran mereka semata sehingga kekufuran itu berkolaborasi dengan kerusakan (kemaksiatan), sebagaimana Kaum Syu’aib yang dibinasakan lantaran berbuat curang dalam timbangan, Kaum Luth yang dihancurkan karena perbuatan liwath. Ini menunjukkan bahwa kemaksiatan itu lebih dekat mendatangkan adzab di dunia daripada kesyirikan, sekalipun siksa karena perbuatan syirik ketika di akherat kelak lebih sulit.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 9/114).

Kala kebaikan tak berarti

Disebutkan dalam sebuah hadits Anas bin Malik bahwa ada tiga shahabat yang mendatangi rumah istri Nabi untuk menanyakan ibadah beliau. Ketika diberitahukan, mereka takjub dan mengungkit-ungkitnya. Lalu mereka berkata, “Di mana posisi kita dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam? padahal Allah telah mengampuni dosanya, yang terdahulu dan terkemudian.”

Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan shalat malam selama-lamanya.”

Yang satu lagi berkata, “Kalau aku, aku akan berpuasa terus dan tidak berbuka.”

Seorang lagi berkata, “Adapun aku, aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.”

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam datang dan bersabda, “Apakah kalian yang mengatakan ini, ini dan itu? Demi Allah, aku adalah orang paling tinggi takut dan takwanya dibanding kalian. Tetapi, aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur, dan aku pun juga menikah, maka siapa yang membenci sunahku, ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ingin mengingatkan bahwa tidak ada rahbaniyyah (hidup seperti rahib) dalam Islam. Ada banyak hak yang harus ditunaikan dan kewajiban yang musti dikerjakan. Baik terhadap anggota keluarganya, maupun masyarakat sekitarnya. Sebenarnya orang yang hanya memikirkan keshalehan pribadi telah memanipulasi keshalihan itu sendiri. Ia tidak memahami hakekat keshalihan dan makna ibadah dengan sebenar-benarnya. Karena pribadi mukmin, sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Quthb, adalah pribadi yang hatinya terluka ketika melihat kemaksiatan orang-orang di sekitarnya. Hatinya tercabik melihat kebid’ahan yang merajalela, dan hatinya terkoyak tatkala menyaksikan pelbagai kesyirikan yang sudah mendarah daging dalam tubuh umat ini. Sehingga ia melakukan ishlah dengan beramar makruf nahi munkar untuk menyelamatkan saudara-saudaranya.

Kepekaan seperti inilah yang dicontohkan oleh Uswah hasanah kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Tentu kita masih ingat peristiwa malam beliau di-isra mi’rajkan. Pada waktu itu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam melihat surga, neraka dan juga melihat Allah yang merupakan nikmat terindah dan teragung. Sampai-sampai Abdul Quddus, seorang sufi, berkata,

“Sekiranya ku menjadi Muhammad,

Takkan sudi ku beranjak ke bumi

Setelah sampai di dekat ’Arsyi.”

Tapi apa yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam setelah mendapat anugerah terindah melihat wajah Allah ketika itu? Beliau memilih kembali ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia, sekalipun itu membuat badan letih, lelah dan membuat peluh keringat bercucuran. Bahkan kadang nyawa menjadi taruhan demi keselamatan ummat. Jika Nabi tak mementingkan keshalihannya sendiri, masihkah kita hanya ingin shalih sendiri?








SIRKUIT DEKADENSI MORAL



Prinsip dasar sekularisme adalah memisahkan kehidupan dari agama. Kamus Dairatul-Ma’arif al-Brithaniyah mendefinisikan sekularisme sebagai gerakan kemasyarakatan yang bertujuan memalingkan perhatian manusia dari akherat dan mengarahkannya kepada dunia ansich. [Mauqif Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah minal-’Ilmaniyah ‘Awaiq al-Inthalaqah al-Kubra, Muhammad ‘Abdul Hadi al-Mishriy].

Pengaruh Sekularisme – Liberal Terhadap Institusi Keluarga

Sebagian dari buah jadam sekularisme itu hari ini telah kita rasakan. Tersebarnya kerusakan moral tak hanya di kalangan remaja, bahkan orang tua yang telah berkeluarga. Yang lebih mengkhawatirkan, dekadensi itu telah disemai benihnya sejak anak-anak tingkat pendidikan dasar. Kerusakan moral di kalangan remaja ditandai dengan banyaknya remaja yang telah melakukan hubungan seks pra nikah. Berdasarkan sebuah penelitian, angka itu mencapai 51%. Tetapi peneliti yang lain mengatakan bahwa angka 51% itu merupakan angka yang telah di-reduksi, sekedar menggambarkan bahwa jumlah prosentase kerusakan itu telah melampaui setengah. Menurut mereka angka sesungguhnya jauh lebih besar.

Kerusakan juga terjadi di kalangan kelompok dewasa yang telah berada dalam ikatan rumah tangga. Ini menandakan kehancuran institusi rumah tangga. Rumah tangga sebagai unsur terkecil pembentuk masyarakat telah digerogoti eksistensinya oleh serangan sistematis paham sekularisme-liberal. Kerusakan institusi “usroh-muslimah” ini membawa dampak berantai; keretakan hubungan suami-isteri, terburainya ikatan kekeluargaan, terabaikannya hak-hak anak baik kasih sayang maupun pendidikan.

Efeknya, anak-anak merasa tidak nyaman di rumah. Mereka mencari komunitas senasib di luar rumah, atau mencari kesenangan sendiri tanpa bimbingan dan tanpa kontrol. Dari sini kerusakan lebih lanjut bermula. Anak-anak ini tanpa bimbingan dan pendampingan dari orang tua mengakses informasi sendiri, tanpa dapat memilah yang bermanfaat dari yang membahayakan, tidak dapat membedakan yang baik dari yang buruk, belum mengerti mana yang merupakan kenyataan dan mana yang bukan.

Ketika mereka tersesat di situs-situs porno, dengan menemukannya sendiri atau mendapat informasi dari teman atau dengan cara yang lain, menontonnya sendiri atau bersama dengan teman-temannya, terus mengulanginya sehingga mengalami kecanduan. Kerusakan lebih dahsyat dimulai. Kecanduan anak-anak di bawah umur kepada pornografi jauh lebih merusak dibandingkan kecanduan kepada rokok, minuman keras dan narkoba.

Peran Media Dalam Penyebaran Dekadensi Moral

Media massa menjadikan pornografi sebagai tambang uang; koran-koran, majalah, televisi, internet, dll. Para artis merupakan komoditas yang terus-menerus menjadi dagangan media untuk menangguk untung, tanpa rasa tanggung jawab atas akibat dari apa yang mereka sebarkan. Industri penerbitan, penyiaran dengan industri perfilman dan hiburan pada umumnya telah menjadi dua sejoli yang secara mutualistik menjadi agen dekadensi moral.

Kejahatan media sekuler-liberal tidak berhenti di titik itu. Tersebarnya informasi sebagai akibat kerja media melahirkan penyimpangan moral, tindak kriminal, pelanggaran susila, perselingkuhan, affair, dll. Selanjutnya, penyimpangan dan kerusakan tersebut justru menjadi komoditas lanjutan yang dijual media. Halaman media tidak lagi mampu meng-coverseluruh berita meskipun mereka telah meningkatkan jumlah halaman, menyediakan rubrik baru, jika perlu meluncurkan media baru dengan spesifikasi makin khusus. Dengan demikian media sekuler-liberal telah mengamankan sendiri pasarnya, bahkan produk komoditas yang hendak mereka jual telah pula secure, dijamin selalu ada berita sensasional.

Media cetak maupun layar kaca, siang malam berlomba adu kreasi menciptakan program-program baru yang mengekploitasi pornografi, menayangkan para artis dengan segala penampilan keseronokannya maupun bicaranya yang semakin berani, sekali lagi dengan mengatasnamakan kebebasan.

Keprihatinan para tokoh terhadap dekadensi moral dianggap oleh kaum sekuler-liberal sebagai sikap konservatif, kolot. Mereka tidak henti-hentinya dan dengan berbagai cara melakukan delegitimasi. Upaya untuk melindungi masa depan generasi muda dari kerusakan moral dengan usulan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi mereka lawan dengan berbagai manuver, atas nama kebebasan dan pelanggaran hak asasi, tidak memberi ruang hidup kebudayaan dan kreasi seni dll.

Anehnya, media selalu mencela, menyalahkan dan mentertawakan para pelaku tindak kriminal maupun pelanggaran moral. Padahal tindakan itu sejatinya kontradiktif-paradoks dengan tindakannya sendiri. Bukankah mayoritas tindak kriminal dan pelanggaran moral berhulu dari mengkonsumsi asupan informasi media massa yang begitu bebas, gamblang dan detail baik dengan tayangan gambar maupun narasi cerita suatu perbuatan kriminal dan tindakan asusila?

Kontribusi Media Massa dalam Tindak Pelanggaran

Gambaran kejahatan kriminal, pemerkosaan, pembunuhan , atau pelanggaran moral yang lain yang dipaparkan detail oleh media massa disimpan dalam file di otak para pengkonsumsi berita. Selipan gambar-gambar merangsang di rubrik olahraga maupun life style melekat di benak para pengkonsumsinya. Gambar-gambar, cerita narasi dan reportasi kejadian tersebut terus terakumulasi menjadi keinginan kuat untuk menyalurkan hasrat. Bagi mereka yang mempunyai pasangan sah persoalannya dapat diatasi secara aman dan halal.

Yang menjadi masalah, mereka yang tidak mempunyai tempat untuk menyalurkan secara benar, sementara mereka juga tidak terdidik dengan benteng agama dan moral yang kuat, karena paham sekuler-liberal telah merobohkan bangunan tersebut, maka kemungkinan penyaluran mereka hanya ada di dua cara yang haram ; melacur atau memperkosa. Bagi yang mempunyai uang dia akan melacur, yang tidak memiliki uang akan mencari dengan cara salah, atau alternatif yang sama-sama buruk memperkosa.

Sedihnya, biasanya yang menjadi korban tindak kriminal seperti tersebut di atas, tidak pilih-pilih. Artinya, kadang orang baik-baik yang tidak menjadi bagian dari rantai kerusakan tersebut tetapi berada dalam posisi lemah menjadi korban. Jika sudah begitu, media massa akan menjadi yang terdepan menjelek-jelekkan pelaku kejahatan atau pelanggaran moral tersebut. Seolah-olah melebihi penyidik, bahkan jaksa atau bertindak seperti hakim. Media lupa bahwa pelaku kejahatan melakukan tindakannya karena asupan informasi yang secara akumulatif mereka konsumsi. Dan itu produk dari media massa. Jadi, sejatinya, sekalipun sering tampil bak pahlawan, media massa termasuk mata rantai kerusakan dan dekadensi moral itu sendiri.

Hendaknya seorang muslim yang bekerja di dunia media waspada agar diri dan institusinya tidak menjadi bagian mata rantai kerusakan ini.






MAKHLUK JADI JADIAN


Sekitar 2 bulan yang lalu, Warga Desa Pamijahan, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, digegerkan dengan penemuan makhluk mirip jenglot. Warga menyebutnya dengan nama Buncul. Makhluk ini bertangan dua tetapi tidak berkaki. Panjangnya sekitar 30 cm. Kulitnya bersisik dan berwarna hitam dengan rambut panjang. Tubuhnya seperti buntung dengan ekor pendek tanpa kaki. Gigi Buncul tampak kecil-kecil dan tajam. Makhluk ini dipercaya sebagai makhluk jadi-jadian yang mempunyai kekuatan spiritual. Tapi, belakangan tersingkap bahwa Buncul tak lebih hanyalah patung yang dibuat oleh si paranormal yang mengklaim menemukan makhluk itu.

Rumor seputar makhluk jadi-jadian seperti ini sering sekali menyeruak di media, atau menyebar dari mulut ke mulut. Sesekali diistilahkan dengan siluman, atau berita tentang adanya penampakan, bahkan konon ada manusia durhaka yang berubah bentuk menjadi binatang. Taruhlah kita asumsikan bahwa semua informasi itu hanya rumor yang dusta, pun perlu didudukkan, adakah isyarat atau bahkan dalil sharih yang menunjukkan adanya kemungkinan makhluk jadi-jadian itu.

Nash tidak memungkiri adanya kemungkinan ‘penampakan’. Meskipun tentang hakikat dari penampakan itu sendiri ada beberapa pandangan dikalangan ulama. Apakah yang muncul itu adalah jin yang berubah wujud, ataukah itu sihir yang dilakukan oleh jin sehingga manusia melihat sesuatu yang hakikatnya tidak ada. Banyak dalil shahih menyebutkan, beberapa jin yang terlihat oleh sahabat, meski bukan wujud aslinya. Seperti setan yang mencuri harta yang ditunggu oleh Abu Hurairah, juga jin yang berwujud ular yang terbunuh bersama sahabat Anshar tatkala keduanya bertarung, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menginformasikan bahwa itu adalah jin.

Adapun apa yang disebut orang dengan hantu, ataupun penampakan, menurut Umar bin Khaththab itu bukanlah hakikat jin, tetapi sihir dari golongan jin, sehingga seseorang melihat sesuatu yang hakikatnya tidak ada. Ini sinkron dengan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, la ghula, walakin as-sa’aali, tidak ada hantu, yang ada adalah as-sa’ali. Sedangkan makna as-Sa’aali adalah sihir yang dilakukan oleh jin, sehingga muncul penyerupaan dan khayalan (Aunul Ma’bud, Syarh Abu Dawud)

Lantas bagaimana dengan fenomena orang durhaka yang konon berubah bentuk seperti hewan, atau hewan yang memiliki bentuk aneh yang mirip manusia? Sebagian hanya rumor, sebagian lagi bisa jadi murni ’kesalahan’ genetika. Namun tidak menutup kemungkinan lain, bahwa ada kemungkinan terjadinya perubahan wujud manusia karena kedurhakaannya. Fenomena seperti ini dikabarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pertanda dekatnya Hari Kiamat. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

”Akan terjadi di akhir zaman umat ini, khasaf (tanah amblas), maskh, dan qadzaf (benda langit yang jatuh ke bumi). ”(HR Tirmidzi, Syaikh al-Albani menyatakan shahih)

Ini seperti sebagian Bani Israel yang dijadikan oleh Allah sebagai kera dan babi. Wallahu a’lam





BINGKAI TAKWA


Sesungguhnya, prinsip dasar dari terhubungnya hati hamba dengan selain Allah, adalah membahayakan. Apalagi jika sampai kepada ketergantungan. Tapi kita makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, mencukupi semuanya tanpa bantuan orang lain, sekalipun kita memiliki Rabb yang Maha Mencukupi. Kecuali Dia berkehendak lain. Dan karenanya, mau tidak mau, kita akan tetap terhubung juga dengan selain Allah.

Bingkainya bernama ketakwaan. Hingga, hubungan hamba dengan selain Allah pun harus beredar di orbit ini. Sebuah standar abadi yang tak lekang waktu tentang kemuliaan dan nilai sebuah pencapaian yang hakiki. Bukan hubungan atas nama kepentingan sesaat, yang menjerat dan menyesat di jalan gelap. Yang lahir dari kebodohan dan alasan palsu, tanpa pijakan akal sehat, selain hawa nafsu yang dipertuhankan. Juga sintesa pikiran para penghamba benda dan dunia, yang tidak mampu menjangkau rahasia di balik materi.

Hubungan itu, jika ingin menyelamatkan, harus berdiri di atas dua syarat utamanya; sesuai kebutuhan dan sarana bantu untuk mentaati Allah. Yang jika keduanya tidak terpenuhi, pintu bahaya sudah terbuka di depan mata, meski kebanyakan kita tidak menyadarinya.

Di sanalah syariat berdiri. Dengan rambu-rambu seterang benderang siang, memagari batas halal dan haram, yang boleh dan yang terlarang. Lengkap dengan dosis ideal dan aturan main yang menjelaskan kadar cukup atas eksplorasi kenikmatan halal yang tidak melalaikan makna perjalanan pulang ke haribaan-Nya. Paduan serasi antara menikmati dunia dan menyiapkan bekal akhirat.

Maka, terhubung dengan selain Allah berpotensi memudarkan standar kebaikan, merusakkan iradah akan ketakwaan, membelokkan arah perjalanan, serta membingungkan pemahaman arti kehidupan. Padahal, seharusnya ia adalah alat bantu meluaskan area kebaikan. Bukan malah sebaliknya; melalaikan dan membuat sibuk.

Dari sini, perubahan fase demi fase dalam kehidupan seorang hamba, haruslah paralel dengan takwa. Setiap pilihan perubahan fase itu, apapun risiko yang nanti mengiringinya, hendaknya memastikan substansi takwa yang terjamin penjagaan dan pertumbuhannya. Sebuah keniscayaan atas pilihan sadar dan bertanggung jawab, yang jauh dari alpa dan ikut-ikutan arus.

Jika tidak, maka pencapaian materi akan mensubstitusi nilai. Menjanjikan gebyar pesona syahwat yang memang mudah dicecap. Meliarkan keinginan yang memang tidak akan pernah terpuaskan, juga kenikmatan bertubi-tubi menelusuri seluruh pori-pori. Hingga menumpulkan akal dan nurani.Akhirnya, dalam lelah tak terperi, dan sesal yang mengiringi, manusia menghiba. Tapi waktu tak mungkin lagi kembali. Ia pergi membawa pengikutnya yang merugi.

Akankah kita merelakan diri berjalan di luar bingkai takwa, hanya karena ingin mencecap dunia yang tidak membantu kita dalam taat kepada-Nya? Padahal, itupun hanya sebentar saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar