Sabtu, 05 Juni 2010

MENGHADAPI ISTRI MARAH


Para psikolog menganjurkan langkah-langkah berikut ini sebagai tindakan wajib seorang suami ketika menghadapi istri marah antara lain sebagai berikut:

  1. Jika suami sudah merasakan atau minimal menyangka bahwa istri sedang marah, jangan pernah menunggu dia memulai pembicaraan. Ketika suami dengan penuh kepedulian dan perhatian memulai pembicaraan, tindakan ini insyallah akan mengurangi tekanan emosinya dengan efektif. Bahkan kata John Gray, Ph.D bisa sampai 50 persen
  2. Ketika suami membiarkannya berbicara, mendengarkan perasaan-perasaannya, dan menikmati keluhan-keluhannya, ingatkanlah diri kita bahwa tidak ada gunanya untuk marah ketika istri sedang marah.

Rasullah Shalllaahu “Alaihi wa Sallam pernah bersabda “Laa taghdhab” jangan marah! Jangan marah! Jangan marah (HR. BUkhari)

  1. Apabila suami meraskan kepentingan yang sangan mendesak untuk menyela, membela diri atau meluruskan suatu fakta tahanlah hajat itu dan simpan dulu dalam-dalam

Rasullah Shallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “aku menjaminkan sebuah rumah di surge untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipin benar (HR. Muslim)

  1. Ketika suami tidak tahu apa yang harus dikatakanm jangan mengatakan apapun juga. Di saat suami tak bisa mengatakan sesuatu positif atau berharga, maka alangkah lebh baik diam

Bersabda Rasullah Shallallaahu “Alaihi wa Sallam “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia mengatakan yang baik. atau diam (HR. Albukhari dan muslim)

  1. Jika istri tidak mau bicara, ajukanlah lebih banyak pertanyaan agar ia bersedia membuka diri. Jangan melawan diamnya dengan diam, ia akan merasa diabaikan.

“di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan ia tekun, bila berjumpa orang ia menyambut dengan wajah yang ceria dan berjanji ia menepati “HR. Ad Dailami”

  1. Meski yang kita lakukan adalah hal yang benar, jangan pernah menghakimi perasaan istri tentang perasaan-perasaannya terhadap kita
  2. Tetaplah tenang dan semakin rapatkan diri untuk menguci reaksi-reaksi. Gantilah reaksi dengan respon yang menunjukkan penerimaan, kepedulian, dan pemahaman. Sekali kita bereaksi dengan mengunjukkan perasaan kita, segala upaya positif yang terbangun dari awal akan sia-sia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar