Jumat, 20 September 2013

JENDELA KELUARGA


Muliakan Istrimu agar Engkau Dimuliakan!


Saling menjaga dan memuliakan pasangan, adalah kuunci utama keutuhan rumah-tangga
null
Suami istri harus berlomba memperbaiki akhlak dan selalu berkata baik terhadap pasangan
PERCERAIAN di negeri ini kecenderungannya masih meningkat. Data perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) tahun 2012 mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Data Badilag,  tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya. (Republika online, Selasa 24/1/2012).
Data tersebut hanya sampel sederhana dari data seluruh negeri. Tetapi, hal itu sudah cukup untuk menjadi warning, pelajaran, dan pengalaman bagi keluarga Indonesia untuk membina keutuhan rumah tangga. Sebab hakikat dasar perceraian bukan semata-mata ekonomi. Terbukti, kalangan menengah ke atas juga tidak ada yang selamat dari badai perceraian ini.
Apalagi, di kalangan selebriti. Perceraian seolah menjadi bagian dari gaya hidup.
Dalam beberapa kasus, faktor utama yang melatarbelakangi kasus perceraian selain ekonomi adalah  rendahnya komitmen untuk membina rumah tangga sebagaimana diajarkan Baginda Nabi.
Padahal, perceraian adalah perkara halal namun sangat dibenci oleh-Nya.
Sempurnakan Akhlak
Di tahun-tahun belakangan ini, kasus perceraian pasangan di Indonesia  ternyata lebih banyak diajukan atas inisiatif sang istri dibandingkan oleh suami. Hal ini terlihat dari data 346.446 pasangan yang bercerai di sepanjang 2012 yang diambil dari pengadilan agama di seluruh Indonesia.
"Tahun 2012 pengadilan agama termasuk mahkamah syariah menangani perkara 476.961 kasus. Perkara ini naik 11,52 persen dari tahun sebelumnya yang menerima 363.041 perkara," demikian lansir Mahkamah Agung (MA) dalam siaran persnya. (Detiknews.com, Kamis, 14/3/2013).
Banyaknya angka perceraian akibat gugatan dari pihak istri sungguh mengherankan.  Dari bentuk sifat wanita yang lembut,  sangat kecil kemungkinan istri menggugat suami jika istri merasakan kelembutan dan keindahan akhlak suami.
Kecil kemungkinan sang istri menggungat sang suami, manakala suaminya orang tidak bermasalah. Oleh karena itu, banyak disebutkan dalam nash, tugas utama suami adalah menyempurnakan akhlaknya, terkhusus terhadap istri dan keluarga. Jika suami tidak bermasalah, kecil kemungkinan istri dan anak-anak mereka bermasalah.
Rasulullah pernah bersabda, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi).
Dengan demikian maka pencegahan terbaik dari terjadinya perceraian adalah dengan menyempurnakan akhlak. Suami dan istri hendaknya berlomba-lomba untuk kesempurnaan akhlak, sehingga akan tercipta suasa cinta penuh kebahagiaan. Misalnya, suami dan istri berlomba untuk selalu berkata benar, peduli dan peka terhadap pasangan.
Dengan cara seperti itu maka tidak akan ada ruang bagi egoisme, apalagi buruk sangka yang merupakan akar dari segala keburukan. Sebaliknya akan tercipta budaya saling jaga dan saling bela antara suami dan istri, sehingga benih cinta yang tertanam kuat pada saat ijab qabul akan semakin menghujam ke dalam hati seiring dengan perjalanan waktu hingga tiba saat perpisahan abadi yakni kematian.
Hal itulah yang terjadi pada rumah tangga Nabi bersama Siri Khadijah. Perbedaan dalam umur dan status tak membuat keduanya gagal membina keharmonisan rumah tangga.
Sebaliknya, justru kian harmonis, mesra dan membahagiakan. Rasul berkata, Khadijah adalah wanita terbaik. Ia mempercayai Nabi ketika orang mendustakanya. Ia membela Nabi ketika orang mencacinya.
Khadijah juga sangat mulia akhlaknya. Terhadap Nabi ia selalu hadir sebagai obat. Ia selalu mampu hadir menenangkan kegelisahan suami, bahkan meneuhkan keyakinan dan langkah-langkah suami. Khadijah selalu menyebut kebaikan-kebaikan suaminya kala bertatap muka. Maka, wajar jika Nabi tak pernah bisa lupa dengan Khadijah meskipun telah ada Aisyah. Mengapa, lebih karena akhlaknya.
Jika kesempurnaan akhlak keluarga Muslim negeri mewujud sedemikian rupa, tentu perceraian tidak akan terjadi seperti jamur di musim hujan. Ali adalah suami yang tidak memiliki kekayaan materi, malah sangat kekurangan. Tetapi Fatimah tak pernah menggugat suaminya apalagi untuk bercerai.
Demikian pula dengan Salman Al-Farisi. Beliau juga orang yang hidup sangat sederhana. Tetapi istrinya tidak pernah menggugat cerai. Mengapa, karena keduanya sebagai suami senantiasa menyempurnakan akhlaknya. Jadi, jelas tangkal segala keburujan dengan akhlak mulia. "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak," demikian ungkap Nabi.
Berkata Baik
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, "Berkata baik atau diam." Hadits ini wajib diterapkan dalam kehidupan rumah tangga sebagai media awal selalu mampu berkata baik dalam pergaulan masyarakat.
Dalam hal memanggil nama saja Rasulullah selalu memanggil dengan sebutan Ya humairah (wahai yang kemerah-merahan pipinya, red). Berbeda dengan kebanyakan suami yang memanggil istrinya dengan sekedar menyebut nama pendeknya. Tetapi setidaknya, sebagai suami hendaknya kita tidak memanggil istri sendiri seperti teman-teman memanggilnya.
Dalam konteks lebih umum, suami-istri hendaknya membiasakan diri berkata baik. Misalnya selalu mengucapkan perkataan yang membahagiakan pasangan. Dan, jika memang benar-benar tidak suka, sebaiknya diam dan bersegera berkata baik pada hal lainnya.
Lebih dari itu suami istri wajib berkata baik kepada orang lain perihal pasangan sendiri. Tidak berkata buruk tentang pasangan kita kepada siapa pun. Karena selain akan merugikan pasangan sebenarnya hal semacam itu sama sekali tidak memberi manfaat apa pun. Kecuali kita bercerita untuk kepentingan membina keluarga menjadi lebih harmonis kepada orang yang ahli dalam soal keluarga.
Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seseorang, "Apa hak istri salah seorang di antara kita?" Beliau menjawab, 'Wa la Tuqobbih (janganlah engkau menjelek-jelekkannya) (HR. Ahmad).
Allah berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imran: 59)
Artinya seorang istri tidak boleh dihina, dicaci, atau dikatakan kepadanya perkataan yang buruk. Termasuk dilarang berkata, 'Semoga Allah memburukkanmu'. Istri haruslah dimuliakan agar ia juga memuliakan kita.
Dengan demikian maka tidak pantas suami istri yang sudah saling percaya menerapkan perilaku buruk dalam berumah tangga. Sebaliknya, suami istri harus berlomba memperbaiki akhlak dan selalu berkata baik terhadap pasangan. Jika itu dapat direalisasikan, Insya Allah pertengkaran apalagi perceraian akan jauh dari tali pernikahan yang lama dibina dan didamba membahagiakan





Tumbuhkan Sifat Penyayang dan Kehangatan Cinta ala Rasulullah



Jika suami memegang telapak tangan istrinya, maka dosa keduanya berjatuh dari sela-sela jari mereka berdua
null
www.dailymail.co.uk
Betapa indah Islam mengajarkan kemesraan suami istri demi keberkahan dan kebahagiaan rumah tangga
USIA pernikahan boleh bertambah tua, tapi kehangatan cinta tak boleh pudar selamanya. Kehangatan cinta harus senantiasa terpelihara demi keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga hingga masuk surga.
Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, kadangkala pasangan rumah tangga kurang peka terhadap persoalan cinta. Padahal, Rasulullah adalah sosok suami yang pandai memelihara kehangatan cinta.
Suami mungkin memang bergerak dalam wilayah yang cukup serius, menyita pikiran, tenaga, waktu dan mungkin juga menguras emosi.
Tetapi, bagaimana pun, kehangatan cinta terhadap istri di rumah tidak boleh terganggu oleh masalah apa pun. Suami harus bisa menjadikan suasana cinta dalam rumah tangga tetap seperti hari pertama pernikahan, yang penuh gelora dan asa.
Rasulullah adalah sosok yang sangat mengerti masalah ini. Beliau tidak segan-segan meminta sang istri untuk menyelimuti dirinya kala dalam kegelisahan dan keguncangan jiwa. Bahkan, beliau rela meluangkan waktu untuk bermain dengan istrinya. Aisyah pernah diajak Nabi lomba lari dan melihat-lihat pertunjukan permainan pedang.
Pun demikian dengan pihak istri. ‘Agresivitas  istri dalam memelihara kehangatan cinta sungguh sangat diperlukan sebagai pemicu sekaligus pemacu rasa cinta dari sang suami, sehingga tercipta ketentraman dalam berumah tangga. Dalam konteks wanita telah menjadi istri, agresivitas dalam urusan cinta sangat dianjurkan.
Kadangkala, istri juga tidak terkira lelahnya mengurus rumah tangga, belum lagi mereka yang ikut membantu mencarimaisyah untuk keluarga. Rasa lelah kadang kala membuat diri abai dari melayani suami secara semestinya. Meskipun begitu, tetaplah suatu kewajiban pihak istri melayani sang suami dengan penuh cinta dan kasih sayang, sehingga akan tercipta sinergisitas cinta dalam rumah tangga.
Hal tersebut mesti diupayakan oleh kedua belah pihak. Karena hakikat diciptakannya lelaki dan wanita yang kemudian disatukan dalam bingkai pernikahan adalah untuk terciptanya rasa tentram antara suami dan istri, sehingga tugas kepemimpinan dan kehambaan dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Rum [30]: 21).
Sebagian mufassir mengatakan bahwa disebutkan lafadz litaskunu ilaiha bukan ma’aha menunjukkan bahwa seorang suami tidak tenang kecuali kepada istrinya. Begitu pula sebaliknya, istri pun tidak tenang, tidak tentram, kecuali bersama suaminya. Berarti, ada interaksi saling membutuhkan.
Artinya harus ada rasa saling memahami, peduli dan melindungi. Suami benar-benar menjaga dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Sementara istri tidak menuntut diluar batas kemampuan sang suami. Sebab perilaku tersebut, selain akan mengganggu kehangatan cinta juga akan berdampak serius di akhirat kelak.
Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah. Karena diperlihatkan kepadaku bahwa kalangan wanita itulah penduduk neraka yang paling banyak.” Mereka (para wanita itu) berkata, “Dengan sebab apakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” (HR. Bukhari).
Para Suami, Bersabarlah!
Sementara itu, terhadap pihak suami, Allah memerintahkan untuk bersabar, manakala menjumpai hal-hal atau sifat dari istri yang kurang mengenakkan hati. Hal tersebut sudah menjadi bagian dari tabiat sebagian besar wanita. Jadi sabar dan berlapang dada solusinya.
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً
“..dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Nisa: 19).
Dengan membangun sikap seperti itu, Insya Allah kehangatan cinta akan selalu terjaga dan kian membara, sehingga tidak ada peluang setan untuk memalingkan cinta pada apa yang sebenarnya hanya berupa fatamorgana belaka. Sungguh, jika nikmat pernikahan bisa dipahami secara benar segala macam keutamannya, maka sungguh tidak akan ada yang namanya perselingkuhan.
Bersama Bangun Kemesraan
Dalam logika materialisme, sesuatu yang telah lama dimiliki pasti tidak memberikan daya tarik dan daya tahan secara maksimal. Umumnya hati semakin biasa dan pada akhirnya akan jemu. Tetapi, dalam urusan cinta, Islam tidak mengenal logika dangkal semacam itu.
Semakin panjang usia pernikahan pasangan, maka semakin besar dan indah perjalanan cintanya. Hal itulah yang dialami oleh Rasulullah bersama Khadijah. Bagaimana rasa cintanya tak bisa dipadamkan hanya karena ajal yang memisahkannya.
Rasulullah benar-benar tidak bisa melupakan kemesraan, kebaikan, kemuliaan bahkan kesantunan sang istri kepadanya. Sampai-sampai, para istri Nabi cemburu dibuatnya.
Begitulah semestinya setiap pasangan Muslim menjalani kehidupan rumah tangganya. Fisik boleh tak sekencang usia muda, wajah tak secantik awal berjumpa, tetapi hati semakin bening, jernih dan indah seiring bertambanhya usia.
Apalagi, setiap kemesraan dalam Islam mendatangkan keuntungan dan penghapusan dosa. Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak bermesraan dengan pasangan.
Rasulullah bersabda, “Dari Abu Sa'id Al Khudry ra, "Sesungguhnya jika seorang lelaki memandang istrinya dan istri memandangnya, maka Allah memandang keduanya dengan pandangan rahmat. Jika dia memegang telapak tangan istrinya, maka dosa keduanya berjatuh dari sela-sela jari mereka berdua.”
Duhai, betapa indahnya ajaran Islam mengatur kehidupan rumah tangga. Lantas, masihkah ada rasa tidak tertarik untuk bersungguh-sungguh menghapus dosa dengan amalan yang sungguh menenangkan jiwa dan raga tersebut? Bayangkan, semakin mesra semakin besar pahala.
Sayang dan Taatlah pada Suami
Kemesraan pasangan akan semakin baik manakala pihak istri memiliki keimanan dan kecerdasan dalam menjaga kehangatan cinta bersama suami, salah satunya adalah dengan mentaati suaminya.
Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah bersabda, “Apabila seorang wanita melakukan sholat yang lima waktu, memlihara kemaluan, dan menaati suami, niscaya diaa akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Ibn Hibban).
Mungkin, taat pada suami dalam kondisi normal tidak begitu sulit. Bagaimana jika ada masalah atau suami sedang marah dengan istri?
Ini jawabannya, Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang wanita penghuni surga?” Kami menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Setiap wanita yang penyayang dan banyak anak, bila dipancing kemarahannya, dicurangi, atau dimarahi oleh suaminya, dia berkata, “Ini tanganku (silakan pukul) dan aku akan mematuhimu, aku tidak akan memejamkan mata hingga kamu rela padaku.” (HR. Thabrani).
Sungguh, betapa indah Islam mengajarkan kemesraan suami istri demi keberkahan dan kebahagiaan rumah tangga. Suami mana yang akan marah pada istri yang Rasulullah sebutkan sebagai wanita penghuni surga itu? Yang ada adalah, suami akan semakin cinta, sayang dan mesra bersama istrinya. Tidakkah kita mendambakan ini semua?







Ajarkan Anak-anak Kita seperti Kisah Lukman al Hakim


Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orangtua, ajarkan ahklak dan tingkah laku yang baik, kemudian ajarkan anak-anak tatanan hidup yang sesuai dengan Islam
null
Ajarkan anak-anak kita lebih dini mengenal tauhid
Oleh: Abdul Hamid M Djamil
KEMEROSOTAN ahklak nampaknya semakin merajarela dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim hari ini, terutama di kalangan remaja. Pada mulanya kemerosotan ahklak ini hanya terjadi pada remaja-remaja yang tidak tersentuh dengan dunia pendidikan. Pada tahun  berikutnya dekandensi ahklak sudah merasuki remaja-remaja terpelajar.
Hal ini bisa dilihat dari pergaulan mereka sehari-hari. Mulai dari pergaulan bebas, mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berpacaran, dan lain sebagainya. Kemorosotan ahklak kaum remaja semakin terlihat dengan banyaknya media-media yang mengekspos berbagai kasus negatif yang mereka lakukan.
Umumnya perbuatan buruk seseorang malu mengulangi. Dalam hal ini, seharusnya para remaja malu dengan kasus-kasus yang terkuak ke mata publik. Sekaligus timbul rasa penyesalan dan bercita-cita untuk tidak mengulangi lagi.
Tapi realitanya dengan benyaknya kasus yang terungkap, semakin semangat para remaja untuk melakukan hal-hal kejahatan. Naas!
Akibatnya sudah banyak dari remaja-remaja terpelajar yang kehilangan jati dirinya sebagai orang terdidik yang seharusnya berahklak terpuji.  Padahal ahklak inilah yang menjadi pembeda antara remaja terpelajar dengan remaja liar (baca: tidak terdidik).
Setelah terungkap kasus-kasus yang mereka lakukan, beragam kutukan pun dilemparkan atas mereka oleh berbagai pihak. Hal ini dilakukan untuk memberi arahan yang bahwa perbuatan itu tidak baik, bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat. Sangat disayangkan pada hari berikutnya mereka kembali melakukan kejahatan yang sama.
Sebagai remaja terpelajar tentu bisa membedakan antara kejahatan dengan kebaikan. Sesudah melakukan kejahatan dan mendapat beragam kutukan, mereka pasti tidak akan melakukannya lagi. Mereka pasti merasa malu ketika kasus-kasus negatif terpampang ke mata publik. Namun kebanyakan remaja sekarang sama sekali tidak sadar.
Kelakuan mereka yang tak kunjung sadar itu terkadang menimbulkan beragam pertanyaan. Apakah remaja-remaja seperti itu hanya hadir sekolah untuk mengisi absensi kehadiran saja? Atau sekedar menampakan diri mereka ke mata masyarakat bahwa mereka pelajar? Ternyata tidak, kebanyakan dari mereka orang serius dalam belajar dan aktif dalam organisasi.
Sebagian orang menganggap kelakuan bejat mereka lahir dari diri mereka sendiri. Padahal jika diteliti ahklak remaja semacam ini terindikasi oleh pendidikan balianya. Karena pendidikan yang diberikan sejak kecil akan berpengaruh besar dalam pembentukan remaja seseorang.
Buruknya ahklak remaja sekarang berefek dari didikan balinya. Karena orangtua sekarang lebih memilih untuk memberikan pendidikan umum kepada anak-anaknya ketimbang pendidikan agama.
Yang kita saksikan, sejak lahir,  ilmu pertama kali yang terima anak-anak di lingkungan kita adalah cara main gadget. HP, laptop, main game, lalu cara berhitung, berbahasa Inggris, dan lain sebagainya. Karenanya jangan heran, saat ini anak-anak balita begitu lihat memainkan alat-alat komunikasi ini.
Apakah ini terlarang? Tentu tidak itu masalahnya.
Cara mendidik para orangtua zaman sekarang ini tidak seperti para orangtua zaman dahulu, di mana ketika anak lahir, sudah jauh hari ia dikenalkan dengan hakekat Tuhannya.
Para orangtua mengenalkan mereka agama dengan harapankelak akan membuatnya tidak salah arah.
Bedanya, kebanyakan orangtua zaman sekarang dalam mendidik anak sudah meniru cara Barat. Sehingga tidak heran jika pada saat remaja, anak-anak mereka berkelakuan seperti remaja-remaja Barat.
Sebagai ummat Islam pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak-anaknya adalah mengenalkan Allah سبحانه و تعالى  (Ilmu Tauhid). Ketika si anak sudah mengenal Allah, para orangtua yang bijak biasanya akan mengajarkan mereka cara-cara beribadat yang benar (Ilmu Fiqih). Selanjutnya diajarkan cara menjaga ibadat tersebut agar tidak sirna (Tasauf).
Jika ketiga pendidikan ini sudah ada pada diri si anak, ketika beranjak masa remaja anak-anak kita akan menjadi pribadi yang kuat. Baik baik budi pekertinya, lembut tutur katanya. Karena ketiga pendidikan di atas sudah merepresentasi bagaimana cara berintereaksi dengan Allah سبحانه و تعالى dan cara berintereaksi dengan manusia.
Pendidikan anak cara al-Quran
Dalam al-Qur’an sudah tertera cara mendidik anak serta ilmu apa pertama kali yang harus ditanamkan oleh orangtua. Banyak kisah-kisah para pendahulu kita yang sukses mendidik anak dengan metode Alquran. Sebut saja Lukmanul Hakim. Lalu pelajaran apa saja yang beliau berikan kepada anaknya?
Pertama, persoalan aqidah. Sebagaimana firman Allah," Wahai anak ku jangan sekali-kali engkau sekutukan Allah" (QS: Al-Lukman:13).
Kedua, rasa hormat kepada orangtua. Sebagai mana firman Allah;
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
" Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapakya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada ku dan ke dua ibu bapak mu, hanya kepada ku lah kembalimu." (QS: Al-Lukman: 14).
Ketiga, pendidikan moral.
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِي
" Wahai anakku bila ada kebaikan yang kamu kerjakan, kecil (tidak nampak oleh pandangan mata yang zahir), yang kecil itu tersembunyi dipuncak langit, di dasar bumi yang paling dalam atau di tengah-tengah batu hitam sekalipun, Allah pasti akan mengetahuinya dan pasti akan memberikan balasan yang sedail-adilnya" (QS: Al-Lukman: 16).
Keempat, tatanan hidup si anak
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
"Wahai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah" (QS: Al-Lukman: 17).
Inilah dasar-dasar agama dalam mendidik anak yang harus diaplikasikan oleh setiap orangtua sebelum memberikan berbagai disiplin ilmu lainnya. Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orangtua, ajarkan ahklak dan tingkah laku yang baik, kemudian berikan tatanan hidup yang sesuai dengan Islam.
Kalau metode pendidikan Lukmanul Hakim sudah menjadi prioritas orang-orangtua sekarang dalam mendidik anak, insya Allah anak-anak kita nantinya akan tumbuh sebagai remaja yang taat kepada Allah, patuh kepada orangtua, dan jauh dari tingkah laku yang tercela. Kita lihat saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar