Sabtu, 05 Juni 2010

DOA DAN DZIKIR BISA JADI PENYEMBUH PENYAKIT



E-mail Print PDF
Guru besar FKUI Prof Dr H Dadang Hawari mengatakan, berdoa dan berzikir bisa menjadi unsur penyembuh penyakit atau sebagai psikoterapeutik. Kondisi ekonomi dan politik memungkinkan orang terkena gangguan jiwa Hidayatullah.com--"Doa dan zikir juga merupakan terapi psikoreligius yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme untuk penyembuhan penyakit," kata Dadang, yang juga seorang psikiater itu di Jakarta, Jumat.

Pada Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa (KNKJ) II itu, Dadang Hawari mengatakan, rasa percaya diri dan optimisme merupakan dua hal yang penting bagi penyembuhan penyakit di samping obat dan tindakan medis.

Menurut psikiater itu, dalam agama khususnya Islam bahwa umat yang sakit dianjurkan berobat kepada ahlinya (terapi medis) disertai berdoa dan berzikir.

Karena itu, terapi medik saja tanpa diikuti berdoa dan berzikir, tidaklah lengkap, sebaliknya berdoa dan berzikir saja tanpa upaya medis tidaklah efektif.

Dadang mengutip hasil penelitian ilmuwan Amerika Serikat (AS) Christy (1998) dan Synderman (1996) menyimpulkan, doa dan zikir merupakan obat bagi penderita penyakit selain pemberian obat-obatan dalam arti medik.

Dengan demikian, dapat disimpulkan pengobatan kepada penderita mengandung dua arti yaitu "prayer" (berdoa dan berzikir) dan drugs (obat dalam arti medis).

Dia menambahkan, pentingnya agama dalam kesehatan termasuk kesehatan jiwa dapat dilihat dari batasan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) bahwa aspek agama sebagai unsur kesehatan seutuhnya.

"Batasan sehat seseorang sesuai WHO (1984) meliputi empat aspek, yakni sehat dari aspek fisik, mental, sosial dan sehat dari aspek agama," demikian Prof Dr H Dadang Hawari.

Sakit Jiwa

Sementara itu, menurut Dr G. Pandu Setiawan, Spkj, kondisi ekonomi dan politik seperti sekarang ini sangat berpotensi meningkatkan ganguan jiwa.

Menurut psikiater dan Ketua Panitia Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa (KNKJ) ke-2, di sela-sela penyelenggaraan KNKJ ke-2 di Hotel Borobudur Jakarta, Jumat (10/10) mengatakan, kondisi ekonomi dan politik seperti sekarang sangat berpotensi meningkatkan penyakit gangguan jiwa.

“Memang orang sakit jiwa tidak gampang, tetapi harus melalui berbagai fase. Ada kondisi tertentu yang memungkinkan seseorang dapat berkembang secara optimal tanpa mempengaruhi kesehatan jiwanya. Yaitu fisikal, intelektual, dan emosional. (ant/tnr)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar